
Pukul 08 pagi, Adeela masih bergelung di bawah selimut. Jiwa rebahannya meronta-ronta. Antara berangkat ke toko atau tetap pada posisi yang nyaman ini. Ah, akhir-akhir ini dia seperti tidak mengenali dirinya sendiri. Malas mandi, mageran, rebahan, dan scroll aplikasi sosial media. Tapi demi keberhasilan usaha yang telah dirintisnya, mau tidak mau dia harus berangkat ke toko nya.
Adeela telah selesai bersiap-siap. Dia sudah siap untuk berangkat ke toko nya. Sebelum benar-benar berangkat, ia tidak lupa untuk sarapan terlebih dahulu. Rutinitas ini tidak boleh di tinggalkan menurutnya. Karena akan mempengaruhi aktifitas pagi dan konsetrasi jika melewatkan rutinitas ini.
Adeela duduk di meja makan seorang diri. Di meja, Mbok Sumi telah menyiapkan susu coklat dan sandwitch kesukaannya. Ia makan dengan tenang. Sangat tenang malahan. Sampai-sampai ia tidak menyadari jika dari tadi Mbok Sumi telah memperhatikannya. Karena mulut Mbok Sum yang sudah dari tadi meronta-ronta, akhirnya ia pun membuka suara.
"Non Adeela kelihatannya semakin bahagia, ya!" Ujarnya sambil menampakkan senyumnya pada majikannya. Sambil terus melanjutkan kegiatannya di dapur.
"Mbok sekarang beralih profesi jadi seorang cenayang, ya?" Candanya menanggapi omongan Mbok Sumi sambil terus melanjutkan makannya.
"Bukan cenayang, Non. Tapi kalau kata orang-orang gitu, sih, Non. Semakin berisi badan seseorang, itu artinya orang itu hidupnya bahagia. Enggak banyak fikiran gitu, Non."
"Ah, Mbok Sum, bisa aja. Mana bisa kebahagiaan seseorang diukur dari bentuk badannya yang semakin berisi. Mbok mah, ada-ada aja."
Mbok Sumi tersenyum bungkus mendengar ucapan majikannya. Benar juga kata majikannya. Kebahagiaan seseorang tidak di ukur dari seberapa berkembangn dan lebar nya bentuk badan. Namun kebahagiaan di ukur dari bagaimana seseorang itu mampu menikmati dan mencintai hidupnya serta selalu bersyukur kepada sang pencipta atas apa yang telah diberikan kepadanya.
"Memang... badan aku nambah lebar, ya, Mbok?" Tanyanya mulai terpengaruh oleh ucapan Mbok Sum.
"Iya, Non! Mbak Adeela kelihatan nambah berisi. Wajahnya semakin bercahaya. Kelihatan sekali kebahagiaan dari wajahnya, Non."
Adeela tidak lagi mendengarkan apa yang Mbok Sumi ucapkan. Ia kini terfokus pada fikirannya yang telah menjalar kemana-mana. Namun segera Adeela mengenyahkan fikiran itu.
Kembali ke rutinitas awal, setelah sarapan, 30 menit kemudian ia telah sampai di toko kue nya. Pagi hari seperti ini, para pembeli masih kurang. Adeela pun memilih duduk di kursi kasir sambil di temani oleh karyawannya yang bertugas di bagian kasir.
"Selamat pagi dan selamat datang di toko kue kami!" Sapa karyawannya saat ada seorang pembeli yang berjalan masuk ke toko kue mereka.
__ADS_1
Adeela yang sedang menghadap ke depan pun melirik sekilas pada pengunjung wanita paruh baya yang baru saja masuk ke toko kue nya. Namun penampakan wanita paruh baya yang usianya sudah melewati setengah abad itu seketika membuatnya membulatkan matanya.
"Mama..." Ucapnya lirih memperhatikan wanita paruh baya itu.
"Silahkan, mau pilih kue yang mana, Bu?" Tanya karyawannya pada wanita itu
Wanita paruh baya yang menenteng tas ternama keluaran terbaru itu pun mulai mendekati jejeran kue yang telah tersusun cantik di dalam etalase. Dengan gaya bak wanita sosialita, wanita paruh baya itu memilih-milih beberapa jenis kue yang akan ia pesan.
"Saya juga mau yang in..." Ucapan wanita paruh baya itu berhenti berbicara saat matanya menangkap rupa seseorang yang sangat ia kenal.
"Adeela!" Ucapnya dengan suara lantang memastikan seseorang di depan meja kasir. Hal itu sukses menarik perhatian para karyawan Adeela. Dengan berbagai pertanyaan di dalam kepala mereka.
Adeela sudah ketahuan. Niatnya ingin menghindar, namun sudah lebih dahulu di lihat oleh mantan mertuanya. Ya sudahlah, kalau sudah seperti ini. Sebanyak apapun ia menghindar, pasti orang-orang yang dulu berada pada lingkaran hidupnya pasti suatu saat akan bertemu dengannya. Dan selamanya menghindar bukan jalan terbaik.
Wanita paruh baya itu adalah mantan mertuanya. Mama dari seorang yang bernama, Farhan Fahruzi. Seseorang yang telah membuat hidupnya bak sebuah roller coaster.
Adeela ingin menunjukkan sedikit rasa hormatnya pada mantan mertuanya itu dengan berusaha mengulurkan tangannya ingin menjabat tangannya. Namun uluran tangannya itu tidak diterima telak. Adeela menarik tangannya kembali dan menaruhnya di samping badan.
"Kamu tanya tentang kabar saya? Nggak salah, kamu? Ujarnya dengan wajah sinisnya. Adeela hanya bisa memperhatikan setiap ucapan dan gerak-gerik mantan mertuanya. "Yang harusnya kamu tanyakan itu adalah anak saya! Bagaimana kabar dia setelah kamu permainkan hidupnya seperti itu! Dasar wanita tidak tahu diri!" Ujarnya sarkasme.
Mempermainkan hidupnya, katanya. Adeela sedikit kurang setuju dengan kalimat itu. Yang mempermainkan disini adalah Farhan! Farhan telah mempermainkan hidupnya dan selama ini telah menjadikannya boneka di belakang perselingkuhannya dengan Kyla.
"Maaf, tante, lebih baik kita bicara sambil duduk di meja. Atau kalau tante mau, kita bisa bicara dari hati ke hati di ruangan saya. Bagaimana, tante mau?"
"Ck, saya tidak mau. Biar saja kita di sini, biar orang-orang semua tahu tentang topeng yang sedang kamu pakai itu!"
__ADS_1
Adeela menghela nafas dan menutup mata untuk sekian detik. Kepalanya tiba-tiba pusing akan situasi yang ada. Sebisa mungkin Adeela menahannya.
"Ada baiknya jika kita bicara di sana saja, Tante." Tunjuknya pada meja yang beradi di sudut ruangan. Setelah cukup lama berdebat, akhirnya Mama Rike pun menyetujui. Adeela tidak mau kehidupan pribadinya menjadi konsumsi publik. Walaupun itu adalah para karyawan toko nya sendiri.
Saat mereka telah duduk keheningan terjadi beberapa saat. Sampai pada akhirnya Adeela yang memulai obrolan terlebih dahulu.
"Sebelumnya, saya ingin meminta maaf jika dulu saat masih berstatus sebagai menantu Tante, Adeela punya salah..." Belum sempat Adeela selesai berbicara, Mama Rike sudah memotong nya.
"Salahmu memang banyak. Terutama pada anak saya! Karena apa yang kamu lakukan, hidup anak saya menjadi berantakan, tidak teratur. Kerjaannya jadi berantakan dan lebih banyak menghabiskan waktunya untuk mencari keberadaan kamu! Apakah kamu sadar, kamu telah merusak hidup anak saya! Seharusnya dari dulu kamu tidak masuk di dalam hidup anak saya!"
"Seharusnya sedari dulu, saya menolak dengan keras saat Farhan mau meminang kamu menjadi istrinya yang asal-usulnya saja tidak jelas!"
Oh, oke. Cukup sudah Adeela mendengar kata-kata kebalikan itu dari tadi. Bagaikan sebuah belati yang menyayat hatinya secara tak kasat mata. Namun mampu ia rasakan sakitnya hingga ke tulang-tulang. Mengapa ia harus semenyedihkan ini. Hidup kadang tidak adil. Status yang ia tutup rapat-rapat agar tidak terlalu kelihatan menyedihkan akhirnya diungkit. Adeela menahan gejolak di dalam dada nya.
"Seharusnya Tante bilang gini, 'Saya minta maaf karena ulah anak saya, hidup kamu jadi berantakan'. Bukan malah menyerang saya dengan kata-kata itu. Yang salah disini sebenarnya siapa, Tante? Saya atau anak Tante?" Tidak ada jawaban dari tante Rike. "Saya berharap tante tahu pokok permasalahan yang sebenarnya. Agar Tante bisa pakai logika untuk menyimpulkan yang salah dan siapa korban yang sebenarnya. Selama menjadi istri Farhan, saya sangat patuh dan menjaga diri untuk suami saya tercinta. Saya menyerahkan hati saya untuk Farhan. Tapi sayangnya hati saya ternyata tidak ada artinya untuk anak Tante. Kesetiaan yang saya percayakan kepada anak Tante ternyata dinodai oleh nafsu sesat. Saya hanya menjadi badut bodoh. Dan imbasnya malah pada anak saya, Tante! Anak saya...Nurhan...!" Huh, lolos sudah air mata yang berusaha ia tahan. Tapi semua tidak segampang itu jika mengingat tentang kebodohannya dan kemalangan anak semata wayangnya.
"Tante juga seorang wanita. Jika Tante yang berada di posisi saya, apakah Tante mampu menahan sakit yang akan selamanya membekas itu? Jawab saya, Tante?" Air mata nya semakin deras membasahi wajahnya. Mengapa rasanya sesakit ini. Mengapa setelah sekian lama rasanya masih sama. Sakit sekali. ya Tuhan, cengeng sekali dirinya ini. Predikat menyedihkan yang selama ini ia kubur, akhirnya tercuat ke permukaan. Bagaikan belati menusuk tepat di hatinya. Selamanya statusnya itu akan tersemat di belakangnya.
Air mata kesakitan itu berganti dengan rasa pusing yang tiba-tiba mendera. Perutnya sangat keram dan sesuatu yang basah terasa mengalirndi bawah sana. Sebelum benar-benar jatuh ke lantai, ia merasakan seseorang yang telah lebih dahulu menahan berat tubuhnya. Semuanya gelap. Sayup-sayup ia mendengar suara teriakan dari beberapa orang. Dan semuanya menjadi gelap.
*****
Huh nyesek guys!!!
Jangan lupa di like, komen, dan vote nya👍👍
__ADS_1
Salam story from By_me