
Sesampainya di rumah, Adeela dan Farhan segera menuju ke lantai dua kamar mereka. Merasa lelah setelah seharian bekerja dan mengantar istrinya ke mall. Ia butuh istirahat. Setelah selesai mandi, Farhan merebahkan badannya di kasur. Sedangkan Adeela, sehabis mandi ia turun menuju lantai dasar dan menemani mbok Minah membuat makan malam.
Menu makan malam yang akan ia buat adalah, udang goreng crispy diberi mayonise diatasnya dan sayur tumis brokoli campur wortel.
Setelah selesai menghidangkannya, Adeela segera menuju ke lantai dua untuk membangunkan suaminya itu di kamar.
Saat pintu sudah terbuka, posisi suaminya itu masih sama saat tadi ia keluar dari sana. Segera Adeela duduk di ujung ranjang dan menggoyangkan bahu suaminya pelan.
"Mas Farhan, bangun mas. Makan malamnya udah siap."
"Heem, lima menit lagi!" Ujarnya dengan suara serak khas orang bangun tidur.
Ia pun menunggu selama lima menit, namun suaminya itu tidak bergerak dari tempatnya. Adeela pun kembali mencoba membangunkan suaminya namun tiba-tiba kedua tangan suaminya itu sudah melingkar di pinggangnya.
Adeela menautkan alisnya karena tingkah suaminya. Namun ia berusaha tenang dengan mengusap kepala suaminya itu pelan sambil kembali berbicara.
"Makanannya keburu dingin, mas!"
"Sebentar saja seperti ini, dek." Farhan kembali memanggilnya dengan sebutan adek. Panggilan sayang yang dulu sering ia ucapkan dulu padanya. Hatinya kembali sakit jika mengingatnya. Ia tidak boleh luluh lagi oleh Farhan. Tujuannya adalah Farhan yang harus luluh padanya dan dengan begitu ia akan membuat Farhan meninggalkan Kyla dan anaknya.
Setelah cukup lama berada di posisi itu, akhirnya Farhan pun bangun dan bersama istrinya turun menuju meja makan.
Farhan makan dengan sangat lahap hidangan di depannya. Jujur saja, selama enam tahun ia tinggal bersama Kyla, istri keduanya itu tidak pernah memasak masakan seenak masakan Adeela. Kadang masakannya itu asin atau hambar, Tapi ia tidak pernah menunjukkannya di depan Kyla dan selalu memakan apa yang istri keduanya itu hidangkan.
"Enak enggak masakan Deela, mas?" Ucapnya di sela-sela makannya.
"Heem, enak." Itu yang Farhan katakan sambil tersenyum kepadanya.
__ADS_1
Adeela menuangkan air putih ke dalam gelas suaminya. Setelah itu ia bangkit dari sana dan kembali menuju dapur. Ingin mulai mencoba membuat kue. Kue pertama yang akan ia buat adalah cupcake. Ia sudah belajar dari Youtube cara membuat beragam kue dan pilihan pertamanya adalah kue itu.
Farhan masih duduk di depan meja makan sambil memperhatikan kegiatan istrinya. Mbok Minah pun izin telebih dahulu kepada majikannya yang masih setia duduk di sana untuk membersihkan meja makan. Setelah mbok Minah selesai membersihkan meja makan dan mencuci piring, Farhan masih setia duduk di sana sambil menopang dagu menatap istrinya yang entah mengapa terlihat sangat cantik dengan celemek melekat di badannya dan rambut yang diikat asal ke atas.
Farhan bangkit dari duduknya dan menghampiri istrinya di dapur.
"Buat apa?" Tanyanya saat ia sudah berada di belakang istrinya.
"Aku mau buat cupcake aja, mas. Aku juga baru mau belajar sih. Semoga aja hasilnya nanti enak." Ucapnya sambil tersenyum manis kepada suaminya yang berdiri di sampingnya.
Deg...
Jantung Farhan berdetak dua kali lebih cepat melihat senyuman Adeela. Namun ia berusaha menyangkal isi hatinya dan tetap pada pendiriannya.
Farhan mengalihkan pandangannya kearah lain karena sekarang wajahnya sudah memerah bersama telinganya yang juga memerah.
Namun Adeela tidak menyadari perubahan suaminya dan kembali fokus membuat kuenya.
"Iya, mas. Kalau udah matang, aku bakalan bawa ke atas biar mas Farhan yang pertama coba kue buatan aku."
"Heem." Ucap Farhan tanpa menatap mata iatrinya. Segera ia berjalan menjauhi istrinya jangan sampai istrinya itu melihat wajah dan telinganya yang masih memerah.
Di tengah kegiatannya, ia kembali teringat bahwa mendiang anaknya itu sangat suka sekali memakan berbagai jenis kue. Terutama kue cupcake yang sedang ia buat itu. Dulu saat suaminya itu pulang kerja, pasti Adeela akan meminta suaminya itu membelikannya kue itu untuknya dan anaknya.
Hatinya kembali sakit. Dadanya terasa sesak ketika mengingatnya. Air matanya pun sudah lolos dari sana dan membasahi wajah putihnya. Ia berusaha tegar dan menghapus air matanya dengan tangan kirinya. Namun lagi-lagi air matanya itu tidak bisa berhenti. Pertahanannya pun sudah hilang, ia terkulai lemas di lantai menangis sambil berusaha menutup mulutnya agar tidak ada yang mendengar rintihan tangisnya.
Ia menangis sesenggukan di bawah sana. Memukuli dadanya yang terasa sangat sakit saat ini. Setelah cukup lama menangis di bawa sana, ia pun berusaha tegar dan menghapus air matanya. Kembali melanjutkan kegiatannya yang sempat tertunda.
__ADS_1
Setelah cukup lama membuatnya, kue buatannya pun matang. Setelah mendinginkannya sebentar, ia pun menatanya di atas piring dan membawanya menuju ruangan kerja suaminya.
Adeela mengetuk pintu terlebih dahulu dan membuka pintu lalu membawa capcake dan kopi di atas nampan menuju kearah suaminya.
"Dimakan, mas!" Ucapnya setelah meletakkannya di meja samping suaminya
"Makasih." Ucapnya dan memberikan senyum kepada istrinya.
Adeela membalas senyuman suaminya dan keluar dari sana. Hatinya sangat sesak ketika melihat wajah suaminya.
Adeela menuju kamarnya dan memberikan kue buatannya itu kepada mbok Minah karena sudah tidak lagi berselera untuk memakannya.
Di dalam kamar, Adeela tidur dengan posisi meringkuk dan mencoba menutup matanya. Adeela menghela nafas kasar untuk menormalkan perasaannya yang kembali mellow mengingat anak gadisnya. Sungguh luka yang suaminya torehkan itu sampai mati akan tetap ia ingat. Luka yang masih berdarah akibat penghianatan dan membuahkan anaknya meninggal karena dengan bodohnya menunggu suaminya itu pulang.
Ia harus kuat untuk sementara, tetap berada di sisi suaminya agar pembalasan dendamnya berjalan seperti rencananya.
Setelah mencoba tertidur dengan menutup matanya, akhirnya ia pun berlabuh di alam mimpi.
Saat tengah malam ia merasa melihat wajah suaminya yang memberikan ciuman di keningnya. Tapi itu tidak mungkin, mungkin itu hanya mimpi.
Ternyata itu benar-benar Farhan yang merasa bersalah setelah kembali mengingat apa yang juga Adeela fikirkan.
Setelah mencium kening istrinya ia pun mengucapkan permintaan maaf dengan suara lirih. Jujur saja, tiba-tiba tadi ia mengingat senyum mendiang anaknya yang sangat ceria saat dulu ia membawakan kue itu saat pulang kerja. Rasa bersalahnya semakin dalam saja untuk istrinya. Semua ini salahnya.
Segera Farhan merebahkan dirinya diatas kasur dan ikut bergabung masuk ke dalam selimut menghadap istrinya sambil tidur memperhatikan wajahnya.
Tiba-tiba ada setetes cairan bening yang meluncur dari wajah istrinya saat sedang tertidur. Farhan pun berusaha menghapus air mata itu dan membawa istrinya ke dalam pelukannya.
__ADS_1
"Maafkan, aku!" Ucapnya lirih saat sedang memeluk badan istrinya.
^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^