
"Kenapa liatin aku terus. Menghadap depan sana!"
Farhan menggelengkan kepalanya dan terus memperhatikan istrinya. Tatapan seolah ingin menerkamnya. Tidak apa-apa kan, kalau ia meminta lebih kepada istrinya. Toh, Adeela juga sudah terlanjur hamil olehnya.
"Boleh, aku menciummu?"
"Hah." Ucapan suaminya membuatnya melongo. Ternyata suaminya dari tadi ternyata menyiratkan arti itu.
"Mati, aku. Cari cara, cari cara." Gumamnya dalam hati berusaha mencari cara untuk bisa menggagalkan kemauan suaminya.
Tanpa menunggu jawaban dari Adeela, tiba-tiba saja Farhan sudah mengangkat tubuh istrinya dan mendudukkannya di pangkuannya. Adeela terperanjat kaget karena ulah suaminya.
Kini posisi duduknya membuatnya tidak nyaman. Bagaimana tidak, kalau sekarang ia duduk dengan posisi menghadap kearah suaminya. Ia mengangkat kedua tangannya ke dada suaminya, berusaha untuk menjaga jarak dari suaminya.
"Mas Farhan, aku mmmpp..." Kini mulut Adeela telah dibungkam dengan ciuman suaminya. Farhan menarik badan istrinya agar semakin mendekat kearahnya. Tangan kanannya ia letakkan di belakang tengkuk istrinya.
Adeela mencoba menarik diri, namun ia tidak bisa menghindar. Badannya sudah dikuasai oleh suaminya. Ia pun akhirnya pasrah dengan ciuman suaminya yang kini ******* bibirnya. Namun Adeela tidak membalas ciuman suaminya itu.
Lama Farhan melakukan itu hingga kini terasa pasokan oksigennya menipis. Adeela mencoba memukul dada suaminya agar menghentikan aksinya. Ia sungguh hampir kehabisan nafas. Farhan yang mengerti dengan respon istrinya pun menghentikan aksinya. Dengan dada yang naik turun, Farhan kini melepaskan pagutannya. Di pandangnya wajah istrinya yang juga ngos-ngosan karena ulahnya.
Adeela membelalakkan matanya karena merasa susuatu yang keras di bawah sana. Dipandangnya suaminya yang menatapnya dengan tatapan dipenuhi kabut gairah. Adeela tahu bahwa suaminya ini sudah *****. Ia terperanjat kaget dan mengalungkan tangannya ke leher suaminya karena takut nanti terjatuh. Farhan kini menggendongnya dan dengan tergesa-gesa berjalan menaiki tangga menuju kearah kamarnya.
__ADS_1
Saat berhasil membuka pintu, dengan satu dorongan menggunakan kakinya kini pintu kamar mereka sudah tertutup. Di lemparnya ke kasur istrinya dan segera membuka bajunya. Adeela beringsut mundur karena takut jangan sampai suaminya ini benar-benar melakukan itu padanya.
Setelah berhasil membuka bajunya, kini Farhan hanya menyisakan celana boxer membalut badannya. Ia pun merangkak naik ke atas ranjang. Dengan sekali tarikan, Adeela sudah berada di bawahnya.
Adeela kini sudah ditindih oleh suaminya. Farhan menatap setiap inci wajah istrinya dengan tatapan memuja.
Saat ia ingin mendekatkan wajahnya untuk mencium istrinya, aksinya itu harus terhenti karena istrinya tiba-tiba meringis kesakitan.
"Awww...." Ringisnya dengan wajah yang nampak kesakitan.
Dengan wajah panik, Farhan segera bangun dari atas tubuh istrinya dan memeriksa tubuh istrinya. Jangan sampai ia melukai istrinya.
"Perut aku keram, mas." Jawabnya dengan ekspresi menahan sakit.
"A-aku akan panggilkan dokter untuk memeriksa kamu!" Dengan ekspresi yang panik, ia ingin segera turun dari ranjang ingin menghubungi dokter pribadinya.
Namun Adeela menarik tangan suaminya dan menggelengkan kepalanya. "E-enggak usah, mas. Nanti juga keramnya bakalan reda."
"Aku harus panggil dokter untuk memeriksa kamu. Kalau nanti terjadi sesuatu dengan anak kita, bagaimana?" Jawabnya dengan raut wajah frustasi.
Adeela lagi-lagi menggelengkan kepalanya."Nanti sakitnya akan reda sendiri. Temani aku saja, mas. Jangan kemana-mana." Ucapnya memohon berusaha meyakinkan suaminya.
__ADS_1
Farhan terlihat menghela nafas panjang. Akhirnya ia pun menuruti permintaan istrinya.
Adeela kini tidur dengan posisi meringkuk. Farhan kembali memakai bajunya dan setelah itu ia kembali naik ke atas ranjang. Dielusnya perut istrinya berharap agar mampu meredakan keramnya.
Adeela menghembuskan nafas lega karena mampu menghindar dari niat suaminya yang kembali ingin menyentuhnya.
"Selamat, selamat." Gumamnya dalam hati karena ia mampu menggagalkan aksi suaminya dengan berpura-pura kesakitan. Kalau saja ia tidak melakukan itu, bisa-bisa ia bakalan hamil sungguhan kali ini.
Setelah dirasa Adeela tidak lagi kesakitan dan kini sudah tertidur, Farhan pun ikut membaringkan badannya di samping istrinya.
Dibawanya tubuh istrinya itu ke dalam pelukan dan ia mencium kening istrinya berulang kali.
Fikirannya kembali menerawang akan apa yang telah ia lakukan tadi. Apa yang telah ia lakukan telah membuat istrinya itu kesakitan. Karena dikuasai oleh nafsu, ia lupa dengan kehamilan istrinya yang baru beberapa minggu itu. Seharusnya ia tidak melakukannya dulu, karena masa-masa kehamilan muda masih sangat rentan.
"Maafkan, aku." Gumamnya lirih dengan memeluk tubuh istrinya itu dengan erat.
"Aku kembali jatuh oleh pesonamu, Deel. Aku kembali jatuh cinta untuk yang kedua kalinya. Maafkan aku kalau ini harusku lakukan. Aku tidak bisa melepaskan Kyla dan juga tidak bisa melepaskanmu. Biarkanlah aku memiliki keduanya." Ya, ini adalah keputusan yang terbaik untuk semuanya. Ia tidak mungkin meninggalkan Adeela dalam keadaan sedang hamil. Mungkin ini adalah jalannya. Ia akan menebus kesalahannya yang telah lalu dengan terus berada di samping Adeela.
^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^
Salam story from By_me
__ADS_1