
Saat mendapat panggilan dari suaminya, Adeela pun menjauh dari kerumunan riuh sorak sorai teman-temannya yang sedang menyaksikan kehebohan penampilan Zizi yang entah menggunakan gaya apa di atas panggung sana.
Adeela berjalan menuju pesisir pantai yang saat itu penerangannya agak remang. Diangkatnya panggilan suaminya.
"Halo, mas."
"Kamu ada di mana?" Ucap Farhan dengan nada dingin di balik telepon.
Adeela menautkan alisnya mendengar pertanyaan suaminya. Bukankah ia sudah mengirimi suaminya sebuah pesan singkat melalui whatsapp. Lalu, mengapa suaminya bertanya dengan nada dingin padanya. Tapi tidak mungkin juga suaminya itu belum membaca pesannya. Sedangkan yang Adeela tahu saat suaminya itu menyalakan ponselnya, maka hal pertama yang akan ia buka adalah notifikasi pesan/panggilan. Siapa tahu ada hal yang penting yang ia lewatkan.
"Mas Farhan belum baca pesan yang aku kirimkan? Aku udah min...." Ucapannya terhenti karena suaminya sudah lebih dulu memotong pembicaraannya.
"Yang aku tanya kamu sekarang ada di mana?" Farhan berbicara dengan membentak Adeela di balik telepon. Adeela begitu terkesiap akan bentakan suaminya yang entah ada angin apa tiba-tiba saja berbicara seperti itu padanya.
"A-aku ada di Bali, mas."Ucapnya terbata. Jujur saja ia sangat takut dengan segala macam bentakan. "Aku lagi ada reuni di Bali, mas. Dan aku juga sudah minta izin sama kamu melalui pesan singkat. Aku juga udah hubungin kamu berkali-kali tapi panggilan aku enggak kamu angkat. Aku..."
"Banyak bicara kamu. Kamu kira aku tidak tahu apa yang kamu lakukan, Adeela, hah!" Ucapnya lagi membentaknya dengan nada keras. Sejenak Adeela menjauhkan ponsel itu dari telinganya. Bisa pecah gendang telinganya jikalau terus mendengar suara berat suaminya.
__ADS_1
"Maksud kamu apa, mas?" Tanya Adeela penasaran tak tahu maksud suaminya.
"Aku ini suamimu, Adeela. Seorang istri tidak boleh keluar dari rumah tanpa mendapat izin dari suaminya." Farhan berkata dengan nada tinggi. "Sedangkan kamu... Bilangnya acara reuni, tapi sebenarnya kamu sedang bersama lelaki di belakang aku dan mungkin sedang mesra-mesraan sama lelaki itu. Dan yang paling parahnya, lelaki itu ternyata sahabatku sendiri."
Apa yang suaminya ini katakan. Demi apapun, Adeela benar-benar tidak mengerti dengan maksud suaminya.
"Maksud kamu apa, mas. Lelaki mana yang sedang mesra-mesraan dengan aku. Aku ini sedang reuni, mas dan tidak sedang selingkuh di belakang kamu!"
"Apa yang aku lihat, itulah yang aku percaya, Adeela." Nafar Farhan terdengar berat dibalik telepon.
"Mas Farhan!" Bentak Adeela sudah tidak sanggup lagi menahan dirinya mendengar tuduhan suaminya. Rendah sekali dirinya dimata suaminya sendiri. Entah mengapa tiba-tiba saja air matanya sudah tumpah dari pelupuk matanya. Harga dirinya seakan diinjak-injak oleh suaminya sendiri. Lelaki yang selama ini menyelingkuhinya, menuduhnya dengan tuduhan yang tidak akan mungkin ia lakukan.
"Kamu kira aku sedang menjajakan diriku pada lelaki lain, mas, hah! Aku bukan wanita murahan yang dengan mudahnya memberi badannya kepada lelaki yang bukan muhrimnya! Aku tahu batasan, mas! Aku sudah bilang sama kamu kalau aku sedang reuni bersama teman-temanku. Dan saat pertama aku datang sampai sekarang, aku tidak pernah berdekatan dengan laki-laki. "Sedari awal kedatangannya, Adeela memang selalu bersama teman-teman wanitanya.
Adeela menarik nafas panjang mencoba meredakan emosinya. Dihapusnya air mata yang membasahi wajahnya dengan kasar. Hening sesaat. Mereka terdiam dengan fikiran masing-masing. Adeela mengepalkan tangannya kuat-kuat.
"Sekarang terserah kamu saja mau percaya apa tidak. Itu urusanmu! Aku tidak mau terus-terusan makan hati mendengarmu menuduhku dan menginjak harga diriku. Menuduhku seenak bicaramu untuk hal yang tidak aku lakukan."
__ADS_1
Farhan terdengar menghembuskan nafas kasar di balik telepon. "Tunggu aku disitu, aku akan menjemputmu."
"Tidak usah!" Tolak Adeela kasar.
"Aku bilang tunggu aku, ADEELA!" Bentak Farhan dengan tegas.
"Terserah kamu!" Setelah mengatakan itu, Adeela mematikan secara sepihak panggilan suaminya.
Ia berjongkok dan membenamkan kepalanya di pertengahan lipatan lututnya. Air matanya lagi-lagi tumpah membasahi wajah cantiknya. Sakit rasanya ketika diperlakukan seperti itu oleh suami sendiri. Suaminya menuduhnya berselingkuh, sedangkan selama ini yang selingkuh itu adalah dia, suaminya. Adeela sungguh tidak tahan terus-terusan menahan sakit hati berada di dekat suaminya. Ingin rasanya, ia mengeluarkan segala sakit yang selama ini tersimpan di hati, fikiran dan mata kepalanya. Namun ia harus kuat sampai dendamnya terbalaskan.
Hatinya sangat sakit mendengar segala makian dan tuduhan dari suaminya. Amarah dan dendamnya semakin memuncak karena perlakuan suaminya yang dengan entengnya menuduhnya berselingkuh. Sedangkan yang sesungguhnya berselingkuh di sini adalah suaminya sendiri.
^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^
Jangan lupa vote, like dan komennya ya kkđđ
salam story from By_me
__ADS_1