
Jolene Airlangga adalah adik dari Justin. Mereka berdua adalah seorang saudara kembar. Justin kecil hingga remaja adalah anak yang tidak pernah akur dengan adik kembarnya. Selalu saja ada hal-hal kecil yang mereka ributkan. Namun walaupun begitu, Justin adalah saudara yang sangat sayang pada saudara satu-satunya itu.
Jolene adalah anak yang sangat manja pada kedua orangtuanya. Berbeda dengan Justin yang terkesan cuek dan sangat jahil apalagi padanya, Jolene. Jolene pribadi yang manja, imut, cerewet dan penurut pada kedua orangtuanya. Jolene remaja adalah seorang gadis yang cantik dan matang untuk gadis seusianya. Mungkin karen darah blasteran yang ia miliki, paras dan tubuhnya berbeda dengan gadis-gadis lain. Jolene adalah Justin versi wanita.
Jolene sangat dekat dengan kedua orangtuanya. Kemana-mana pasti selalu bersama dengan orangtuanya ataupun dengan saudara kembarnya. Namun hari itu, hari naas yang menimpanya ia sedang berada di rumah tanpa orangtuanya dan tanpa saudaranya. Hari itu tepat pada sore hari setelah kelulusannya dari sekolah menengah pertama. Mereka hanya tinggal menunggu penguman penerimaan mereka di sekolah menengah atas. Jadi, dia punya waktu senggang dan lebih memilih untuk berada di rumah. Kedua orangtuanya saat itu masih berada di kantor, sedangkan Justin sedang berada di luar dengan teman-temannya. Hari itu Justin memilih bermain basket bersama dengan teman-temannya. Justin bermain di taman kompleksnya waktu itu bersama dengan teman-temannya. Jarak rumahnya dengan taman tidak terlalu jauh. Jadi dia bisa lebih lama bermainnya di sana, pikirnya.
Saat itu, Jolene bersama dengan Bibi dan satpam yang menjaga di depan. Jolene remaja, sedang duduk dan menggambar di atas kanvas di taman belakang rumahnya. Jolene memiliki hobi menggambar sama seperti Papi nya. Saat itu, ia sedang menggambar burung Pipit yang kedua orangtuanya miliki. Namun, tiba-tiba terdengar suara teriakan dan suara gaduh dari depan. Ia yang sedang asyik menggambar pun terganggu dengan suara teriakan itu. Jolene remaja pun menghentikan kegiatan menggambarnya dan berjalan memasuki rumah. Ia melewati dapur dan tidak menemukan Bibi di sana. Kembali ia melewati setiap lorong-lorong rumah. Sambil matanya menatap ke sekeliling.
Jolene seketika menghentikan langkah kaki matanya melihat sesuatu di depan sana yang seketika membuat kakinya lemas. Di ruang tamu, ia melihat Bibi dan juga pak satpam sudah terduduk di lantai dengan posisi kaki dan tangan yang diikat. Wajah satpamnya sudah berdarah di sudut bibir.
Jolene sangat lemas dan takut akan apa yang perampok itu lakukan di rumahnya. Jolene berusaha menyembunyikan diri di bawah tangga yang memiliki space kosong. Dengan tangan gemetar, Jolene mengeluarkan ponselnya dan berusaha untuk menghubungi kedua orangtuanya. Namun nihil, Mommy dan Papi nya sedang tidak aktif. Ok, Jolene akan berusaha menghubungi yang kakaknya. Ponsel kakanya itu aktif namun tak kunjung diangkat. Berkali-kali ia mencoba menghubungi kakaknya berharap dapat diangkat. Namun nihil, panggilannya itu tak mendapat respon. Dengan tangan gemetar, Jolene mencoba mengirimi pesan singkat pada kakaknya.
Jolene masih bergetar dan shock akan apa yang sedang terjadi di rumahnya. Ia berfikir untuk mencari tempat persembunyian yang aman dan keluar dari sana. Karena jangan sampai perampok itu melihatnya di bawah tangga. Jolene melangkah pelan berharap tidak dilihat oleh perampok. Saat ia bejalan pelan, matanya menatap Bibi yang juga menatapnya dan seakan berkata dibalik tatapannya itu untuk segera pergi dari sana dan bersembunyi. Baru saja beberapa langkah Jolene untuk persembunyiannya, tiba-tiba ponsel yang ia pegang terjatuh dan membuat si perampok tersadar dan mengetahui keberadaannya.
Bibi dan pak satpam yang melihatnya pun berteriak dan menyuruh agar anak majikannya itu berlari. Dengan sekuat tenaga, Jolene berlari menjauh dari sana namun naas, ia telah ditangkap oleh perampok itu.
__ADS_1
"Tolong jangan sakiti, non Jolene!" Mohon Bibi pada perampok itu dengan air mata yang sudah menganaksungai. Berharap si perampok akan membebaskan anak majikannya.
"Silahkan ambil saja apa yang Anda inginkan. Asalkan jangan sakiti non Jolene!" Mohonnya. Namun permohonannya itu hanya dianggap angin lalu. Pak satpam pun berusaha membebaskan diri dengan memberontak berusaha melepaskan ikatan di tangannya. Namun nihil, bukannya bebas dari ikatan itu, si perampok tadi malah memukul tepat di belakang leher satpam. Alhasil pak satpam pun jatuh tak sadarkan diri.
"Tolong bebaskan saya!" Pinta Jolene dengan air mata yang tak terhitung lagi berapa banyaknya. Melihat perampok dan menyaksikan semua yang perampok itu lakukan hingga membuat pak satpam tidak sadarkan diri, membuat Jolene sangat takut.
"Jangan harap kau akan ku lepaskan!" Itu kata si perampok dengan seringai menjijikkan ia tampakkan. Jolene berteriak histeris saat si perampok menariknya dengan kasar menaiki anak tangga dan menuju kearah kamarnya. Di dalam sana, semua penderitaan Jolene dapatkan. Kekerasan, kehormatan dan kehidupannya direnggut. Jolene meninggal dengan keadaan mengenaskan. Gadis remaja yang sangat orangtua dan saudaranya jaga harus kembali dengan keadaan seperti itu.
Si perampok juga membunuh Bibi dan mengambil barang-barang berharga keluarga Airlangga. Membunuh orang yang ia lihat untuk mengilangkan jejak.
Si perampok fikirnya ia telah aman. Namun ternyata, ada CCTV yang merekam setiap tindakan yang ia lakukan.
Perasaan Justin semakin tidak karuan saat melihatnya. Dengan tergesa-gesa, ia berjalan menyusuri lorong-lorong rumahnya. Namun ia tidak menemukan dimana keberadaan adiknya. Justin berjalan dengan tergesa-gesa menaiki tangga dan langsung menuju kamar adiknya namun tak juga ia temukan adiknya di dalam sana. Ia mencoba mencari ke kamar lain, dan saat ia membuka kamarnya. Ia terperangah dan jantungnya serasa berhenti berdetak melihat adiknya yang sudah tergeletak dan dalam keadaan yang mengenaskan.
Dengan air mata yang tiba-tiba saja mengalir, Justin berjalan dengan gontai menghampiri adiknya yang tergeletak di atas kasur. Saat ia cek di daerah hidung adiknya, hembusan nafas sudah tidak lagi mengisi di sana. Justin dengan segala amarahnya berteriak histeris dan meraung-raung menyaksikan kebiadaban dari orang yang telah melakukan hal keji ini kepada adiknya dan orang rumahnya.
__ADS_1
Justin bertetiak histeris sambil menutupi adiknya dengan kain yang telah terhempas di lantai. Justin memeluk adiknya dengan erat dan tangisan histeris, frustrasi dan amarah menjadi satu.
"Jo, bangun, Jo! Maafkan aku, Jo! Bangun, Jo!" Teriaknya berharap dengan hal itu saudaranya akan kembali tersadar. Namun sayang, adik satu-satunya telah kembali kepada Sang Pencipta.
Suara langkah kaki yang terdengar tergesa-gesa semakin terdengar di indera pendengaranya. Ternyata Mommy dan Papi nya sudah ada di depan pintu dan menyaksikan hal yang juga membuat keduanya seakan mati rasa. Mommy berteriak histeris menyaksikan anaknya yang telah tiada. Memeluknya dan menggoyang-goyangkannya. Namun sayang, Jolene sudah tiada. Mommy berteriak histeris sarat akan kefrustrasian.
"Mommy sudah pulang, Jolene! Maafkan Mommy, sayang! Jolene! Jolene!"
Kesadaran pun perlahan hilang, berharap ini hanyalah mimpi. Namun ternyata, Jolene yang mereka sayangi dan jaga dengan sepenuh hati. Kehidupannya telah direnggut oleh orang yang lebih baik disamakan dengan binatang. Butuh waktu beberapa tahun untuk Mommy bisa kembali pulih akan peristiwa yang telah terjadi. Mommy sempat menjadi apatis dengan lingkungan. Lebih banyak melamun dan kadang kala menangis histeris. Untung saja, Papi dan keluarga merawat dan selalu berada di samping Mommy untuk membantu memulihkan rasa trauma dan sakit hati Mommy.
********
Like ya, kalau enggak like... biar aku yg like!
Tinggal beberpaa hal lagi yg harus aku ungkap yak. Maafin author yg jahat nulis cerita kek gini. Tapi apa mau dikata, ceritanya dari awal sdh diatur! Semoga kk tdk ada yg protes.
__ADS_1
Beberapa part lagi menuju END!
Salam story from By_me