
...Part 23 Hadir...
...Selamat membaca...
...🪐🪐🪐...
...MGT by: VizcaVida...
...23...
Ada beberapa alasan yang membuat Nolan benci akan orang-orang disekitarnya. Semua itu tidak terjadi begitu saja. Ada beberapa pemicu yang membuatnya tersugesti untuk membenci orang lain yang begitu banyak bicara. Menurutnya, suara-suara yang terlalu banyak terlontar itu hanya bualan. Ya, bualan, karena semua tidak mungkin mereka buktikan, dengan kata lain hanyalah omong kosong.
Sebagai contoh adalah papanya sendiri. Dulu, papanya itu selalu mengatakan bahwa dia menyayangi Nolan dan juga mama nya. Papanya selalu bilang jika dia sangat mencintai mamanya, bahkan lebih dari mencintai dirinya sendiri. Tapi apa?
Seseorang tiba-tiba muncul didepan pintu rumah mereka yang saat itu hanya ada Nolan dan sang mama. Seorang wanita dan seorang anak laki-laki seusia Nolan.
Nolan yang ketika itu mendampingi mamanya bertanya-tanya tentang sosok tersebut, sampai ia mendengar sendiri wanita itu berkata jika dia adalah ibu dari anak tersebut.
Tidak ada yang salah—pikir Nolan.
Sampai kalimat selanjutnya yang membuat mamanya meremas dada dan pingsan saat itu juga, berakhir harus mendapatkan perawatan intensif dari rumah sakit.
Pupil mata Nolan kembali bergetar. Ia menahan mati-matian untuk tidak menangis ketika mengingat hari itu. Hari pertama mamanya harus merasakan sakit dan berakhir meninggalkan dirinya untuk selamanya.
Nolan menutup kedua matanya dengan satu lengan, dan meraup udara dari mulutnya yang menganga. Sakit hati itu kembali menghujam hingga dia dikungkung dendam.
Dia tidak akan memaafkan papanya dalam waktu sebentar. Itu yang sudah ia ucapkan sebagai sumpah ketika hari kelam itu.
“Haah...” de-sah Nolan ingin meluruhkan rasa sakit di dadanya. Ruangan gelap tanpa suara, sekaleng minuman berkarbonasi, dan sebatang rokok adalah cara lain Nolan melarikan diri. Hingga suara berbincang menarik penuh atensinya. Dua suara yang begitu ia kenali sedang saling berbincang. Ia menengok ke arah kanan, tepat di jendela tertutup yang sama sekali tidak pernah dibuka. Lalu, siluet dua orang berjalan disana. Caca dan Gita.
Terry itu bahaya. Ngapain kamu cari masalah sama dia sih?
Aku nggak tau kalau dia kasar sama perempuan.
Lain kali kalau ada dia, kamu hindari aja. Jangan lagi berurusan sama dia kalau nggak ada orang lain yang berani ngelawan dia disekitar kamu.
Tidak begitu keras, tapi Nolan bisa mendengarnya dengan jelas.
Terry? Kenapa Caca sampai berurusan sama Terry?
Nolan berdiri, ia berniat mengejar dan bertanya pada mereka berdua tentang apa yang baru saja terjadi dan terlewat olehnya. Nolan berjalan menuju pintu dan hendak meraih handle. Namun pertanyaan lain melintas di dalam kepalanya. Memangnya siapa kamu harus sampai ingin tau urusan orang lain?
Ya. Nolan bukan siapa-siapa dan tidak ingin menjadi siapa-siapa bagi orang lain. Tapi Terry? Jika seseorang sudah berhubungan dengan sosok itu, akan sulit terlepas. Terry itu mengerikan. Dia bahkan tidak segan menyakiti siapapun, tak terkecuali seorang perempuan.
Nolan meraih kasar Handle pintu, berjalan berlawanan arah dengan Caca dan Gita, menuju kantin. Dia akan mencari tau sendiri tentang apa yang terjadi disana terhadap Caca.
Wajahnya sudah tak bisa lagi terbaca. Tidak ada ekspresi apapun, hanya datar.
Dan sesampainya disana, beberapa pasang mata memperhatikan gerak-gerik Nolan ketika memasuki ruangan. Mereka bahkan terlihat waspada jika sampai Nolan berhenti dan bertanya pada mereka.
Tidak bisa ditutupi lagi desas-desus yang sedang beredar tentang hubungan antara Caca dan Nolan. Bahkan di forum sekolah yang dikelolah oleh beberapa OSIS itu juga tak luput dari berita itu.
__ADS_1
Pada akhirnya, Nolan berhenti di salah satu siswa perempuan yang sedang memperhatikannya. Ia masih mempertahankan ekspresinya yang dingin dan datar.
“Apa yang baru terjadi disini?”
Siswa perempuan itu menoleh kepada teman satu bangku yang juga menahan nafasnya diatas nampan makan karena pertanyaan Nolan. Mereka tidak mau berurusan dengan Terry, apalagi Nolan. Tapi, jika mereka diam saja, mereka sadar itu tidak adil untuk siswa perempuan yang baru saja menjadi bulan-bulanan Terry.
“I-itu...”
“Nggak apa-apa. Ngomong aja. Gue cuma mau nanya doang.”
Dua siswa itu saling melirik. Kemudian siswa perempuan itu menjawab, “Te-Terry—baru saja menjadikan anak baru itu mainan barunya.”
Mainan baru ya? Nolan muak mendengar itu. Apa hidup seseorang itu sebuah permainan? Konyol. Bodoh.
“Thanks.”
Nolan berjalan meninggalkan mereka berdua yang dengan spontan melepas nafas mereka yang tertahan karena ketakutan. Tentu saja, selain dikejar-kejar, Nolan juga ditakuti oleh beberapa siswa yang menganggapnya begundal.
Nolan tau dimana saat ini Terry berada. Dia akan membereskan masalah ini, saat ini juga.
Dan benar saja, Terry CS ada disana. Mereka sedang menghabiskan waktu seperti biasanya. Bersikap sok dengan harta orang tua mereka dengan gayanya yang menurut Nolan ‘nggak banget’.
Terry CS menyambut kehadiran Nolan dengan sebuah tawa cringe mereka.
“Oh wow, pangeran penyelamat sudah tiba ditempat guys.”
Tidak bereaksi, Nolan hanya menatapnya lurus dengan sorot tajam bak elang yang mengintai mangsa.
“Kasih sambutan dong guys, gimana sih. Ini pangerannya SMA Kemala lho.” cibir Terry masih tak mau diam dan ingin menjatuhkan Nolan didepan anak-anak geng yang ia pimpin.
“Dih, ngatain manusia sampah. Padahal sendirinya juga sampah tuh.”
“Sampah teriak sampah.”
Geng yang terdiri lebih dari sepuluh orang itu tertawa bersama-sama.
“Ter, gue tanya sama Lo. Lo apain dia?”
Terry mengerutkan kening seperti orang bingung yang nggak tau apapun. “Dia, dia siapa maksud Lo?” tanya Terry pada Nolan. Namun belum memberi jawaban, salah seorang anggota geng pimpinan Terry itu menyahut cepat. “Oh, si Lon-te!”
Rahang Nolan mengeras, telapaknya mengepal kuat.
Jadi itu julukan yang mereka berikan untuk Caca?
Keterlaluan sekali mereka.
Nolan berjalan mendekat dan menghantam wajah siswa yang menyebut Caca dengan kata tak pantas itu.
Pemuda itu tersungkur di lantai, dan seketika membuat teman-teman satu gengnya bereaksi ingin membalas serangan mendadak Nolan, namun terhenti karena Terry menahan mereka.
“Ups, jadi dia bukan lon-te ya? Lalu, apa dong?”
Menahan geram, Nolan hanya mampu memberikan tatapan yang semakin menajam ke arah Terry.
__ADS_1
“Ja-lang?”
Mereka kembali tertawa, termasuk siswa yang baru saja mendapat hantaman bebas cukup keras dari Nolan.
Bukan Nolan namanya jika dia akan tetap diam. Melihat semua tertawa seperti keledai tua yang sudah udzur, Nolan membuang muka sambil menggosok tengkuk lehernya. Tak lama kemudian, dia kembali melihat Terry, dan menyunggingkan senyuman disudut bibir.
“Terus Lo apa kalau begitu? Dengan nggak tau malu Lo nyakiti perempuan didepan banyak orang,” tanyanya sedikit berteriak hingga membuat tawa mereka seketika terhenti. “Pecundang? Apa itu sesuai?”
Setelah mengatakan itu, Nolan berbalik dan pergi meninggalkan mereka. Tapi tidak berjalan mulus karena Terry menarik bahu Nolan dan melayangkan tinju tepat didepan wajah Nolan. Tapi, serangan itu berhasil Nolan hentikan. Dia menahan keoalan tangan Terry yang ada didepan wajahnya, kemudian memutarnya dengan tenaga penuh hingga Terry meringis kesakitan, lalu melemparnya begitu saja.
“Gue punya nama baru buat Lo, Ter. Pecundang.”
***
“Eh kamu kenapa jalannya kayak begitu?” tanya Bu Julia saat melihat Caca pulang dengan keadaan yang menyedihkan. Si ibu ini menyambut sang putri dengan kedua tangan terulur, membantu Caca berjalan masuk setelah berhasil memarkir motornya diteras.
“Jatuh bu.”
“Jatuh?” tanya Julia sambil menelisik. “Kamu nggak sedang di ganggu murid SMA itu kan?”
Caca hanya diam. Dia tidak ingin semakin jauh membohongi ibunya hanya karena ingin menyelamatkan nama baik orang yang tidak menghargai orang lain.
“Ca. Kenapa diem? Jadi beneran kamu di ganggu?”
Untuk kedua kalinya Caca memilih diam. Ia lantas duduk di kursi ruang tamu dan berdesis merasakan ngilu di pinggangnya.
“Ca. Kalau kamu di ganggu sama murid-murid nakal disana, jangan diem aja dong. Masa anak Bu Julia ngalah gitu aja? Buat apa Bu Julia ngajari kamu teknik bela diri jika nggak kamu pergunakan.”
“Masalahnya, Caca itu dikawasan sekolah, Bu. Mana boleh Caca nyakiti sesama temen.”
“Konteksnya kamu udah jadi korban.”
Berdebat dengan bu julia memang tidak akan pernah ada ujungnya. Orang ini mempunyai pribadi dan pendirian kuat, jadi dia tidak mudah kalah dalam hal apapun.
“Lawan kalau memang kamu nggak salah.”
Ibunya ini memang nggak tau apa-apa. Dipikir Terry itu seorang yang memiliki wajah cantik, bertubuh gemulai, dan mudah diserang, begitu?
“Iya, besok Caca lawan.” jawabnya tak mau memperpanjang urusan. Tubuhnya sakit, otak dan badannya sudah lelah. Dia hanya ingin beristirahat.
Bu Julia terbelalak mengetahui kenyataan yang sedang ia terka, muncul dalam benaknya. Memangnya Caca di ganggu setiap hari ya?
“Besok? memangnya besok kamu bakalan di ganggu lagi gitu? Wah, nggak beres nih. Bu Julia harus bertindak kalau anaknya udah jadi korban—”
“Nggak perlu, Bu. Besok-besok maksud Caca. Besok-besok kalau ada yang berani ganggu Caca lagi, Caca lawan deh. Pake ilmu Kanuragan jika perlu.”
Julia tergelak tawa dengan suara balasan Caca yang terdengar lucu. “Nah begitu dong.”
“Besok, Caca izin dulu deh. Pinggang Caca kayak remuk rasanya.”
“Ya sudah. Bilang sekalian ke pak Hendra kalau kamu jadi korban kekerasan disana.”
“Nggak perlu Bu. Lusa pasti Caca udah baikan.” katanya penuh percaya diri. “Caca bakalan ngelanjutin misi Caca, sampai berhasil.” []
__ADS_1
...—Bersambung—...