
...Selamat membaca...
...Semoga suka dengan bab ini, dan jangan lupa kasih semangat author dengan cara Like, komentar, list favorit, dan berikan vote juga gift jika berkenan. Thank you ☺️...
...[•]...
Pagi-pagi bahkan sebelum matahari terbit, sebelum alarm Caca berdering membangunkannya, Caca sudah dikejutkan oleh sebuah pesan yang masuk ke inbox WhatsApp nya.
Dengan mata menyipit menyesuaikan pendar cahaya dari layar ponsel, Caca berusaha mengetuk balon pemberitahuan itu dan membaca pesannya.
LouiLv: Aku sedang tdtrian sheisnkaihd dgsj
Tidak jelas. Dan itu membuat Caca merasa khawatir. Louis tidak pernah seceroboh ini membuatnya khawatir. Apalagi mengirim pesan tidak jelas begitu.
Tunggu. Apa Louis sedang mabuk?
Caca segera melompat turun dari ranjang dan berlari ke kamar mandi untuk mencuci muka. Ia tidak peduli jika matahari masih enggan untuk menampakkan diri. Caca sudah siap dengan sweater yang membungkus tubuhnya untuk menuju kerumah Louis.
Ya, Caca harus memastikan sendiri keadaan kekasih dan tunangannya itu.
Ia menunggu kedatangan bus pagi yang akan membawanya kesana, ketempat Louis tinggal. Dan tak sampai dua puluh menit, bus itu datang. Caca bergegas dan duduk disalah satu kursi penumpang dengan gelagat tidak tenang. Ia benar-benar ketakutan sekarang. Ia takut terjadi sesuatu kepada Louis, karena setaunya, Louis sudah lama tidak melakukan hal yang tidak disukainya. Yakni meminum alkohol.
Sesampainya, Caca berlari, menempelkan jari telunjuknya sebagai akses membuka portal dan bergegas dengan langkah cepat mencari unit milik Louis.
Setelah itu, dia tidak tau apa yang harus ia lakukan sekarang karena rumah Louis memang tidak semudah itu di jangkau. Dia perlu kartu pipih untuk membuka pintu rumah itu yang sialnya, tidak dia bawa karena terlalu buru-buru.
Caca meremas kesal surainya. Ia lantas merogoh saku dan mengeluarkan ponsel untuk menghubungi Louis.
Hingga percobaan ketiga, Louis tak kunjung merespon panggilannya. Lalu, Caca mencoba satu peruntungan lagi, atau dia akan nekad memecahkan satu kaca jendela dapur Louis nanti. Tapi kali ini, berhasil.
“Halo, Lou. Aku didepan rumahmu. “Kata Caca antusias dengan kekhawatiran. Namun tidak ada jawaban beberapa detik selain suara seperti gesekan sesuatu yang mengenai microphone ponsel. Caca menatap datar bilah pintu rumah Loius, menunggu apa yang akan ia dengar setelah ini.
Lalu, ”Kamu didepan rumah? Tunggu, aku akan buka pintu untukmu.”
__ADS_1
Panggilan telepon itu berakhir, dan tak lama kemudian pintu terayun membuka, dan sosok Louis terlihat berdiri dengan keadaan yang sangat berantakan. Aroma alkohol begitu menyengat menguar dari tubuh Louis. Laki-laki itu memeluknya erat dengan tubuh yang tidak kalah bergetar dari Caca. Namun bedanya, Caca tidak ada keinginan sama sekali untuk membalas pelukan itu.
“Ca, kenapa kamu kesini sepagi ini?” tanya Louis setelah menjauhkan diri.
Mendengar pertanyaan seperti itu, membuat mata Caca mendelik lebar menatap Louis kesal. Sudah membuat khawatir tapi bersikap sok acuh, menyebalkan.
“Coba kamu tanya diri kamu sendiri.” kata Caca dengan ekspresi datar. Ia tidak menyangka jika Louis menyentuh minuman beralkohol itu lagi.
Louis berdiri canggung ditempatnya. Ia menggaruk tengkuk lehernya yang terasa seperti ditekan beban berat karena efek alkohol yang semalam ia minum. Pengar di perutnya membuat mual dan pusing.
“Kamu, masuk dulu. Aku perlu ke kamar mandi.”
Dan Louis berlari tunggang langgang menuju kamar mandi karena mual datang menyerangnya semakin kuat. Caca menuruti apa yang dikatakan Louis dan masuk ke dalam rumah milik tunangannya itu. Louis harus menerima ceramah darinya setelah ini.
Suara Louis memuntahkan isi perutnya didalam kamar mandi, sampai di telinga Caca. Terdengar menyiksa dan menyakitkan, tapi itulah yang harus ia tanggung akibat ulahnya sendiri.
Setelah beberapa menit, Louis terlihat keluar dari kamar mandi yang tidak jauh dari ruang tengah. Wajahnya pucat dan lesu. Ditambah lagi rambutnya yang berantakan, masih mengenakan kemeja semalam, dan hanya memakai celana box-er, membuat Caca menatap miris pada pria yang biasanya terlihat tampak dan berwibawa saat di kantor itu.
Dengan gerakan tak bertenaga, Louis membanting tubuhnya diatas sofa. Kepalanya berputar, dan perutnya masih mual.
Louis menggeleng dengan wajah manja yang dibuat-buat, menyebabkan nafas Caca berembus kasar dari hidung.
“Sekarang aku tanya, kenapa kamu pergi ketempat itu lagi?”
Louis hanya menatap sayu ke arah Caca. Dia tidak bisa mengatakan alasan sebenarnya datang ke bar, dan juga tentu saja tentang Gita. Dia tidak ingin membuat Caca kecewa dan berakhir meninggalkan dirinya.
“Sedang ada sedikit masalah di—”
“Kamu selalu datang ke aku kalau ada masalah. Kenapa sekarang memilih seperti ini?”
Louis memejamkan mata mendengar omelan Caca yang seratus persen benar. Dia selalu datang kepada Caca setiap ada masalah di kantor. Tapi tetap, Caca tidak boleh tau dua hal yang membuatnya harus berbohong itu.
“Sorry. Kemarin kamu terlihat kacau karena aku. Jadi, aku tidak ingin membuatmu semakin terbebani dengan mendengar cerita ku.”
“Sejak kapan kamu berpikiran begitu, Hah?” Sahut Caca ketus dan berhasil membuat Louis menegakkan punggungnya detik itu juga karena terkejut. “Kamu udah janji ke aku nggak bakalan konsumsi minuman itu lagi, tapi apa?” omel Caca semakin menuntut dengan nada tinggi.
__ADS_1
Louis merasa bersalah dan dia segera bangkit mendekat dan meraih telapak tangan Caca untuk ia genggam. Untung saja ini hari libur, jadi Louis bisa sedikit bersantai dirumah. “Maaf, Honey. Nggak lagi aku datang kesana.”
“Terlambat. Aku udah nggak percaya lagi sama janji kamu.”
Louis semakin kelabakan. Tapi sialnya, mual itu datang lagi dan Louis segera berlari ke akar mandi untuk kedua kalinya. Dengusan nafas kesal berembus dari hidung Caca melihat Louis yang tersiksa. Ia lantas berniat beranjak dari sofa dan membuatkan Louis sesuatu yang hangat yang mungkin bisa mengurangi efek mabuk yang dirasakan Louis. Tapi, gerakan Caca terhenti tatkala sebuah benda berkilau menarik perhatiannya.
Ia memungut benda tersebut lantas menatapnya lama. Sebuah jepit rambut berwarna putih yang memiliki dua permata putih di ujungnya, membuat Caca mengerutkan kening. Dirinya tidak pernah memiliki benda seperti ini. Apalagi benda tersebut terlihat tidak murahan, harganya pasti diatas perkiraan Caca.
“Argh, sial!!” umpat Louis merutuki dirinya sendiri yang ceroboh.
Mendengar suara Louis yang sepertinya sudah keluar dari kamar mandi, Caca segera menyembunyikan benda tersebut di saku sweater nya dan berjalan menuju dapur dengan perasaan campur aduk. Apa seseorang datang kerumah Louis tanpa sepengetahuan dirinya?
“Hon,” panggil Louis yang tidak menemukan Caca di ruang tengah. Lantas ia berjalan ke sudut lain rumahnya sambil sesekali memijat pelipis yang terasa berat. “Bikin apa?” tanyanya sedikit mengembangkan senyuman, lalu memeluk Caca dari belakang. Momen yang sangat disukai Louis dalam hidupnya.
“Kamu itu bikin aku repot aja. Lain kali, kalau kamu kayak gini lagi, aku nggak mau ikut campur. Urus dirimu sendiri.”
Louis tertawa sedikit keras. Ia gemas dengan dumalan kemarahan Caca padanya. Ia membenamkan wajahnya pada ceruk leher Caca dan mengecup kecil berkali-kali. “Iya, iya. Maaf. Aku nggak akan kayak gini lagi. Aku janji.”
Caca tersenyum, namun hatinya masih terasa tidak nyaman dengan apa yang baru saja ia temukan dirumah kekasih sekaligus tunangannya ini.
“Semalam, kamu pulang sendiri? Ngelihat kondisi kamu yang kayak gini, nggak mungkin kamu nyetir sendiri kan?” tanya Caca mencoba menelisik. Mungkin nada bicaranya terdengar seperti sebuah candaan, namun yang dikatakan caca itu serius. Dia ingin tau, siapa yang mengantar Louis pulang semalam.
Diam beberapa saat, kemudian Louis mengecup lagi ceruk leher Caca penuh cinta.
“Aku diantar teman.”
Jantung Caca seperti berhenti berdetak untuk beberapa detik. Kemudian pertanyaan lain meluncur begitu saja tanpa ia duga. “Cewek, atau cowok?”
Louis terlihat tenang dan masih betah di sekitaran lehernya. “Cowok.”
Bohong. Caca tau itu, dan dia akan mencari tau, siapa pemilik jepit rambut yang ada padanya itu.[]
...—Bersambung—...
###
__ADS_1
Boleh komennya akak...☺️