Me Gustas Tu

Me Gustas Tu
Teman Kompak


__ADS_3

...Part 28 Update...


...Selamat membaca...


...🪐🪐🪐...



...MGT by: VizcaVida...


...28...


Sesampainya disekolah dan memarkir mobil, Nolan menarik rem tangan dan mematikan mesin mobil. Ia melepas seatbelt dan berhenti dari gerakan apapun untuk sejenak, lalu menoleh kearah Caca yang terlihat sibuk sekali.


“Lo du*ngu ya? Masa ngelepas aja nggak bisa?” keluh Nolan kesal sambil menyentak tangan Caca dan menekan pengait dan seatbelt itu mengendur terbuka.


Caca menyuguhkan cengiran kuda tak tau malu didepan Nolan, yang membuat Nolan ingin menarik gemas hidup Caca saat ini juga.


“Hehehe...Sorry. Aku memang nggak pernah naik mobil mahal. Jadi, harap maklum bapak Nolan yang terhormat se SMA Kemala.”


Nolan menggeleng dengan wajah datar lalu menggaruk pelipisnya.


“Lo turun aja dulu.” titah Nolan tanpa melihat Caca ketika gadis itu mengangguk patuh dan meraih tas punggung dari pangkuan, lalu mengenakannya.


“Makasih ya, Nol. Nanti aku naik bus didepan kompleks tadi ya buat ambil motor— Eh, rumah kamu di kompleks tadi?” Caca terbelalak, baru sadar jika dia tidak tau dimana alamat Hendra meskipun mereka saling kenal dan menjalin kerja sama.


Nolan mengangguk, tapi memberi jawaban lain untuk pertanyaan Caca. “Pulangnya bareng gue lagi. Ngapain Lo repot-repot naik bus.”


Caca bingung. Nolan ini sebenarnya ikhlas atau tidak sih?


“Aku nggak mau ngerepoti kamu. Aku—”


“Tunggu aku disini pulang sekolah nanti.”


Masih ingat bukan? Nolan tidak suka terlalu banyak bicara. Jadi dia memutuskan turun terlebih dahulu dari mobil karena Caca terlalu banyak bicara dan mendebat. Mood Nolan berubah pasif. Ia jadi malas.


***


Selama pelajaran, Caca merasa sedikit kedinginan karena bajunya yang basah terkena dinginnya suhu ruangan dari AC yang selalu dipasang di angka 20° Celcius. ia takut terserang flu jika terus begini. Tapi Caca tidak bisa berbuat apapun selain diam dan tetap mengikuti ulangan yang berlangsung sejak kemarin.


Semua berjalan tanpa kendala hari ini, kecuali Caca yang menahan kedinginan.


Langit masih mendung, namun hujan sudah reda sekitar sejam yang lalu. Caca berjalan menuju parkir mobil dan berdiri di sebelah pilar, menunggu Nolan.


Tak lama kemudian, Nolan muncul. Ia berjalan dengan langkahnya yang lebar, dan gaya berpakaiannya yang berbeda dari siapapun. Namun, ketika angin menerpa wajah pemuda itu, Caca terkesima. Maniknya sampai tak berkedip ketika surai Nolan diterpa angin hingga berantakan. Lalu gerakan Nolan ketika menata kembali rambut yang sudah tidak beraturan itu, bak slow motion yang tidak ingin disudahi.


Caca berusaha mengendalikan perasaannya, ia pun menolah ke arah lain demi mengalihkan arah pandangnya. Nolan sangat berbahaya.


Tanpa menyapa atau bicara apapun dengan Caca, Nolan menuju mobil papanya yang terparkir disana, berjejer rapi dan bersaing dengan mobil-mobil mewah lainnya yang tak kalah mahal.


Caca memilih diam dan hanya berdiri di samping mobil yang sudah siap di kemudikan oleh Nolan. Suara mesin mobil yang halus tidak membuat Caca segera menarik handle pintu mobil dan masuk kedalam sana. Hingga kaca mobil itu turun dan Nolan berseru, “Sampai kapan Lo mau berdiri di situ dan buat gue nunggu Lo yang berdiri nggak jelas, Hah?” kesal Nolan dengan matanya yang sudah menatap tajam pada Caca dan mengibarkan bendera permusuhan.


“Aku, aku naik bus saja.”


Nolan berdecak keras. “Lo naik bus, bus yang Lo naiki gue tabrak.”


Caca tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Caca kemudian bergegas meraih handle pintu mobil bersamaan jendela kaca yang kembali naik. Tanpa mereka berdua tau sepasang sorot mata sedang mengawasi mereka.


Kemudian dengan telaten dan tanpa diminta, Nolan kembali memakaikan seatbelt di badan Caca. Tidak ada percakapan setelahnya. Caca hanya merasakan mobil mewah itu mulai bergerak keluar area parkir dan bergabung bersama mobil lain membelah jalanan padat kota yang siang ini sedikit redup.


Harum lembut khas Nolan memenuhi Indra penghidu Caca. Dia menyukai aroma Nolan yang begitu lembut seperti bayi. Ia minder sendiri setelah sadar sudah mengagumi murid sekolah yang tidak seharusnya dia kagumi itu. Caca benar-benar merasa nggak waras.

__ADS_1


“Gue anter langsung rumah Lo aja. Mendung, pasti hujan lagi.”


“Nggak deh. Ambil motor aja dulu.”


Nolan sebal. Dia menambah kecepatan laju mobilnya hingga membuat Caca panik.


“Nol. Kamu kenapa sih? Aku nggak mau mati konyol gara-gara kamu.”


Sadar akan ketakutan Caca, Nolan kembali menurunkan kecepatan dan melajukan mobil mewah itu dengan kecepatan normal.


“Kalau nggak ada motor dirumah, mau kemana-mana juga nggak bisa, Nol.”


Diam sejenak. Nolan berusaha memahami. Namun sesuatu yang sudah ia rancang sejak sehari lalu setelah bertemu Jonathan, terus mengusiknya.


“Gue maksa Lo ikut, karena gue mau bicara sama Lo.”


Sontak Caca menoleh ke arah Nolan yang fokus pada jalanan yang mulai basah didepan sana. Hujan sepertinya turun lagi.


Memangnya, apa yang mau dibicarakan?


Caca terus mengawasi fitur samping wajah Nolan, sampai pemuda itu menoleh sekilas dan kembali menatap jalanan.


“Dua puluh enam desember, Lo ada acara nggak?”


Caca semakin bingung. Dia hanya mengingat jika dirinya bukanlah orang sibuk. Jadi mau tanggal berapa dan hari apapun, dia nggak pernah sibuk. Dia hanya akan tidur seperti hewan hibernasi jika ada waktu luang. Dia selalu free.


Caca menggeleng. “Enggak. Kenapa?”


Nolan memutar setir mobil ke kanan. Dan tidak jauh dari belokan, ia menginjak pedal rem untuk berhenti karena lampu merah sedang menyala.


“Ternyata Nolan bawa mobilnya jago juga ya?” batin Caca memuji kemahiran menyetir Nolan yang sedari tadi tidak membuatnya terganggu, pusing karena gas tersendat-sendat, atau bahkan mual.


Caca mengedip cepat membayangkan Nolan yang sangat tampan dan keren saat menaiki moge nya dengan pakaian khusus rider yang dikenakan pemuda itu nantinya.


Ough ... tidak ... selamatkan Caca ...


“L-lalu, kamu mau ngajak aku? Gitu?” tembak Caca tepat sasaran karena Nolan mengangguk pelan dengan gerakan sedikit ragu.


“Komandan bilang suruh ngajak temen.” Lanjut Nolan memberi penjelasan agar Caca tidak salah paham. Kemudian, Nolan melanjutkan lagi. “Lo bilang, Lo temen gue kan? Jadi, Lo mau kalau gue ajak touring?”


Hatsyu...!


Nolan menganggap itu jawaban ‘Ya’ dari Caca.


***


Hatsyu...!


Teman ... Teman ... Ya, kami hanya teman ...


Caca terus merapal mantra itu dalam isi kepalanya yang sekarang sedang terasa pening dan berat.


Caca bahkan tidak peduli dengan seisi ruangan yang menoleh lalu menatap ogah-ogahan pada nya ketika sedang mengusap hidungnya yang berwarna merah.


Sehari yang lalu dia terkena hujan pertama setelah musim kemarau, ditambah lagi suhu pendingin ruangan yang rendah ketika sebagian seragamnya basah, hal itu berhasil membuat daya tahan tubuh Caca kalah kuat, dan berakhir terserang flu berat.


Pagi ini, dia sudah hampir izin tidak masuk sekolah karena kondisi tubuhnya yang sedang kurang fit. Tapi ingat ada ulangan akhir semester pertama, membuat Caca mau tidak mau harus bertahan.


Dan dengan bantuan Nolan, dia bisa sampai di sekolah.


Ya, Nolan seperti cenayang yang bisa membaca situasi juga masa depan. Pagi-pagi sekali dia sudah tiba dirumah Caca dan menawarkan tumpangan yang tidak bisa Caca tolak karena kondisinya yang kurang fit.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan, Caca kedinginan. Badannya panas, kepalanya pusing, dan dia tetap memaksa pergi ke sekolah.


Bel pulang berbunyi. Caca harus pulang bareng lagi sama Nolan.


Wajah Caca sedikit pucat, dan badannya masih panas meskipun tadi sudah meminum obat dari dokter UKS. Caca meninggalkan kelas dan hanya ingin cepat sampai rumah dan beristirahat.


Perihal ajakan Nolan, Caca belum memutuskan untuk ikut atau tidak karena dia tidak ingin gegabah mengambil keputusan. Namun rencana pulang dan segera tidur yang sudah Caca rancang sedari tadi harus tersendat karena beberapa murid perempuan menghadangnya.


Apalagi sekarang?


Caca tidak ingin mencari ribut hari ini. Dia hanya menghindar ketika salah satu dari murid perempuan itu mulai mengganggu. Kakinya menghadang kaki Caca hingga nyaris tersungkur.


Teringan ucapan ibunya jika dia tidak boleh ditindas, Caca membalikkan badan menatap murid perempuan yang sok itu dengan wajah malas.


“Sebenarnya mau kamu apa? Aku nggak kenal kamu. Atau, kita pernah terlibat masalah sebelumnya?”


Mereka jadi pusat perhatian sekarang. Semua murid dari jurusan IPA yang hendak pulang terpaksa berhenti dan melihat geng mercy mengganggu Caca. Dan sekarang Caca mulai mengerti sistem kerja di sekolah ini, dia akan bertahan jika dia bisa mempertahankan dirinya sendiri.


Salah satu dari mereka yang diyakini Caca sebagai pemimpinnya, maju kedepan mendekat pada Caca. Lantas membisikkan sesuatu.


“Jauhi Nolan. Dia milik gue.”


Caca hampir menyemburkan tawa. Kepalanya yang tadi terasa begitu pusing tiba-tiba terasa baik-baik saja. Tubuhnya seperti kembali bugar dan lupa jika sedang kurang sehat.


“Coba, aku tanya ke Nolan dulu deh. Dia milik kamu atau bukan.” kata Caca menantang dan sudah bersiap menuju kelas Nolan. Tapi gadis yang bahkan tidak Caca ketahui namanya itu menahan pergelangan tangan Caca dengan gerakan kasar hingga Caca terpelanting.


“Berani Lo datang ke Nolan, gue patahin kaki Lo!”


Bukannya takut, Caca Manarik tangannya dari cengkeraman gadis didepannya ini, kemudian tersenyum miring di sudut bibir.


“Seharusnya kamu nggak usah sok kalau takut Nolan datangi kamu.”


“Breng-sek!!”


Gadis itu geram, dia akan menarik rambut Caca, namun Caca berhasil menghindar dan menangkap lengan gadis itu untuk ia putar di balik punggungnya sendiri.


“Aku diam bukan berarti aku lemah.”


“Sial!!” pekik gadis dalam kuasa Caca. Lalu tanpa sengaja, Caca melihat Nolan yang baru saja keluar dari kelasnya dan aku kit memperhatikan apa yang menjadi pusat perhatian para murid yang berkerumun. Dan netra Nolan menangkap sosok Caca disana, sedang membela diri dengan keberanian penuh, membuat senyuman Nolan mengembang sempurna.


“Itu, Nolan.”


Gadis itu terbelalak. Dia meronta namun Caca menahan kuat-kuat dan memanggil Nolan dengan teriakan.


“Dia bilang, kamu miliknya. Beneran?” tanya Caca berteriak hingga membuat semua pandangan berbalik untuk melihat apa yang sedang dilihat Caca.


Semua menutup mulut tidak percaya karena Nolan benar-benar ada disana.


Nolan berjalan beberapa langkah, kemudian menjawab suara teriakan Caca dengan suara beratnya yang seksih.


“Dia bilang begitu?” tanya Nolan balik.


Caca hanya mengedikkan bahu dengan bibir melengkung.


“Bohong. Yang dia katakan itu, nggak bener.” seru Nolan agar kompak mengerjai murid perempuan yang mengaku-ngaku itu.


Semua makin tercengang dengan kalimat selanjutnya yang di katakan Nolan.


“Milik gue itu, elo. Caca.” []


...—Bersambung—...

__ADS_1


__ADS_2