Me Gustas Tu

Me Gustas Tu
Martabak Pembawa Keberuntungan?


__ADS_3

...Part 6 muncul...


...Silahkan luangkan waktu untuk mendukung karya ini dengan cara Like, komentar, favorit, vote, dan juga hadiahnya jika berkenan....


...Selamat membaca......


...🪐🪐🪐...



...MGT by: VizcaVida...


...06...


Jarum jam sudah menyentuh angka sembilan malam, tapi mata Caca sama sekali tidak bisa memejam sedikitpun, padahal biasanya dia akan tertidur seperti beruang hibernasi jika diatas jam delapan malam. Ia sekarang masih sibuk memikirkan permintaan paman Hendra yang sudah ia sanggupi tadi.


Caca mengubah arah, dia menyamping ke sisi kanan dan menatap seragam kerjanya yang tergantung di tembok. Kemudian mendesis lelah.


Buat Nolan berubah menjadi pribadi yang hangat tanpa perlu mengetahui kebenaran siapa dirimu dan apa hubungan kita.


Apa ini sebuah misi penyelamatan dunia?


Caca kembali mengubah posisi menjadi telentang. Ia menatap langit-langit kamar, memikirkan semua kemungkinan yang akan terjadi setelah ini. Termasuk nasibnya setelah berhenti kerja dari Moonbuck.


“Lalu, bagaimana jika seseorang mengenalku?” pikir Caca ketika membayangkan seseorang tau jika dia seharusnya tidak berada di sana dan menjadi murid SMA lagi. “Pasti akan sangat memalukan.” gumamnya, menarik selimut putih bergaris biru sampai batas dada. “Tapi itu SMA Kemala, SMA yang hanya bisa di tempati oleh anak-anak orang berduit, dan anak-anak yang benar-benar memiliki otak encer untuk mendapatkan beasiswa.” ratap Caca sekali lagi menimbang nasibnya yang akan kembali menjadi murid SMA selama waktu yang tidak bisa ia tentukan.


Paman Hendra meminta bantuan agar bisa menjadikan Nolan pribadi yang hangat, tapi berapa lama itu akan terwujud, Caca tidak bisa memprediksi atau bahkan menghitungnya. Semua tidak bisa diterka dengan angka. Bisa jadi sebulan, bisa jadi setengah tahun, atau bahkan setahun genap dia akan menjadi murid jadi-jadian di SMA Kemala.


“Huft...” de-sahnya lagi. Otaknya sudah berasap memikirkan hal seperti ini, tapi hatinya tidak bisa menolak ketika kembali mengingat imbalan yang akan dia terima setelah berhasil menjalankan misi berharga itu. Ah, baiklah sebut saja itu misi, dari pada harus bingung harus menyebut hal itu sebagai apa.


“Lalu ibu, apa yang akan aku katakan padanya kalau ibu tau aku menjadi murid SMA lagi?”


Argh, ini sangat rumit.


Caca mengacak rambutnya sendiri kemudian meringis kesakitan ketika beberapa helai ikut tertarik putus diantara sela-sela jari nya.


“Okey, bicara dan beri penjelasan secara jujur kepada ibu. Pasti akan bisa diterima karena aku mendapat imbalan yang besar.” gumamnya mencoba menyemangati dirinya sendiri. “Lalu... bagaimana dengan pak Arkan?”


Sejujurnya, hal inilah yang sangat memberatkan. Dia akan sulit untuk kembali masuk ke sana jika sudah terlanjur angkat kaki. Dua tahun bukan waktu yang sebentar untuk membentuk karir di Moonbuck, tapi dia sudah terlanjur menerima tawaran paman Hendra karena tergiur oleh imbalan yang jumlahnya melebihi gajinya bekerja selama dua tahun. Malah jauh lebih banyak uang yang di berikan oleh paman Hendra daripada gajinya selama empat sampai lima tahun kedepan.


Masalahnya, Caca tidak ingin melewatkan hari tanpa Arkan. Pria yang berhasil menarik minat jiwa omega nya meraung-raung ingin memiliki sang alpha.


Ah, terlalu berlebihan. Caca pikir dirinya tidak se-lebay itu deh.

__ADS_1


Okey kembali ke topik.


Intinya, Caca tidak ingin membuat Arkan kecewa dengan keputusannya yang tiba-tiba berhenti dari pekerjaan tanpa ada alasan yang jelas. Ya, alasan yang jelas-jelas tidak jelas. Bagaimana ya mengatakannya? Caca juga bingung mencari kalimat yang cocok untuk alasan yang akan ia buat.


Caca yang sudah berada di titik terjauh kebimbangan, akhirnya duduk kasar dengan rambut berantakan. Kalimat Hendra yang sedikit aneh berkelebat lagi dalam ingatannya.


Nolan sangat menyukai Saturnus. Jadi, kamu akan berada disekitar Nolan seperti Titan.


Titan? Memangnya dia musuh pahlawan Hollywood itu?


Caca menggeleng membayangkan wajah Titan, meskipun ia tau jika Titan yang dimaksud di sini bukanlah Titan berwajah menyeramkan itu. Melainkan sebuah satelit yang mengorbit di planet Saturnus. Satu-satunya satelit yang paling besar dan memiliki warna jingga yang indah untuk Planet yang memang indah dengan cincinnya yang melingkar seperti saturnus. Mereka adalah pasangan yang saling bersinergi. Pasangan yang cocok.


Dengan gerakan kelewat kasar, Caca kembali melempar dirinya ke belakang. Dia menatap langit-langit kamarnya sekali lagi. Dia sekarang memikirkan bagaimana caranya penyamaran itu tidak akan terbongkar oleh siswa-siswi disana. Meskipun paman Hendra bilang semua akan baik-baik saja karena dia adalah salah satu donatur terbesar di yayasan Kemala, tapi Caca tetap saja takut jika identitasnya terbongkar.


“Okey.” de-sah Caca sembari meraih ponselnya di bawah bantal. Ia mencari kontak Hendra yang tadi ia terima dengan berat hati. Ia ingin menghubungi pria paruh baya itu, namun langsung ia batalkan karena merasa tidak etis jika membicarakan itu di telepon. Untuk itu, Caca memilih mencari ikon pesan dan mengetik sesuatu disana.


Saya ingin berbicara lebih banyak dengan anda, paman.


Bisa kita bertemu besok?


Setelah itu Caca bangun dan merapikan rambutnya dengan sebuah ikatan menyerupai ekor kuda, menyambar sweater, masker hitam, dan kunci motornya yang sekarang sudah 'sembuh'. Dia meraih kenop pintu kamar dan membukanya. Memikirkan keputusan bodohnya membuat Caca lapar. Dia ingin makan martabak manis agar otaknya kembali bahagia.


Caca melihat ibunya yang ternyata masih terjaga diruang tengah sembari mendengar radio kesayangannya. Dibandingkan televisi, Bu Julia memang lebih suka mendengarkan radio.


“Mau nyari martabak manis, bu.” jawab caca ringan sambil terus berjalan menuju ruang tamu. “Ibu mau nitip sesuatu?”


“Nggak deh.”


Caca segera membuka pintu dan mengeluarkan skutik nya, kemudian menutup lagi pintu dan pergi mencari sesuatu yang sedang sangat dia inginkan, martabak manis.


Butuh perjuangan untuk sampai kesana. Karena jarak yang harus ia tempuh dari rumah ketempat penjual martabak adalah tiga puluh menitan. Cukup menyita waktu, tapi Caca suka beli disana, tidak ditempat lain.


Udara dingin malam menampar sebagain wajah Caca yang tidak tertutup masker dan helm. Namun ia suka dengan situasi seperti ini, seperti bebas dan tidak ada beban. Berkendara memang sangat menyenangkan bagi Caca. Apalagi malam begini, ditambah pemandangan lampu malam yang menyala menerangi jalan, Caca sangat menyukainya.


Sesampainya di tempat yang ia tuju, Caca segera memarkir sepeda motor nya dan berjalan menuju kang martabak sembari menenteng helm di tangan kanannya. Dia sengaja membawa helm itu ikut bersamanya, karena pengalaman buruknya ketika berada disini adalah kehilangan helm.


“Martabak manis coklatnya satu ya mas. Yang spesial.”


“Siap.”


***


Melampiaskan kekesalan pada jalanan, Nolan akhirnya merasa perutnya lapar juga. Ia ingat belum makan malam. Tadi bi Ane sempat memaksanya untuk makan, tapi dia tidak peduli. Dan sekarang dia menyesal karena harus membeli makanan diluar, karena navsu makannya semakin hilang ketika tau papanya pulang.

__ADS_1


Ya, setidak suka itu Nolan dengan papanya hingga hanya dengan melihatnya saja, Nolan sudah kehilangan navsu makan, dan juga uring-uringan.


Menurut informasi yang ia dapat dari salah satu teman satu geng balapnya, ada salah satu penjual martabak malam hari yang rasanya lumayan enak. Letaknya di tepian jalan utama satu arah yang memang disana akan ramai penjual berbagai macam makanan saat malam hari, dan katanya tidak pernah sepi pengunjung. Anak muda selalu berkumpul disana untuk menikmati malam. Ada yang bersama teman untuk ngobrol, ada juga yang pergi bersama pasangan mereka untuk menikmati indahnya masa pacaran. Namun semua itu tidak berlaku untuk Nolan. Dia hanya menggelengkan kepala ketika teman-teman nya meminta dia untuk mencari gandengan. Biar ada pawangnya kalau lagi marah-marah, begitu kata mereka.


Setelah memarkir dan menurunkan standart samping motor, Nolan berjalan ke arah salah satu penjual martabak yang tidak begitu ramai. Dengan kata lain, sangat sepi pembeli.


Oh ya. Ada dua penjual martabak disini. Satu adalah yang di datangi Nolan, dan satu lagi ada diseberang jalan. Tadi, Nolan hampir berhenti disana, namun melihat antrian yang begitu banyak bahkan hampir memenuhi jalanan, Nolan mengurungkan niat dan memilih yang berada di seberang jalan lain yang kini ia datangi ini.


“Mas, martabak daging sapinya satu.” Nolan terlihat melihat menu yang ditempel di kaca gerobak, dan Nolan baru sadar, jika penjualnya adalah sepasang suami istri yang usianya sudah tidak muda lagi. “Eh maaf, pak. Saya kira—”


“Nggak apa nak. Saya suka di panggil mas, biar kayak muda lagi.”


Sang istri menepuk bahu di bapak, tapi entah mengapa itu membuat Nolan begitu terenyuh. Dia suka melihat interaksi sederhana pasangan suami istri ini. Begitu hangat.


“Martabak daging sapi yang apa nak?” tanya si bapak, karena ada berbagai macam ukuran dengan harga yang berbeda pula.


“Ini.” tunjuk Nolan pada pilihan martabak paling mahal dengan sebutan Super jumbo, yakni empat puluh lima ribu rupiah.


“Oh, ya. Tunggu sebentar ya nak. Silahkan duduk dulu.” kata si bapak sambil meraih adonan tepung kemudian menepuk-nepuk diatas kaca bersih agar menjadi lebar.


Nolan tersenyum manis hingga lesung pipinya muncul, sudah lama dia tidak tersenyum lebar seperti ini. Lalu Nolan meraih dan menerima sebuah kursi plastik yang diberikan si ibu berkerudung sedikit lusuh itu kearahnya. “Silahkan duduk dulu, nak.”


Pelayanan disini sangat ramah, bapak dan ibu penjualnya begitu peduli kepada pembelinya, tapi entah mengapa malah sepi pembeli. Nolan tidak habis pikir melihat kenyataan seperti ini didepan matanya.


Ah, ini masalah selera, Nolan tidak bisa memaksa orang-orang itu untuk membeli martabak disini. Tapi dia janji, dia akan datang dan membeli disini jika dia ada waktu.


Nolan mengangguk dan duduk menunggu sambil mengeluarkan ponsel dari saku celana nya. Ada beberapa panggilan tidak terjawab, dan ratusan pesan WhatsApp menunggu untuk dibalas. Tapi Nolan malas, dia hanya ingin bermain game yang tadi sempat terhenti gara-gara kepikiran kartu, surat panggilan dari sekolah, dan juga kedatangan sang ayah.


“Terima Kasih, bu.”


Kemudian, pada menit lainnya Nolan kembali mengangkat wajah dan tanpa sengaja melihat kearah seberang. Tatapan matanya terkunci pada sosok yang sedang berjalan keluar dari kedai martabak seberang. Nolan yakin tidak salah lihat. Sosok yang sedang berjalan itu adalah...sosok Caca yang beberapa hari lalu celaka akibat ulahnya.


Tidak, Nolan tidak ingin memikirkan itu. Ia saat ini men-sugesti dirinya untuk mengingat apa yang sudah dilakukan perempuan itu kepadanya. Perempuan itu sudah membohonginya dengan memberikan nomor palsu.


Kali ini, Nolan tidak ingin kehilangan jejaknya lagi. Dengan gerakan cepat dan nggak peduli suara klakson motor dan umpatan pengendara yang hampir celaka karena dirinya, Nolan berjalan mendekat dan menarik lengan si perempuan bernama Caca itu.


Caca yang merasakan lengannya ditarik kasar oleh seseorang, sontak berhenti dan melihat kearah orang yang membuatnya terkejut.


“Oh tidak ini bahaya.” katanya dalam hati dengan mata terbelalak dan raut wajah yang berubah pucat. Caca merasa terancam, namun dia tidak ada keberanian untuk berteriak. Mulutnya seperti di plester dan suaranya seperti tertahan di tenggorokan.


Sedangkan Nolan, dia malah tersenyum miring menyerupai sebuah seringai ke arah Caca, lalu berkata. “Ketemu lagi, 'kan? Sepertinya Tuhan sedang tidak berpihak padamu, nona?” []


...—Bersambung—...

__ADS_1


Minta komennya, boleh?


__ADS_2