
Adeela POV
Aku masih mengingat tatapan mengharap dan kerinduan di mata anak itu. Reyhan\, anak hasil hubungan mantan suamiku dan pasangannya\, Kyla. Tapi walaupun begitu\, aku tidak pernah menyalahkan anak itu atas apa yang telah dilakukan kedua orang tua nya. Anak itu tidak punya salah apapun atas kesalahan kedua orang tua nya. Setiap anak yang lahir\, mereka putih bersih tanpa dosa walaupun lahir dari rahim seorang p******r sekalipun. Anak sekecil itu harus berada di tengah-tengah masalah kami.
Aku kasihan melihat anak itu. Kasihan sekali kamu, Nak. Seharusnya, di usia mu sekarang, engkau medapatkan kasih sayang dan cinta untuk pertumbuhan dan perkembangan motorik mu. Tapi, ibu mu sendiri tidak memperhatikan itu. Seandainya kamu adalah anak ku, pastilah kasih sayang penuh akan aku berikan untukmu. Tapi, sekali lagi, semua itu hanya seandainya.
Di satu sisi, aku menginginkan dan merindukan seorang anak di tengah-tengahku dan di satu sisi, Kyla yang berutung memiliki anak setampan Reyhan harus di sia-siakan. Takdir memang se-lucu itu.
Aku masih memikirkan Reyhan sampai suara bariton menyadarkanku dari lamunanku.
Adeela end POV
"Kamu kenapa? dari tadi melamun terus?" Tanya, Justin yang sedari tadi memperhatikan kebungkaman Adeela.
Adeela menggelengkan kepalanya, "Gue enggak kenapa-napa. Gue tadi, hanya memikirkan seseorang." Jawabnya tanpa memandang Justin.
"Pasti aku,ya!. Orangnya ada nih, di sini. Enggak usah difikirin." Ucapnya penuh percaya diri.
Adeela hanya mampu memutar bola mata malas dan menganggukan kepalanya agar masalah selesai.
"Btw, aku enggak usah difikirin. Memikirkan aku itu berat, biar aku saja!"
Adeela geleng-geleng kepala mendengar tingkat ke narsisan Justin.
"Laga lo, udah kayak Dilan aja. Nggak cocok. Kalau Dilan yang ngomong kayak gitu, jatuhnya jadi keren, lucu. Nah lo, gue jadi merinding dengernya." Mengatakan itu sambil ia usap-usapkan lengannya.
"Kalau kamu merinding, berarti kata-kata aku tadi membuatmu tersentuh."
"Bukan itu yang buat gue merinding. Tapi, cara ngomong lo yang make aku-kamu yang buat gue merinding."
"Lah, kenapa memang dengan cara bicara aku. Kita bukan lagi anak remaja, Deel. Kamu harus biasakan itu."
"Enggak cocok lah, ngomong kayak gitu ama lo!"
"Harus di cocok-cocokin lah!" Tawarnya, sambil mengangkat alisnya menggoda Adeela.
Adeela lagi-lagi hanya bisa memutar bola mata jengah mendengar setiap ucapan Justin.
__ADS_1
Adeela tidak lagi menanggapi ucapan Justin yang mengerocos terus. Ia sengaja menyalakan radio dan menyetel dengan suara yang keras agar telinganya bisa terbebas dari kata-kata unfaedah nya Justin.
Di saat Adeela sedang asyik-asyiknya mendengarkan lagu, tiba-tiba saja, Justin mematikan radio. Sontak saja Adeela protes akan apa yang telah Justin lakukan.
"Kok dimatiin?"
"Kamu mau pulang apa tidak?"
"Ini kan sudah mau pulang, Justin!
"Ya, emang kita mau pulang. Tapi, ini di depan nanti belok ke mana, kanan atau kiri. Aku enggak tahu jalan di sini."
"Belok kiri, Ntin. Gue kan tadi sudah bilang, bisa pulang sendiri. Ternyata, lo enggak tahu jalan." Protesnya.
"Ya, enggak usah marah, Deel. Aku kan cuma nanya tadi. Ribet banget dah jadi perempuan."
"Yaudah!"
"Yaudah!" Jawab, Justin tidak mau kalah.
"Mampir di Indomaret di depan ya. Ada yang mau gue beli!"
"Hemm!" Jawab Justin.
Saat sampai di depan Indomaret, Adeela bergegas turun dan berjalan menuju pintu Indomaret. Namun, baru beberapa langkah ia berjalan, Justin memanggilnya dan berjalan mendekatinya.
"Apa?" Tanyanya, namun bukannya menjawab, Justin malah semakin berjalan mendekat ke arahnya dan semakin mendekat. Jarak mereka sekarang sangat dekat. Adeela mundur selangkah karena merasa jarak mereka sangat dekat.
Mata mereka saling pandang. Adeela bertanya-tanya akan apa yang akan dilakukan oleh Justin. Tak lama kemudian, Justin membuka jas yang melekat di badannya dan maju selangkah. Dilingkarkannya tangannya di belakang tubuh Adeela dan mengikat jas nya yang sempat tadi ia lepas di pinggang Adeela.
Didekatkannya mulutnya ke telinga Adeela dan membisikkan kata-kata keramat yang sukses membuat Adeela malu se malu-malunya.
"Ada noda merah di rok kamu!"
Ingin rasanya, Adeela menghilang saat itu juga dari hadapan Justin. Adeela sangat malu untuk sekedar menatap Justin. Ia segera memutar badannya dan berjalan menuju Indomaret dengan menutup wajahnya sambil menunduk. Justin malah senyum-senyum melihat tingkah salah tingkah Adeela. Adeela merutuki kebodohannya, karena lupa akan jadwal masa datang bulannya.
10 menit berselang, Adeela kembali dengan menenteng kantong kresek di tangannya. Selama perjalanan, diisi dengan keheningan. Kejadian tadi membuatnya sangat malu untuk menatap Justin.
__ADS_1
"Kiri di depan!"
"Siap, Nyonya!" Jawabnya sambil menepikan kendaraannya tepat di depan gerbang rumah Adeela.
"Argo nya sebanyak 300.000.00, Nyonya!"
Adeela yang masih malu dengan Justin pun segera mengeluarkan uang sebanyak yang Justin katakan. Melihat itu sontak saja membuat Justin tertawa karena telah berhasil menggoda Adeela.
"Bercanda kali, Deel. Tegang amat!"
Adeela harus menahan image nya agar tidak tepancing untuk mengeluarkan unek-uneknya. Kali ini, Justin sukses membuatnya malu. Semoga saja, ini adalah pertemuan terakhir mereka, harapnya di dalam hati.
"Yaudah, makasih tumpangannya!"
"Heem. Dengan senang hati, Nyonya."
Adeela segera membuka pintu dan berjalan memasuki rumahnya.
"Deel!" Panggil, Justin di dalam mobil.
"Apa lagi?" Jawabnya dan menatap Justin yang berada di dalam mobil.
Justin terlihat sedang memikirkan sesuatu yang membuat Adeela bertanya-tanya apa yang akan akan Justin katakan kepadanya.
"Enggak jadi!" Jawabnya dengan menampilkan senyumnya menatap Adeela.
"Apaan sih, GAJE!" sambil mengerucutkan bibirnya .
Lagi-lagi, Justin tertawa melihatnya.
.........................................
happy reading kakak-kakakku :D
aku up dulu ini yak, aku masih lanjut kok. Tapi mungkin yang part selanjutnya terbitnya tengah malam yak. Biasanya sih, kalau kita up dua bab atau lebih, hasil like nya kadang nggak seimbang. Ngerti kan, maksud aku. Kadang mereka, langsung lanjut bab berikutnya tanpa like dulu bab sebelumnya. Nah, siapa yang kayak gini nih!. Tapi, aku nggak maksa kok, kk mau like atau nggak. Kembali lagi, semua nya kembali kepada pembaca....
__ADS_1