Me Gustas Tu

Me Gustas Tu
Tantangan Setelah Pingsan


__ADS_3

...Part 19 update juga...


...Selamat membaca...


...🪐🪐🪐...



...MGT by: VizcaVida...


...19...


Caca tersenyum melihat Gita berdiri di sisi pintu gerbang masuk sekolah. Tadi, Gita sempat turun dari mobil mewah yang mengantarnya, dan berhenti tepat disampingnya ketika dia hendak menitipkan motor di kang parkir langganan.


Caca juga nggak pernah nyangka jika orang selevel Gita mau berteman dengannya.


“Hai,” sapa Gita tersenyum sembari mengulurkan satu tangannya untuk menyambut kedatangan Caca. “Yuk masuk.” katanya lalu mengamit lengan Caca dengan tangannya.


Hari Senin, akan ada upacara serta apel pagi yang cukup panjang dan juga memakan waktu serta tenaga. Caca nggak sarapan karena bangun telat pagi ini.


“Nanti upacaranya di pimpin papi. Uh sebel deh! Pasti lama.” gerutu Gita di samping Caca. Tinggi badan mereka sepadan, jadi mereka terlihat kompak macam sahabat sehati.


Caca tak habis pikir. Kalau jadi dia, pasti Caca akan bangga melihat ayahnya berdiri di podium dan menyampaikan pidato dengan gaya keren dan berkelas. Ya, Caca pasti bangga jika ayahnya seperti itu. Tapi sayangnya, itu tidak akan pernah terjadi. Caca hanya rakyat biasa dengan SDM rendah yang mencari peruntungan dengan menerima tawaran konyol bin nggak masuk akal dari orang kaya yang memiliki uang tidak habis dimakan tujuh turunan seperti Hendra.


Caca mengedip cepat ketika mengingat tugas yang harus ia lakukan. Nama Nolan muncul dalam benaknya, kemudian dia akan menjalankan rencana yang sudah ia susun semalam. Semoga tidak ada kendala macam-macam, seperti: Nolan rewel, atau jutek. Itu akan sangat menyebalkan dan menguji kesabaran seorang Clarita Winanda.


Setelah menaiki anak tangga berdua bersama Gita dan sempat menjadi pusat perhatian siswa-siswi Kemala, akhirnya Caca bisa bernafas lega setelah sampai dikelas. Ia juga segera membuka buku materi yang pagi ini hendak di sampaikan guru mata pelajaran, meskipun...ya, tentu saja dia sedikit kesulitan mengenal istilah-istilah rumit yang tertulis di modul tebal itu.


“Aduh, ini cuma basic nya, tapi susah banget sih?!” gerutu Caca kesal melihat deretan rumus-rumus fisika tentang rumus gaya.


“Percepatan yang terjadi karena perubahan dari kecepatan pada suatu benda akan sebanding dengan resultan gaya atau jumlah gaya yang bekerja pada benda tersebut dan akan berbanding terbalik dengan massa benda.” kata Caca mengeja huruf demi huruf, lalu berakhir semakin pusing ketika ia menemukan lagi rumus disisi bawah tulisan. “F\= m+a” lanjutnya sedikit sendu. Caca ingin sekali menangis sampai meraung-raung karena otaknya tidak menjangkau rumus-rumus basic tersebut. Meski cuma rumus dasar, ternyata semua itu lebih sulit dari yang dia bayangkan. Ia menyesal mengapa tidak mengambil IPA saja dulu jika tau dia akan ditakdirkan bekerja menjadi badan intelejen spy-spy untuk Nolan. Tenang saja, istilah itu hanya buatan Caca, jangan dianggap serius jika ada kata-kata yang tidak sesuai, oke? Setuju? Lanjut.


“F sama dengan Gaya, M kecil sama dengan massa objek, dan A kecil sama dengan percepatan—”


Gila. Otak Caca seperti berasap. Ia memutuskan untuk meletakkan kepala diatas meja, putus asa karena otaknya menolak menyimpan memori pelajaran yang berhubungan dengan rumus-rumus seperti ini.


Entah mengapa, tatapan nya kini justru tertuju untuk melihat jendela kaca yang bersih dan bebas dari debu, lalu kembali mengingat sekolahnya dulu, yang tidak akan pernah bersih jika tidak ada yang membersihkan meskipun sudah ada jadwal piket berkala untuk membersihkan properti dan barang inventaris milik sekolah.


Tak lama kemudian pintu berderit, Caca mengangkat kepalanya dan menemukan Leo masuk kedalam kelas. Tatapan mereka bertemu sejenak, kemudian Leo tersenyum dan menyapa. “Pagi Ca. Kamu selalu jadi murid pertama yang ada dikelas. Memangnya, kamu berangkat jam berapa sih? Nggak sarapan dulu sebelum berangkat?”


Caca menggaruk tengkuknya karena malu. Ia juga membenarkan letak kaca mata bundarnya lalu menjawab pertanyaan Leonard. “Sarapan kok biasanya. Cuma hari ini enggak karena buru-buru. Bangunnya kesiangan.” kata Caca menceritakan kronologi mengapa dia sampai melupakan sarapannya pagi ini sambil menggaruk tengkuk lehernya. Alarm yang ia pasang semalam ternyata belum tersimpan, dan alhasil Caca bangun kesiangan. Untung saja tadi ibunya membangunkan dia meskipun diikuti Omelan yang membuat telinga panas.

__ADS_1


“Berdo'a saja ketua yayasan nggak pidato panjang lebar. Bisa-bisa kamu pingsan kalau nggak isi perut dulu. Ketua yayasan kita doyan pidato soalnya.” kata Leonard sambil meletakkan tasnya di gantungan samping meja. “Mau bareng kantin, nggak? Sekalian sarapan.” ajak Leo pada Caca yang tentu saja langsung ditolak dengan alasan perutnya akan baik-baik saja dan dia akan kuat berdiri nggak akan pingsan walau di jemur di bawah terik matahari.


Tapi apesnya, sekarang pandangan Caca mulai berkunang. Dia menyesal sudah sumbar didepan Leo tadi. Ia juga menguap berkali-kali hingga oksigen di otaknya seperti sudah kosong dan membuatnya kebingungan. Badannya terasa nggak nyaman, dan kaki serta tangannya kesemutan. Sumpah, Caca nggak pernah mengalami yang kayak begini, dan ini pertama kalinya.


Lantas, Caca iseng mendongak ke langit dan pandangan berubah gelap begitu saja. Dia tidak tau apa yang terjadi selanjutnya hingga dia kembali membuka matanya dan mendapati langit-langit ruangan berwarna putih dengan kepala berputar. Lalu, matanya bergerak menelisik isi ruangan yang kosong dan tidak ada siapapun. Pintu utama tertutup sempurna, dan ada pintu lain yang terdapat papan bertuliskan ‘Toilet’ juga tertutup.


“Pingsan? Apa ini rasanya pingsan?” gumamnya pelan sambil berusaha bangun dan memijat kepalanya yang berat dan sakit. Ia tebak, tadi jatuh dengan cara menyedihkan dan membentur tanah tanpa ada yang peduli karena mereka tidak tau jika Caca sedang kritis kesadaran.


Tak lama kemudian, pintu toilet itu terayun terbuka. Dan yang membuat bibir Caca menganga tidak percaya adalah, Nolan muncul dari sana dengan muka basah meneteskan air, dan bibir mengatup karena terkejut ketika pandangan mereka bertemu tanpa diminta.


“Nolan, ngapain kamu disini?”


Tidak menggubris, Nolan memilih berjalan menuju meja kecil yang ada dispenser. mengambil gelas, menyeduh air panas mix air dingin, lalu memasukkan kepingan bulat berisi bubuk teh, memasukkan gula lalu mengaduk dan membawanya ke meja dekat ranjang Caca. Setelah itu dia merebahkan dirinya di ranjang lain dengan posisi memunggungi Caca.


“Minum tuh. Kata perawatnya biar tenaga Lo pulih.” ketus Nolan tanpa mau melihat keberadaan Caca lagi.


Sedangkan Caca kembali terlihat seperti keledai kebingungan, ia lagi-lagi menelisik isi ruangan yang kosong. Hanya ada dia bersama Nolan disini. Lantas dia menggerutu dalam hati, Ini UKS kenapa mirip sekali dengan IGD rumah sakit?


“Lalu, dimana perawatnya sekarang?”


Nolan mengangkat kepalanya dan menoleh ke sisi bahu kanannya demi melirik sosok Caca, merasa tidak habis pikir karena Caca lebih memilih membuang tenaga dari pada menuruti ucapnya dan segera minum teh hangat buatannya.


“Banyak tanya Lo ya? Udah deh, minum aja tuh teh nya lalu Lo balik kelas. Gue nggak pingin Lo berisik disini dan ganggu istirahat gue.”


Satu. Dekati Nolan.


Dua. Curi dan lunakkan hatinya.


Tiga. Kembalikan dia kepada papanya dengan attitude yang sempurna.


Mantap bukan?


Ya, tiga langkah menjalankan misi yang harus segera ia wujudkan agar ia tidak terlalu lama memikirkan rumus kimia dan fisika yang membuat otaknya mengebul. Dan juga, tidak berada di sekitar Nolan terlalu lama, karena sangat berbahaya bagi jiwa dan raga. Alay.


“Nol,” panggil Caca dengan suara parau, yang lagi-lagi menarik perhatian si empu yang punya nama.


“Gue bukan angka, kenapa lu manggil gue dengan sebutan Nol?”


Meskipun terdengar aneh, tapi Nolan suka dengan panggilan tersebut. Terasa berbeda ketika Caca yang menyematkan sebutan itu. Terkesan tidak lebay, dan tidak ingin diperhatikan seperti gadis-gadis lain yang ingin mendekatinya.


“Itu nama kamu—”

__ADS_1


“Coba Lo pikir lagi, terus Lo belajar berhitung deh. Kayaknya matematika lu nilainya jeblok.”


Sialan! Caca jadi kesal sendiri cuma gara-gara nama panggilan.


Persetan lah. Biarkan saja dia, seperti bunyi peribahasa: Anjing menggonggong kafilah berlalu. Peribahasa ini harus dirahasiakan dari Nolan jika Caca tidak ingin dalam kesulitan. Masa' Nolan disamakan sama anjing? Pasti dia bakalan murka. Pikir Caca.


“Oke. Terserah. Aku maunya manggil kamu begitu, masalah buat kamu?” Keukeh Caca tak mau kalah. Wanita harus kuat dan nggak boleh ngalah.


Nolan menatap lurus tanpa ekspresi, lalu berdiri dari tempat tidurnya dan berjalan mendekat ke Caca. Satu jari Nolan mengacung, kemudian mendorong kening Caca hingga kepala gadis itu terantuk kebelakang.


“Awas saja kalau semua panggil gue dengan nama itu. Gue cari Lo, dan gue gak bakalan biarin Lo hidup tenang.”


Caca membeku. Ia sampai lupa mau bicara apa dengan Nolan tadi.


Nolan berbalik hendak pergi, masih dengan muka lempeng tanpa ekspresinya. Namun ia tercengang ketika Caca berteriak padanya.


“Kamu kira aku takut sama ancaman kamu?”


Bahu Nolan luruh karena tidak menduga Caca akan seberani itu padanya. Tapi jujur, Caca itu membuatnya penasaran sejak malam itu, sejak malam nahas kecemplung parit waktu itu.


Selama ini, tidak ada yang berani melawan atau menolak pesonanya. Hanya Caca. Dia gadis pertama yang terlihat tidak suka padanya, yang justru, membuat Nolan tertarik tanpa alasan yang jelas.


“Jadi, kamu nggak takut?” Katanya dengan suara rendah yang membuat bulu kuduk Caca seketika berdiri.


Caca menggeleng. “Nggak,”


Nolan menyematkan sebuah seringai disudut bibirnya. Entah dia sedang kagum, atau sedang menahan tawa karena ekspresi Caca begitu bertolak belakang dengan ucapan yang keluar dari bibirnya. Caca terlihat panik dan ketakutan setelah dia memutar tubuh, tadi. “Kalau begitu, buktikan.”


Bersama dengan selesainya Nolan bicara, pintu berderit terbuka, satu sosok muncul dari balik pintu dan mengejutkan untuk Nolan.


“Caca? Kamu udah baikan?” tanya Gita yang datang untuk menjenguk.


Nolan bertanya dalam hati, Sejak kapan mereka dekat? []


...—Bersambung—...


###


Makasih sudah dukung karya Vi's ya...


Jangan lupa mampir juga di karya lainnya 👌

__ADS_1


See you ☺️


__ADS_2