Me Gustas Tu

Me Gustas Tu
S2. Fifteen


__ADS_3

...Selamat membaca...


...•...



...[•]...


“Pak, ada tamu mencari bapak.”


Louis memutus pandangan dari bentangan kota yang terlihat penuh dan riuh, lalu menatap sekretarisnya yang baru saja memberitahu padanya jika ada seseorang yang datang bertamu.


“Siapa?” tanya Louis menoleh ke bahu kanannya untuk melihat bayangan Angel, sekertaris pribadinya.


“Nolan Aresta Suwandi.”


Louis menoleh, memperhatikan Angel yang masih berdiri tidak jauh dari meja kerjanya. Lantas keningnya berkerut seolah bertanya apa tujuan pria itu datang menemuinya.


“Dimana dia?” tanya Louis, memacu langkah menuju meja kerjanya yang luas dan masih dipenuhi beberapa berkas acara televisi yang harus ia periksa ulang.


“Di ruangan saya.”


Louis semakin penasaran, “Suruh dia masuk ke ruangan saya.”


“Baik.”


Tak berselang lama setelah kepergian Angel, pintu ruangannya kembali terdengar berderit. Sosok Nolan muncul dengan setelan formal yang pas di tubuh tinggi kekarnya sembari tersenyum ketika memasuki ruangan khusus Presdir tempat Louis berada.


“Selamat pagi, Lou. Lama nggak ketemu.” celetuk Nolan menyapa. Ia duduk di sofa yang ada disalah satu sisi ruangan tanpa menunggu diperintah oleh Louis. Ia bahkan menyilangkan kakinya tanpa ragu. Khas Nolan sekali, begundal sombong karena memang banyak uang.


Nolan ingin sekali menertawakan sikapnya sendiri sekarang. Dia sudah seperti orang paling berpengaruh di dunia saja bertingkah seperti ini.


“Ada perlu apa sampai jauh-jauh datang kesini, pak CEO Nolan?” sapa si tuan rumah ramah. Membenarkan letak jas dan duduk di sofa tak jauh dari sang tamu.


“Hanya ingin mengunjungi kawan lama.”


Ini sudah dua minggu sejak Caca dan Louis putus hubungan, Louis masih berharap Caca akan kembali padanya. Dia tak lelah mengirim pesan pada Caca, meskipun selalu di abaikan.


Pernah suatu hari dia mendatangi rumah wanita itu, mengetuk dan memanggil nama nya, namun tidak ada jawaban hingga dia harus kembali tanpa hasil.


“Bagaimana kabarmu, teman?” lanjut Nolan masih dengan wajah tengil yang entah mengapa lama-lama terasa sedikit menyebalkan untuk Louis.


Louis mengedikkan bahu. “Not bad.” katanya.


Nolan cekikikan tak tau diri. “Aki dengar, kalian putus ya?” tukasnya tanpa mau basa-basi. Tujuannya datang memang untuk mendengar jawaban Louis tentang hubungannya dengan Caca yang diakhiri sepihak oleh wanita itu.

__ADS_1


Mendengar pertanyaan itu meluncur dari bibir Nolan, Louis sedikit menegakkan punggung. Tatapannya berubah waspada. Ia tau, Nolan memiliki jiwa kompetitif yang begitu terlihat jelas. Ia yakin Nolan akan maju jika iya membenarkan pertanyaan pria itu. Tapi, Louis bukanlah pecundang.


“Ya. Caca yang memintanya. Bukan aku. Jadi bisa dikatakan kita belum resmi putus, aku tidak menyetujuinya.”


Nolan menyemburkan tawa. Bahunya naik turun ketika suara tawanya itu meledak keras.


“Harusnya kamu sadar kalau dia udah nggak nyaman sama kamu, Lou. Kamu harus sadar diri tanpa harus mengekang Caca dalam hubungan yang tidak mau lepas sepihak seperti ini.” kata Nolan memperjelas sesuatu yang seharusnya Louis tau diri, menurut Nolan.


“Aku sayang sama dia.”


“Tapi kamu udah buat Caca nangis.” sahut Nolan cepat tak memberi kesempatan sedikitpun bagi Louis untuk mengambil keuntungan. Ia tidak akan menyerah begitu saja kali ini. Nolan terlanjur menginginkan Clarita. “Dan aku tidak bisa terima itu.”


Louis mengernyitkan dahi. “Apa maksud mu?”


Nolan bangkit dari duduknya, menarik bagian jasnya yang ada didepan dada, kemudian berkata lantang dengan wajah yang sudah datar dan sama sekali tidak ada raut bercanda sedikit pun. “Aku mencintainya bahkan sebelum dirimu hadir dihatinya. Dan sekarang, aku akan memperjuangkan cintaku. Dan jangan pernah ganggu dia lagi. Atau kamu, akan berurusan denganku.”


***


Tak peduli dengan ancaman Nolan, Louis bersikukuh datang menemui Caca lagi. Kali ini ia datang kerumah Caca bahkan ketika jam kerjanya belum berakhir. Ia tidak ingin Caca benar-benar meninggalkannya. Dia akan mengatakan semuanya pada Caca, tentang rencana busuk Gita pada mereka berdua. Dan Louis berharap Caca mau mendengarkan dan kembali padanya.


Hampir dua jam dia mengemudi sendiri menuju rumah Caca. Lelah tidak ia pedulikan yang terpenting dia harus bertemu dengan Caca hari ini juga. Atau Milan akan mengambil wanita yang sangat ia cintai itu.


Setelah sampai didepan rumah Caca, Louis segera turun dan menghampiri rumah sederhana Caca yang masih sama. Tidak berubah sama sekali sejak ia melihat pertama kali dulu. Hanya cat nya yang berubah sedikit suram.


Pintu ia ketuk tanpa suara. Ini adalah inisiatif darinya sendiri. Ia berfikir jika Caca akan mengabaikan dirinya jika mendengar suaranya disini. Ya, mungkin seperti itu


“Ca. Please, aku pingin ngomong sesuatu sama kamu.” ucapnya memohon. “Setelah ini, terserah sama kamu mau menerima aku atau tidak.”


Caca mengendurkan dorongan kuatnya pada daun pintu, lalu memberi ruang untuk Louis masuk kedalam rumah.


Tanpa berniat memulai pembicaraan apapun dengan Louis, Caca hanya memilih duduk tanpa melihat ke arah Louis berada. Ia seperti tidak lagi sudi melihat pria yang sudah menyentuh wanita lain itu.


“Aku menemui Gita beberapa waktu yang lalu.” kata Louis memulai pembicaraan. “Aku meminta penjelasan darinya tentang malam itu, dan ternyata—”


“Lou. Apa kamu tidak bosan membahas hal ini? Aku rasa, aku sudah memberikan alasan jelas mengapa kita harus berakhir.”


“Dia menjebak kita Ca?!” sahut Louis mengambil inti dari pembicaraan mereka. “Dia sengaja melakukan itu untuk merusak hubungan kita.“ lanjut Louis berapi-api. Ia hanya ingin Caca tau akan hal itu, dan tidak menganggapnya pria buruk meskipun nanti pada akhirnya mereka tidak bisa kembali bersama. “Aku berani bersumpah atas nama Tuhan untuk ini, Ca.”


Caca menatap Louis. Ia tau Louis adalah pemuda yang besar dengan didikan orang tua yang mengutamakan santun dan etika luar biasa. Disamping itu, pendidikan juga membuat Louis selalu dikelilingi aura positif dan memiliki wibawa yang tidak bisa di bantah. Louis adalah pria sempurna yang seharusnya ia perjuangkan. Tapi, semua sudah terlanjur terjadi, dan Caca tidak bisa menerima apapun alasannya.


“Ya. Aku percaya dengan apa yang kamu katakan, Lou.”


“Tidak. Kamu terlihat ragu.” sahut Louis cepat. Pupus sudah harapannya ingin Caca kembali menerima nya. Semua sulit diterima.


“Tolong, jangan paksa aku untuk nerima semua kenyataan pahit ini, Lou. Aku mohon.”

__ADS_1


Airmata Caca kembali jatuh, Louis panik saat itu juga. Dia melompat turun dari kursi dan mendekat kepada Caca. Namun semua gerakannya terhenti ketika mengingat bagaimana Caca menjauhinya, merasa jijik pada dirinya yang tidak bisa menjaga diri.


Lengan Louis mengapung di udara. Ia menatap sendu pada Caca yang semakin tergugu dalam tangis, namun tidak bisa berbuat apapun dan berakhir mengepalkan tangan dan menjatuhkannya di atas pangkuan.


“Maafkan aku. Aku tidak bermaksud seperti itu.” kata Louis sambil menundukkan kepala. “Aku hanya ingin melepas mu, tanpa ada dendam darimu untukku, Ca.”


Caca mengangkat wajahnya. Mata dan hidungnya yang memerah itu kini ia usap. Satu rasa bersalah tiba-tiba muncul dalam benaknya saat Louis mengatakan hal itu.


“Aku tidak ingin kamu membenciku sebagai pria buruk dan—”


“Stop, Lou!” pinta Caca pada Louis. ia tidak ingin semakin membuat pria itu merasa bersalah sendirian. “Aku percaya kamu. Kamu tau itu kan? Aku tidak pernah meragukan dirimu. Tapi maaf, aku tidak bisa menerima apa yang sudah terjadi.”


Louis mengangguk paham. Ia ikut mengangkat wajah dan menautkan tatapan matanya pada Caca, lalu tersenyum. “Kamu memang wanita baik.” katanya. “Dan aku yakin, kamu akan mendapatkan pria yang jauh lebih baik dariku.”


Caca tertawa disela tangisnya. “Jangan menggodaku. Aku tetap tidak akan bisa kembali padamu meskipun kamu memujiku dengan sebutan wanita baik.”


Kali ini Louis yang tertawa. “Kamu memang seperti itu, Ca. Kamu memang wanita terbaik yang pernah aku kenal. Kamu juga yang sudah membuatku menjadi pria sejati dan percaya apa itu cinta.”


Caca seperti dilempar ke masa lalu dimana mereka pertama kali dipertemukan oleh takdir. Louis pernah berada dalam fase yang begitu buruk, dan Caca yang memintanya untuk menjadi pria sejati dengan mengubah semua sikap dan kebiasaan pria itu. Ya, Caca yang bisa melakukan itu.


“Terima kasih sudah pernah hadir dalam hidupku.”


Caca mengangguk. Perpisahan yang manis.


“Aku juga berterima kasih atas semua kasih sayangmu padaku selama sepuluh tahun kita bersama.”


“Jadi sekarang kita teman?” tawar Louis masih tidak rela jika harus benar-benar lepas dari sosok Caca. Ia mengulurkan tangan, menunggu Caca menyambutnya dengan suka cita. Dan semua itu terkabul, Caca menjabat tangannya dengan tulus beserta sebuah senyuman.


“Ya. Kita teman.”


Clear. Tidak ada dendam dan hubungan pertemanan tetap terjalin diantara mereka berdua.


Louis mengangguk dengan senyuman mengembang sempurna. “Seseorang menunggumu.”


Caca mengerutkan kening. “Menungguku? Siapa?”


Louis tersenyum jumawa. “Pria sok tampan yang tengilnya minta ampun,” Louis sengaja menjeda demi menambah rasa penasaran Caca akan siapa yang dia maksud. “Tidak tau?” tanya Louis memastikan jika Caca tidak bisa menebak siapa di balik clue yang dia sebutkan itu. Lalu, dengan tubuh yang sudah ia bawa berdiri hendak beranjak pergi dari rumah si kekasih yang kini sudah menjadi kenangan, Louis berkata.


“Nolan.” []


...—Bersambung—...


###


Akhirnya Louis-Caca berdamai.

__ADS_1


Siap-siap Nolan-Caca versi 🔥🔥🔥


__ADS_2