MEMBALAS PERSELINGKUHANMU

MEMBALAS PERSELINGKUHANMU
Pasar Malam


__ADS_3

Farhan dibuat tertawa oleh respon istrinya. sebulan ini, baru kali ini istrinya itu seperti kembali ke sifat awalnya cerewet dan mengutarakan langsung pendapatnya.


"Yasudah, maaf. Pijitin lagi." Ujarnya dan kembali menyandarkan badannya di bangku taman.


"Enggak mau. Tangan aku udah sakit dari tadi pijitin badan mas yang gede itu."


"Mana tangan aku kecil gini lagi." Gumamnya lirih sambil memperhatikan tangannya. Namun Farhan yang berada di sampingnya masih bisa mendengarkannya.


"Pijitin lagi, dek."


Adeela membuang nafas kasar karena kembali harus memijit suaminya.


Farhan menyandarkan punggungnya sambil memperhatikan Adeela yang kembali memijit lengannya.


"Selama tinggal di rumah kamu ngapan aja?"


"Ya, aku biasanya bantuin Mbok masak, makan, tidur dan kalau aku lagi pengen aku biasanya buat kue."


"Kue apa?"


"Macam-macam sih. Sejauh ini, sudah banyak jenis kue yang sudah aku coba dan hasilnya enak."


"Kenapa capek-capek bikin kue. Langsung saja beli."


Adeela menggelengkan kepalanya."Aku hanya mau punya kesibukan sendiri di rumah, mas. Aku enggak kerja dan mas yang jarang di rumah, makanya aku sibukin diri biar enggak kesepian."


"Kamu mau kerja?"


"Mau, tapi enggak tahu kerja apa."


"Mengelola toko kue."


"Maksudnya?"


Farhan memiringkan posisi duduknya menghadap istrinya.


"Kamu kan bilang sudah bisa buat berbagai macam jenis kue. Kenapa tidak kamu gunakan saja keahlian kamu dengan buka usaha sendiri."


"Aku mau. Tapi..." Adeela memikirkan sesuatu dan kembali berbicara, "enggak jadi!."


"Aku punya bangunan kecil di dekat perusahaan. Kalau kamu mau, kamu gunakan tempat itu untuk membuka toko kue. Bagaimana?"


Adeela lagi-lagi memikirkan ucapan suaminya. Ia memang ingin membuka usaha sendiri tapi bukan dengan bantuan suaminya.


Cukup lama Adeela berbicara dengan suaminya berusaha menolak namun suaminya itu bersikeras ingin memberikan bangunan kosong itu untuk membuka usaha toko kue. Alhasil, Adeela pun kalah dan mengikuti kemauan suaminya.


"Aku lapar. Kamu masak apa?"


"Aku belum masak, mas. Kan, makan malam masih lama."


"Aku udah lapar. Makanan yang cepat masak didapur, apa? Mie instant juga boleh!"


"Aku buatin mas pasta aja. Mau?"

__ADS_1


"Iya, itu aja."


Sekarang Adeela sedang berada di dapur membuatkan suaminya pasta spagethy. Makanan yang cepat saji seperti keinginan suaminya yang sudah sangat lapar.


Setelah pukul 18.30, Farhan sudah siap dengan jaket kulit di badannya. Adeela mengernyitkan keningnya menatap suaminya yang sudah berdiri di dekat cermin.


"Ayo!"


"Ayo, kemana?" Tanyanya karena suaminya tiba-tiba saja mengajaknya entah mau kemana.


"Kita ke pasar malam. Dekat sini ada pasar malam. Sekalian nanti kita makan malam diluar."


Adeela menimbang-nimbang ajakan suaminya. Daripada ia terus berada di kamar, ada baiknya kalau ia sekali-kali keluar.


"Yasudah, aku ambil tas dulu."


"Aku tunggu di bawah."


"Iya."


Adeela beranjak dari atas kasurnya dan mulai mengolesi bedak tipis dan lipstik di wajahnya. Setelah ia rasa sudah cukup, ia pun mengambil ponsel dan tas kecilnya lalu keluar dari sana.


Mereka berdua pun masuk ke dalam mobil dan perlahan kendaraan Farhan melaju keluar dari kompleks perumahannya menuju ke lokasi pasar malam.


Selama perjalanan Farhan coba untuk mengajak istrinya berbicara dan direspon baik oleh Adeela.


15 menit kemudian mereka pun akhirnya sampai di lokasi pasar malam yang berada di area taman. Farhan dan Adeela berjalan masuk ke area pasar malam.


Adeela tersenyum dengan senangnya memasuki area pasar malam. Farhan dengan setia mengikuti kemana arah istrinya itu pergi.


Banyak sekali permainan kala itu. Tujuan pertama Adeela adalah permainan lempar kaleng. Kalau ia berhasil menjatuhkan semua kaleng, maka ia akan mendapatkan boneka besar sebagai hadiahnya.


Ia pun mengeluarkan uang selembaram dan mulai melempar kaleng-kaleng itu, namun usahanya meleset. Hanya dua kaleng yang jatuh. Ia pun tidak mudah menyerah dan kembali mencoba, sampai usaha yang ketiga ia tetap juga gagal.


Farhan maju dan mengeluarkan selembaran dari dompetnya. Sebelum mencoba, ia lebih dulu meregangkan otot tangan dan lehernya lalu setelah itu ia pun mulai mencoba.


Lemparan pertama sampai ketiga, berhasil. Sisa dua kaleng agar ia bisa menang.


"Ayo, mas. Dua lagi." Ucap Adeela dengan antusias menyemangati suaminya.


Ia pun kembali mencoba dan berhasil menjatuhkan dua kaleng itu. Adeela bertepuk tangan senang menyaksikan suaminya berhasil menjatuhkan semua kaleng itu.


"Mbak, mau boneka yang mana?"


"Yang itu!" Tunjuknya pada boneka minions besar di depannya.


Bapak itu pun mengambilkan Adeela boneka yang tadi ditunjuknya.


"Untuk mbak yang cantik."


"Makasih, pak." Balasnya sambil menerima boneka itu.


Mereka kembali berjalan dan mencoba berbagai macam permainan lain.

__ADS_1


Saat sedang berjalan berdesak-desakan tiba-tiba Farhan sudah tak mendapati kehadiran istrinya yang jalan di depannya. Farhan berjalan cepat mencari keberadaan istrinya.


Di lain tempat, Adeela sudah sampai di depan permainan komedi putar. Namun ia tidak mendapati kehadiran suaminya itu di belakangnya.


"Mas Farhan, kemana?" Gumamnya mencari keberadaan suaminya.


Tiba-tiba dari arah samping ada seseorang yang menepuk bahunya. Adeela pun menoleh dan mendapati seorang wanita berhijab tersenyum lebar kearahnya.


"Adeela!"


"Anisa!"


Adeela memicingkan matanya menatap wanita yang memanggil namanya. Ia membulatkan matanya dan menutup mulutnya sangking senangnya dapat bertemu dengan sahabat lamanya.


Kedua wanita itu langsung berhambur saling memeluk dengan girangnya.


"Masya Allah, Deela. Aku enggak nyangka ketemu kamu disini." Ujarnya senang saat melepaskan pelukannya.


"Aku juga, Nis. Yaampun, aku kangen banget sama kamu tahu!"


"Aku lebih-lebih, Deela. Kamu nih ya, nikah dan hilang begitu saja tanpa pamit sama aku."


"Maaf, maaf. Aku waktu itu tiba-tiba saja dibawa merantau sama suami, makanya enggak sempat kabarin kamu."


"Untung aja aku bisa ketemu sama kamu disini. Coba kalau enggak, selamanya aku enggak akan tahu kabar kamu bagaimana!"


"Iya, cantik, solehah, maaf ya."


Anisa pun menganggukkan kepalanya. "Oh, iya, aku lupa. Kenalin ini suami aku, mas Andre. Mas, kenalin dia sahabat aku sewaktu SMA, Adeela."


Adeela ingin menjabat tangan suami sahabatnya namun lelaki yang ada di depannya itu mengatupkan kedua tangannya di depan dada. Alhasil Adeela kembali menurunkan tanganya.


Adeela dan Anisa kembali berbincang-bincang. Karena Anisa akan pergi ke suatu tempat, ia pun meninggalkan Adeela disana. Tapi sebelum itu, ia meminta nomor telepon sahabatnya terlebih dahulu sebelum beranjak dari sana.


Adeela berdiri di depan wahana komedi putar melihat orang yang lalu lalang, mencari sosok suaminya ditengah banyaknya orang. Ia bernafas lega saat mendapati suaminya yang kini berjalan kearahnya.


Waktu semakin malam namun pengunjung semakin banyak yang datang. Farhan pun mengajak Adeela menaiki wahana bianglala.


Saat wahana bianglala sudah berputar, Adeela memandang dengan takjub pemandangan kota Jakarta yang sangat indah di atas sana.


Mereka duduk saling berhadapan. Adeela sangat fokus menatap pemandangan lampu kota yang kerlap-kerlip di bawah sana dengan takjub dan tidak memperhatikan suaminya yang dari tadi menatapnya tanpa berkedip.


Tanpa ia duga tiba-tiba Farhan sudah memajukan badannya dan memegang dagunya mengarah kepadanya.


Adeela dapat merasakan hembusan nafas hangat suaminya menerpa kulitnya. Adeela mengerjabkan matanya berkali-kali. wajah suaminya sudah semakin dekat.


Jantungnya berdetak dua kali lebih cepat. Ia harus mencari akal untuk menggagalkan aksi suaminya.


Wajah Farhan tinggal 5 senti lagi di depannya dan....


Bersambung....


^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^

__ADS_1


**Jangan lupa vote, like, komen dan klik fav ya, kakak readers😉😚.


Salam story from By_me**


__ADS_2