
...Selamat membaca...
...•...
...[•]...
Sudah hampir seminggu Nolan tidak menghirup udara ibu kota. Dia harus pergi keluar kota untuk meninjau lapangan tambang batu bara milik sang papa yang sekarang sudah berpindah tangan ke padanya. Ia harus dan wajib datang ke sana karena ada seorang investor hendak bergabung dengan Tambang Jaya Ltd.
Setelah semua rampung, Nolan memutuskan dan meminta pada Dharma untuk langsung mengantarnya pulang saja karena ia sudah rindu tempat tidur nyaman yang ia rindukan. Bukannya di sana dia tinggal di tempat yang tidak layak, bukan. Dia bahkan tidur di Villa mahal dan mewah. Hanya saja, bagi Nolan rumah adalah surga.
“Jangan ganggu istirahatku. Pekerjaan, besok saja di bahas di kantor. Kecuali mendesak.” titah Nolan kepada Dharma, yang langsung di amini oleh pria berusia hampir enam puluh lima tahun itu.
Setelah mengatakan itu, Nolan turun dari mobil peninggalan sang papa yang kemudian akan di parkir di area garasi rumah. Ia berjalan melewati bagian teras rumah yang memiliki luas cukup menyebalkan, lalu membuka bilah pintu yang terkatup.
Begitu telapak tangan besar itu berhasil menarik turun handle hingga pintu terbuka, ia dikejutkan dengan oleh getaran ponselnya di saku celana. Decakan terdengar mengudara saat Nolan merogoh sakunya. Ia lelah, baru saja turun dari penerbangan luar kota, lalu masih harus melakukan perjalanan darat satu jam lebih karena macet, dan sekarang harus kembali merespon panggilan yang mungkin saja datang dari klien atau kenalannya dari dunia bisnis. Sungguh melelahkan.
Tapi, semua itu sirna seketika saat manik matanya menangkap rentetan huruf membentuk sebuah nama yang muncul pada display ponselnya.
Clarita.
Nolan tersenyum, lantas berdehem mengusir suara lelahnya yang mungkin nanti terdengar buruk di telinga Caca, lantas ia menggeser dan mulai pasang sikap cool.
“Eumm, ada apa?”
“Kamu udah balik Jakarta?”
“Baru sampai. Kenapa?”
Diam tidak ada sahutan, membuat Nolan menjauhkan ponsel dari telinganya untuk mengecek sambungan telepon.
“Halo.”
“Iya. Aku mau kesitu tapi kamu pasti capek. Besok aja—”
“Kesini aja. Nggak apa-apa.”
“Ya udah. Sejam lagi aku sampai disana?”
Nolan mengerutkan kening. Jalan sedang macet, dan Caca bilang satu jam? Mustahil.
“Gue aja yang kesana.”
“Nggak. Aku—”
“Nggak usah ngeyel. Dua jam lagi gue sampai disana.”
Nolan mematikan panggilan sepihak dan bergegas masuk kerumah untuk membersihkan diri. Ia lantas menuju kamarnya, melepas semua atribut seorang pemimpin yang melekat di tubuhnya, kemudian menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Dan setelah sampai di kediaman Caca,
“Kamu ngantuk?” tanya Caca setelah melihat keadaan Nolan yang berdiri diambang pintu rumahnya. Begitu menyedihkan.
__ADS_1
“Nggak. Cuma mau tidur aja, nggak masalah.”
Caca menghela nafas. “Ya itu artinya kamu ngantuk, Nol.” tandas Caca sedikit kesal. “Ya udah, masuk dulu aku buatin minum.”
“Sebenernya Lo kerumah gue mau ngapain?”
“Mau ngomong sesuatu.” jawab Caca kemudian mempersilahkan Nolan masuk ke ruang tamu.
Nolan menghela nafas, membanting tubuhnya diatas kursi dan menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Ia menatap Caca yang hendak berjalan ke belakang; dapur.
“Aku buatin teh hangat aja ya?” tawar Caca saat melihat Nolan merentangkan dirinya diatas kursi biasa harga merakyat yang ada diruang tamunya itu.
“Eumm.” jawab Nolan sambil memejamkan mata. Raganya tidak bisa berbohong, dia memang kelelahan. Matanya pun sudah tidak bisa di ajak berkompromi.
Sementara Caca sibuk di dapur membuat teh hangat dan menggoreng pisang, Nolan yang sudah tidak kuat lagi menahan rasa kantuk dan lelahnya, pada akhirnya tertidur di kursi yang menopang bobot tubuhnya. Ia memilih posisi tengkurap.
“Lho, malah molor si tengil ini.” gumam Caca sambil meletakkan segelas besar teh setengah panas dan sepiring pisang goreng di atas meja. Lalu, ia duduk melantai tidak jauh dari Nolan tertidur.
Senyuman terlukis dibibir Caca ketika menatap wajah lelah Nolan yang tertidur dengan mulut sedikit terbuka.
“Bilang aja kalau capek. Kenapa maksa kesini?” kata Caca nyaris berbisik. “Kenapa kamu nggak pernah berubah dari dulu, hm?”
Caca memperbaiki posisi duduknya. Ia mengulurkan tangan menyentuh surai hitam Nolan yang kali ini tidak di beri Pomade. Pria yang biasanya rese ketika matanya terbuka itu, kini begitu tenang dalam lelap mengarungi alam mimpi.
“Ganteng.” ucap Caca tanpa suara, mengagumi sosok sempurna Nolan yang semakin tampan di usia dewasanya.
Sial!
“Terima kasih udah hadir di hidupku, Nolan. Aku harap kamu nggak nyesel kenal aku.” katanya. Tiba-tiba saja Caca terkikik ketika mengingat peringai Nolan yang terkadang usil, terkadang dingin, terkadang menyenangkan, terkadang bikin emosi, terkadang juga sangat perhatian dan penuh kasih sayang di balik ekspresi menyebalkan yang ada di wajahnya. “Kalau kamu diem gini, aku demen.”
Dan tanpa diduga sama sekali oleh Caca, Ia terkejut saat telapak tangannya digenggam oleh Nolan. Bola mata Caca membola sempurna, ketika mata Nolan terbuka perlahan, memandang dirinya dengan sebuah senyuman hangat yang belum pernah Caca lihat sebelumnya.
“Jadi, apa kata Yo tambien te amo sepuluh tahun yang lalu itu, masih berlaku untukku?”
Caca memaku di tempatnya tanpa bisa membuat gerakan sedikitpun karena masih terkejut oleh Nolan yang menangkap basah dirinya mengagumi pria tersebut.
Nolan mengarahkan telapak tangan Caca didepan wajahnya, ia menatap lekat pada jari manis Caca yang kini telah kosong dan menyisakan bekas cincin yang membuat bagian kulit tersebut terlihat lebih putih dari bagian lainnya.
“Jari manis mu, kosong sekarang.”
Perhatian Caca jadi teralihkan ke arah jari manisnya yang terlihat meninggalkan bekas cincin yang terlalu mencolok. Dengan cepat Caca menarik tangannya menjauh dari Nolan. Ia masih diam dan tidak berniat memberikan jawaban atau berkata apapun didepan Nolan. Yang Caca lakukan hanya balas menatap manik mata indah Nolan yang kini terasa begitu menggoda satu sisi dirinya untuk memiliki perasaan yang sepuluh tahun lalu sempat ia tepis dan hapus dari ingatannya.
Nahasnya, Caca tidak pernah bisa melakukan apapun. Nolan kembali membawanya kedalam rasa itu, rasa ingin memiliki.
“Bolehkah aku mengisi jari itu dengan cincin dari ku?”
Apa ini sebuah lamaran?
Jantung Caca berdegup tidak karuan. Tangannya mulai dingin dan berkeringat. Wajahnya juga terlihat tegang bahkan lebih terlihat seperti memberi harapan, tentu saja dimata Nolan.
Nolan bangkit, kemudian duduk melantai disamping Caca sembari berkata, “Clarita, maukah kamu menjadi milikku selamanya?”
Pertanyaan yang membuat Caca menahan nafasnya, dan semakin sesak ketika kalimat itu bertambah sedikit lebih panjang.
__ADS_1
“Maukah kamu menjadi pendamping hidupku, menjadi orang yang berada disamping ku dalam suka maupun duka, sampai takdir memisahkan kita?”
Caca ingin tertawa karena kalimat Nolan yang terdengar seperti menjiplak kata-kata orang lain. Tapi, ia harus tetap diam untuk menghargai usaha Nolan yang ingin membuatnya luluh. Rasa gugup adalah alasan lain yang membuat Caca tidak bisa tertawa, melainkan ingin menangis, sangking bahagianya.
Caca mencoba menyelami tatapan mata Nolan, dan hanya ada kesungguhan juga ketulusan yang ia dapatkan disana, dari pandangan yang bermuara ke dalam lubuk hati pria itu.
“Kamu, yakin dengan pilihan dan keputusanmu ini, Nol?” kata Caca ingin memastikan jika Nolan memang serius dan tidak sedang melakukan prank terhadapnya. Pasalnya, selain menyebalkan, Nolan juga pandai memainkan ekspresinya.
Nolan mengangguk.
“Kamu tidak sedang mempermainkan aku?”
Tanpa aba-aba, satu kecupan mendarat di bibir Caca. Ciuman singkat, namun berhasil membuat darah Caca berdesir cepat menuju pusat tubuh dan membuat wajahnya memanas saat itu juga.
“Apa aku terlihat sedang bermain-main?” tanya Nolan serius, yang kemudian diberi gelengan kepala oleh Caca. “Aku menyimpan kalimat ini sejak lama, Ca. Dan baru hari ini aku punya kesempatan untuk bisa mengatakan padamu tanpa merasa bersalah kepada orang lain.”
Caca tau merujuk pada siapa ucapan Nolan itu.
“Aku takut—”
“Takut? Takut apa?” sahut Nolan dengan kening berkerut.
“Aku takut kamu hanya mempermainkan perasaanku. Usia kita terpaut—”
“Aku sama sekali nggak peduli dengan itu.”
Nolan mendekati Caca sekali lagi, mengecup bibir Caca dengan durasi sedikit lebih lama.
“Aku nggak pernah ada niat mempermainkan kamu, Ca. Aku serius.”
Caca menunduk, lantas mengangguk. “Baiklah. Aku ... mau.”
Bukan hanya Caca, Nolan pun merasakan telapaknya berubah dingin dan keningnya mulai basah oleh keringat dingin.
“Benarkah?”
Untuk kesekian kalinya Caca menganggukkan kepala. Kedua pipinya merona dan hal itu membuat Nolan gemas dan berakhir mengusap pipi Caca dengan penuh perhatian.
“Terima kasih.” ucap Nolan kemudian membawa Caca kedalam pelukannya. “Ayo kita memilih tempat bulan madu setelah ini.”
Caca meronta ingin melepas pelukan Nolan pada tubuhnya. Candaan Nolan membuatnya mulai berfikir nakal.
“Kamu—”
“Bercanda, Ca. Sensitif amat sih?!” kekeh nolak semakin mengeratkan pelukan dan mengecup puncak kepala Caca. “Ayo bicara pada ibumu, meminta restu untuk hubungan kita. Karena aku sudah tidak sabar ingin membawamu pulang ke rumahku, sebaga istri dari seorang Nolan.” []
...—Bersambung—...
###
Maaf updatenya kemaleman. Tapi semoga suka dengan bab ini ya...☺️
Boleh kasih komen untuk bab ini kakak?
__ADS_1