
Adeela menceritakan semua yang telah dialaminya selama ini. Mulai dari perselingkuhan suaminya, meninggalnya anaknya dan saat ia terbaring koma selama 6 tahun lamanya. Awalnya ia tidak ingin menceritakannya secara detail kepada sahabatnya, namun sahabatnya itu mengatakan akan menjaga rahasia. Akhirnya Adeela pun menceritakan semua yang telah ia alami.
Anisa pun berusaha menguatkan sahabatnya dengan memberikan nasehat-nasehat agar sahabatnya itu kuat.
"Kamu harus sabar, Deel. Seseorang tidak akan diuji oleh Allah melebihi batas kemampuannya. Allah tahu kalau kamu pasti bisa melewati cobaannya."
"Aku tahu itu, Nis. Tapi rasa sakit yang dia torehkan itu lukanya masih menganga. Di sini masih berdarah, Nis." Tunjuknya pada bagian dada kirinya. "Aku enggak bisa memaafkan kesalahannya."
"Terus rencana kamu ke depannya apa, Deel?"
"Aku akan balas dendam. Hanya dengan balas dendam semuanya akan terasa adil, Nis."
"Apa dengan membalaskan dendam kamu bisa merasa puas, Deel?"
"Hanya itu yang aku inginkan sekarang, Nis."
Anisa menghela nafas sejenak karena kekeras kepala-an sahabatnya.
"Aku sebagai sahabat kamu jujur tidak mendukung niat balas dendammu, Deel. Tapi aku akan membantu jika nantinya kamu sudah menyerah."
"Makasih, Nis. Tapi hanya itu cara satu-satunya agar mereka bisa merasakan apa yang aku rasakan. Aku dulunya bukan orang pendendam, Nis, kamu tahu itu. Tapi karena mereka yang telah membangunkan dan mengganggu singa betina, maka mereka harus menanggung akibatnya."
"Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi, Deel. Jujur saja, aku sangat marah saat mengetahui kebenaran tentang kejadian enam tahun silam. Tapi dengan melakukan balas dendam, tidak akan menyelesaikan masalah, Deel. Malah akan menambah masalah dan memperburuk keadaan. Tapi kalau itu keputusan kamu, aku tidak bisa apa-apa."
Adeela tak menjawab dan hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Kalau kamu sudah tidak kuat dan ingin menyerah datanglah pada sahabatmu, Deel. Aku akan merangkulmu dan membawamu pergi dari sisi suamimu."
Adeela kembali menitikan air matanya.
"Aku tidak akan mungkin menyerah sebelum dendamku terbalaskan, Nis. Maafkan keegoisanku ini. Aku bukan lagi Adeela yang dulu. Mereka sendiri yang telah merubahku seperti ini, Nis." Ucapnya lirih menundukkan kepalanya dan mencoba menghapus air mata di wajahnya.
Anisa bangkit dari duduknya dan menghampiri sahabatnya. Ia duduk tepat di samping sahabatnya. Dirangkulnya pundak sahabatnya dan mencoba menguatkannya.
"Sabar, ya, Deel. Aku berdoa semoga akan ada jalan terbaik untuk kamu kelak."
Setelah berbincang-bincang cukup lama, mereka pun berjalan keluar dari restoran dan ingin kembali pulang.
Anisa mengantar Adeela pulang menuju rumah. Ditengah perjalanan Anisa dan Adeela kembali berbincang-bincang.
"Oh, iya, Deel, aku hampir lupa, dua minggu ke depan akan diadakan acara reuni dengan semua teman seangkatan kita."
"Acaranya diadakan di mana?"
"Acaranya bakalan diadakan di pantai kuta, Bali, Deel."
"Hah, jauh amat ngadain acara reuni!"
"Heem. Semuanya atas kesepakatan teman seangkatan, sih. Dan semua harus hadir, tidak boleh tidak."
"Kok maksa banget. Bagaimana kalau mereka ada kesibukan lain?! Mana acaranya jauh amat lagi."
"Acaranya bakalan diadakan di hari weekend, kok. Jadi semuanya pasti bisa hadir. Kalau masalah lokasinya, semua teman-teman tidak mempermasalahkannya. Malah mereka yang memilih acaranya diadakan di sana. Pokoknya kamu harus ikut, Deel. Bawa pasangan juga enggak masalah."
__ADS_1
"Aku bakalan datang, tapi enggak akan bawa pasangan."
"Kenapa?"
"Mas Farhan pasti enggak mau. Dia itu workholid banget, Nis. Dia pasti enggak bisa. Lagian aku juga enggak mau dia ikut karena aku udah enggak nyaman sama dia."
"Kalau suamimu tidak ikut, maka hanya kamu berarti yang enggak ada pasangannya. Semua orang pada bawa pasangan. Eh, kayaknya masih ada yang bakalan sendiri deh nanti."
"Siapa?" Tanyanya penasaran.
"Justin!"
"Oh, dia." Jawabnya santai.
"Jawaban kamu kok, kayaknya berbeda ya?"
"Beda bagaimana?"
"Dulu saat masih SMA, kamu tidak akan mau mendengar nama musuh kamu itu!"
"Ye, itu kan dulu, Nis. Sekarang aku sudah enggak kayak tom and Jerry lagi."
"Iya, iya. Yasudah, sekarang bagaimana, apakah kamu mau ikut?"
"Ikutlah!"
Mereka pun kembali berbincang-bincang dan membahas tentang masa putih abu-abu mereka. Obrolan mereka terus berlanjut sampai kini mobil Anisa berhenti tepat di depan rumah Adeela.
"Nanti gue kabarin lagi ya."
"Nanti aja, Nis. Anak aku masalahnya udah tidur. Mas Andre juga udah hampir balik kantor, jadi harus balik cepat."
"Yaudah, sekali lagi makasih ya, Nis."
"Sama-sama." Adeela pun mengambil tas dan barang belanjaannya tadi berniat ingin turun dari sana, namun ia kembali harus menunggu karena Anisa ingin memberikan sesuatu padanya.
"Apaan, nih?" Tanyanya penasaran akan hadiah pemberian sahabatnya.
"Rahasia. Nanti kamu buka kalau sudah di dalam. Tapi semoga kamu mau pake saat acara reuni nanti. Kalau kamu sudah siap pakailah, kalau kamu enggak mau juga enggak apa-apa, kok."
"Memangnya ini apaan?"
"Sesuatu, udah sana masuk supaya kamu bisa lihat isinya apaan."
"Yaudah, makasih ya, Nis sama hadiahnya. Hati-hati di jalan."
Adeela kini sudah turun dari dalam mobil sahabatnya. Ia masih berdiri di depan pagar rumahnya memperhatikan kendaraan sahabatnya sampai menjauh dari sana.
Adeela berjalan masuk ke dalam rumah. Suasana rumah sangat sepi, kendaraan suaminya juga belum terparkir di garasi menandakan jikalau suaminya itu belum pulang dari kantor.
Saat sudah sampai di dalam kamar, Adeela segera membuka hadiah dari sahabatnya. Ia mengerutkan keningnya saat mendapati baju dress lengan panjang berwarna cream dengan motif yang sangat cantik. Ada juga hijab dengan warna senada."
"Jadi aku harus pake ini." Gumamnya lirih sambil terus memperhatikan hadiah dari sahabatnya.
__ADS_1
"Pake, tidak, pake, tidak." Gumam Adeela di dalam hati mencoba memutuskan.
"Ah, nanti aja aku putusinnya." Ucapnya, kemudian berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan badannya yang lengket setelah seharian jalan-jalan bersama sahabatnya.
Saat sudah selesai mandi dan memakai baju santainya di rumah, tiba-tiba masuk notifikasi chat Whatsapp dari ponselnya.
From mas Farhan:"Aku enggak pulang malam ini. Pekerjaan di kantor menumpuk, jadi aku harus lembur." itu isi pesan dari suaminya. Namun Adeela tidak terlalu ambil pusing mengenai apa yang akan suaminya itu lakukan.
Karena suaminya tidak akan pulang malam ini, artinya Adeela tidak akan membuat makan malam untuk suaminya. Ah, senangnya hati kalau suaminya itu tidak ada di rumah. Ia tidak harus terus-terusan bersandiwara. Kadang di dalam hati, Adeela merasa gedeg sendiri dengan situasi yang mengharuskannya untuk selalu memakai topeng di depan suaminya. Namun ia harus bersabar, sebentar lagi semuanya akan berakhir.
Adeela pun bersantai malam itu dan ia menghabiskan malamnya di dalam kamar sambil ber chat ria dengan sahabat dan teman seangkatannya. Adeela diundang masuk grup angkatan oleh Anisa karena kebetulan sahabatnya itu adalah admin grup. Adeela tertawa cekikikan membaca setiap pesan dari dalam grupnya.
Teman-teman SMA nya itu memang rada-rada oleng. Namun walaupun begitu mereka semua sangat kompak dan tidak ada yang namanya saling menindas dan membeda-bedakan seseorang sesuai dengan kasta dan status sosialnya. Adeela turut bersyukur karena selama masa putih abu-abu ia tidak kekurangan kasih sayang dan kebahagiana oleh sahabat dan teman-temannya.
Adeela tertidur karena kelelahan tertawa membaca isi pesan dari teman seangkatannya. Bahagia rasanya bisa kembali lagi seperti dulu, lepas dan tanpa beban.
Ia tertidur dengan masih memegang ponsel di tangannya. Pukul 02 dini hari pintu kamarnya itu terbuka dan yang membukanya itu adalah Farhan.
Entah apa yang terjadi, Farhan pulang di tengah malam seperti ini. Padahal tadi ia mengatakan tidak akan pulang dan lembur di kantor, tapi tiba-tiba ia sudah ada di rumah.
Adeela yang menyadari ada seseorang di kamarnua seketika terbangun. Namun yang dilihatnya ternyata adalah suaminya.
"Mas Farhan!"
Farhan hanya melepas kemeja yang melekat di badannya dan hanya menggunakan baju dalam dan celana kain langsung naik ke atas ranjang.
"Aku kira mas Farhan bakalan lembur!"
"Aku capek, dek. Jangan banyak tanya." Ucapnya dengan wajah frustasi. Entah apa yang terjadi, wajah suaminya mendandakan bahwa ia sedang tidak baik-baik saja dan punya banyak fikiran.
Farhan langsung naik ke atas ranjang dan memeluk badan istrinya. Di tenggelemkannya kepalanya di dada istrinya dan tangan kirinya ia lingkarkan di perut istrinya.
"Mas Farhan kenapa?" Tanyanya penasaran melihat tingkah laku suaminya.
"Aku capek, dek."
"Capek dengan situasi yang membelengguku." Kata-kata itu hanya bisa Farhan ucapkan di dalam hati.
"Yasudah, sekarang mas Farhan tidur." Ucapnya menepuk-nepuk pelan pundak suaminya. Adeela melakukan itu sampai terdengar suara nafas teratur suaminya yang menandakan suaminya itu sudah tertidur pulas.
"Mas Farhan kenapa sikapnya jadi aneh." Gumamnya dalam hati.
Ia ingin melepaskan pelukan suaminya namun ia tidak bisa karena pelukan suaminya itu sangat kuat. Alhasil, ia harus tertidur sampai pagi dengan posisi yang sama.
.
.
.
.
Maap ya, kemarin aku janjinya bakalan up siang. Ternyata kuota aku habis jadinya baru bisa beli sore tadi. Dan aku langsung kebut nulis untuk para readers semua. Walaupun pembaca karya aku ini masih sedikit, namun masih ada beberapa readers yang menunggu novel ini terus up. Makanya aku usahain buat bisa up walaupun jadwalnya kadang enggak tentu. Tapi semoga kk maklum yak.
__ADS_1
Jangan lupa like, komen dan vote nya yang banyak. Biar konflik yg sesungguhnya cepat keluar.
Salam story from By_me