Me Gustas Tu

Me Gustas Tu
S2. Six


__ADS_3

...Happy Reading...


...•...


...•...


...Jangan lupa istirahat yang cukup, karena besok weekend. 😁...



...[•]...


Gila. Ini Gila.


Caca terus mengatakan itu dalam hatinya ketika yang berdiri disisi kanannya ketika berada didalam super market adalah Nolan, bukan Louis. Caca sendiri tidak tau mengapa pria ini ada di tempat dan sudut yang sama dengannya. Sedangkan rumahnya ada jauh disana, dipusat kota.


Ingin sekali Caca bertanya mengenai keberadaan Nolan disini. Ada pekerjaan atau proyek kah? Tapi ia tahan didalam mulut kuat-kuat.


“Gue lagi ninjau perusahaan kosmetik yang lima tahun ini gue rintis, Ca. Nggak perlu khawatir gue ngikuti Lo jauh-jauh kesini sebagai stalker. Nggak usah GeEr.” kata Nolan santai seperti seorang yang bisa membaca pikiran.


Caca melotot lebar. Siapa juga yang gede rasa? Nolan saja yang terlalu besar kepala. Rasa percaya diri Nolan masih belum berubah dari terakhir Caca tau.


“Siapa yang GeEr sih? Aku cuma nggak nyangka kamu ada disini lagi. Itu aja.”


Nolan tersenyum. Dia mendorong kereta belanja mendahului Caca ketika melihat deretan makanan ringan yang ia sukai. Caca tau, Nolan suka sekali keripik kentang rasa pedas dan juga barbeque.


“Nanti struk pembayarannya di pisah saja. Aku nggak mau punya utang sama kamu.”


Nolan hanya diam dan berjalan menuju rak lain. Setelah itu dia meletakkan beberapa kantung cemilan di keranjang yang sama.


“Eh, ngapain kamu—”


“Gue traktir.”


“Nggak. Aku nggak suka itu lagi.” kata caca sambil meraih empat kantung taro dari dalam keranjang dan menatanya lagi di rak. Sikap caca itu mengundang tatapan Nolan yang menyorot lurus ke arahnya.


“Udah nggak suka?” tanyanya. Ia seperti sedikit kecewa mendengar jika Caca sudah tidak menyukai cemilan yang sebenarnya, masih sangat di sukai oleh wanita itu. Sekali lagi Caca tekankan, dia tidak mau berurusan lebih lama lagi dengan Nolan, apalagi sampai berhutang padanya. Hutan itu akan menjadi masalah lain yang berlarut-larut dan tidak akan menemukan titik akhir.


“Aku udah tua, Nol. Aku nggak mau makan sembarangan.” bohongnya didepan Nolan, padahal dalam hati dia menangis ingin menarik dan memasukkan kembali si taro kedalam keranjang.


Caca membenarkan posisi masker yang ia kenakan, lantas mengambil alih keranjang belanja itu menjauhi rak camilan dan berniat membawanya menuju kasir. Baginya, masker itu wajib agar identitas nya tetap menjadi privasi.

__ADS_1


“Kamu udah nggak butuh beli apa-apa lagi? Aku mau bawa ini ke kasir.” sergah Caca ingin menyudahi pertemuan mereka, karena Nolan tidak mengatakan hal penting apapun yang katanya tadi, ingin disampaikan. Dia seperti hanya ingin menikmati waktu berdua bersama Caca. “Setelah ini, jangan lagi pernah temui aku kayak gini. Okey?! Kalau mau ketemu aku lagi, aku ajak Louis.”


Nolan menarik lengan Caca. “Lo nggak mau tanya ngapain gue pingin ketemu elo?”


Caca kembali menghentikan langkah. Semuanya terasa begitu klise dan menjadi seperti deJavu untuk Caca. “Itu nggak penting Nol. Kalau kamu memang mau bicara, katakan saja sekarang. Aku harus segera pulang.”


“Gue udah nggak penting lagi buat Lo, ya?” tanya Nolan sendu. Ia benar-benar tidak habis pikir jika Caca mengabaikannya seperti ini.


“Ya. Dan aku nggak mau kalau sampai Louis tau kita bertemu seperti ini.”


“Gue—”


“Aku bukan Caca seperti yang kamu kenal dulu, Nol. Caca yang hari itu sudah pergi. Dan Caca yang kamu lihat sekarang, adalah Caca yang berbeda. Caca yang sekarang, adalah Caca yang akan menjadi perdebatan banyak orang ketika melakukan kesalahan.”


Nolan menundukkan kepala dan menemukan jari manis Caca yang dilingkari sebuah cincin mahal. Pada kenyataannya, Caca yang ia kenal dulu, memang sudah pergi meninggalkannya jauh sekali. Dia tidak akan mungkin pernah kembali menemukannya, begitu kan?


“Aku adalah orang yang terikat dengan seseorang yang—”


“Gue tau. Nggak usah dilanjutin.” kata Nolan menyela Caca yang belum merampungkan kalimatnya. Karena mendengar ucapan Caca yang seperti itu, membuat hatinya terasa begitu ngilu, hingga nyeri. Ini adalah kenyataan yang menyakitkan karena selama itu, Nolan tidak berusaha memperjuangkan atau mencari keberadaan Caca. Dan sekarang, ia menyesal sudah melepas Caca begitu saja. Ia sadar jika Caca masih sangat berarti untuknya. “Gue pergi habis ini. Dan gue nggak bakalan ganggu atau hubungi Lo lagi meskipun gue ada disini, dan Deket sama Lo.” Ya. Seharusnya begitu. Karena Nolan tidak ingin menyakiti Caca lagi.


Caca ingin sekali meremas pakaian yang ada didepan dadanya. Mendengar Nolan mengatakan itu, satu sisi hatinya terasa sakit. Ia seperti ingin menentang kenyataan dan ingin kembali ke masa silam untuk memperbaiki semuanya.


Jika memang ada mesin pemutar waktu, Caca ingin sekali kembali di tahun itu. Menolak permintaan Hendra, dengan begitu dia tidak akan sama sekali mengenal Nolan dan merasa terikat seperti ini.


“Ngomong yang jelas!!” bentak Caca nggak peduli kalau sampai menarik perhatian pengunjung lain. Dia hanya kesal karena Nolan terus berputar-putar mencari alasan atas ajakannya bertemu. Manik matanya mulai berembun. Dia ingin marah, tapi bukan karena Nolan. Tapi karena dirinya sendiri yang tidak bisa menahan perasaannya yang ternyata masih sebesar itu kepada Nolan.


Dan apa yang dia dapat? Caca seperti mendapat serangan double yang membuatnya meneteskan airmata saat itu juga. Saat mendengar Nolan berkata, “Aku kangen sama kamu.”


Caca membuang wajah ke arah lain, lalu menghembuskan nafas kasar sambil melihat langit-langit bangunan, meletakkan satu tangannya di pinggang, dan menggigit bibir bawahnya cukup keras dibalik masker yang ia kenakan. Dan tentu itu sedikit menjadi keberuntungan karena Nolan tidak dapat melihat itu, tidak dapat melihat kecemasannya.


Sialan sekali kan Nolan ini?!


***


Bukannya berkurang, rasa bersalah Caca semakin terpupuk dan tumbuh subur ketika melihat Louis menunggunya didepan pintu apartemen, masih dengan setelan kerja sama dengan yang ia lihat tadi pagi. Louis belum pulang kerumahnya dan memilih datang padanya, itu sudah memperlihatkan betapa besar rasa cinta pria itu padanya. Caca tau, bagi Louis dia adalah prioritas, karena Louis pernah mengatakan itu didepannya.


Langkah Caca terhenti beberapa saat ketika melihat laki-laki itu memandang lurus sembari tersenyum ketika melihat kedatangannya. Semua itu membuat Caca ingin menyerah dan ... entahlah.


Louis menyambut dirinya dengan sebuah pelukan hangat dan kecupan singkat di kening ketika dia sudah berada dalam jangkauannya. “Capek ya? Maaf nggak bisa nemeni kamu pergi belanja. Kerjaan lagi nggak bisa diajak kompromi.”


Caca hanya diam mematung dalam pelukan Louis. Ia masih di kungkung oleh rasa bersalah yang teramat sangat.

__ADS_1


“Kamu tau passcode nya. Kenapa nggak masuk?” tanya Caca, membalas pelukan hangat Louis untuknya.


“Pingin nungguin kamu.”


Caca membenamkan wajahnya semakin dalam, dan hal itu sukses membuat Louis menerka dalam diam, sesuatu telah terjadi pada Caca tanpa sepengetahuannya.


Louis menarik diri menjauh. Dia menjauhkan bahu Caca dan menatap manik mata Caca yang terus disembunyikan oleh si pemilik.


“Ada masalah?” tanya Louis. “Atau, kamu masih marah dengan sikapku waktu itu?”


Caca menggeleng, akan tetapi masih tidak sanggup untuk mengangkat wajah dan menautkan netranya pada Louis.


“Ca, lihat aku.” kini Louis ingin tidak hanya menebak. Dia ingin memastikan.


Lagi-lagi dia mendapat penolakan dari Caca. Kepala wanita yang sangat ia cintai itu menggeleng dan masih enggan menatapnya. Ini masalah besar untuk Louis. Caca tidak pernah se-terluka ini. Lalu, Louis kembali membawa Caca kedalam pelukan.


“Maaf, udah buat kamu sedih.” katanya, yang semakin membuat dada Caca terasa sesak dan ingin berteriak keras untuk melepas rasa sesak itu. Louis terlalu tulus mencintainya. Dan dia terlalu banyak menyembunyikan sesuatu dibalik punggung pria baik itu. “Aku janji nggak akan buat kamu kayak gini lagi.”


Caca mulai tersedu. Dia menangis di dada Louis. Sekuat apapun dia, Caca hanya seorang wanita yang juga memiliki sisi lemah jika merasa lelah. Dan bagi Louis, menangis bukanlah sebuah kelemahan, melainkan sebuah cara seseorang untuk membuat diri mereka sadar jika akan ada seseorang yang menjadi sandaran untuk menampung kesedihan dan rasa lelah mereka.


“Mau masuk sekarang?”


Caca memberi jawaban dengan sebuah anggukan. Dia tidak melepas pelukannya dari Louis bahkan ketika pria itu berhasil memasukkan passcode dan membawanya masuk kedalam rumah.


Dengan sabar Louis menuntun Caca untuk duduk di sofa ruang tengah. Ia membiarkan Caca menangis disana dan berininsiatif membuka gorden yang akan menampilkan langit malam. Siapa tau Caca akan merasa lebih baik.


Namun apa yang ia lihat diluar sana membuat bibirnya kelu, dan nafasnya seperti tercekat di tenggorokan. Tatapannya tertuju pada seseorang yang berdiri memperhatikannya di kejauhan. Setelah itu, beranjak masuk kedalam mobil, dan pergi meninggalkan parking lot apartemen.


Louis menoleh sejenak untuk melihat Caca. Bukan untuk mencari kesalahan apapun yang dilakukan Caca. Dia hanya ingin memastikan jika Caca menangis karena dirinya, bukan karena pria yang berdiri diluar sana.


Caca bertemu Nolan?


Louis kembali membawa dirinya mendekat kepada Caca. Dia duduk disebelah wanita itu dan mengusap surainya yang lembut. Tidak ada percakapan, hanya suara isakan tangis Caca yang memenuhi seantero ruangan.


Apa yang terjadi sebenarnya?


Louis menatap nanar cincin di jari manis telapak tangannya yang sedang mengusap rambut hitam Caca. Sekarang, keraguan muncul dalam benaknya.


Apa Caca benar-benar mencintainya? []


...—Bersambung—...

__ADS_1


###


Nggak terlalu nyesek kok part ini 🥺


__ADS_2