Me Gustas Tu

Me Gustas Tu
S2. Epilog


__ADS_3

...Selamat membaca...


...•...



...[•]...


Sore hari yang lumayan cerah. Langit ibu kota yang menemani perjalanan semua orang menuju peraduan, sedikit memiliki semburat jingga yang terlihat begitu indah. Tak terkecuali Nolan dan Caca bergerak menuju tempat dimana Tiana saat ini mendapat hukuman penjara dalam kurun waktu yang cukup lama akibat ulahnya yang berusaha melukai bahkan berpotensi menghilangkan nyawa seseorang.


Genggaman tangan Nolan tak lepas sedikitpun dari talapak tangan Caca. Mereka berjalan mengikuti langkah salah satu petugas yang mengarahkan mereka ke sebuah ruang untuk bertemu tahanan.


Hingga akhirnya mereka sampai di sebuah ruangan berukuran cukup besar yang dikhususkan sebagai tempat berkunjung. Di lengkapi dengan pembatas kaca antara tamu pengunjung dan tahanan, ruangan itu terasa sunyi.


Ketegangan dalam diri Caca semakin memuncak kala dirinya duduk di atas bangku pengunjung, dan menatap seberang, membayangkan bagaimana wajah dan cara Tiana menatapnya nanti. Karena seingat Caca, wanita itu memiliki tatapan yang menakutkan.


Nolan yang menyadari kecemasan Caca, berusaha memberi ketenangan, menggenggam dan mengusap punggung wanita itu dengan sebuah ulasan senyuman yang hangat adalah cara yang ampuh. “Nggak usah khawatir. Disini aman, dia nggak akan bisa menyerangmu.” terang Nolan meyakinkan, karena Caca terlihat gusar. Seperti ada trauma.


Setelah menunggu beberapa saat, Tiana muncul dengan kawalan seorang polisi wanita. Nolan sedikit terkejut atas perubahan fisik Tiana yang sekarang berubah kurus dan tidak terawat.


Mereka bertiga duduk berhadapan dengan sekat kaca sebagai pembatas. Nolan mulai membuka pembicaraan.


“Bagaimana kabarmu, nyonya?”


Tiana menatap lurus tanpa ekspresi. “Dimana Leo? Mengapa kamu tidak mengajaknya kesini?”


Nolan hanya diam. Wanita itu terlihat sedih.


“Aku datang ke sini karena Caca ingin menengok dirimu.”


Tatapan Tiana teralihkan pada wanita yang duduk disamping Nolan. Ia lantas tersenyum disudut bibir. Senyuman yang masih sama dengan yang terakhir Caca lihat satu tahun yang lalu.


“Untuk apa? Untuk menertawakan aku? Untuk mengolokku?”


Nolan tak habis pikir. Kenapa wanita ini bisa dengan mudah menyimpulkan demikian, padahal maksud dan tujuan Caca kemari untuk berdamai dan menghapus kenangan buruk.


“Kamu belum menjawab pertanyaan ku. Dimana Leo?”


Selama mendekam di penjara, putra satu-satunya itu tak sekalipun mengunjunginya. Tiana tau, pasti Leo kecewa padanya, tapi hati kecilnya ingin sekali paling tidak satu kali bertemu dengan sang putra.


“Aku tidak tau. Dia tidak pernah mengunjungi ku lagi setelah kejadian itu.” jawab Nolan datar tanpa ingin meyakinkan.


Tiana tertunduk lesu. Dia seperti kehilangan harapan. Jemarinya diatas meja ia remat berkali-kali. Lalu dengan jelas, Nolan dan Caca melihat wanita itu kini sedang menangis. Caca terenyuh, air matanya ikut menggantung di kelopak mata. Melihat kesedihan Tiana, dia jadi mengingat ibunya yang sudah hampir seminggu ini belum ia kunjungi. Caca merindukan ibunya.


“Dimana kamu, nak?” bisiknya disela tangis. Nolan pikir ini adalah hukuman yang setimpal untuk Tiana karena perbuatannya sendiri. Leonard yang dia terlantarkan tanpa kabar, dan tiba-tiba dia datang membawa masalah, menambah suasana runyam yang mungkin membebani pria tersebut hingga ia menghapus jejaknya dari semua orang. “Tolong beritahu aku bagaimana caranya untuk bertemu dia lagi,”


Tidak ada sahutan dari Nolan maupun Caca. mereka sama-sama tenggelam menatap wanita bertubuh kurus yang sekarang rambutnya sudah dipenuhi oleh uban.


“Nyonya—”


“Tolong maafkan aku. Sampaikan rasa rindu dan juga permintaan maaf ku pada putraku.”


Caca melihat fitur wajah Nolan. Merasa diperhatikan, Nolan pun menoleh dan menatap pada sang istri.


“Coba hubungi Leo. Beri kesempatan untuk nyonya Tiana berbicara dengan putranya.”

__ADS_1


Dengan berat hati, Nolan menuruti keinginan Caca. Ia merogoh saku celananya dan mencari kontak Leo di ponselnya. Saat panggilan tersambung dengan nada hubung, Nolan berdiri menjauh. Dan tak lama kemudian suara Leo terdengar menyapa diseberang.


“Ada apa, Lan?”


“Kenapa tidak menghubungiku?” tanya Nolan.


Diam sejenak. Tapi tidak lama kemudian, Leo kembali bersuara. “Apa lagi yang harus aku katakan padamu. Aku terlalu malu dengan perilaku ibuku padamu.” jawab Leo dengan nada suara lemah. Nolan bisa menebak jika saudara nya itu sedang menahan kesedihan dan rasa malu yang teramat sangat.


“Aku sedang di rumah tahanan. Mengantar Caca yang ingin bertemu dengan mamamu.”


Lagi-lagi tidak ada jawaban akan pernyataan Nolan.


“Dia ingin bertemu denganmu, Le.” kata Nolan lembut. “Datang dan kunjungi dia sebisamu. Kapanpun kamu ada waktu.” lanjutnya yang tidak kuasa mengingat keadaan Tiana yang menyedihkan. “Dia merindukanmu.”


“Boleh aku meminta tolong pada mu?”


“Apa?”


“Tolong berikan ponselmu sebentar pada nya? Aku akan bicara.”


***


Caca menatap iba pada Tiana yang masih menangis. Beberapa topik pembicaraan yang sudah ia siapkan, terasa sia-sia setelah melihat keadaan Tiana yang terlihat memprihatinkan. Tubuhnya kurus tak terurus.


“Nyonya, apa anda baik-baik saja?”


Tiana mengangguk sembari mengangkat wajah memperhatikan Caca.


“Ya. Aku baik-baik saja.”


“Sebenarnya, tujuan saya datang kesini adalah ingin berbicara banyak hal dengan anda, nyonya.”


Tidak. Sama sekali bukan itu tujuan Caca datang kesini.


“Tidak, bukan itu tujuan saya datang kesini. Saya benar-benar ingin menengok anda, nyonya. Dan saya sama sekali tidak menaruh dendam kepada anda.” kata Caca. “Saya hanya ingin mengunjungi dan menanyakan kabar anda.”


Tiana menatap Caca yang pernah ia celakai itu dengan sorot sendu. Betapa bodohnya dia dulu yang dengan sengaja ingin membuat wanita sebaik Caca musnah.


“Maafkan aku.”


Caca melihat kesedihan dan penyesalan mendalam dalam kalimat yang dikatakan Tiana padanya.


“Maaf sudah membuatmu celaka.”


Benar kata orang. Penyesalan itu selalu datang belakangan.


“Anda tidak perlu meminta maaf kepada saya. Saya sudah menganggap semua yang terjadi saat itu, adalah sebuah kenangan yang harus saya lupakan.”


Tiana tergugu mendengar rentetan kalimat yang keluar dari bibir berwarna peach milik wanita belia didepan matanya itu.


Dan pembicaraan mereka berdua terhenti saat Nolan kembali dan menyodorkan ponselnya pada Tiana.


“Leo ingin bicara denganmu.”


Tiana semakin tersedu ketika menerima ponsel Nolan. Ia tak tau harus membalas kebaikan Nolan dan Caca padanya. Apa dengan mendekam di penjara seumur hidup, sudah pantas?

__ADS_1


Tiana pada akhirnya melepas semua kerinduan kepada Leo melalui sambungan telepon. Dan setelah panggilan itu berakhir, Tiana merasa bersyukur sudah dipertemukan dengan orang baik seperti Nolan. Ia merutuki kebodohannya dimasa lalu, dan juga kebodohannya melukai Caca.


“Terima kasih, Nolan. Aku tidak tau harus membayar kebaikanmu dengan apa.”


Nolan memperhatikan Lamat raut wajah tua Tiana. Kemudian berkata, “Aku tidak dapat menarik atau mencabut laporanku. Jalani hukuman mu, dan ambil pelajaran atas perbuatan yang kamu lakukan. Setelah itu, berusahalah mengubah dirimu menjadi pribadi yang lebih baik. Lalu, berbuatlah baik kepada semua orang setelah semua ini berlalu.”


***


Caca menatap lurus ke arah bentangan aspal yang sedang dilalui mobil Sport yang dikemudikan oleh sang suami, Nolan.


“Aku tidak tega lihat mamanya leo.”


Nolan menginjak pedal rem dan menyalakan lampu sign ke arah kanan. “Itu adalah konsekuensi yang harus ia tanggung karena perbuatannya. Jika dulu dia tidak gelap mata dan menerima apa yang sudah menjadi keputusan kami, dia tidak akan mendekam di penjara seperti sekarang.”


“Kami?”


“Ya, dia datang ke padaku dan Leo untuk meminta hal yang tidak mungkin akan kami berikan. Apalagi untuk alasan yang tidak jelas tujuannya.”


Caca tidak akan pernah menghakimi siapapun. Sikap yang diambil Nolan tentu saja benar, karena bagi seorang pebisnis, saham dan aset adalah salah satu hal sensitif yang harus tetap dijaga dengan baik jika tidak ingin hancur.


“Ah, sudah urusan Tiana nya. Sekarang, kita perlu memikirkan tujuan honeymoon.”


Caca tersenyum. Komitmen mereka untuk tidak melakukan honeymoon, kini berubah haluan seiring waktu karena mereka berdua mulai menginginkan kehadiran sosok yang akan membuat suasana rumah menjadi riuh dengan suara tawa dan tangis menggemaskan yang bisa bikin betah dirumah, anak.


“Mau kemana memangnya?”


Sekarang, dunia sedang berada di iklim akhir tahun, dimana di beberapa negara pasti sedang mengalami perubahan musim. Lebih tepatnya berada pada musim dingin.


“Saran dong, kamu sreg nya kemana?” sahut Nolan ingin tau pendapat dan keinginan kemana tempat yang hendak di kunjungi Caca.


Caca mengetuk dagunya sebagai isyarat berfikir. Lalu, satu negara terbesit di kepalanya. “Bagaimana kalau kita ke Paris?” jawabnya tanpa ragu karena Nolan pasti setuju.


Nolan tersenyum. Ia juga berfikir demikian. Paris memang salah satu kota yang indah dan cocok untuk di kunjungi untuk memadu kasih. Mungkin telepati yang coba ia salurkan kepada Caca, berhasil.


“Boleh, ayo kita kesana dan membawa kabar gembira pada ibu setelah nya.”


“Maksudnya?”


Nolan tersenyum menggoda. “You know what I mean, Ca.”


Dengan senyuman tak kalah menggoda, Caca menjawab. “Oke, I want to feel the boss.” []


...—FINAL—...


###


Dengan demikian, mereka hidup bahagia. TAMAT. Wkwkwk...


Kasih part bonus Chapter liburan mereka mau ngga? 😁


Notes: Terima kasih untuk yang sudah setia membaca cerita Me Gustas Tu Season 1 hingga season 2 (Feel the boss). Dan tidak lupa juga Vi's ucapkan untuk semua dukungan baik berupa like, komentar, hadiah dan juga Vote yang sudah kalian berikan. Author dan cerita ini bukan apa-apa tanpa dukungan dari kalian. 😘


Semoga semua kebaikan kalian mendapat balasan kebaikan yang lebih dan lebih ya...


Have A Great Day . . . 🥰

__ADS_1


See you to the next Novel that I am currently Writing.


👋👋👋


__ADS_2