Me Gustas Tu

Me Gustas Tu
S2. Nine


__ADS_3

...Selamat membaca...


...Semoga suka😊...



...[•]...


Entah ini terlalu gila atau wajar-wajar saja, Caca nekat datang ke bar yang kemungkinan didatangi oleh Louis kemarin malam.


Di pintu masuk bar, Caca harus menunjukkan kartu identitas untuk diperiksa dan di scan sebagai data pengunjung. Bar ini sangat menjaga keamanan dan privacy, itulah alasan mengapa bar ini sering didatangi oleh banyak orang penting, artis, bahkan orang setingkat Louis.


Caca melihat ke kanan dan kiri menelisik seisi ruangan yang beraroma aneh ini. Perutnya begitu mual tapi ia harus bertahan untuk mencari sedikit informasi tentang Louis dan juga ... jepit rambut yang ada dirumah tunangannya itu.


Langkahnya berhenti didepan meja bartender, dan seorang bartender berwajah tampan dan berpenampilan fresh terlihat masih muda menghampirinya dengan cepat.


“Mau pesan apa, kakak?” sapa bartender tampan itu ramah, juga terlihat sibuk mengocok sesuatu di dalam wadah aluminium di tangannya.


Caca yang sebelumnya tidak pernah datang ke tempat ini, terlihat kebingungan. Jangankan memesan, nama minuman jenis apa yang tersedia disini saja dia tidak tau. Akhirnya dia menjawab, “Nanti saja. Masih nunggu teman.”


“Ah, ya.” Bartender itu lalu menjauhi Caca dan kembali ke meja belakang untuk menyiapkan minuman yang sudah dipesan oleh pelanggan lainnya. Dan saat bartender itu kembali ke meja besar untuk meletakkan pesanan yang kemudian diambil oleh pramusaji, suara Caca kembali menginterupsi pria itu untuk terlibat obrolan dengannya.


“Mas, boleh saya tanya?”


”Oh, silahkan.”


Bartender itu terlihat memperhatikan. Mengfokuskan dirinya pada obrolan dengan Caca diantara dentum musik yang riuh.


“Kemarin, apa kamu melihat pria tinggi,” kata Caca sambil memperagakan tinggi Louis. “Tampan, matanya agak sipit gitu?”


Bartender bernama Putra itu memicing, mencoba mengingat-ingat malam kemarin. Kebetulan yang melayani Louis semalam.


“Ah, apa yang kakak maksud itu pak Louis?”


Caca bergidik ngeri, nama Louis terdengar tidak asing disini. Apa Louis datang kesini secara sembunyi-sembunyi darinya? Atau, si Putra ini memegang pegawai lama dan sudah mengenal Louis sejak lama? Entahlah, Caca perlu menjawab pertanyaan pria itu.


“Ah, iya.”


“Ya, kemarin pak Louis kesini. Kakak teman pak Louis?”


Caca mengangguk, kemudian membiarkan pria itu melakukan pekerjaannya kembali. Sibuk menuang minuman yang diminta pelanggan tanpa kendala. Pria ini terlihat sudah profesional. Lalu, tak lama kemudian Putra kembali berdiri di hadapan Caca.


“Pak Louis orangnya baik. Dia sering kasih tips banyak buat kami.”


Caca terkejut, tapi dia hanya mengangguk.


“Kakak sedang menunggunya?”


Lagi-lagi Caca hanya mengangguk sebagai jawaban. Ia terlalu bingung dengan kenyataan yang begitu memusingkan baginya.


“Dia sering datang kesini?”


“Tidak. Kemarin adalah kedatangan pertama nya setelah bertahun-tahun tidak kesini.”

__ADS_1


Caca bernafas sedikit lega mendengar pengakuan dari Putra.


Caca kembali bertanya. “Kemarin dia datang sendirian?”


“Ah, iya pada awalnya.”


Pada awalnya? Jadi disini dia bertemu dengan temannya secara tidak sengaja, kemarin?


Banyak sekali pertanyaan didalam kepala Caca yang mulai berjejer membuat asumsi-asumsi buruk tentang Louis.


“Lalu, teman perempuannya datang dan mereka mengobrol lama hingga pak Louis menghabiskan hampir sebotol Chateau Margaux nya.”


Putra kembali memutus pembicaraan mereka berdua karena seorang pramusaji kembali datang membawa pesanan pelanggan. Caca heran, kenapa banyak sekali orang datang untuk merusak diri mereka sendiri disini? Belum lagi, pemandangan menggelikan yang membuat Caca merasa jijik.


Diam-diam Caca mengeluarkan ponsel, mengetik nama minuman yang baru saja disebutkan oleh bartender bernama Putra itu, lantas matanya membola tidak percaya melihat harga yang muncul dan tertulis di laman pencarian Gugel nya.


Caca menggeleng samar karena tidak percaya dengan harga minuman memabukkan itu. Bukan ratusan ribu atau puluhan juta, tapi sudah menyentuh angka Milyaran, Louis benar-benar gila.


Bartender yang friendly itu kembali didepan Caca, menatapnya sedikit menelisik, namun kembali terpanah ketika bibir Caca mengajukan pertanyaan padanya. “Apa kamu juga mengenal teman perempuan pak Louis?”


Bartender itu mengangguk. Ia lantas tersenyum dan bertanya tentang satu hal yang membuat Caca tidak berkutik karena tertangkap basah sedang mengorek informasi dari pria tersebut.


“Apa kakak kekasih pak Louis?”


Tak bisa menjawab, Caca hanya memberikan senyumannya pada si bartender.


“Bisa kamu memberitahu saya, siapa nama wanita yang bersama Louis?” nada bicara Caca berubah sedikit dingin ketika Putra mengenalinya.


Kemudian Caca meraih ponsel dari saku dan berpura-pura melakukan panggilan telepon untuk pergi dari tempat memuakkan ini. Akhirnya dia mendapat petunjuk atas kecemasan yang mengusik ketenangan hidupnya itu.


***


Pagi yang biasa. Tidak ada semangat untuk mengais rupiah hari ini. Kenyataan yang ia dengar semalam membuatnya merasa tertekan. Bahkan Caca tidak bisa tidur nyenyak semalam karena memikirkan nama Gita yang muncul dari mulut Putra, si bartender.


Caca sama sekali tidak fokus pada pekerjaannya, ingatan tentang Louis, Putra—si bartender, dan juga nama Gita, terus berputar di otaknya. Terlalu rumit jika sampai Gita muncul diantara mereka. Jika itu memang Gita yang Caca kenal, semuanya akan berubah runyam. Ia tidak akan melupakan sepuluh tahun lalu, bagaimana wanita itu berusaha menjadikan dirinya teman, kemudian menjatuhkannya dengan sebuah pengkhianatan. Itu masih tercatat dan membekas di hati Caca sebagai luka yang menyakitkan. Namun Caca tetaplah Caca, dia selalu memaafkan bahkan tanpa diminta.


Kain pel yang ia sorong diatas lantai itu mengenai sepatu seseorang yang berjalan di depannya. Dengan cepat kesadaran Caca kembali dari lamunan. Tanpa melihat wajah si korban, Caca menunduk meminta maaf berkali-kali.


“Kenapa kerja sambil melamun begitu?”


Suara yang begitu dikenali Caca. Seketika itu juga wajahnya terangkat guna memastikan jika terkaannya tidak salah.


“Louis?” kata Caca sedikit terkejut akan kedatangan tiba-tiba Louis dihadapannya.


“Sedang memikirkan sesuatu?”


Caca tertawa sempit, kemudian mengangguk tak mau beralibi. “Ya. Ada sesuatu yang membuatku merasa nggak nyaman.”


Louis memicing menatap wajah tulus Caca. “Apa tentang aku?”


Caca mengangguk lambat dan ragu, namun pada akhirnya dia meng-iyakan saja. “Ya. Kamu salah satunya.”


“Ca, please maafin aku. Aku cuma terlalu bingung dan datang kesana. Aku janji nggak bakalan datang lagi ke tempat itu.” kata Louis sungguh-sungguh. Ia memang tidak lagi berniat membuat Caca khawatir dan juga kecewa padanya. “Maafin aku, ya?”

__ADS_1


Tapi mengapa kamu berbohong padaku, Lou?


Sorot mata Caca melemah. Ia masih menunduk diantara senyumannya yang kini berubah sendu.


“Ya. Aku sudah maafin kamu bahkan sebelum kamu memintanya, Lou.” kata Caca sembari memperhatikan cincin miliknya dan juga yang melingkar di jari manis Louis secara bergantian. “Aku mau bertanya dua hal padamu, Lou.”


Untung saja lobby tempat mereka bertemu kali ini, sepi. Jadi Caca sedikit bisa bebas mengobrol biasa dengan Louis sebagai kekasihnya, bukan sebagai boss nya.


“Ya, tentu. Berapapun pertanyaan mu, akan aku dengarkan dan jawab dengan jujur.”


Kamu sudah berbohong padaku, Lou.


“Oke.” kata Caca, menghirup udara adalah hal yang sulit dia lakukan sekarang. Mendengar kenyataan Louis membohonginya, membuat dadanya terasa sesak. “Apa kamu masih mencintaiku, Lou?”


Pertanyaan itu sontak membuat wajah santai Louis berubah menegang tanpa menunggu hitungan detik berubah menit. Keraguan yang timbul dalam ingatannya beberapa waktu lalu, berubah menjadi sebuah ketakutan ketika Caca menanyakan tentang perasaannya. Ia hanya takut Caca mengetahui sesuatu yang sedang ia sembunyikan dan sialnya, tanpa Louis ketahui, Caca sudah tau rahasia itu terlebih dahulu.


“Kenapa tanya seperti itu? Tentu saja aku—”


“Aku melihat keraguan di matamu akhir-akhir ini.” sergah Caca memotong kalimat Louis yang masih menggantung diudara.


“Apa maksudmu?”


Caca menebak, Louis akan kembali mengatakan kebohongan dengan pertanyaan keduanya.


“Apa ada perempuan lain selain aku?”


Kali ini, Louis benar-benar kehabisan kata-kata. Kalimat Caca seperti sebuah tuduhan. Ia bahkan tidak menyiapkan jawaban untuk pertanyaan itu, karena nyatanya dia hanya mencintai Caca. Tidak ada wanita lain. Mengenai Gita, dia hanya tidak sengaja bertemu di bar, lalu wanita itu mengantarnya pulang, dan dia tidak mengingat apapun setelah itu karena efek Wine yang menguasainya. Yang ia sadari ketika membuka mata, pakaiannya sudah terlepas dari badannya, dan kamar sudah berantakan.


“Ca, kenapa kamu tanya begitu ke aku?”


“Jawab saja, Lou.”


Louis memijat pelipisnya yang tiba-tiba terasa berat dan membuatnya pening.


“Tidak. Kamu adalah wanita satu-satunya yang aku cintai selain mama.”


Seringai tajam muncul dibibir Caca. Ia ingin sekali membuka tabir kebohongan Louis hari ini, tapi ketika sebuah pelukan ia rasakan begitu saja tanpa diminta, kabut di mata Caca mulai mengganggu.


“Ca, apapun yang kamu dengar, apapun yang kamu ketahui tanpa aku tau apa itu, percayalah kalau aku masih Louis yang sangat mencintaimu.”


Louis tidak berbohong akan hal itu, dan ia mengakui perasaannya secara tulus. Akan tetapi, ia tidak bisa mengatakan apapun tentang Gita pada Caca.


“Lalu, siapa Gita?”


Jantung Louis seakan berhenti berdetak ketika pertanyaan itu meluncur dari bibir wanita yang ia sayangi. Matanya terbelalak di balik punggung Caca. Sejauh apa Caca mencari tau tentang malam itu?


“Apa dia pemilik jepit rambut yang aku temukan dirumah kamu ini?” kata Caca sambil menunjukkan sebuah jepitan rambut berwarna putih yang ia temukan ketika datang kerumah Louis tempo hari.


“Itu ... ”


“Sekarang, jawab aku dengan jujur sekali lagi. Apa kamu masih mencintaiku?” []


...—Bersambung—...

__ADS_1


__ADS_2