MEMBALAS PERSELINGKUHANMU

MEMBALAS PERSELINGKUHANMU
Tunggulah Waktunya!


__ADS_3

Setelah selesai sarapan dan bersiap-siap, Adeela pun mengantarkan Justin menuju pintu. Adeela menenteng paperbag di tangannya yang berisi bekal untuk makan siang suaminya nanti.


"Maaf ya, aku enggak bisa nganter kamu periksa kandungan nanti. Aku usahain, pemeriksaan selanjutnya aku bakalan dampingin kamu." Adeela pun tidak mempermasalahkannya. Ia tahu, akhir-akhir ini suaminya sangat sibuk untuk memantau proyek pembangunan mall yang berada di Jakarta Timur.


"Hari ini aku bakalan sibuk banget. Mungkin aku bakalan pulang malam. Rekan kerja aku ini ngajak makan malam setelah selesai cross check di sana, nanti."


"Iya, enggak apa-apa. Lagian nanti Annisa bakalan anterin aku kok buat periksa kandungan nanti."


"Baguslah, kalau kamu sama Annisa. Kalau begitu titip salam ya, sama Nissa."


"Iya, Mas. Nanti aku sampein sama Nissa!"


"Yaudah, aku jalan dulu. Udah setengah delapan ini. Nanti telepon ya, kalau sudah sampe."


Adeela pun menjawab dengan anggukan dan senyuman. Tak lupa rutinitas seperti biasa mereka lakukan saat mengantar Justin ke kantor.


Adeela melambaikan tangannya saat kendaraan suaminya sudah keluar dari gerbang dan semakin tak terlihat.


Hari ini adalah jadwal pemeriksaan kandungan Adeela. Usia kandungan Adeela sudah memasuki usia delapan bulan. Sebentar lagi mereka akan melihat dua malaikat kecil yang membuat seisi rumah bahagia.


Selama menjalani masa kehamilan di trimester pertama dan kedua, Adeela tidak terlalu merasakan yang namanya morning sickness atau masalah berat yang lainnya. Adeela tidak juga mengalami ngidam seperti kebanyakan wanita lainnya. Yang jadi permasalahannya hanya pada saat memasuki trimester ke tiga, kaki nya yang semakin besar menurutnya, ia yang jadi lebih sering berkemih, punggungnya yang sering sakit akhir-akhir ini, mengalami gangguan pada tidurnya dan kadang saat bayinya menendang dengan keras sakitnya tidak main-main.


Kehamilan pertamanya dan kehamilan kali ini sangatlah berbeda. Saat kehamilan pertama, ia mengalami yang namanya morning sickness, pusing, badan lemas dan mual muntah yang berlebihan. Berat badannya juga turun saat itu. Sangat sulit saat awal-awal kehamilannya. Namun lambat laun ia akhirnya jadi bisa beradaptasi dengan keadaannya yang memang baru pertama kali ia rasakan. Ia bersyukur karena kehamilan yang kedua ini, bayi yang berada di dalam kandungannya anteng-anteng dan tidak terlalu menyusahkannya.


Sudah menjadi hal yang fisiologis bagi ibu hamil mengalami semua itu. Kehamilan trimester ke tiga, rata-rata ibu hamil akan merasakannya menjelang persalinan.


"Aku sudah sampai di rumah sakit Ibu dan Anak xx, Nis. Kamu sekarang di mana?" Tanyanya di balik telepon.


"Aku udah di parkiran, Deel. Kamu nya di bagian mana?"


"Aku nunggu kamu di dekat UGD, Nis. Hijab Biru, ya!" Jawabnya memberitahukan sahabatnya. Setelah memberitahukan titik temu mereka, tak lama kemudian Annisa pun datang dengan menenteng totte bag di tangan kanannya.


Setelah mendaftarkan diri untuk pemeriksaan, Adeela dan Annisa pun menunggu di depan ruangan obgyn.


"Makin makmur sama si Justin kamu, Deel. Ini pipi atau bakpao? gemes banget, deh, aku!" Ujarnya menyubit pipi kanan sahabatnya. Adeela yang diperlakukan seperti itu menggerutu karena ulah sahabatnya. Jadi, hanya Annisa yang mengetahui tentang pernikahan yang terjadi antara dirinya dan Justin. Sampai saat ini, hanya Annisa yang ia beritahu. Namun, Kira-kira bagaimana reaksi teman angkatan mereka, jikalau mengetahui seorang Adeela dan Justin yang tidak pernah akur malah berakhir seperti ini.


"Sakit, Nis. Kira-kira kali kalau nyubit."

__ADS_1


Bukannya marah, Annisa malah tertawa melihat reaksi sahabatnya. Setelah beberapa detik, barulah Adeela kembali menjawab.


"Ya, ginilah, Nis. Mungkin karena udah enggak ada lagi beban, makanya aku nambah lebar kayak gini!" Jawabnya yang membuat Annisa menatap sahabatnya dengan sendu. Mengingat kembali ke belakang saat sahabatnya menghadapi masalah yang mungkin dirinya saja tidak akan sanggup.


Annisa mengambil tangan sahabatnya dan menggenggamnya di atas pahanya.


"Kamu tahu, Deel, aku sebagai sahabat kamu ikut bahagia dengan diri kamu yang sekarang. Justin memang cocok sama kamu. Walaupun dulu setiap kalian ketemu udah kayak Tom and Jerry." Annisa dan Adeela tertawa ketika mengingat akan hal itu. "Walaupun Justin modelannya kayak cowok ngeselin dulu ya, kan, tapi sekarang kayaknya dia udah tobat deh selama sama kamu." Kembali mereka berdua tertawa.


"Kamu mau tahu satu hal enggak, Deel." Ujarnya dengan raut wajah serius


"Apaan?" Tanyanya penasaran.


"Tapi kamu jangan bilang sama Justin kalau aku yang kasih tahu kamu ya! Janji dulu, sama aku!"


"Iya, janji! Memangnya apaan sih?"


"Sebenarnya..." Gantungnya memperhatikan wajah sahabatnya


" Apaan?" Adeela adalah tipe yang enggak bisa digantung kayak begini. Tingkat penasarannya sangat tinggi. Apalagi jikalau sudah di umpan seperti ini.


"Hah?! Gimana ceritanya?!" Tanyanya tidak percaya.


******


"Jadi untuk pembangunan mall ini, sudah mencapai 95 %. Dalam waktu dekat, mall nya sudah selesai dan finishing. Sisa beberapa bagian lagi yang perlu di selesaikan." Jawab Farhan pada Justin yang saat ini sedang melakukan pengecekan pada proyek pembangunan mall yang berada di daerah Jakarta Timur.


"Baik. Saya serahkan semuanya sama Anda. Saya harap dalam waktu dekat ini, mall center ini sudah selesai dan sesuai dengan pembicaraan awal kita." Jawabnya datar.


"Untuk hal itu, serahkan sepenuhnya dengan saya. Hal itu, jangan diragukan lagi. Saya dan tim akan memberikan hasil yang tebaik untuk pembangunan ini." Jawabnya meyakinkan Justin.


"Baiklah, saya tunggu kabar terbarunya." Jawabnya lagi dengan wajah datar.


Setelah selesai melakukan pengecekan pembangunan, Justin dan Farhan pun berjalan keluar dari area pembangunan.


Setelah keluar dari sana, Justin dan Farhan pun beralih menuju ke arah restoran tempat mereka janjian sebelumnya. Farhan yang merekomendasikan tempat itu untuk sahabatnya. Kata Farhan, restoran itu memiliki cita rasa yang berbeda dengan menu di restoran lain. Sekertaris dari kedua belah pihak pun telah pulang duluan. Farhan sengaja ingin berdua dengan sahabatnya karena sudah lama sekali mereka tidak bertemu.


"Gimana kabar lo, bro? kayaknya banyak masalah lo, dari tadi itu muka datar-datar aja." Cara bicara mereka sudah kembali menjadi non formal.

__ADS_1


"Enggak tahu nih, dari tadi siang mood gue jadi berubah kayak gini. Mungkin karena perubahan hormon. Jadinya gue males" Jawabnya datar. Sebenarnya Justin malas untuk bertatap wajah dengan lelaki di depannya ini. Itu hanya alibi nya saja. Menyinggung Farhan secara halus.


"Udah kayak ibu hamil aja, lo. Laga nya perubahan hormon."


"Bukan gue yang hamil, tapi istri gue!" Jawabnya yang membuat Farhan seketika menegakkan badannya dan menatap Justin dengan tatapan penuh tanya.


"Maksud lo apaan?" Tanyanya. "Ah, lo udah nikah? Udah hamil aja istri lo? Kapan? kok gue enggak tahu. Kok enggak ngundang gue, lo. Jahat banget sih, lo.'


Justin tersenyum miring namun hanya beberapa detik.


"Iya, gue udah nikah. Istri gue juga sudah mau melahirkan. Gue kemarin nikahnya mendadak, makanya enggak ada yang tahu!"


"Ah, enggak asyik lo. Nikah enggak bilang-bilang! Kan gue juga pengen ngelihat pasangan hidup lo yang udah membuat lo move on dari almarhumah." Ujarnya, karena setahunya sahabatnya ini, sangat susah untuk mencari pendamping hidup setelah kehilangan yang kemarin.


"Ya, begitulah. Tapi gue janji bakalan pertemuin lo sama istri gue. Tunggu aja."


"Siap, bro. Gue bakalan nunggu hari itu. Kalau gue ketemu sama istri lo, gue bakalan bilang kalau dia adalah wanita yang beruntung. Karena mendapatkan lelaki kayak lo!"


"Yang ada, gue yang beruntung mendapatkan dia! Dia wanita yang cantik, sholehah dan setia tentunya!"


"Tapi terlepas dari itu semua, Adeela beruntung karena bisa terlepas dari neraka yang lo ciptakan!" Ujarnya di dalam hati menatap Farhan dengan tatapan tajam.


"Gue bahagia liat lo bahagia, Justin!"


Justin tersenyum palsu pada lelaki di depannya ini. Farhan tiba-tiba menampakkan raut wajah sendu nya. Entah mengapa, Adeela tiba-tiba melintas di pikirannya.


*******


Ya elah, babang Tamvan. Katanya udah enggak sabar pengen ketemu sama istrinya JustinπŸ€­πŸ˜†.


Yaudah, tunggu aja waktunya yak, bang.


Btw, sebenarnya aku enggak mau up. Tapi karena mengingat author yg single dan enggak ngapa-ngapain di malam minggu ini, daripada gabut mending nulis aja. Ye kan!!


Yang single di sini, angkat βœ‹βœ‹πŸ€­πŸ˜πŸ˜πŸ˜‚


Etttsss,,,, jangan lupa juga klik like, komen dan vote nya.Ocee.Kalau Likenya yg banyak, besok author bakalan up lagi. Deal or no dealπŸ‘πŸ‘

__ADS_1


__ADS_2