
Adeela berjalan kembali menuju kearah teman-temannya. Selama perjalanan tak henti-hentinya ia menyumpah serapahi Justin yang dari dulu sampai sekarang masih terus saja membuatnya kesal.
"Dari mana sih, Deel?! Lama amat perginya?!" Tanya Anisa saat mendapati sahabatnya telah berada di sampingnya.
"Aku habis telponan sama mas Farhan tadi, makanya lama, Nis." Jawab Adeela dan kembali memperhatikan kearah panggung.
Anisa mengangkat tangannya dan memperhatikan jam yang melingkar di tangannya.
"Deel, kita pulang yuk. Udah hampir tengah malam, nih. Anak aku udah ketiduran dari tadi, kasihan kalau enggak dapat kasur. Dari tadi di gendong terus sama Ayahnya."
"Oh, yaudah. Aku juga udah capek. Pengen cepat rebahin badan di tempat tidur. Badan aku pegel-pegel!" Ucap Adeela karena terlalu lama mengejar Justin membuat badannya yang jarang olahraga itu menjadi pegal-pegal.
Di dalam hati, Adeela kembali menyumpah serapahi si bule gila yang telah mengerjainya tadi. Karena gara-gara dialah badannya sekarang jadi seperti ini.
"Yaudah, kita pamit dulu sama teman-teman yang lain sebelum pulang, yuk!"
"Ayo lah." Jawab Adeela dan kini mereka berjalan menuju kearah teman-temannya untuk pamit pulang duluan. Setelah pamit pada teman-temannya, Adeela dan Anisa berjalan beriringan keluar dari resort.
Langkah Adeela terhenti saat mendapati kehadiran suaminya sedang berdiri di ruang tamu dengan kedua tangannya ia letakkan di depan dada.
Mata mereka saling bertemu. Di dalam hati Adeela sangat kesal melihat kehadiran suaminya di depannya saat ini. Tapi yang menjadi pertanyaannya, mengapa suaminya ini dalam sekejab sudah berada di depannya dan darimana suaminya mengetahui tentang keberadaan lokasi acara reuninya.
Anisa berhenti dan menengok ke belakang saat matanya juga mendapati kehadiran suami dari sahabatnya.
"Deel, suami kamu!" Ucap Anisa menggunakan gerakan bibir. Adeela hanya menjawab dengan anggukan kepala atas ucapan sahabatnya.
"Mas, tunggu dulu! Ada yang ingin aku omongin sama Adeela." Ucap Anisa pada suaminya.
Suami Anisa menganggukkan kepala, "Aku tunggu."
Setelah mendapat persetujuan dari suaminya, Anisa pun mendekati sahabatnya.
"Suami kamu datang tuh, jemput kamu! Napa pas pulang baru dia nongol?"
"Biarin ajalah, Nis. Aku enggak perduli. Aku ikut pulang sama kamu ya." Mohon Adeela memasang wajah memelasnya berharap sahabatnya ini mendengarkannya.
__ADS_1
"Masa kamu mau pulang sama aku, sedangkan suami kamu datang jemput. Selesaikan masalah kamu, Deel. Aku pulang duluan, ya!"
"Ya, kamu jahat banget sih, Nis. Aku enggak mau pulang sama dia!" Rengek Adeela dengan nada pelan. Hatinya masih sakit atas ucapan suaminya tadi, dengan entengnya menuduhnya yang tidak-tidak dan memandang rendah harga dirinya.
Namun Anisa malah tersenyum lembut kepadanya "Aku pulang duluan ya! Assalamualaikum!" Ucap Anisa untuk terakhir kalinya dan mengelus lengan sahabatnya sebelum meninggalkannya bersama Farhan.
Kini hanya tinggal Farhan dan Adeela dengan posisi saling berhadap-hadapan. Mereka saling menatap dalam diam untuk waktu yang lama sebelum akhirnya Adeela memutuskan pandangannya terlebih dahulu.
Adeela berjalan kedepan dan melewati suaminya begitu saja. Baru beberapa langkah Adeela melewati suaminya, tangannya sudah dicekal olehnya.
"Lepasin, nggak!" Ucap Adeela dengan nada penuh kekesalan menatap dengan pandangan tak bersahabat kepada suaminya.
"Ikut aku!" Ucap Farhan dengan nada penuh ketegasan. Ia ingin menarik lengan istrinya namun Adeela langsung menghempaskan tangannya kasar dari tangan suaminya.
"Aku enggak mau ikut sama kamu!" Jawab Adeela dengan nada marah menatap penuh kebencian suaminya. Hatinya terbakar ketika ucapan suaminya di telepon tadi terlintas di benaknya.
Farhan mengeraskan rahangnya dan berusaha mengontrol dirinya agar tidak sampai terjadi keributan di sana.
"Jangan bikin malu, ADEELA!" Jawab Farhan dengan nada pelan namun ia menekankan setiap katanya. Ia tak memperdulikan ucapan istrinya. Farhan segera mengalihkan tangannya dari lengan istrinya dan menggenggam tangannya.
Adeela mengumpat di dalam hati atas tingkah sok berkuasa suaminya atas dirinya. Ingin sekali ia menghilang saja dari sana dan tak lagi bertemu dengan suaminya. Kebenciannya sudah menggunung dan entah sampai kapan ia bisa mengontrol dirinya.
Farhan membukakan pintu mobil untuk istrinya. Setelah Adeela telah duduk segera Farhan menutup pintu dan memutari mobilnya.
Selama perjalanan tak ada yang membuka suara, mereka diam membisu dengan fikiran mereka masing-masing.
"Antar aku ke penginapan!" Ucap Adeela untuk pertama kalinya dengan nada dingin tanpa mengalihkan pandangannya menatap ke depan.
"Kita langsung ke tempat penginapan aku. Barang kamu biar nanti aku suruh seseorang untuk mengambilnya di penginapanmu." Jawab Farhan sama dinginnya dengan nada istrinya.
Adeela menengok ke samping dan melototkan matanya menatap suaminya. Apa maunya sebenarnya, dalam hati Adeela sangat gedeg dengan suaminya.
"Aku bilang antar aku ke penginapan!" Ucap Adeela dengan tegas menatap penuh kebencian suaminya.
Farhan mengeraskan rahangnya atas sikap Adeela yang tidak mendengarkannya. Farhan lalu membanting setirnya menepi di pinggir jalan. Untung saja saat itu suasana jalanan sedikit lenggang.
__ADS_1
Farhan lalu melepaskan sabuk pengamannya dan menatap kearah Adeela dengan rahang yang mengeras.
"Kamu ini kenapa, Adeela, huh!" Ucap Farhan dengan nada kasar.
"Aku enggak mau berdebat sama kamu! Aku mau istirahat, capek." Jawab Adeela pelan tanpa menatap suaminya. Disandarkannya punggungnya, menutup mata lalu memijit keningnya.
Farhan sudah sangat geram menghadapi istrinya yang bersikap dingin kepadanya. Farhan lalu memegang pundak istrinya menghadap kearahnya.
"Jangan menguji kesabaranku, ADEELA! ok, kalau itu maumu, sekarang aku mau tanya, ada hubungan apa kamu sama, Justin?"
"Aku enggak ada hubungan apa-apa sama dia. Dia hanya teman SMA aku!"
"Aku ini bukan anak kecil yang bisa dibohongi, Deela. "
Adeela mengerutkan keningnya mendengar ucapan suaminya.
"Aku memang tidak membohongi kamu. Aku tidak ada apa-apa sama dia." Jawab Adeela membantah semua tuduhan suaminya.
"Tapi aku punya bukti kalau kamu sedang mencium Justin!"
"Hah?!" Adeela terperangah mendengarnya. Bagaimana bisa ia melakukan itu.
Farhan segera mengeluarkan ponselnya dan membuka sebuah foto di galeri ponselnya.
"Kalau begitu kamu jelaskan maksud dari foto ini?" Justin memperlihatkan foto yang dikirimkan kepadanya dari orang yang tidak dikenal.
Lama Adeela menatap foto itu, setelahnya ia beralih menatap suaminya.
"Siapa yang kirimi kamu foto itu? itu tidak benar, mas. Aku difitnah!" Ucap Adeela meyakinan suaminya. Pintar sekali orang itu mengambil fotonya dengan Justin, seakan-akan ia sedang mengecup pipi Justin.
"Bagaimana bisa kamu bilang seperti itu. Jelas-jelas ada buktinya, Adeela!" Farhan mengatakannya dengan penuh amarah.
Sejenak Adeela memejamkan matanya
"AKU SUDAH BILANG KALAU ITU SALAH! AKU DIFITNAH!" Jawab Adeela dengan menekankan setiap katanya.
__ADS_1
^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^
Salam story from By_me❤