MEMBALAS PERSELINGKUHANMU

MEMBALAS PERSELINGKUHANMU
Allah Maha Adil!


__ADS_3

Adeela membuka matanya secara perlahan. Silau cahaya terang seketika menusuk retina matanya. Hal pertama yang ia lihat adalah sebuah ruangan yang serba putih. Bau khas ini sangat ia kenali. Bau khas rumah sakit yang dulu sempat ia tinggali selama enam tahun lamanya.


Matanya menatap langit-langit kamar. Kilasan peristiwa sejak ia bertemu dengan mantan mertuanya masih menari-nari di kepalanya. Tentang kata-kata manis yang mantan mertuanya ucapkan padanya. Setelah sekian lama tidak bertemu, mulut pedas dari mantan mertuanya tidak berubah sama sekali. Waktu ternyata tidak menjamin seseorang bisa berubah.


"Seharusnya sedari dulu, saya menolak dengan keras saat Farhan mau meminang kamu menjadi istrinya yang asal-usulnya saja tidak jelas!"Kata-kata itu terus terngiang-ngiang di kepalanya.


Kata-kata itu kembali menari-nari di kepala. Menusuk tepat di jantungnya. Namun ia tidak bisa menyangkal apa yang mantan Mama mertuanya katakan. Karena memang ia lahir dengan asal-usul yang tidak jelas. Sedari kecil, ia tidak memiliki kartu keluarga yang biasanya anak-anak terdaftar di dalam sana.


"Huh, cengeng sekali kamu, Deel!" Gumamnya lirih pada dirinya sendiri. Air mata yang mengalir tanpa permisi, Adeela coba menghapus nya dengan punggung tangannya yang kosong tanpa alat infus.


Adeela mengubah posisi tidurnya menjadi menyamping memunggungi pintu. Ia menghadap jendela yang sedang terbuka dan menerawang ke luar sana.


"Berhenti, Deela!" Ujarnya mencoba berbicara dengan dirinya sendiri. Karena sedari tadi air matanya tidak henti-hentinya membasahi wajahnya yang pucat.


Hingga pintu yang dibuka dari luar dengan sangat pelan tak membuatnya terganggu. Adeela tidak menyadari kedatangan seseorang memasuki kamarnya dengan langkah sangat pelan. Dapat lelaki itu lihat punggung Adeela yang bergetar di atas ranjang pasien.


Lelaki itu adalah Justin. Setelah mendapat kabar bahwa istrinya mengalami perdarahan dan masuk rumah sakit. Ia meninggalkan kota S dan menyerahkan semua nya kepada sekertarisnya untuk menyelesaikannya. Memastikan keadaan Adeela adalah hal yang sangat penting sekarang.


Untung saja, untuk masalah tiket pesawat telah di atur oleh sekertarisnya. Jadinya ia dapat melakukan penerbangan tanpa terganggu sama sekali.


Justin dengan keadaan rambut tak lagi rapi, dasi yang telah ia longgarkan dan jas yang sudah tidak melakat di badannya. Tersisa baju kemeja berwarna biru navy yang lengannya telah ia gulung hingga ke siku. Penampilannya sudah acak-acakan.


Justin mendesah panjang melihat Adeela yang kesakitan seperti itu. Seperti ada jarum yang tak kasat mata melihat penderitaan istrinya yang tiada henti-hentinya. Semua rahasia masa lalu Adeela yang tidak istrinya itu ceritakan kepadanya telah ia ketahui baru-baru ini dari orang suruhannya. Di tambah dengan pertemuan istrinya dengan mantan mertuanya sesaat sebelum kejadian, membuatnya semakin merasa menjadi lelaki yang gagal telah menjaga amanah. Semua itu ia ketahui dari Putri dan bukti rekaman CCTV pagi tadi.


Justin dengan sangat pelan naik ke atas ranjang pasien dan memeluk istrinya itu dari belakang. Perasaan bersalah semakin menjadi tatkala mendapati tubuh istrinya itu masih bergetar.


Adeela menegang di tempat, dan setelahnya ia menatap kepada orang yang berada di sampingnya itu.


"Mas!" Lirihnya. Segera Justin mengubah posisi istrinya itu menjadi menghadap kepadanya. Didekapnya dengan erat istrinya itu dan mengelus dengan lembut hijab istri nya.


Bukannya tenang diperlakukan seperti itu, Adeela malah semakin terisak dan suara yang tadi ia tahan ia keluarkan sudah.


"Kamu jahat!" Ujarnya dengan suara tersendat-sendat. Memukul pungggung belakang suaminya. Berusaha melepaskan sakit yang bersarang di hatinya. Maafkan istrimu yang melimpahkan sakitnya kepada mu.


Justin membiarkan Adeela melakukan hal seperti itu. Kembali Justin memeluk istrinya dan berusaha menenangkan nya.


"Iya, iya. Aku memang jahat! Maafkan aku!" Ujar Justin lirih di samping telinga istrinya.

__ADS_1


Adeela menangis dan menumpahkan semua rasa sakitnya di dalam dekapan hangat suaminya. Saat ini ia ingin menormalkan keadaannya dan juga hatinya. Pelukan hangat Justin yang sarat akan makna di dalamnya membuat Adeela lambat laun mampu tenggelam di dalam dunia mimpinya. Saat wanita sedang bersedih seperti ini, dia tidak membutuhkan apapun selain dari pada pelukan penenang.


Tadi, saat Justin telah sampai, ia diantar oleh Putri menuju ke ruangan dokter Arlita, spesialis obgyn. Dokter yang tadi melakukan tindakan saat Adeela di bawa ke ruangan Poli Kandungan.


Di situ, Justin mengetahui tentang keadaan istrinya dan berita tentang kehamilan istrinya. Justin yang awalnya was-was dan sangat khawatir, berubah menjadi bahagia. Kata dokter, usia kandungan Adeela sudah memasuki 10 minggu. Namun kata dokter, istrinya itu harus banyak-banyak istirahat, makan-makanan yang bergizi dan yang paling penting adalah jangan terlalu banyak fikiran. Karena jika semua itu tidak dilakukan, akan mempengaruhi kondisi ibu dan juga janin yang ada di dalam kandungan. Tugas suami juga adalah, selalu memberikan support selama masa kehamilan.


Kembali ke topik.


Justin menepuk-nepuk punggung Adeela dengan pelan. Matanya menerawang ke depan. Kembali memikirikan segala yang telah terjadi.


"Kamu memang pria *******, Farhan!" Makinya di dalam hati.


Bagaimana bisa wanita sebaik dan se-setia seperti Adeela diperlakukan seperti itu. Ditambah dengan kepergian anak gadis mungil yang baru menginjak usia beberapa tahun. Bagaikan sebuah bom waktu, dalam waktu sekejap semua yang Adeela miliki hilang dan meninggalkannya.


Ditambah lagi Farhan yang diam-diam menikahi Kyla secara siri dan menghasilkan seorang anak lelaki. Perbuatan Farhan menurutnya sudah sangat-sangat kompleks. dan mulai hari ini, ia bersumpah tidak akan mau lagi mengenal lelaki yang bernama Farhan itu.


Farhan yang awalnya sangat ia hormati dan ia anggap sebagai sahabat, ternyata bisa berbuat se lucnut itu. Mulai sekarang persahabatan diantara mereka akan ia lupakan. Mempertahankan seorang sahabat yang seperti itu sama saja dengan membohongi dirinya sendiri dengan prinsip hidup yang telah ia tanam. Tidak ada untungnya sama sekali.


Setelah tertidur selama dua jam lamanya, Adeela pun kini telah bersandar di kepala ranjang dengan Justin yang menyuapi istrinya makan buah jeruk.


"Air, Mas. Aku haus!" Dengan cekatan, Justin membantu Adeela mengambilkan minum.


"Abisin!" Perintah Justin.


Adeela menggelengkan kepalanya menolak. Dia sudah sangat kenyang.


Mau tidak mau, Justin pun meletakkan buah Jeruk yang telah ia kupas itu di atas piring kosong.


Justin yang menatap intens istrinya, tiba-tiba menyubit kedua pipi istrinya. Setelah itu, ia sandarkan kepalanya di atas pangkuan dan menghadap ke perut istrinya. Lengannya ia lingkarkan di perut.


Justin menciumi beberapa kali perut istrinya. Adeela yang diperlakukan seperti itu mengernyit heran. Ada apa dengan suaminya yang tiba-tiba berubah manja seperti ini.


"Kamu kenapa sih?" Tanyanya. Justin mengangkat kepalanya menatap istrinya. Senyum manis pun tersungging di sana. Hal itu semakin membuat Adeela bertanya-tanya.


Justin menegakkan tubuhnya dan menatap istrinya dengan intens.


"Kamu kenapa? Dari tadi elus-elus, cium-cium perut aku?"

__ADS_1


Lagi-lagi, Justin menampakkan senyum merekahnya.


"Kamu tahu, di sini," Tunjuknya pada perut Adeela. "Allah menggantikan sosok Nurhan yang telah pergi! Dan... akan ada dua Nurhan yang sedang hidup dan bergantung sama kamu!"


Oh, Ya Allah. Entah mengapa, Adeela merasa sedikit ambigu dengan apa yang suaminya katakan. Namun entah mengapa perasaannya menjadi bergejolak. Ada perasaan yang membuncah di dalam hatinya antara senang dan sedih.


"Maksud kamu apa, Mas?"


Justin tersenyum hangat


"Kamu akan menjadi seorang Ibu. Dan aku... aku akan menjadi seorang Ayah!"


Lagi-lagi air mata mengaliri wajahnya. Ia mengerjap-erjapkan matanya mendengar pernyataan suaminya.


"Aku... hamil, mas?"


"Iya, kita akan menjadi orang tua. Dan Allah memberikanmu dua sekaligus!" Pecah sudah tangis Adeela. Air mata bahagia mendengar ucapan suaminya. Tuhan ternyata masih adil padanya. Padahal sebelumnya, ia sempat suudzon pada Allah yang tidak adil padanya.


Maafkan Adeela Ya Allah. Telah meragukan keesaan dan keadilanmu. Ujarnya di dalam hati.


Justin membawa Adeela kedalam pelukan. Mereka saling berpelukan satu sama lain menumpahkan perasaan bahagia di hati.


"Tapi, aku takut, mas!"


"Takut kenapa?"


"Aku takut tidak bisa menjaga anak-anak kita. Aku...." Ujarnya trauma apabila mengingat peristiwa beberapa tahun silam. Justin yang mengerti arah pembicaraan istrinya pun seketika memotong ucapannya.


"Suttt... Jangan di bahas lagi. kamu tidak sendiri. Ada aku juga yang akan menjaga mereka. Kita berdua! karena kita adalah orang tua mereka!"


Merek berdua tenggelam di dalam kebahagiaan yang membuncah. Berpelukan dan menumpahkan semua rasa bahagia dan syukur. Saat sedang asyik-asyiknya berpelukan ada seorang lelaki yang menginterupsi apa yang mereka lakukan.


Adeela dan Justin pun melepaskan pelukan dan melihat ke arah asal suara.


"Dokter Riko!" Ujarnya melihat dokter yang dulu merawatnya saat koma.


*********

__ADS_1


Jangan lupa like, komen dan vote nya. Mayan nih, panjang-panjang per part. Ye kan🤭😁


Salam story from By_me


__ADS_2