
"Tin, Justin!" Panggil Adeela mencoba membangunkan Justin dengan jari telunjuknya ia tusuk di pipi.
Justin yang tidurnya terganggu pun, perlahan membuka matanya mencoba menyesuaikan dengan cahaya lampu yang telah menyinari kamar mereka.
"Hmm, ada apa?" Tanyanya dengan suara serak khas bangun tidur.
Yang pertama kali Justin lihat adalah, pemandangan indah Adeela yang menggunakan mukenah berwarna putih dengan wajah yang masih basah sehabis ambil air wudhu. Sangat indah di matanya. Matanya menatap lekat istrinya yang wajahnya sangat berseri itu.
"Ye, malah diam!" Ujar Adeela sambil menggoyang-goyangkan tangan kanannya di depan wajah Justin.
"Ye, yang diam siapa? orang tadi aku nanya!" Jawab Justin.
"Oh, iya ya." Jawabnya sambil tertawa.
Justin hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah istrinya.
"Ini, sudah masuk waktu subuh. Jadi imam sholat aku ya!" Ucap Adeela yang membuat hati Justin tiba-tiba berbunga dan menghangat di waktu yang bersamaan. Selama mereka menikah, memang ia dan Adeela belum pernah melaksanakan sholat bersama. Bukannya ia tidak mau, hanya saja, ia malu untuk menjadi imam sholat dengan ilmu agamanya yang masih sangat standar. Mana suaranya tidak semerdu imam pada umumnya lagi, pikirnya. Tapi, dicoba tak mengapalah.
Justin tersenyum dan menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Adeela membalas senyum suaminya.
"Yaudah, ambil wudhu gih. Aku tungguin!"
"Tunggu ya, sayang!" Jawab Justin mencubit pipi Adeela dengan keras dan tanpa rasa bersalah meninggalkan Adeela yang meringis dan merutuki Justin yang memanggilnya seperti itu.
Selang beberapa menit kemudian, Justin telah selesai dengan baju koko, sarung di atas mata kaki dan berjalan ke arah Adeela.
Justin berdiri di atas sajadah. Sebelum ia
memulai, ia berbalik menatap Adeela dan berkata, "Sebenarnya suara aku tidak semerdu imam sholat pada umumnya." Ujar Justin menatap ke dalam manik mata Adeela.
__ADS_1
Adeela mengerti dan menganggukkan kepalanya pelan, "Tidak masalah. Yang terpenting itu pelafalan bacannya mas!"
Lagi-lagi hati Justin menghangat mendengar Adeela untuk pertama kalinya memanggilnya dengan sebutan 'mas'. Mendengar jawaban Adeela membuatnya percaya diri. Dengan mantap, Justin memulai ritual sholat subuhnya dengan tuma'ninah.
"Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh. Assalamualaikum warohmatullah!" Ucap Justin diakhir sholatnya. Setelah selesai melakukan dzikir dan berdoa, Justin pun berbalik badan dan mendekati istrinya.
Entah mengapa berada pada situasi ini membuat Adeela merasakan perasaan yang lain. Ada perasaan di dalam hatinya yang membuncah, tapi ia juga bingung dalam mengartikannya. Ia bersyukur, walaupun suara Justin tidak semerdu imam sholat yang tadi di maksud, namun usaha Justin untuk menjadi imam nya sudah membuktikan bahwa Justin mau untuk belajar.
Walaupun Justin sering membuatnya kesal dan juga sering mengganggunya, namun ia bersyukur karena Justin menjadi pribadi yang apa adanya. Justin yang mau belajar, lebih baik daripada mantan suaminya yang dulu sangat ia utamakan.
Selama menikah dengan Farhan dulu, mantan suaminya itu tidak pernah menjadi imam dalam sholatnya. Farhan yang sibuk, menjadi alasannya untuk tidak pernah melakukan itu. Untuk kali ini, Justin mendapat nilai plus lagi di matanya. Minusnya hanya pada saat Justin menjadi pribadi yang menyebalkan.
Justin mengelus kepala Adeela sekilas. Setelah itu, Justin mengangkat tangan kanannya ke depan istrinya. Cukup lama tangannya itu di udara, sebelum akhirnya Adeela menyambut uluran tangan suaminya dan menciumnya.
"Mulai sekarang, aku maunya, kamu memanggil aku dengan sebutan 'mas' kayak tadi. Yang kedua..."
"Belum selesai aku ngomongnya, Deel. Baru juga dua."
"Yaudah, lanjut. Jangan banyak-banyak tapi!"
"Makanya dengerin dulu."
"Iya, iya."
"Yang kedua, aku minta, setiap aku pergi atau pulang kerja kamu melakukan tugasmu sebagai istri pada umumnya. Cium tangan, cium kening, cium bibir."
"Apaan sih. Permintaan apaan itu!" Tolaknya
"Bercanda, bercanda!" Justin terkekeh berhasil menggoda istrinya.
__ADS_1
"Kamu cium tangan aja. Biar aku yang nyium bibir kamu."
"Ish, apaan sih!" Adeela yang jengah digoda terus-terusan akhirnya mengambil bantal yang berada di sofa di sampingnya dan memukuli badan Justin berkali-kali.
"Bercanda, bercanda!" Ucapnya lagi sambil terkekeh.
"Dan yang ke tiga... kewajiban kamu sebagai istri. Kamu tahu kan itu...itu" Ujarnya sambil menaik turunkan alisnya.
Mendengar permintaan Justin yang terakhir berhasil membuatnya salah tingkah.
"Itu apaan?" Tanyanya pura-pura tidak tahu. Wajahnya kini merona karena ia tahu maksud dari suaminya itu. Ia mengalihkan pandangannya ke arah lain. Jangan sampai Justin melihat wajahnya yang sudah memerah ini. Bisa jadi bahan tertawaan dia nanti.
"Itu, sayang!" Jawabnya mendekati Adeela.
Justin mengangkat dagu Adeela menggunakan jari telunjuknya. Adeela mencoba menatap yang lain, namun Justin berhasil menangkup wajahnya dengan kedua tangan. Alhasil, Adeela pun tidak bisa menghindar lagi.
"Itu yang aku maksud adalah...Kebutuhan biologis suami kamu." Jleb. Adeela menelan ludah mendengarnya. Aish, kenapa juga Justin malah membahas yang seperti itu.
"Udah ah, aku kebelet mau buang air." Jawabnya dan berlalu dari sana. Sebelum itu, ia membuka mukenahnya dan mesyimpannya di atas kasur. Adeela berjalan menuju kamar mandi dan duduk di atas closet. Di peganginya pipi nya yang menghangat mendengar kata-kata lucnut itu terdengar dari mulut Justin.
Adeela mengangkat wajahnya saat ia mendengar suara gelak tawa Justin dari luar. Huh, runtuh sudah. Justin benar-benar membuatnya malu. Kenapa juga harus membahas hal seperti itu. Biar bagaimanapun, sebagai seorang istri ia harus memenuhi yang satu 'itu. Tapi tidak dibahas juga kali. Hadeuhh. Pasti Justin menertawainya karena tadi melihat wajahnya yang memerah. Ya ampun neptunus, tenggelamkan aku di dasar lautan saja, gumam Adeela di dalam hati.
Malu!
🍃🍃🍃🍃
Happy reading kakak" cogan dan cecan. Kali ini lengkap yak, krn pernah ada yg bilang "Kok cantik si, aku kan cowok" 😁😁. Tenang aja, kali ini lengkap kok😉
Salam story from By_me
__ADS_1