Me Gustas Tu

Me Gustas Tu
Pilihan Sulit


__ADS_3

...Part 42...


...Selamat membaca,...


...Konflik inti dari cerita ini akan muncul, stay tune ya......


...🪐🪐🪐...



...MGT by: VizcaVida...


...42...


Me Gustas Tu a.k.a I Love You.


Nolan tertawa sendiri didalam mobil, ketika teringat akan reaksi Caca ketika dia mengatakan itu. Antara tidak tau arti dan makna kata-kata itu, atau terkejut karena Nolan tiba-tiba mengatakan bahasa yang bahkan belum pernah didengar caca. Tapi ekspresi wajah Caca tadi begitu menggemaskan dan membuat Nolan hampir membatalkan rencana nya untuk pulang kerumah jika tidak sedang ingin bicara dengan sang papa.


Mobil yang dikendarai Nolan mulai memasuki pekarangan rumah, dan benar saja ia melihat mobil papanya yang sedang di bersihkan mang Maman sudah berjejer diantara mobil lainnya.


“Papa baru dateng?” tanya Nolan pada Maman saat turun dari mobil yang ia tumpangi.


“Sudah sekitar tiga jam yang lalu, den. Aden dari mana?”


Nolan menatap sekilas Bugatti yang sempat menjadi satu alasannya semakin membenci sang papa. Kali ini, mengapa papa nya tidak menjual mobil tersebut?


“Dari rumah temen deket, mang.”


Maman mengerutkan kening. Aneh sekali tuan mudanya hari ini. Mengapa terlihat bahagia sekali? Pertanyaan-pertanyaan itu dijawab sendiri oleh Maman dengan gelengan kepala dan senyuman lega.


Nolan terus melewati jalanan marmer yang akan menghubungkan langkahnya ke arah teras rumah. Disana, dia sudah membayangkan wajah papanya akan tersenyum padanya, menyambut kedatangannya, dan memeluknya. Setidaknya itu yang muncul dalam bayangan Nolan.


Ia menaiki undakan tangga sebanyak lima tingkat dengan langkah ringan. Kemudian ia terus mengayun langkah itu menuju pintu, lantas mendorongnya karena di jam sekarang, asisten rumah tangga nya tentu masih belum menguncinya.


Langkah Nolan terus berlalu melewati ruang tamu yang sangat luas dan dipenuhi beberapa barang-barang mahal sebagai hiasan. Lalu melewati ruang tengah yang kosong dan masih tidak menemukan keberadaan sang papa. Hingga dia menatap punggung papa nya di ruang makan. Duduk seorang diri dengan baju rumahan. Nolan mengembangkan senyum dan berjalan mendekat.


Ia duduk berseberangan dengan tempat papanya berada.


“Baru sampai?” tanya Hendra dengan suara lemah dan berhasil membuat Nolan mematri netranya di wajah sang papa. Pucat, dan terlihat menahan sakit.


“Papa sakit?” tanya Nolan khawatir, sedangkan Hendra tersenyum mendengar suara putranya yang seperti ini. Suara ringan dan tidak dingin padanya. Suara riang yang sangat ia rindukan.


“Nggak. Papa cuma lelah.”


Nolan mengangguk paham. Jelas sih, karena perjalanan yang ditempuh papanya tidak hanya satu atau dua jam.


“Kamu mau bicara apa sama papa?”


Nolan menundukkan pandangan saat manik mata papanya mulai memperhatikannya. Ia merasa malu atas sikap kekanakannya selama ini.


“Nolan, mau minta maaf sama papa.”


Hendra menahan nafas sejenak karena rasa ngilu itu semakin menyiksa ketika dia ingin tertawa bahagia atas kalimat putranya.


Hendra berdiri, merentangkan tangannya lebar sembari tersenyum hangat untuk Nolan. “Kemarilah, nak. Papa merindukan mu.”


Tidak ada lagi rasa gengsi, Nolan berdiri begitu saja dan menerjang tubuh papa nya yang kini memeluknya erat. Ia merangkul Hendra dengan lingkaran kuat di pinggang. Nolan ingin menyalurkan rasa rindunya yang teramat sangat.


“Maafkan Nolan, papa.”


Hendra kembali tersenyum. Ia akan berterima kasih kepada Caca setelah ini. Ia tidak menyangka jika Nolan akan berubah secepat ini hanya karena mengenal Caca. Hendra mengurai pelukan Nolan, lantas menepuk punggung lebar putranya dengan tatapan bangga bukan main.

__ADS_1


“Akhirnya, papa bisa memeluk putra kebanggaan papa lagi.” katanya tulus. Hendra juga begitu merindukan Nolan, Saturnus-nya dan Marla. “Ayo ikut papa ke kamar. Kita ngobrol disana.”


Nolan mengangguk dan mengikuti langkah papa nya menuju kamar. Ia masih mengikuti langkah Hendra yang membawanya duduk di tepian ranjang. Mereka kembali terlibat obrolan disana.


“Coba kamu lihat foto itu.” kata Hendra membuat atensi Nolan tertuju ke arah jari telunjuknya terarah. “Papa sama sekali tidak pernah mengubah posisi foto itu berada dari pertama kali memasangnya disana.”


Nolan tau, karena dua hari ini dia masuk ke kamar ini tanpa sepengetahuan Hendra. Atau, Hendra tau karena dirumah ini ada CCTV? Ah, sial. Nolan jadi malu kalau memang benar papa nya sudah mengecek rekaman CCTV dan mendapati dirinya masuk ke sini tanpa izin. Semoga saja tidak, kira-kira begitu lah do'a yang dipanjatkan Nolan dalam hatinya.


“Hanya kalian berdua yang ada didalam hati papa. Tidak ada yang lain.”


Tentang itu, Nolan juga sudah mengetahui kebenarannya. Papanya hanya dijebak hingga tanpa sadar melakukan kesalahan fatal dan membuat Leo hadir ke dunia ini. Dan ya, Nolan sudah memaafkan itu.


“Maaf, papa pernah menyakiti hatimu. Maaf juga, papa mengkhianati kalian berdua, dan membuat mu kecewa, juga membuat mama mu sampai jatuh sakit dan meninggalkan dirimu. Maaf, itu salah papa.”


Nolan tidak kuasa mendengarnya, kemudian menjatuhkan diri bersimpuh di kaki Hendra. Meletakkan kepalanya di pangkuan Hendra dan memeluk Maja kedua kaki papanya itu.


“Bukan. Nolan yang salah karena tidak pernah mau mendengarkan alasan papa dan lebih menguatkan ego Nolan sendiri. Maafkan Nolan, pa.”


Hendra mengusap lembut surai halus Nolan. Ia menatap sendu pada putranya yang terlihat seperti menahan tangis.


“Ah, oke. Mari berdiri.” ajak Hendra mengalihkan suasana yang mulai berubah sedih. Hendra tidak ingin melihat airmata membasahi pipi putranya. Ia ingin melihat putranya gentleman dan tidak menangis.


Mula-mula Hendra membawa bahu Nolan untuk bangkit dari posisinya, kemudian mengajak Nolan berjalan ke arah meja kerjanya. Putra semata wayangnya itu hanya memperhatikan saja apa yang sedang dilakukan sang papa.


Hendra duduk di kursi, kemudian menarik salah satu laci yang ada dimeja, mengeluarkan sebuah stopmap berwarna merah dan meletakkan diatas meja. Tepat didepan Nolan.


“Sudah lama papa ingin memberikan ini padamu, tapi tidak pernah ada kesempatan karena kesalahfahaman yang terjadi antara papa sama kamu selama ini.”


Nolan menatap lurus stopmap yang baru saja ia lihat pertama kali tersebut saat suara Hendra kembali menyapa perungunya.


“Papa menyayangimu, lebih dari siapapun.”


“Lalu, bagaimana dengan Leonard?”


Hendra diam. Dia menatap stopmap itu lagi.


“Papa minta, baca dulu isi surat-surat didalam stopmap itu.”


Tanpa menunggu menit berubah menjadi jam, Nolan meraih stopmap merah itu dan mulai membaca setiap lembaran yang ada didalamnya. Surat resmi yang memberitahukan bahwa seluruh aset milik Hendra, tertulis atas nama Nolan, dirinya.


“Papa memiliki kewajiban yang sama pada Leo, tapi papa tidak pernah menyamakan kalian. Meskipun papa sadar, Leo juga putra papa.”


Ada sedikit sengatan sakit di hati Nolan ketika menyadari kenyataan tersebut, bahwa Leo adalah saudaranya.


“Leo, hidup sebatang kara karena mamanya menelantarkannya. Sedangkan papa yang masih memiliki tanggung jawab padanya, tidak bisa tinggal diam begitu saja.”


Benar. Nolan tidak dapat memungkiri itu, dan kini bisa lebih menerimanya.


“Pa, kenapa papa mengatasnamakan semua aset papa atas nama Nolan?”


Hendra meremas jemarinya kuat. Tidak mungkin dia jujur akan penyakit yang diderita nya, berakhir membuat Nolan khawatir dan merasa semakin bersalah padanya. Namun Hendra memilih jawaban yang relevan. Ia tidak memungkiri jika semua yang ada diatas bumi, akan kembali kepada-Nya.


“Kamu anak sah papa di bawah hukum dan agama. Papa hanya tidak ingin semua aset papa jatuh ke orang lain yang—”


“Maksud Nolan, mengapa papa melakukannya secepat ini? Nolan tidak ingin menjadi seperti papa yang tidak bisa hidup bebas.” jujurnya didepan Hendra. Nolan tipikal orang to the point dan tidak ingin berbasa-basi dengan kata-kata manis. Jadi, dia akan bicara sesuai dengan apa yang ada didalam isi kepalanya.


Hendra tersenyum dan mengusap satu sisi lengan Nolan. Ia bahkan bisa menangkap sebuah keresahan di mata Nolan. “Kalau bukan kamu, siapa lagi, nak?”


“Leo.”


Hendra mengembuskan nafas lelah. Mungkin putranya ini masih membutuhkan arahan dalam hal ini.

__ADS_1


“Leo tidak memiliki hak legal seperti halnya dirimu, son. Jadi papa hanya memberinya beberapa aset kecil yang papa miliki, untuknya.”


“Nolan ingin hidup bebas.” kekeuh Nolan tak ingin di bantah.


“Jadi, apa mau mu sekarang? Katakan pada papa.”


Nolan berfikir sejenak untuk mengambil keputusan. Kemudian satu ide terbesit di kepalanya.


“Bisakah ... Leo yang menjalankan semuanya, dan Nolan hanya berperan dibelakangnya?”


Hendra mengerutkan kening tak habis pikir.


“Maksud Nolan, Leo yang akan memegang kendali perusahaan, namun tetap dalam pengawasan Nolan.”


Papanya tersenyum, menangkap maksud putranya.


“Itu terlalu kejam, tapi papa tidak bisa mencegah keinginanmu.” putus Hendra pada akhirnya. “Jika kamu memang ingin seperti itu, maka kamu perlu bicara banyak dengan leo.”


Nah, ini adalah hal yang paling tidak disukai dan ditepis jauh-jauh oleh Nolan. Berbicara empat mata dengan Leo adalah hal yang tidak dia inginkan.


“Bisakah papa saja yang membicarakan itu dengan Leo?”


Hendra mengedikkan bahu. Ia tidak setuju dengan usulan Nolan.


“Papa inginnya kamu yang memegang semua aset perusahaan papa. Tapi jika kamu memiliki hal lain diluar pemikiran papa, bicarakan sendiri dengan Leo.”


Nolan sedikit kecewa dengan jawaban tersebut. Tapi, dia akan membicarakan itu dengan Leo secepatnya, begitu pikiran simple Nolan.


“Papa hanya ingin kalian berdua menjadi saudara yang saling melengkapi.” tutur Hendra memberi wejangan, karena mereka memiliki ikatan darah. Meskipun, ada ketakutan lain yang mengganggu Hendra atas keinginan Nolan. Yakni kemunculan Tiana yang mungkin saja akan mengendalikan Leo jika tau Leo diberi kuasa penuh oleh putranya.


“Papa ingin kamu memikirkan sekali lagi keinginanmu untuk memberikan kepercayaan papa ini kepada Leo.” lanjut Hendra masih belum mau melepas tautan matanya dari sang putra. “Pikir kan sekali lagi, dan lagi dampak dari keputusanmu itu, nak. Papa hanya tidak ingin kamu menyesal di akhir nanti jika papa sudah tidak ada lagi didunia ini.”


Nolan menatap lurus pada sang ayah ketika mendengar ucapan papanya yang membuatnya sedikit merasa tidak nyaman itu.


“Jika memang kamu ingin melibatkan Leo, papa takut Tiana akan kembali dan berusaha mengendalikan Leo untuk menguasai semua. Sebab dia berfikir Leo juga berhak memiliki apa yang kamu miliki. Leo adalah putranya, dan Leo masih terikat darah dengan papa.” Ia menatap semakin dalam manik indah milik sang putra yang terlihat sedang memikirkan ucapan nya, kemudian berkata, “Papa ingin kamulah yang melanjutkan semua perjuangan dan kerja keras papa selama ini, karena kamu adalah putra kebanggaan papa. Dan alasan lain papa melakukan semua ini adalah, kita semua atau bahkan papa sendiri tidak pernah tau kapan akan dipanggil untuk kembali kepada-Nya.”


***


Caca kembali mencari di laman Gugel tentang arti kata yang diucapkan Nolan tadi, padanya. Ia mengulanginya berkali-kali dan jawaban yang muncul di layar ponselnya tetaplah sama.


Aku mencintaimu.


Gila. Nolan mencintainya? Ini tidak masuk akal dan tidak akan terjadi jika Nolan tau siapa dia sebenarnya.


Kebimbangan dan ketakutan Caca semakin bertambah dua kali lipat ketika meraba kalung yang menggantung dilehernya. Sekali lagi, bagaimana kalau Nolan tau kenyataan jika dia hanyalah orang suruhan papanya?


Caca mende-sah berat. Ia bergerak ke kanan dan kiri karena merasa tidak nyaman atas situasi yang sedang terjadi.


“Apa aku harus jujur saja sebelum semua semakin jauh?” gumam Caca pada dirinya sendiri. Ia tidak tau dan tidak lagi bisa menemukan jalan keluar sekarang. Nolan bahkan sudah mengungkapkan perasaan padanya. “Sebelum dia mendengarnya dari orang lain dan berakhir buruk untukku, apa aku jujur saja padanya?”


Pertanyaan yang sebenarnya sudah memiliki jawaban itu, masih terus membayangi benak Caca. Ia takut jika Nolan akan melakukan hal-hal nekad lantaran sakit hati, dan Caca tidak menginginkan itu.


Ini pilihan yang sulit untuk caca, antara harus merelakan, atau kehilangan selamanya dengan image buruk dimata Nolan.


“Aku akan membicarakan ini dengan Nolan, besok. Di sekolah.” []


...—Bersambung—...


###


So, Apa yang akan terjadi kepada Nolan dan caca?

__ADS_1


__ADS_2