
...FULL NC...
...Area duasatu ples ya, kalau belum duasatu, Othor saranin melipir sebentar, taati rules....
...Terima kasih...
...Selamat membaca...
...•...
...[•]...
No drama-drama.
Pagi ini, setelah mengantar kepergian kerabat dari hotel, Nolan langsung membawa Caca pulang ke rumahnya. Ia membawa koper milik Caca berisi pakaian dan beberapa keperluan lainnya menuju kamar pribadinya di lantai atas.
Setelah pintu terbuka, aroma khas Nolan menyapa hidung Caca. Di dalam ruangan ini, Caca semakin dibuat terkejut akan suasana dan design kamar Nolan yang didominasi oleh warna abu-abu terang dan abu-abu gelap yang saling bersinergi. Apalagi jam dinding yang tidak terpasang di dinding, melainkan langit-langit kamar, Caca sampai menggeleng tidak habis pikir. Nolan memang berbeda, dia itu definisi dari kata Amazing.
“Aku mau mandi dulu.” kata Nolan setelah meletakkan koper Caca di sebelah lemari kaca yang membentang di salah satu sisi kamar. Caca memberikan sebuah anggukan.
Untuk hari ini hingga seminggu kedepan, seluruh aktifitas asisten rumah tangga yang bekerja dirumah Nolan, di liburkan. Ia ingin menghabiskan waktu berdua bersama Caca sebagai pengantin baru.
Tidak ada rencana honeymoon keluar negeri, mereka sudah sepakat dengan hal itu.
Setelah hampir lima belas menit Nolan menghabiskan waktu di kamar mandi, akhirnya dia keluar dari sana. Caca sedikit gugup saat melihat Nolan yang hanya menggunakan box-er saat keluar dari kamar mandi. Namun berbeda dengan Caca, Nolan merasa senang, dia tersenyum ketika melihat kamar sudah terang akan cahaya matahari yang masuk karena Caca membuka semua tirai dan salah satu pintu balkon. Angin sepoi menerjang masuk, jadi mereka tidak membutuhkan pendingin ruangan untuk beberapa waktu sampai nanti sesuatu terjadi.
Nolan mendekat ke arah Caca yang terlihat sibuk mengeluarkan baju dari koper.
“Tata saja bajumu di bagian yang kosong itu.”
Caca memperhatikan deretan baju Nolan yang terlihat berkelas dan mahal. Berbeda dengan baju miliknya yang beberapa sudah hampir pudar.
“Pakai bajumu, Nol.”
Nolan menyeringai ingin menggoda.
“Memangnya kenapa? Ntar juga dibuka lagi, jadi nggak perlu pake baju sekalian.”
Caca geleng-geleng kepala mendengar jawaban me-sum Nolan.
“Kemaren kamu bilang dirumah aja, sekarang udah dirumah. Jadi, boleh kan?” seru Nolan, melipat kedua tangannya didepan dada dengan senyuman nakal.
Caca tersipu. Dia jadi salah tingkah. Nolan tetap Nolan yang kalau ngomong selalu blak-blakan.
__ADS_1
“A-aku mau mandi dulu.”
“Oke. Aku tunggu. Jangan lama-lama.” balas Nolan dengan kerlingan mata menggoda yang membuat Caca bergidik geli.
Tak membuang waktu, Caca menuju kamar mandi yang letaknya ada di ruangan yang sama. Pupil matanya melebar kala melihat bagaimana design kamar mandi yang begitu mewah. Ketika masuk, ia disambut oleh sebuah westafel dan kaca besar yang terpasang di dinding. Ada bak mandi marmer yang bisa di gunakan untuk berendam setiap waktu dia ingin melepas penat. Ada juga sebuah ruangan lain yang ditutupi kaca, dan didalam sana ada shower. Caca merasa menjadi orang paling beruntung karena di cintai seorang Nolan. Tiba-tiba Caca teringat sang ibu yang menolak di ajak tinggal bersama di rumah mewah ini.
Setelah puas melihat-lihat isi kamar mandi, Caca bergegas melakukan ritual membersihkan diri karena Nolan sudah berpesan agar dia tidak lama-lama berada didalam sini.
Memangnya mau apa?
Wajah Caca tiba-tiba memerah padam mengingat ucapan Nolan yang menagih janjinya untuk melakukan malam pertama mereka yang tertunda, semalam.
Dan ya, hari ini Caca tidak lagi bisa mengelak dan mencari alasan untuk melarikan diri lagi. Dia harus melakukan kewajiban sebagai seorang istri untuk pertama kalinya, yakni memberikan hak Nolan tanpa berdalih.
Tidak cukup waktu tiga puluh menit untuk berada didalam kamar mandi. Maklum, Caca adalah OKB yang masih kebingungan menggunakan alat-alat modern dan classy dengan sedikit kesulitan, menjadi kendala Caca memakan waktu yang terlalu lama.
Ia memiliki keluar, dan melihat Nolan terkapar di atas tempat tidur, masih dengan box-er tanpa baju. Caca melangkah keluar perlahan, dia berjalan mendekat pada Nolan, lantas mendongak untuk melihat jam. Pukul sebelas siang, seharusnya tidak masalah jika dia ikut merebahkan diri disisi lain ranjang dan tidur siang sebagai permulaan ‘seranjang’ bersama sang suami.
“Ya, aku juga butuh tidur.”
Caca berjalan memutar ke sisi kanan, melepas sandal lantai, lalu merealisasikan keinginannya untuk tidur siang. Sekilas, ia melihat wajah tenang Nolan ketika terlelap. Sebuah senyuman terbentang dibibir Caca ketika mendapati betapa rupawan nya seorang Nolan meskipun sedang terlelap seperti sekarang. Ia pun mengubah posisi menghadap Nolan. Tidak apa-apa kan? Toh Nolan sedang tidur, jadi aman.
Tapi itu tidak berjalan lama, karena Nolan tiba-tiba membuka mata, menatap intens kepadanya yang kepergok sedang menikmati pemandangan indah tanpa celah ciptaan Tuhan itu tanpa berkedip.
“Lama bener di kamar mandinya. Aku hampir saja ketiduran.”
“Aku sedikit mengalami kendala ketika menyalakan shower.” kata Caca jujur. “Jangan tertawa. Atau aku cubit pinggangmu.”
Nolan yang hampir menyemburkan tawa akhirnya mengurungkan niat mendengar ancaman Caca. Ia lantas memangkas jarak, mendekat hingga tidak ada jarak dan mengapit kaki Caca dengan kakinya di bawah selimut.
“Boleh sekarang kan?” tanya Nolan tanpa memutus tatapan pada manik mata Caca yang juga sedang melihat matanya.
Caca diam sejenak, lantas mengangguk pelan sebagai jawaban yang kemudian diberikan senyuman oleh Nolan.
Dengan satu gerakan cepat Nolan sudah mendaratkan kecupan di kening Caca, lalu turun ke pangkal hidung, kepuncak hidung, lalu kedua sisi pipi, dan berlabuh di birai Caca yang akhir-akhir ini begitu ia sukai. Mencum-bu lembut dengan kecupan-kecupan kecil dan singkat.
“Sudah siap?” tanya Nolan ingin memastikan jika Caca sudah siap dan percaya padanya. Mereka akan benar-benar mengarungi sesuatu yang belum pernah mereka lakukan bersama. Dan Caca kembali mengangguk.
Lalu Nolan kembali mendaratkan bibirnya di atas birai lembut Caca, merasainya dengan sensasi menggelitik, sesapan dan buaian yang berhasil mengetuk satu sisi liar Caca untuk memberikan balasan.
Nolan memang tidak pernah sama sekali melakukan ini, tapi insting dan naluri lelakinya menuntunnya untuk melakukan sesuatu yang memang seharusnya harus dilakukan. Jemari tangannya menyusup dibalik kaos kebesaran yang dikenakan Caca, lalu menyapa setiap inci kulit Caca yang halus, mengusapnya penuh afeksi dan berhenti di dada Caca yang masih tertutup benda keramat kaum hawa, menekannya lembut dengan kelima jarinya. Hal itu membuat Caca tersentak, dan reflek menahan lengan Nolan untuk berhenti.
Ciuman itu terputus dan tatapan mereka bertemu.
“Kenapa?” tanya Nolan penasaran dengan wajah datar, bibir memerah, dan tatapan sayu.
__ADS_1
“G-geli.”
Nolan terkekeh lalu menautkan sekali lagi binti mereka dan melanjutkan kegiatannya bermain di dada Caca.
Siang yang cerah, tenang, dan panas itu semakin memanas karena saat ini Nolan dan Caca sudah mengikuti alur permainan hingga menyapa inti.
Setelah menjauhi pangkal paha Caca yang beberapa menit lalu ia kerjai, Nolan kini kembali mensejajarkan diri dengan wajah Caca, berbisik lembut sembari memposisikan kejan-tanannya menuju pusat tubuh Caca, menekannya perlahan membuat bibir Caca mengatup rapat dengan nafas tertahan di tenggorokan.
“Gunakan apapun yang bisa menyalurkan rasa sakit yang kamu rasakan.” bisik Nolan seduktif, ia tidak mau berbohong jika dirinya sudah tidak lagi bisa menahan lebih lama keinginan menyatukan diri dengan Caca.
Tanpa diminta dua kali, Caca segera meraih punggung Nolan dan meremasnya kuat ketika ia merasakan sesuatu mendesak paksa semakin menyakitkan.
Ia merin-tih dalam sepi, kemudian melenguh panjang ketika mereka telah berhasil menyatu.
“Oh god.” Nolan menurunkan pandangan melihat Caca yang kini menolehkan kepalanya ke arah kanan dengan telapak yang menggenggam kuat kain sprei. “Maaf, sayang.” bisik Nolan, menjatuhkan diri diatas Caca kemudian mencium bibir wanita yang kini sudah menjadi miliknya sepenuhnya.
Nolan bahkan rela menahan diri agar Caca merasa lebih nyaman bersamanya. Hingga,
“Oke, kamu bisa lanjutin.”
Mendengar komando seperti itu, Nolan merasa senang dan mulai membuat gerakan perlahan. Pelan sekali hingga Caca merasa semakin nyaman dan membalas dengan sebuah rangkulan di leher Nolan.
“Nyaman?”
Kata-kata seperti ini terus Nolan sematkan diantara nafasnya yang perlahan memburu. Ia tidak ingin jika hanya dirinya saja yang merasakan kenyamanan tanpa mau mempedulikan Caca. Tidak, dia ingin mereka merasakan indahnya cinta bersama-sama.
Caca mengangguk dan tersenyum lembut hingga membuat Nolan tidak bisa menahan ingin mengecup bibir itu sekali lagi, atau jika boleh dia ingin terus menyecapnya sampai permainan berakhir. Tapi itu semua tidak terwujud lantaran birai itu lebih berfungsi untuk melontarkan beberapa lengu-han dan sesekali hampir kelolosan mengumpat karena sensasi yang ia rasakan.
Menit berlalu begitu saja, suara saling menyebut nama satu sama lain, mendorong sesuatu dalam diri keduanya ingin meledak.
“Ca, aku datang.”
“Eumm.”
Dan ya,
Keduanya berhasil mereguk indahnya surga dunia bersama. Nolan mensejajarkan diri, memeluk Caca dari belakang dan mengecup bahu basah wanita kesayangannya itu penuh cinta.
“Terima kasih, dan ... ” Nolan mengatur nafas sejenak untuk menyatakan kata berikut yang begitu tulus dari dalam hatinya. “ ... te amo.” []
...—Bersambung—...
###
I NEED SOME WATER PLEASE ... 🥵
__ADS_1
Hotteu, Nol, Ca. Kalian memang ............. *isi titik-titik dengan jawaban yang benar.