
"Papa! Papa! Liat deh, Reyhan tadi menggambar gambar yang bagus. Liat deh, Pa!" Teriak Reyhan yang dari jauh melihat Papa nya yang baru pulang. Gambar itu ia pegang dan mencoba memperlihatkannya pada Papanya.
"Pah, liat deh, gambar, Reyhan!" Serunya antusias sambil masih menggoyang-goyangkan kertas gambarnya di depan Papanya.
Malam tadi selepas makan malam, Reyhan ditemani oleh Bibi untuk menggambar. Reyhan sangat antusias menggambar apa yang ada di dalam imaginasinya. Gambar dirinya, Papanya dan satu lagi gambar seorang perempuan.
Farhan yang lelah sehabis pulang kantor, hanya melirik sekilas tanpa berniat melihat apa yang anaknya ingin tunjukkan. Wajah dan keadaannya terlihat sangat kusut.
Farhan melepaskan belitan dasi yang seakan mencekik lehernya. Beban hidup dan masalah yang tak berkesudahan, membuatnya seakan tak mempunyai waktu untuk bernafas dengan tenang menikmati hidup.
Farhan hanya melirik sekilas dan melepaskan atribut kerjanya yang membuatnya muak.
"Papa, liat deh, gambarnya, Reyhan! Bagus, enggak, Pa?!" Tanyanya sekali lagi dengan penuh antusias.
"Nanti, ya, Nak!" Jawabnya dengan pelan. Ia mencoba melewati anaknya, namun lagi-lagi Reyhan mendesaknya untuk melihat hasil karyanya.
"Papa! Ini gambar, Reyhan..."
"Papa bilang nanti, ya NANTI!" Bentaknya pada akhirnya. Reyhan yang diperlakukan seperti itu seketika terdiam dan menundukkan kepalanya. Air matanya seketika menetes dibentak seperti itu oleh Papanya. Reyhan yang beberapa detik lalu sangat antusias, seketika terdiam. Patah semangat dibentak seperti itu.
Farhan yang melihat perubahan raut wajah anaknya, seketika merasa bersalah. Farhan mengusap wajahnya dengan kasar dan menutup wajahnya untuk beberapa detik. Mencoba menetralkan rasa kesal dan emosi yang merajai hatinya.
Rayhan mengangkat kepalanya dan mengusap air matanya dengan tangan kirinya. Reyhan menatap gambar yang dengan susah payah ia buat dengan nanar. Ekspektasinya, Papanya akan memuji hasil gambarnya. Ternyata, Papanya juga sudah berubah. Semua orang berubah dan meninggalkannya dalam kesepian.
"Maaf!" Ujar Reyhan menatap mata Papanya dan berlalu dari sana berlari menuju kamarnya. Lembaran gambar bukti nyata harapannya melalui gambar tadi, telah tergeletak di lantai bersama harapan anak itu.
"Reyhan! Reyhan!" Teriak Farhan pada anaknya. Namun teriakannya itu tak diperdulikan oleh anaknya. Reyhan terus berlari tanpa menengok kembali ke belakang. Kertas yang tadi sangat ingin ia tunjukkan pada Papanya pun sudah tergeletak di lantai.
__ADS_1
Bibi hanya bisa menghembuskan nafas pelan melihat apa yang baru saja terjadi.
Farhan baru saja ingin menyusul anaknya, namun langkahnya tertahan oleh panggilan, Bibi.
"Biar den Reyhan sendiri dulu, Pak. Bapak juga kalau bisa saya kasih saran, redakan dulu emosi dan tenangkan fikiran, Pak. Kalau sudah tenang, barulah Bapak menjelaskan semuanya dan membujuk den Reyhan."
Setelah berfikir sejenak, Farhan pun mengikuti saran dari Bibi. Menenangkan fikiran saat ini adalah yang terbaik.
Siang tadi setelah insiden waktu itu saat ia dibuat babak belur oleh Papa Irwan. Papa Irwan memecatnya dari kursi yang telah lama ia duduki secara tidak hormat. Papa Irwan benar-benar membuktikan apa yang waktu itu ia ucapkan. Membuat anaknya jera dan tidak memiliki hak apapun lagi di perusahaan. Walaupun perusahaan itu Farhan yang mendirikannya sampai sesukses sekarang, namun saham terbesar di miliki oleh Papanya. Modal usaha untuk mendirikan perusahaan itu adalah modal milik Papanya. Setelah melakukan sidang direksi, hasil akhir pun didapatkan. Farhan dipecat dari kedudukannya dan digantikan oleh Papanya. Tak ada lagi harapan untuknya. Ia dipecat secara tidak hormat.
Hal itu pulalah yang membuatnya sampai membentak anak lelakinya. Karena fikiran yang sangat kacau dan kondisinya yang sekarang ini membuatnya jadi gelap mata.
Setelah beristirahat sebentar, Farhan pun mengikuti saran dari Bibi tadi. Ia harus meminta maaf atas salah yang ia perbuat tadi. Tidak seharusnya, masalah yang sedang ia hadapi dilimpahkan kepada anaknya. Farhan menghela nafas dalam dan mencoba untuk menetralkan raut wajahnya sebelum membuka pintu kamar anaknya.
Saat pintu itu sudah terbuka, ia melihat anaknya sedang tidur berbaring membelakangi pintu. Farhan berjalan masuk dengan langkah pelan. Ia naik ke atas ranjang anaknya dan melihat anaknya yang sedang menutup matanya. Saat matanya melirik ke bawah, dilihatnya jemari anaknya yang bergerak dan dikepal.
Farhan yang tahu anaknya sedang berpura-pura tertidur, akhirnya menyandarkan badannya di sandaran ranjang. Matanya menatap kedepan dan menerawang apa yang telah ia lalui.
"Papa salah, Nak! Papa bersalah telah membentak, Reyhan. Papa khilaf. Papa lelah. Papa benci dengan diri Papa sendiri yang seperti ini. Papa... Papa lah penyebab semua ini. Papa telah membuat Reyhan menjadi seperti ini. Maafkan Papa, Nak!" Reyhan terdiam dan mencerna setiap yang diucapkan oleh Papanya.
"Papa tidak bisa menjadi orangtua terbaik untuk, Reyhan. Papa... orangtua yang bodoh. Papa salah, Nak! Papa lah sumber masalah dari semua yang sedang terjadi!" Farhan mengeluarkan segala unek-uneknya di samping anaknya. Air mata bersalah menjadi pengiring pengakuannya.
Ditengah tangisnya yang berusaha ia tahan agar anaknya tidak mengetahuinya, ternyata salah. Reyhan menyaksikan dan mendengar semua itu. Reyhan membalikkan badannya dan memeluk Papanya yang sedang menitikan air mata. Reyhan yang belum mengerti apa-apa, melihat Papanya yang meminta maaf dan bersedih seperti itu hatinya tersentuh dan ikut bersedih.
Nasi sudah menjadi bubur. Dalam hidup Farhan, hanya ada penyesalan. Penyesalan atas apa yang telah dilakukan. Tuhan telah menguji imannya dan ia tidak lolos dalam tahap itu. Ia tidak lolos dalam tahap kesetiaan. Ia terjerumus oleh kesenangan dan nafsu yang tak bisa ia tahan. Dan pada akhirnya, namanya tecatat sebagai hamba Tuhan yang gagal.
*******
__ADS_1
Kyla berteriak sekeras-kerasnya meneriaki kendaraan Marchel yang semakin lama semakin menjauh. Lelaki yang selama beberapa bulan ini menjadi sumber uangnya, pun juga pergi meninggalkannya. Kyla menjadi wanita simpanan dari kenalan temannya. Mereka bertemu secara tidak sengaja di tempat hiburan malam. Marchell si lelaki kaya, mencoba bermain-main dan menjadikan Kyla sebagai wanita simpanannya.
Marchell adalah lelaki yang telah berkeluarga. Lelaki itu menduakan istrinya secara diam-diam. Selama beberapa bulan, apa yang mereka lakukan tidak ada yang mengetahui. Sampai pada suatu malam, istri sah dari Marchell mendapati hp suaminya yang berisi chat mesra dari wanita yang bernama Kyla. Dan saat itu pulalah bangkai yang disembunyikan oleh suaminya ketahuan juga.
Terjadi pertengkaran hebat antara dirinya dan sang istri. Marchel yang telah memiliki anak dari istri sahnya, saat disuruh memilih antara dirinya (istri sah) dengan Kyla (wanita simpanannya). Marchel akhirnya memilih istri sahnya dan juga anaknya yang sangat berharga untuknya.
Ia hanya menjadikan Kyla sebagai simpanannya. Hal yang sangat bodoh menurutnya, jikalau memilih mempertahankan Kyla disisinya.
Atas alasan itu pulalah, Marchel meninggalkan Kyla di tengah jalan sendirian. Jika ia tidak melakukan itu, maka Kyla akan terus-terusan berharap dan menempel padanya. Dan Marcel tidak ingin mengambil resiko akan hal itu.
"Arghhh... awas saja, kamu, Marchel!" Makinya pada Marchel. "Aku tidak terima dengan apa yang kamu lakukan. Kurang ajar! *******!" Waktu sudah menunjukkan pukul 21.35 Wib. Untung saja, masih ada kendaraan yang melintas di daerah itu.
Kyla segera menahan taksi dan naik ke atasnya. Selama perjalanan, tak henti-hentinya ia merutuki dan menyumpah serapahi Marchell.
Ditengah perjalanan saat kendaraan berhenti di lampu marah, matanya menatap ke samping melihat kendaraan yang berada tepat di sampingnya. Sata itu pulalah matanya melihat seseorang yang sangat mirip dengan istri dari mantan suaminya. Siluet dari seseorang yang sangat mirip dengan Adeela. Ia mencoba menajamkan matanya. Saat kendaraan sudah berjalan, dapat ia lihat dengan jelas, Adeela bersama dengan seorang lelaki yang dulu sangat sering ia jumpai. Justin!
Kyla mencoba mencerna akan apa yang ia lihat. Adeela dan Justin berada di dalam mobil dan mereka berdua terlihat sangat akrab. Justin yang tertawa lepas dan Adeela yang menampakkan wajah kesalnya.
"Ngapain mereka berdua? Apa jangan-jangan..." Ujarnya mencoba menerka-nerka apa yang mungkin saja terjadi. Kyla membulatkan matanya akan apa yang sedang ia fikirkan sekarang.
"Aku harus cari tahu! Sepertinya banyak hal yang terjadi selama aku berpisah bersama Mas Farhan!" Ujarnya dan kembali memperbaiki posisi duduknya.
********
I'm back! Maap ya, lama! Aku up lagi demi bayar hutang aku yang belum kelar2 ampe sekarang. Semoga kk bersabar dan menunggu ya๐ค๐
Sisa beberapa part lagi lah menuju End. Semoga kalian tetap setia ya, sampe saat itu๐๐ฅฐ
__ADS_1
Lope u readers!!!
Salam story from By_me