Me Gustas Tu

Me Gustas Tu
Ketakutan Yang Menjadi Nyata


__ADS_3

...Part 46...


...Selamat membaca...


...🪐🪐🪐...



...MGT by: VizcaVida...


...46...


Nolan mengabaikan beberapa panggilan di ponselnya. Kali ini, dia berada disebuah ruangan yang berjejer meja-meja besar dengan bola dan stick. Pikirannya kalut, dan penat menyerang tubuhnya bertubi-tubi. Sebenarnya dia rindu jalanan, dia ingin sekali balapan untuk melepas semua lelah di hatinya ini. Namun mengingat ucapan Caca, dia mengurungkan niat dan memilih datang ke tempat billiard demi menghibur hati.


Asap rokok mengepul memenuhi ruangan dan membuat ruangan itu seperti tempat terbakar yang memerlukan penanganan petugas kebakaran dengan cepat. Nolan pun tak luput dari benda bernikotin itu. Ia bahkan hampir menghabiskan satu bungkus Marlboro filter black isi dua puluh dalam waktu dua jam. Gila, ini adalah rekor terparah dirinya membakar paru-parunya sendiri.


Sekali lagi, ponselnya bergetar didalam saku celananya. Nama mang Maman muncul disana.


Menyerah, akhirnya Nolan menjawab panggilan tersebut. Ia membawa dirinya menjauh dari tempat semula untuk berbicara.


“Hmm.” sahut Nolan dingin.


“Tuan muda, bapak siuman.” kata bi Ane begitu senang di seberang telepon. Yang telepon mang Maman, tapi yang ngomong bi Ane.


“Aku akan segera kesana.”


Tanpa berpamitan, Nolan segera berlari keluar arena billiard dan menuju parkiran motor miliknya. Ia tak sabar untuk melihat sang papa kembali tersenyum dan memeluknya. Sumpah, Nolan sangat merindukan papanya, bahkan masalah yang tadi membuat kepalanya pening, hilang begitu saja saat mendengar papanya sudah sadar setelah beberapa hari tidak membuka mata sama sekali.


Pintu ruangan berderit, dan Nolan bisa melihat dengan jelas papanya sedang duduk bersandar bersama bi Ane yang menyuapi bubur.


Netra Nolan bergetar. Ia begitu takut kehilangan papa nya, namun ketakutan itu tidak beralasan, papa nya pasti akan baik-baik saja dan tetap bersamanya sampai ia dewasa dan mengerti arti kehidupan sesungguhnya nanti.


“Kemarilah, nak.” panggil Hendra, lantas merentangkan kedua tangannya.


Nolan berjalan dengan tatapan sendu ke arah sang ayah, menyambut pelukan itu dan mengeratkan lingkaran tangannya pada tubuh sang papa yang terlihat lebih kurus.


“Kenapa papa nggak bilang kalau papa sakit?”


“Papa nggak pingin kamu khawatir. Lagipula, papa baik-baik saja kok, hanya kelelahan.”


“Nggak, papa nggak baik-baik saja.” putus Nolan dengan suara sedikit tinggi tanpa melepas pelukannya pada Hendra. “Aku takut karena papa tidurnya lama.”


Hendra tau ketakutan apa yang sedang di katakan putranya itu. Hendra menepuk punggung Nolan dan membawa tubuh kekar putra itu menjauh darinya. “Bajumu bau asap rokok.” protes Hendra namun tidak menuntut sama sekali. Ia tau peringai dan kebiasaan Nolan yang tidak bisa ia hentikan. Salah satunya adalah menjadi perokok aktif. “Pulang dan mandilah dulu. Papa ingin mencium bau harum putra papa, bukan bau asap rokok begini.” kelakar Hendra mampu membuat Nolan tergelak tawa.


“Baiklah. Nolan pulang sebentar mau mandi dan ganti baju.”


“Ya. Papa akan nunggu kamu datang sambil istirahat.”


Nolan tersenyum dan bangkit untuk pulang. Ia berjalan keluar ruangan, dan diluar, bi Ane menghentikan langkah Nolan. Tidak heran, karena Nolan bisa menebak jika pengasuh nya itu pasti akan memberitahu banyak hal untuk kenyamanannya.


Tapi tidak. Bi Ane menghentikannya untuk menyerahkan sebuah kartu debit yang tadi di titipkan Caca padanya.


“Teman den Nolan yang namanya Caca, anaknya cantik dan baik hati itu menitipkan ini pada bibi dan meminta bibi memberikan kepada anda.”


Nolan memicing. Ia merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponsel, namun ia baru ingat jika sudah menghapus nomor Caca. Ia mengumpat dalam hati. Bagaimana dia bisa sejahat ini? Bagaimana bisa dia kalap dan lebih meng-iyakan ego?


“Dia bilang apalagi, bi?”

__ADS_1


Bi Ane terlihat mengingat-ingat apa yang di katakan Caca tadi siang padanya.


“Dia bilang den Nolan harus menjaga kartu ini baik-baik dan mengembalikan kepada bapak jika beliau sudah siuman.” kata Bi Ane yang masih terlihat ingin mengatakan yang lainnya. “Ah, dia juga titip salam buat anda.”


Hari Nolan senang mendengarnya, seulas senyum terbentang di bibirnya.


“Lalu, emmm, dia tadi ngomong apa lagi ya?”


Nolan menunggu dengan sabar. Dia maklum dengan bi Ane yang seperti semakin kesulitan mengingat terlalu banyak hal. Mungkin juga karena faktor U.


“Dia tadi juga bilang apa...gitu den. Bibi lupa. Soalnya kalimatnya sulit. Bukan dari bahasa kita. Kayak bahasa planet gitu,”


Nolan seketika menyemburkan tawa didepan bi Ane atas kelucuan yang dibuat wanita tersebut.


“Memangnya bahasa planet yang seperti bagaimana, seingatnya aja deh.” canda Nolan namun ditanggapi serius oleh bi Ane.


“Yo, Yo, Yo apa gitu lupa. Ada te amo te amo nya—”


“Yo tambien te amo?” tanya Nolan dengan wajah datar tanpa ekspresi. Bi Ane kadang heran, tuan muda nya ini cepat sekali berubah ekspresi.


“Ah, iya. Kayak gitu tadi sepertinya.”


***


Nolan sudah kembali kerumah sakit setelah sempat pulang untuk sekedar membersihkan diri dan mengganti pakaiannya. Tidak lupa dia juga membawakan papa nya baju ganti baru.


Semalaman dia tidak tidur karena menjaga papa nya yang terlihat lelah dan tertidur pulas. Dan sore ini, Nolan ada janji dengan Jonathan untuk bertemu dan membicarakan masalah donasi yang dilakukan klub motornya bulan depan.


“Gue nggak bisa ikut, Jo. Papa lagi sakit.”


“Oke. Gue bilangin ke komandan.” kata Jonathan sambil mengambil cup minumannya dan meneguk isinya hingga tandas. Nolan bilang tidak bisa bertemu terlalu lama karena harus kembali ke rumah sakit untuk menjaga papa nya. “Papa Lo sakit apa?”


“Sama kayak mama.”


Jonathan tercengang, pasalnya, Hendra yang ia lihat beberapa bulan kebelakang, bisa dikatakan sehat dan baik-baik saja.


Jonathan menepuk bahu Nolan memberi kekuatan. “Semoga bokap Lo cepet sembuh.”


Nolan mengangguk. “Thanks.”


Ponsel Nolan bergetar. Ia segera melihat dan nama mang Maman ada di sana.


“Mm, ada apa mang?”


“Den. Saya mohon aden datang kerumah sakit. Bapak ... bapak ...”


“Papa kenapa?” tanya Nolan masih dingin.


“Bapak, berpulang ke pangkuan yang Kuasa.”


Raga Nolan seperti terpisah dari jiwanya. Ia sudah paham maksud ucapan Maman, tapi entah mengapa dia hanya diam seperti orang bodoh menunggu penjelasan lain untuk membuatnya mengerti.


Ini adalah ketakutan terbesarnya. Ketakutan yang beberapa hari ini membuatnya tidak bisa tenang, dan sekarang justru menjadi sebuah kenyataan.


Haruskah dia hidup sendirian? Mengapa papa nya tega meninggalkannya seorang diri seperti ini?


Wajah Nolan yang tidak menunjukkan ekspresi apapun, dia membeku, membuat Jonathan bingung. Jonathan berusaha menyadarkan Nolan yang terlihat linglung. Jonathan bahkan menggoncang kuat tubuh Nolan agar tersadar, dan berhasil. Nolan mengedip lambat lantas menoleh pada Jonathan.

__ADS_1


“Lo kenapa?” tanya Jonathan masih khawatir.


“Bokap nggak ada, jo.” katanya pelan, nyaris menyerupai sebuah bisikan. “Gue harus bagaimana sekarang?”


Benar saja Nolan terkejut bukan main, karena baru sehari yang lalu, papanya itu terlihat sehat dan bugar seperti sedia kala. Namun tanpa Nolan sadari, papanya itu menahan sakit yang begitu mendera. Pria tua itu mencoba bertahan, namun kalah.


“Gue harus gimana, Jo?” tanya Nolan, masih dengan tatapan kosong dan suara berbisik. Dia tidak menangis, tapi matanya terlihat di rundung kesedihan yang teramat dalam dan menyakitkan.


Jonathan berdiri, menarik tubuh Nolan untuk ia peluk. “Gue turut berduka, Lan.”


Setelah itu, Jonathan mengantar Nolan pulang karena khawatir terjadi apa-apa kepada temannya itu. Nolan terlihat begitu terpukul atas kepergian Hendra yang mendadak.


***


Rumah duka dipenuhi dengan banyak sekali ucapan bela sungkawa. Rangkaian bunga yang berjejer di sepanjang pagar rumah menjadi saksi jika Hendra benar-benar telah pergi.


Mobil yang dulu selalu di naiki Hendra ketika pergi kemanapun, sekarang mengantar Nolan kembali pulang kerumah.


Sepi. Sunyi. Tidak ada tangisan, dan Nolan sendirian.


Semua kenangan tentang keluarga bahagia, kebenciannya kepada sang papa. Tawa, pelukan hangat, canda, pertengkaran, semua berkelebat mengganggu ketenangan Nolan dan membuatnya semakin kosong. Ya, Nolan terlihat seperti bukan dirinya. Dia lebih banyak menatap lurus dan kosong, tidak bicara, ataupun menangis. Semua seperti ia tahan mati-matian agar hidupnya berjalan seperti biasa.


“Makan dulu, den.” kata Bi Ane menawarkan makan malam untuk Nolan yang sejak siang tadi belum memakan apapun.


“Belum lapar, bi.”


Ane menatap iba pada Nolan. Bagaimanapun, pemuda ini sudah ia gendong dan ia rawat sejak bayi.


“Makan dulu, nanti Aden sakit.”


“Iya, sebentar lagi. Bibi istirahat saja. Nanti kalau aku lapar, aku ambil sendiri.”


“Tapi—”


“Nggak apa-apa.” kata Nolan, mengangguk mempersilahkan bi Ane untuk beristirahat. Nolan yakin, wanita itu juga lelah seharian mendampinginya menemui tamu-tamu penting papanya.


Cita-cita,


Penerus,


Sekarang, apa dia harus mengambil keputusan? Orang kepercayaan papa nya tadi bilang, jika Hendra sudah mempersiapkan semuanya untuk Nolan. Bahkan asisten pribadi papanya sendiri yang akan membimbing Nolan untuk menjadi penerus bisnis sukses Hendra.


Harapan ...


Mungkin ini adalah salah satu tujuan papa nya ingin Nolan memilih cita-cita, dan penerus adalah jawaban akhirnya. Pria itu berharap jika Nolan bersedia menjadi seseorang yang berguna.


Nolan kembali menatap ponselnya. Ia kemudian meraihnya perlahan, kemudian mengetuk dua kali untuk mengaktifkan. Setelah itu, dia mencari kontak seseorang yang perlu ia beri tau secara pribadi tentang kepergian sang papa, orang tersebut adalah Caca.


Nolan mengetik pesan singkat untuk dia.


Gue atas nama bokap, minta maaf kalau ada salah ama Lo.


Ya, pada akhirnya dia mendapatkan nomor Caca kembali setelah meminta Jonathan untuk menanyakan nomor pada Nanda.


Setelah pesan itu terkirim, Nolan meletakkan kembali ponselnya, kemudian mengusap wajahnya kasar.


“Baiklah.” kata Nolan bersama hembusan nafas besar terembus dari hidungnya. “Aku akan berusaha sebisaku untuk menjadi orang yang seperti papa inginkan.” []

__ADS_1


...—Bersambung—...


__ADS_2