
"Hai, kamu... Nak Justin, kan?!" Tanya Tante Rike memastikan lelaki di depannya ini. Mereka tidak sengaja bertemu di area parkiran restoran. Saat ini, Tante Rike ingin makan siang bersama dengan suaminya. Ia tidak sengaja melihat Justin yang ia ketahui adalah sahabat anaknya, berjalan menuju restoran bersama dengan seorang lelaki. Lelaki yang bersama Justin adalah sekertarisnya.
Yang Tante Rike ketahui, Justin adalah sahabat sekaligus rekan kerja anaknya. Mereka sempat beberapa kali bertemu.
Justin yang memang mengenali wajah dari orangtua mantan sahabatnya pun harus bersikap sopan pada orang yang lebih tua. Justin tersenyum dan menjabat kedua tangan orangtua Farhan.
"Alhamdulillah, saya sehat, Tante, Om!" Jawabnya saat Tante Tike menanyakan kabar.
Mereka ber-empat pun menyetujui untuk makan siang bersama. Tante Rike, Om Irwan dan Justin melakukan bincang-bincang ringan sembari memakan makan siang yang telah tersaji di atas meja.
Singkat waktu, setelah selesai makan siang Justin meminta nomer ponsel Tante Rike sekedar untuk menyambung silaturahmi, kilahnya. Padahal sebenarnya, ia ingin memberikan informasi yang akurat untuk Tante Rike yang merupakan Ibu dari Farhan.
Justin berharap dengan begitu, mata dan hati dari orangtua Farhan bisa terbuka dan melihat mana yang benar dan mana yang salah. Agar Tante Rike mengetahui fakta yang sebanarnya. Cukuplah selama ini Adeela menjadi korban dari anaknya yang memiliki sifat seperti D*****.
"Kalau begitu, saya dan sekertaris saya pamit Tante, Om. Untuk hari ini, izinkan saya yang traktir Om dan Tante."
"Wah, terima kasih banyak, Nak Justin. Semoga Tuhan selalu memberikan limpahan rezeki dan bahagia untukmu!" Ujar Tante Rike pada Justin yang sangat sopan dan ramah kepadanya dan suami.
Justin membalasnya dengan tersenyum. Setelah itu, ia berlalu dari sana. Justin menyunggingkan senyumnya karena Tuhan memudahkan jalannya. Ia tidak harus membuang-buang waktu untuk mendatangi Tante Rike karena orang yang bersangkutan mendatangi sendiri dirinya.
******
Tante Rike sedang duduk di halaman depan bersama dengan suaminya. Mereka berdua sedang bercengkrama sambil meminum secangkit teh hangat. Saat sedang asyik berbincang-bincang, masuk satu notifikasi pesan di ponselnya. Tante Rike pun membuka ponselnya dan membaca pesan itu dengan seksama.
Tante Rike membulatkan matanya dan menutup mulutnya sangking tidak percayanya dengan apa yang sedang ia baca dan foto-foto yang ia lihat saat ini. Karena tidak kuat dengan apa yang ia lihat dan ia ketahui, badan Tante Rike limbung ke samping. Untung saja, ada Om Irwan yang dengan sigap menahan bahu istrinya. Tante Rike memegangi kepalanya yang seketika nyeri membaca pesan dari nomor yang tidak ia ketahui dari siapa.
Om Irwan dibuat cemas dengan keadaan istrinya yang seketika saja seperti ini. Om Irwan menggoyang-goyangkan bahu istrinya berharap dengan begitu kesadaran istrinya kembali normal.
Butuh beberapa menit sampai pada akhirnya, Tante Rike kembali menegakkan badannya. Tante Rike menatap suaminya dengan tatapan sedih. Om Irwan sangat penasaran, kira-kira apa yang melatarbelakangi sehingga istrinya tiba-tiba mengalami perubahan mood yang drastis. Padahal baru saja tadi mereka bercanda dan tertawa berdua.
"Ada apa, Ma? Mama enggak enak badan? Kalau Mama lagi sakit, lebih baik kita masuk ke dalam!"
Namun Tante Rike malah menggeleng lemah sebagai jawaban.
"Badan Mama enggak sakit, Pa. Tapi hati Mama yang sakit karena ulah anak kita! Mama benar-benar tidak percaya dengan apa yang anak kita lakukan!" Ujarnya dengan nada sedih.
Om Irwan semakin tidak mengerti dengan apa yang dimaksud oleh istrinya. Keningnya berkerut pertanda tidak mengerti.
__ADS_1
"Maksud Mama sebenarnya apa? Kenapa dengan anak kita? apa yang telah dia lakukan sampai Mama bisa bicara seperti itu?" Tanyanya. Karena setahunya, istrinya ini sangat menyanjung dan membanggakan anak semata wayang mereka.
Tante Rike memberikan ponselnya kepada suaminya. Tante Rike tidak akan sanggup menceritakan apa yang telah ia baca dan lihat. Biar saja suaminya melihat sendiri apa yang telah membuatnya seakan lemas.
Om Irwan mengambil ponsel istrinya dan membaca dengan serius pesan dari orang yang tidak dikenal. Semakin membaca ke bawah, amarahnya semakin menjadi. Om Irwan mengeraskan rahangnya membaca setiap kata yang orang itu kirimkan. Tangan kirinya sudah terkepal, amarah dan kecewa bercampur menjadi satu. Murka, marah dan kecewa setelah membaca pesan dari nomor yang tidak dikenal. Nomor itu mengiriminya sebuah pesan tentang apa yang telah anaknya lakukan. Pada Adeela dan almarhumah cucunya. Menikah secara siri tanpa memberitahu kedua orangtuanya dan menghasilkan anak yang sama sekali mereka tidak tahu keberadaannnya.
"Anak kurang ajar!" Amuknya emosi. Om Irwan menatap kedepan dengan tajam.
Om Irwan memberikan kembali ponsel istrinya.
"Hubungi anak itu sekarang!" Titahnya tegas. "Saat ini juga, suruh dia datang!" Titahnya sarat akan ketegasan.
Mama Rike pun melakukan apa yang suaminya perintahkan. Sebenarnya ia sangat kecewa dan marah dengan apa yang anaknya lakukan. Tapi mereka butuh penjelasan dari Farhan.
Setelah mendapat jawaban dari anaknya, Tante Rike pun kembali menyimpan ponselnya dan menatap ke depan dengan tatapan kosong. Bagaimana bisa, anak yang selama ini ia bangga-banggakan tega melakukan hal se-bejad itu.
Setelah menunggu selama kurang lebih 30 menit, yang ditunggu-tunggu akhirnya datang.
Dari jauh, Farhan menampakkan senyumnya pada kedua orangtuanya. Namun hal sebaliknya dilakukan oleh kedua orangtuanya. Tante Rike menatap dengan tatapan kecewa dan sedih. Sedangkan Om Irwan menatap dengan tatapan penuh amarah.
Farhan mengerutkan keningnya melihat ekspresi dari kedua orangtuanya. Ada apa, fikirnya. Biasanya jika ia datang, kedua orangtuanya akan menyambutnya dengan hangat.
Om Irwan melayangkan tinjunya pada wajah anaknya. Meninju dan menampar anaknya. Menyalurkan amarah, sedih dan kecewanya.
Tante Rike tidak bisa berbuat apa-apa, karena memang itulah yang seharusnya di dapatkan oleh anaknya.
Om Irwan benar-benar tidak banyak bicara. Dia memukul dan memberikan bogeman di wajah dan perut anaknya tanpa ampun.
Farhan sudah tersungkur di lantai dengan dipenuhi luka dan memar. Tante Rike yang tidak kuasa melihatnya, mencoba menghentikan suaminya.
"Sudah, Pa!" Pintanya dengan air mata sudah membanjiri wajahnya.
Om Irwan tidak memperdulikan ucapan istrinya. Di salurkannnya segala amarahnya pada anaknya yang telah berbuat se-keji itu pada mantan menantunya. Om Irwan sangat peduli dan menyayangi mantan menantunya itu. Keputusan yang tepat menurutnya, mengapa mantan menantunya memilih untuk berpisah.
Om Irwan akhirnya mengakhiri pukulannya. Kini pukulan itu berganti menjadi air mata luka.
Farhan tidak bertanya mengapa Papa nya itu melakukan hal demikian padanya. Yang terlintas di otaknya, pastilah orangtuanya itu sudah mengetahui yang sebenarnya. Ia memang pantas mendapatkan ini. Itulah mengapa, ia tidak melawan. Farhan menarik nafas dalam-dalam, saat Papa nya telah berhenti menyalurkan amarahnya. Dadanya naik turun, menarik oksigen sebanyak-banyaknya.
__ADS_1
Om Irwan menatap anaknya dengan tatapan kecewa dan sedih.
"Papa benar-benar kecewa sama kamu, Farhan! Bagaimana bisa kamu melakukan hal itu kepada menantu, Papa!" Teriaknya dengan air mata pilu.
"Apa yang ada di otakmu saat dengan teganya melakukan hal se-keji itu pada menantu, Papa! dan almarhumah cucu, Papa! Nurhan!" Papa tidak kuasa menjabarkan sakit hatinya saat mengatakan itu. Jeda untuk sesaat. Papa menarik nafas dalam dan mencoba menguatkan dirinya. Saat sudah membaik, Papa kembali mengeluarkan segala unek-uneknya.
"Kamu dari awal memohon Pada Mama dan Papa agar bisa merestui kalian. Papa dan Mama tidak bisa menolak, karena kamu kekeuh ingin memperjuangkan menantu, Papa. Kamu janji ini dan itu tapi apa yang kamu lakukan?! Kamu membawa anak malang itu pada neraka, Farhan! Malah neraka yang kamu berikan untuk anak dan istrimu!"
Papa memijit belakang lehernya. Karena tiba-tiba saja berdenyut nyeri.
"Papa sudah mengambil keputusan yang salah, Farhan. Papa turut andil akan luka yang menantu Papa rasakan! Adeela sudah hidup sengsara, Farhan! Kamu tahu itu lebih daripada, Papa. Tapi... mengapa bisa kesengsaraan itu kamu lipatgandakan dengan melakukan hal se-bejad itu pada menantu, Papa, Farhan! Kenapa?!" Teriaknya tak kuasa jika mengingat betapa sakitnya mantan menantunya itu.
"Adeela memang sudah mengambil keputusan yang benar untuk meninggalkan lelaki keji seperti kamu! Sekarang Papa sudah tahu, mengapa Adeela lebih memilih mencampakkan lelaki seperti kamu! Adeela sudah benar!"
Tante Rike hanya bisa menangis menyaksikan dan mendengarkan apa yang suaminya katakan. Memang benar apa yang suaminya katakan. Anak malang itu. Rasa bersalahnya semakin besar pada Adeela. Dia telah salah menilai Adeela selama ini. Jika dia ada di posisi Adeela, mungkin saja dia tidak akan sanggup.
"Hal keji yang juga kamu lakukan... kamu menyelingkuhi Adeela dan menghasilkan anak dari wanita ****** itu. Kamu menikah secara diam-diam tanpa orangtuamu ketahui? selama itu kamu menyembunyikan semua itu! Hebat sekali kamu! Kamu sudah tidak menganggap kami sebagai orangtuamu!"
"Kamu menghasilkan anak dari wanita ****** itu. Sedangkan cucuku, meninggal karena ulahmu, b*******!" Teriaknya penuh amarah sampai-sampai urat di pelipisnya nampak.
Farhan hanya bisa diam dan mendengarkan apa yang orangtuanya katakan. Air matanya tumpah saat mengingat semua yang telah ia lakukan pada Adeela dan juga almarhumah anaknya.
"Mulai sekarang... Mulai sekarang kamu bukan lagi ANAKKU! Aku tidak sudi punya anak yang bersifat seperti ***** kayak kamu!" Ujarnya final.
Farhan menahan gejolak di dalam hatinya. Kesedihan semakin melingkupi saat orangtuanya sudah tidak sudi menganggapnya sebagai anak.
"Usir dia dari rumah ini, Ma!" Titahnya dan berbalik tanpa memperdulikan anaknya yang sudah tak kuasa menumpahkan kesedihannya.
"Maafkan aku, Pa, Ma! Maafkan Farhan!" Pintanya pada kedua orangtuanya. Namun nasi sudah menjadi bubur. Tante Rike pun hanya bisa menatap nanar pada anaknya dan juga meninggalkan Farhan sendiri.
"Terima konsekuensi atas apa yang telah kamu perbuat, Nak!" Ujar Tante Rike di dalam hati. Sebenarnya ia sungguh tidak tega. Tapi apa boleh buat, biarlah ini menjadi pelajaran untuk anaknya. Biarlah kali ini, anaknya diberi ruang untuk introspeksi diri.
**********
Yah, yg bilang ini kek cerita indosiar, jauh-jauh lah. Aku buat cerita ampe mata keder kek gini, malah disamain sm cerita indosiar.
Aku nulis kek gini gunanya untuk edukasi. Biar para suami di luar sana bisa mikir berpuluh-puluh kali kalau mau selingkuh!! Karena hukum alam itu ada! Udah segitu dulu aja, ya.
__ADS_1
Assalamualaikum!
Salam story from By_me