
Ia berjongkok dan membenamkan kepalanya di pertengahan lipatan lututnya. Air matanya lagi-lagi tumpah membasahi wajah cantiknya. Sakit rasanya ketika diperlakukan seperti itu oleh suami sendiri. Suaminya menuduhnya berselingkuh, sedangkan selama ini yang selingkuh itu adalah dia, suaminya. Adeela sungguh tidak tahan terus-terusan menahan sakit hati berada di dekat suaminya. Ingin rasanya, ia mengeluarkan segala sakit yang selama ini tersimpan di hati, fikiran dan mata kepalanya. Namun ia harus kuat sampai dendamnya terbalaskan.
Ia menangis sesenggukan di sana dengan posisi berjongkok. Untung saja di sana sedang sepi, jadi ia bisa menumpahkan segala sakit hati dan kebenciannya yang kian memuncak.
"Huffff... sabar... sabar..." Gumam Adeela mencoba menguatkan dirinya dan menormalkan keadaannya yang masih sesenggukan setelah menumpahkan sedihnya.
Tiba-tiba dari belakangnya ada seseorang yang membalut pundaknya dengan jaket. Adeela segera menghapus sisa air mata di sekitar matanya dan setelah itu ia menoleh ke belakang.
"Justin!" Gumamnya dalam hati melihat lelaki yang memasangkan jaket di pundaknya ternyata adalah Justin.
Adeela segera berdiri dan melepaskan jaket yang berada di pundaknya. "Ada apa lo kesini?" Tanya Adeela dengan mata yang sembab dan hidung memerah.
"Lo kenapa nangis?" Ucapnya dengan nada pelan sambil menatap wajah Adeela.
"Ya, karena gue sedihlah, makanya gue nangis!"
"Semua orang kalau sedih pasti nangis lah, Deel. Yang gue tanya alasannya kenapa lo nangis kayak gini?" Mereka saling pandang-pandangan untuk sesaat. Justin mencoba menatap kedua mata Adeela dan terlihat dengan jelas kesedihan yang terpancar di sana.
"Bukan urusan lo!" Jawabnya ketus dan ingin segera berlalu dari sana meninggalkan Justin. Namun baru beberapa langkah ia berjalan, Justin sudah lebih dulu mencekal lengannya. Alhasil, ia pun berhenti karena cengkeraman tangan Justin di lengannya.
"Maunya lo apa, Justin!" Bentak Adeela pada Justin yang kini menatapnya dengan rahang yang mengeras.
__ADS_1
"Gue mohon, jangan ganggu gue. Gue enggak mau berdebat sama lo, di sini. Biarin gue sendiri dulu!" Kini nada bicara Adeela sudah melemah. Ia sungguh sangat lelah dan ingin segera pergi dari sana.
Lagi-lagi Justin menatapnya dengan rahang yang mengeras dan tidak mengindahkan ucapannya barusan.
"Gue pengen sendiri!" Ujarnya dengan nada lirih berharap Justin mendengar ucapannya dan melepaskan cekalan tangannya di lengannya.
Mereka kembali menatap dalam diam. Entah apa arti pandangan Justin padanya, ia tidak bisa membacanya.
Tiba-tiba saja, Justin menarik tangan Adeela dan kini mendekapnya dengan erat. Adeela meronta dalam dekapan Justin, namun Justin malah semakin mengeratkan pelukannya.
"Walaupun lo sama gue selalu berantem setiap kali ketemu, tapi yang perlu lo tahu kalau gue...
gue... juga kasihan lihat lo kalau nangis kayak gini."
"Gue enggak terima kalau sampai ada yang buat kesal dan buat nangis musuh gue. Gue enggak terima kalau ada yang melakukan itu sama musuh gue sendiri. Harusnya hanya gue yang melakukan itu!" Adeela menengadahkan kepalanya dan melototkan matanya menatap Justin. Memang dasar ya, Justin memang selalu memancing kemarahannya.
"Lepas nggak!" Ucapnya dengan judes.
Justin terkekeh melihat reaksi Adeela dan segera melepaskan dekapannya.
"Nah gitu dong, jangan nangis mulu. Judes gini lebih mending daripada lo nangis. Tambah jelek tahu enggak!"
__ADS_1
"Isshhh... lo emang selalu memancing emosi gue Justin. Gue sumpahin, keluar dari sini pantat lo digigit sama anjing!"
"Enggak usah sumpahin gue. Gue kebal sama sumpah. Mending sekarang lo hapus tuh ingus di hidung lo!"
Mendengar ucapan Justin, Adeela segera mengangkat tangannya dan menghapus ingusnya. Saat ia menatap tangannya, ternyata lagi-lagi ia dikerjai oleh Justin. Kekesalannya sudah sampai ke ubun-ubun.
"Justin!" Teriaknya memekikkan telinga. Adeela ingin memberikan pukulan pada Justin, namun Justin menghindar dan berlari menjauhinya.
"Awas ya lo, gue dapat bakalan gue bejek-bejek!" Adeela berlari mengejar Justin yang sudah jauh di depannya. Hatinya akan merasa lega saat telah memberikan bogeman pada Justin.
Mereka saling kejar-kejaran layaknya anak kecil. Berkali-kali Adeela hampir menggapai Justin namun lagi-lagi Justin berhasil menghindar.
Karena terlalu kelelahan berlari mengejar Justin, kini nafasnya sudah ngos-ngosan. Ia pun menyerah memendam kekesalannya pada Justin dan berjalan menuju kearah teman-temannya.
"Tunggu pembalasan gue!" Ucap Adeela tidak terima telah dikerjai oleh Justin, si bule gila.
Tanpa Adeela sadari ternyata Farhan sudah berada di resort diadakannya acara reunian. Farhan sebenarnya juga mengadakan pertemuan dengan kliennya di Bali. Dan untuk masalah saat ia tadi menuduh istrinya, karena ia terbakar cemburu melihat gambar istrinya terlihat sedang mencium pipi sahabatnya, Justin (Yang sebenarnya adalah Adeela membisikkan sesuatu kepada Justin saat berada di panggung. Namun karena ulah seorang paparazzi yang membidik fotonya dari samping, Adeela terlihat seakan-akan sedang mencium pipi Justin). Farhan juga dikirimi lokasi acara reuni istrinya oleh orang tak dikenal tadi.
^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^
Jangan lupa vote, like dan komennya kkđđ
__ADS_1
Salam story from By_me