
...Part 24 meluncur...
...Selamat membaca...
...Jangan lupa dukungan kalian untuk MGT ya.....
...Makasih...
...🪐🪐🪐...
...MGT by: VizcaVida...
...24...
Caca bergerak sebisanya untuk turun dari ranjang berukuran 90×200cm miliknya karena ia mendengar suara standart samping motor diturunkan didepan rumahnya. Tanpa basa-basi ia melongok dari balik tirai yang baru sejam lalu ia geser menutup setelah diomeli Bu Julia karena kelupaan.
Matanya terbelalak saat melihat presensi Nolan dengan Hoodie hitamnya yang sedang melepas helm, kemudian turun dari motornya dengan proporsi tubuh tinggi menjulang seperti galah yang biasanya di gunakan tetangga untuk mengambil buah mangga dari pohonnya yang ada dihalaman depan rumah caca.
Sumpah, dia tidak pernah menyangka Nolan akan menyatroni rumahnya lagi setelah hari itu. Ia pikir, kedatangan Nolan waktu itu adalah kedatangan pertama dan terakhir karena Caca tidak pernah mengharapkan sepatu mahal milik anak lelaki itu menapak lagi di lantai rumahnya yang sudah berubah warna menjadi sedikit kekuningan dan tidak mengkilat seperti lantai baru.
Tak lama berselang, pintu depan terdengar diketuk, dan suara baritone Nolan terdengar menyebut nama Caca.
“Mau ngapain sih dia datang mari? Mau bikin ribut?” dumal Caca kesal karena Nolan datang tanpa pemberitahuan. Setidaknya, jika Nolan memberitahunya, dia bisa berpakaian lebih layak dan menata rambut, tidak seperti sekarang saat dirinya memakai babydoll yang sudah pudar warnanya dengan rambut di cepol asal karena baru balik dari kamar mandi untuk cuci muka dan bersiap belajar kimia dan fisika. Diam-diam Caca mulai menyukai dua pelajaran tersebut. Jika di tanya alasannya kenapa, Caca juga masih bingung mengapa dia tiba-tiba tertarik dengan dua mapel tersebut padahal sebelumnya dia sangat tidak suka. Ah, anggap saja karena tuntutan pekerjaan.
Sial bagi Caca, ganti pun akan membuang waktu. Jadi, biarkan saja. Biar Nolan ilang feeling dan kabur sekalian.
Dengan langkah sedikit diseret, Caca menuju pintu rumah. Jangan tanya dimana bu julia sekarang, karena beliau sedang ada acara tasyakuran di rumah tetangga yang baru saja melahirkan dan akan memberi nama anaknya.
Pintu berderit terbuka dan sosok Nolan terlihat jelas dan sempurna didepan mata.
“Ada apa?” tanya Caca ketus. “Ibu sedang nggak ada dirumah, jadi kamu dilarang masuk.” lanjutnya masih ketus.
Nolan hanya memasang ekspresi datar dan tidak ingin berdebat. “Ya udah. Duduk diluar aja.”
Gila. Caca pikir Nolan akan pergi setelah dia berkata begitu. Tapi nyatanya?
“Ada apa sih?!”
Nolan tidak memberi jawaban dan memilih melepas sepatunya, kemudian duduk melantai di dekat jendela rumah Caca yang berjumlah dua, dan dipasang sedikit turun hampir menyentuh lantai.
Caca memilih duduk di tengah pintu demi menjaga jaraknya dengan Nolan. Tapi ia sadar Nolan sedang melirik kearahnya. “Kenapa? Mau protes?”
Nolan memanjangkan kakinya diatas lantai, kemudian merogoh sakunya untuk mengeluarkan ponsel mahalnya yang sekarang sering dijadikan kaum sok berduit membentuk sircle pertemanan. Kemudian, ketika mendengar ponsel menjadi alasan membentuk kelompok pergaulan, Nolan sempat berkata, “Anjing memang.”
Tanpa menjawab, Nolan mengarahkan layar ponselnya itu kedepan wajah Caca. Posisinya sedikit menyamping dan menumpu beban tubuhnya dengan satu tangan.
Menurut mitos yang dipercaya sejak zaman dahulu, anak gadis dilarang duduk didepan pintu karena dipercaya dapat menolak jodoh yang akan datang kerumah mereka.
Sialan!!
__ADS_1
Caca jadi menggeser posisi duduknya sedikit menjauh dari tengah pintu, membuat Nolan menyunggingkan senyum jenaka.
“Aku bergeser karena di nat keramiknya banyak semut lagi pawai.”
Nolan semakin melebarkan bibirnya, membentuk senyuman manis dan memperlihatkan lesung Pipit yang selama ini bersembunyi di balik kulit pipinya yang bersih.
“Alasan.” serunya mantap lalu memasukkan ponsel kembali kedalam celana.
“Kamu percaya begituan? Aku kira tidak?”
“Memang enggak.” jawab Nolan tak tau diri hingga membuat Caca meluruskan pandangannya.
“Lalu kenapa kamu perlihatkan itu ke aku?!”
Nolan hanya mengedikkan bahu, kemudian menekuk kedua kakinya untuk ia rengkuh dengan dua lengannya yang berukuran lebih seksih dari ukuran lengan anak SMA.
“Jadi, apa tujuan kamu datang lagi kesini?” cerocos Caca tak suka. Ia benar-benar risih jika Nolan datang kerumahnya. Bukan karena apa-apa, Caca hanya memikirkan tidak ada tempat yang cukuo layak untuk menyambut manusia sekelas Nolan yang harga outfit santainya saja, lebih dari lima juta rupiah.
“Lo nggak apa-apa?”
Caca mengerutkan kening mendapat pertanyaan seperti itu. Dipikir-pikir, Nolan tidak tau kejadian tadi siang. Tapi kenapa datang-datang malah menanyakan keadaannya?
“Baik. Memangnya kenapa?” jawab Caca menutupi kenyataan jika sekarang rasa ngilu yang tadi hanya berpusat di pan-tat, sekarang menjalar ke tulang belakang dan naik ke pinggang.
“Lo bohong kan? Gue lihat tadi Lo jalannya nyeret kayak—”
“Aku lagi akting. Biar kamu langsung pulang setelah lihat aku begitu tadi.” lanjut Caca masih berbohong yang membuat Nolan menaruh atensi penuh padanya. “Beneran. Tapi kenyataannya, kamu nggak pulang dan malah duduk disitu.” serunya sambil menunjuk dimana Nolan berada.
Lha? Kenapa bisa tau?
“K-kamu tau dari mana?”
Nolan berdiri. Dia hendak pulang karena merasa nggak enak ke Caca yang sedang menahan kesakitan.
“Nggak penting. Tujuan gue datang kesini, cuma mau ngasih tau Lo. Jangan ada urusan lagi sama tuh siswa bermasalah.”
Caca hanya diam melongo ketika melihat Nolan memakai kembali sepatunya. Bibirnya refleks berkata, “Kamu mau pergi? nggak minum teh dulu?”
Nolan berhenti mengikat tali sepatu. Ia menatap tanah lembab di depannya. Caca menawarinya minum?
Nolan menggeleng.
“Nggak. Gue ada urusan.”
Caca berdiri dengan batuan kusen pintu. Ia berjalan mendekati tepian teras rumah ketika Nolan sudah duduk diatas motor mahalnya sambil memakai helm. Bibir Caca rasanya kaku, lidahnya kelu. Dia sehat berterima kasih pada Nolan, tapi ia tidak bisa berkata apapun sampai Nolan benar-benar menghilang dari area rumahnya.
“Bodoh.” katanya sambil memukul sisi kanan kepalanya. “Kenapa nggak bilang terima kasih, sih Ca?”
***
Sejak hari itu, Caca menjadi kian dekat dengan Nolan. Dan Nolan sendiri, tidak bersikap ogah-ogahan seperti sebelumnya. Mereka terlihat natural dan seperti pasangan teman pada umumnya.
__ADS_1
Seperti pagi ini, mereka yang tidak sengaja bertemu di koridor ketika menuju kelas, pada akhirnya terpaksa berjalan bersama—meskipun Caca menjaga jarak beberapa meter di belakang Nolan.
Nolan sampai di kelasnya terlebih dahulu, dan dia acuh tak peduli ketika Caca hanya berlalu tanpa menyapanya.
Hari ini adalah hari terakhir masuk sekolah dalam siklus satu minggu. Caca yang kemarin sempat izin absen karena pinggangnya sakit, hari ini kembali masuk dan siap kembali bekerja keras untuk pak Hendra.
Mengingat pria itu, Caca memutuskan berbalik demi melihat apakah Nolan benar-benar masuk ke kelas dan mengikuti pelajaran. Namun nahas bagi Nolan, dia terpergok sedang memperhatikan Caca dengan tatapan tak putus bahkan setelah Caca memergokinya.
Niatan Caca yang ingin menyapa ringan seringan bulu, harus terbang bersama angin.
“Ngapain ngelihatnya begitu?”
“Cuma mau mastiin encok kamu udah mendingan.”
Sialan sekali bukan? Orang sakit karena jatuh teraniaya, malah dikira encokan?
“Ya udah. Belajar yang bener. Jangan jadi begundal macam—”
Nolan menghilang bak memilik ilmu sakti yang bisa membawa dirinya teleportasi ketika mendengar nasehat bijak dari Caca.
“Dasar aneh.” bisik Caca pada dirinya sendiri, kemudian berbalik dan tidak lagi bisa menyembunyikan senyumannya. Wajahnya tiba-tiba terasa panas hingga menyentuh telinga. Dia tersipu.
***
“Kasihan ya, sampai nggak masuk sekolah lho anaknya?”
Gita mendengarnya dengan jelas. Dua teman sekelasnya sedang membicarakan Caca. Memangnya siapa lagi? Karena Bagi Gita, Caca itu si caper yang selalu berhasil menarik perhatian seisi sekolah dengan caranya yang begitu menyebalkan. Bahkan Caca sempat melihat komentarnya pada salah satu grup cathing forum penting di sekolah, dibaca oleh Nolan. Sialan sekali memang Caca itu—pikir Gita.
“Gue juga denger, Nolan datengin Terry lho.”
Untuk yang satu itu, Caca memasang telinga dan jemarinya sontak meremas ballpoint yang sedang ia pegang.
“Oh ya? Terus, mereka berantem?”
“Nggak tau, tapi muka si Gred memar. Pasti di tonjok si Nolan tuh.”
Gita sudah merasa tidak nyaman dengan obrolan kedua temannya itu. Dia memejamkan kedua matanya, menggigit bibir bawahnya menahan rasa ngilu dan sakit hati yang begitu meremas di dadanya.
“Waduh, apa jangan-jangan rumor Nolan sama Caca pacaran itu, bener ya?”
Seketika Gita membuka mata. Ia menolah kasar dengan wajah datar ketika menatap kedua teman yang duduk dibelakangnya, namun ia sama sekali tidak dekat dengan mereka itu, lantas berkata. “Ini kelas. Bukan tempat yang bisa digunakan untuk ajang menebar gosip.”
Kedua teman itu menatap aneh ke arah Gita.
“Lo kenapa? Cemburu?” tanyanya mengibarkan bendera perang.
Dikelas, Gita lebih banyak memiliki musuh. Ia bahkan tidak disukai oleh semua murid perempuan dikelasnya ini, hanya karena dia diam tak banyak bicara. Ia masih ingat betul, dan masih tidak bisa mengubah kebiasaan diamnya karena Nolan.
“Ya lah cemburu. Lo lupa ya, kalau dia itu mantan yang masih mengharapkan?” Segah satu siswi lainnya dengan suara mencibir yang ia tujukan kepada Gita.
Gita hanya tetap menatap lurus ke arah kedua siswi tersebut, lantas tersenyum licik yang membuat dua pribadi yang suka bergosip itu bergidik ngeri. “Ya. Aku masih mengharapkan, dan akan mendapatkan dia kembali.” []
__ADS_1
...—Bersambung—...