
...Part 35...
...Selamat membaca,...
...Jangan lupa didukung ya ☺️...
...🪐🪐🪐...
...MGT by: VizcaVida...
...35...
Yogyakarta.
Caca masih ingat bagaimana dia menyanyi ceria di halaman sekolah taman kanak-kanak waktu itu. Caca masih ingat ketika dia berbaris di lapangan sekolah Sekolah Dasar beberapa tahun yang lalu ketika mengikuti upacara bendera. Hingga ketika dia memakai seragam putih biru untuk yang pertama kalinya, hari nahas itu terjadi.
Saat hendak berangkat sekolah, ayahnya berpesan dan meminta Caca datang ke sebuah gudang yang cukup jauh dari tempat tinggal mereka yang saat itu masih ngontrak. Kata ayahnya, Caca akan diberi uang untuk saku besok yang tentu saja, tidak mungkin akan dia tolak mengingat jumlah uang saku yang dia terima dari sang ibu, tidak seberapa.
Sejak dulu, Caca memang tidak pernah merasakan hidup enak dan layak seperti teman-temannya. Sejak masih duduk di bangku sekolah dasar, Caca sudah ikut membantu ibunya berjualan di warung pinggir jalan, menjual nasi gudeg. Ayahnya, jangankan bekerja, laki-laki itu hanya tau caranya menghabiskan uang yang susah payah di kumpulkan oleh sang ibu. Tak kenal lelah memeras keringat dengan berjualan siang malam di warung pinggir jalan yang tidak tentu pendapatannya, ibunya itu terus berjuang. Kadang sepi, dan kalau lagi mujur, nasi gudeg cepat habis dan mereka berdua bisa cepat sampai rumah untuk beristirahat.
Pagi itu, langkah Caca mulai memasuki area gudang sebuah pabrik kosong yang sudah sedikit berlumut. Kata orang, gudang ini sudah lebih dari lima belas tahun ditinggalkan. Caca saja belum lahir saat itu.
Senyuman yang tadi mengiringi langkahnya, lenyap ketika melihat bagaimana sang ayah menyambutnya kasar. Lengan kurusnya ditarik paksa untuk masuk kedalam gudang.
“Ayah, kata ayah mau memberi uang saku untuk Caca. Kenapa Caca di masukkan ke dalam tempat menakutkan ini?” tanya Caca yang saat itu berusia dua belas tahun dan masih polos.
“Kamu mau uang kan?” tanya ayahnya sedikit menekan, dan Caca mengangguk lugu. Pria bernama Joko itu tersenyum miring, lantas berkata. “Kalau begitu, kamu duduk disini dulu. Ayah mau pergi sebentar beli rokok.”
Caca menurut tanpa rasa curiga sedikitpun, kemudian duduk di sebuah kursi kotor yang sepertinya sudah disiapkan oleh ayahnya.
“Ayah cepet balik ya. Caca takut.”
“Iya ah! Bawel bener!”
Caca melihat ayahnya menutup pintu itu, kemudian dia mendengar suara gembok mengunci, yang seketika membuat Caca panik setengah mati dan berlari mengejar ayahnya. Ia menggedor pintu yang terbuat dari aluminium tebal itu hingga berbunyi cukup nyaring karena ruangan yang kosong.
“Yah, buka pintunya. Caca takut sendirian.”
“Anak gob-lok! Diem aja disitu. Nanti ada yang jemput kamu. Kasih kamu uang jajan.” teriak ayahnya dari luar, kemudian tertawa senang. Caca yang langsung paham tentang situasinya saat itu menggedor pintu tanpa berhenti sejenak pun. Ia berusaha mencari pertolongan. Berharap siapapun datang dan bersedia membukakan pintu untuknya agar bisa kembali pulang dan membantu ibunya saja dirumah. Tapi sia-sia. Memangnya siapa yang bisa mendengarnya menggedor pintu gudang yang ada ditengah semak belukar begini?
Caca luruh didepan pintu geser setinggi tugu Yogya itu. Ia menekuk kaki lalu menangis diantara cela yang tercipta.
Tapi, otaknya yang minim kecerdasan itu tiba-tiba seperti sedang diberi keajaiban oleh sang Kuasa. Ia pun berdiri diantara suara tangisnya sendiri yang menggema menakutkan memenuhi setiap sudut didalam gudang. Ia mencari jalan keluar, menoleh ke setiap bagian ruangan untuk mencari sesuatu yang bisa ia gunakan untuk melepaskan diri.
Hingga tatapannya tertumbuk pada sebuah jendela kaca yang letaknya sedikit tinggi yang mustahil ia raih ataupun panjat karena gudang ini benar-benar kosong.
Lantas ia mencari jalan lain. Ia berlari kesana-kemari mencari sesuatu dalam ketakutan yang begitu membuatnya ingin menangis lebih keras. Lalu ia menemukan dua buah meja yang terlihat reot dan hampir roboh.
__ADS_1
Caca menarik sekuat tenaga, kemudian menyusunnya susah payah. Dengan hati-hati dia menumpuk meja selanjutnya, kemudian kursi. Kini dia bisa menjangkau jendela kaca itu dan memukul keras hingga kaca itu pecah begitu saja, namun masih kesulitan untuk memanjatnya keluar.
Masih berbekal nekad, Caca terus berusaha memanjat tembok licin itu. Dan sepertinya Tuhan lagi-lagi masih menyayanginya, ia pada akhirnya berhasil berada di antara kusen jendela yang masih memiliki sisa kaca yang runcing dan menggores beberapa bagian tubuhnya.
Dan sekarang, yang menjadi ketakutan selanjutnya bagi Caca adalah, bagaimana caranya untuk turun. Kalau melompat, kakinya bisa patah. Tapi jika diam saja, dia pasti akan kembali tertangkap ayahnya.
Semua sisa keberanian ia kumpulkan, dan Caca melompat dari ketinggian yang cukup menakutkan. Akibat hal itu, kepala Caca membentur tanah semak cukup keras, satu tangannya terkilir, dan pinggulnya seperti patah karena menumpu sebagian bobot tubuh ketika jatuh mendarat. Tapi dia belum mau menyerah. Dia masih harus berlari pulang dengan arah yang berbeda dengan arah ayahnya datang jika tidak ingin kembali tertangkap. Dia berjalan terseok keluar area bangunan kosong ini lewat belakang gedung. Seragamnya bahkan tersangkut dan robek di bagian punggung karena harus melewati jaring kawat yang rusak dan juga lancip.
Dan sampai di sebuah jalan desa tak beraspal, dia bertemu dengan seseorang yang bisa ia mintai pertolongan untuk mengantarkannya pulang dan segera bertemu sang ibu. Beruntung mereka orang baik, dan mengantar Caca pulang untuk sang ibu yang masih dirumah dan belum berangkat ke warung. Memang saat itu masih terlalu pagi untuk membuka warung di jam biasa ibunya memulai aktifitas.
Ibunya begitu terkejut melihat keadaan Caca yang saat itu begitu menyedihkan. Beberapa bagian kulitnya berdarah karena goresan apa yang tidak Julia ketahui, tangan nya lebam cukup besar seperti terkilir, begitu juga kepalanya yang terlihat ada benjolan memar di kening. Bu Julia membawa Caca kedalam pelukan, menangis histeris dan meminta penjelasan Caca didepan sepasang suami istri yang baru saja mengantar Caca pulang itu.
Dengan suara parau Caca menceritakan semuanya.
“Biadab! Kurang ajar bapakmu itu!”
Sepasang suami istri itu berniat melaporkan kejadian ini ke polisi, namun Julia menahan dan melarang keduanya dengan sedikit perdebatan, hingga akhirnya mereka menyerah dan membiarkan Bu Julia dengan keputusannya.
Tidak menunggu lebih lama, atau semua akan semakin runyam jika Joko pulang dan memaksa Caca ikut lagi dengannya, Julia memilih meminta pertolongan suami istri itu untuk mengantarnya ke stasiun kereta api setelah mengemas beberapa pakaian miliknya dan milik caca. Dia sudah tidak peduli pada apapun. Termasuk bahan-bahan yang hendak ia jual nanti. Berbekal sisa uang tabungan, Julia membawa Caca pergi dari Yogyakarta ke Jakarta untuk bersembunyi, menghindar dari sang ayah yang hendak menjual putrinya sendiri secara tidak tau diri.
Semua itu berhasil, Julia menyewa sebuah rumah kontrakan berukuran kecil dengan harga minim sesuai dengan uang yang ia miliki. Ia berhasil membawa Caca pergi jauh, namun tidak dengan trauma yang diderita putrinya itu. Karena Caca masih terlihat begitu ketakutan dan terpukul.
Akan tetapi beruntungnya, tanpa diduga Julia seseorang yang tinggal tak jauh dari tempatnya tinggal, menjual rumah mereka dengan harga yang sangat murah untuk ukuran kota besar seperti Jakarta. Julia nekat membelinya dengan uang pinjaman yang dicicilnya setiap bulan dan dipotong dari gajinya bekerja di sebuah perusahaan konfeksi yang ia tempati bekerja. Caca dan dirinya juga mengubah status kependudukannya menjadi warga ibu kota, berharap semua masa lalu kelam itu ikut pergi selamanya bersama kenangan buruk di sana. Di kota tempat putrinya membuka mata untuk pertama kalinya, Yogyakarta.
“Lagi ngapain?”
Suara berat milik Nolan mengejutkan Caca dari lamunan masa lalunya hingga tubuh Caca terjingkat kaget. Mau tidak mau kenangan buruk itu kembali ketika berada di kota ini. Kota yang tidak akan pernah ia lupakan kenangan buruknya dimasa lalu. Namun semua menguar begitu saja ketika Nolan berbicara.
Nolan terpaksa tidak ikut rombongan menuju tempat wisata karena Caca menolak pergi. Nolan tidak tega meninggalkan Caca sendirian di penginapan, dan memutuskan untuk tetap di penginapan saja, menemani caca. Suasana penginapan kembali sepi karena semua orang kini sedang bersenang-senang di tempat tujuan pariwisata yang sudah di rencanakan sejak awal. Hanya ada Nolan, Caca, dan tiga orang lain dari rombongan yang memilih tidur di kamar mereka masing-masing karena kelelahan.
Nolan mengambil duduk disebelah Caca, mengedarkan pandangan ke alam bebas yang menampilkan pemandangan atap-atap rumah warga dan kendaraan yang melaju saling menyalip di atas aspal jalanan.
“Berbeda.”
Nolan menoleh cepat, menatap wajah sendu bercampur senyum yang sedang di perlihatkan caca didepannya, membuat hatinya bertanya-tanya mengapa Caca terlihat seperti menyembunyikan sesuatu darinya.
“Berbeda apanya?”
“Waktu.”
Memang, waktu terasa berputar begitu cepat. Sekitar delapan tahun lalu Caca meninggalkan kota ini, dan sekarang kota ini terlihat sangat berbeda dari terakhir dia melihatnya.
Nolan masih berusaha membaca apa yang sedang ada dalam pikiran Caca, meskipun itu akan mustahil.
“Nol,”
“Apa?”
“Kamu, menyayangi papa kamu?” tanya Caca tiba-tiba membuat Nolan harus memutar otak mencari jawaban.
__ADS_1
Sejujurnya, rasa sayang itu masih ada, namun terpendam dalam oleh kebencian yang terlampau berlebihan.
“Kenapa Lo tanya seperti itu? Itu bukan urusan Lo.”
Caca hanya membuang senyumannya ke arah bebas, bukan kepada Nolan yang sedang berada tak jauh darinya.
“Aku hanya ingin tau, apa kamu masih mau memaafkan kesalahan orang yang sudah membuat kamu membencinya.”
Nolan semakin bingung karena ucapan Caca yang seperti tidak fokus. Caca terlihat hanya berbicara, tatapannya kosong tidak ada makna sama sekali.
“Lo kenapa sih?” tanya Nolan jutek.
“Aku? Aku nggak kenapa-kenapa kok. Cuma sedang ada sesuatu yang ganggu pikiran aja. Tapi sedikit. Hanya sedikit.” pekik Caca seperti tersadar.
Ekspresi Caca berubah ceria kembali. Ia membuat sebuah bentuk kecil dengan telunjuk yang hampir bersentuhan dengan ibu jari.
Nolan mengehela nafas kasar ketika Caca berhasil membuatnya khawatir nggak jelas seperti barusan.
“Aku, sebenarnya ada sedikit rasa kagum pada papa. Dia tidak pernah lelah berjuang untuk menghidupiku yang seperti ini.”
“Seperti ini?” tanya Caca memicing mencoba mencari tau makna ucapan Nolan dalam kata ‘Seperti ini’.
Nolan pun hanya mengedikkan bahu dengan kedua tangan terangkat setinggi kedua bahunya, lalu bibirnya melengkung dan alis sedikit terangkat. “Ya, begini.” katanya santai.
Caca mengangguk mengerti.
“Okey. Jadi, apa aku perlu merekam pengakuan ini?” goda Caca di timpali tawa renyah Nolan. Caca selalu berhasil membuatnya terperangah dan tertawa dengan sikap konyolnya.
“Rekam saja. Lagian Lo nggak bakalan bisa bertemu pak Hendra Suwandi dengan mudah.”
Caca tersenyum dan berbisik dalam hati.
Kamu salah, Lan. Aku bahkan bisa membuat papa mu datang kesini saat ini juga.
“Pak Hendra itu orangnya egois dan menyebalkan, Ca. Selain itu, dia juga sulit ditemui karena terlalu sibuk melakukan pekerjaannya tanpa peduli sekitar.”
Caca kembali berbisik dalam hatinya.
Kamu salah, Lan. Orang itu begitu menyayangimu. Dia bahkan menulis namamu di atas kertas sebagai pemilik semua aset yang dia miliki dari hasil kerja kerasnya.
Tapi, aku tidak bisa mengatakannya sampai kamu yang mengatakan semua itu sendiri pada papamu. Aku hanya berharap dan akan berusaha membuat kamu menyadari semuanya dan kembali dalam rengkuhan papamu.
Caca menatap teduh wajah rupawan Nolan. Dia juga tersenyum seraya berkata,
“Dia menyayangimu.”
Caca harap, Nolan sadar bahwa apa yang baru saja dikatakan caca itu, semua berasal dari ketulusan hati milik Hendra.
Maaf, sudah membodohimu seperti ini.[]
__ADS_1
...—Bersambung—...