
"AKU SUDAH BILANG KALAU ITU SALAH! AKU DIFITNAH!" Jawab Adeela dengan menekankan setiap katanya.
"JADI SIAPA YANG HARUS AKU PERCAYA SEKARANG!JELAS-JELAS DI FOTO INI KAMU SEDANG MENCIUM JUSTIN!" Ujar Farhan dengan penuh kemarahan. Ia kini memukul setir di depannya karena amarahnya sudah tidak bisa ia tahan.
Adeela menghela nafas dalam. Tak ada gunanya dia berbicara dari tadi meyakinkan suaminya. Suaminya lebih percaya dengan foto palsu itu.
"Dengar, mas, dari tadi aku sudah bilang kalau aku tidak melakukan itu. Aku sudah menceritakan yang sesungguhnya. Lalu sekarang mau kamu apa? kamu mau aku mengiyakan saja apa yang kamu lihat ini, hah? itu yang kamu mau?!
"ADEELA!" Farhan berbicara dengan keras. Tangannya ia kepal erat tak ingin menyakiti istrinya.
"Dengar, mas, pertengkaran ini tidak akan ada ujungnya kalau kamu masih tetap percaya dengan foto palsu itu. AKU TIDAK MELAKUKAN APA YANG DARI TADI KAMU TUDUHKAN! sekarang terserah kamu mau bagaimana, mau percaya sama aku atau mau percaya dengan foto palsu itu. Aku benar-benar capek menjelaskannya sama kamu. Sekarang terserah kamu mau apa!"
Farhan meremas dengan kasar rambutnya. Sebenarnya ia masih bingung ingin percaya dengan siapa. Farhan mencoba menormalkan amarahnya lalu setelah itu barulah ia kembali berbicara.
"Baiklah, kali ini aku akan memaafkanmu."
"memang seharusnya seperti itu!" Gumam Adeela dalam hati.
"Tapi aku harap kamu jangan lagi pernah datang ke acara seperti itu dan jangan pernah lagi bertemu dengan Justin!"
"Heem." Jawab Adeela dengan deheman tanpa menatap suaminya.
"DEELAA!"
"Iya, iya. Aku enggak akan lagi datang ke acara seperti itu."
"Baru foto palsu seperti itu saja kamu sudah seperti orang gila! Bagaimana kalau kamu yang berada di posisiku sekarang. Dikhianati dan dibohongi. Lalu akibat dari itu semua, nyawa anak yang sangat kau sayang melayang. Mungkin kamu sudah seperti orang gila, mas!" Gumam Adeela di dalam hati.
Setelah mendapatkan jawaban istrinya, Farhan pun kembali menghidupkan kendaraannya dan melajukan kendaraannya menuju penginapannya.
"Kamu sudah ingat tentang masa lalumu?" Tanyanya di tengah-tengah keheningan diantara mereka.
"Belum!"
Farhan mengerutkan keningnya mendengar jawaban istrinya.
__ADS_1
"Lalu bagaimana caranya kamu bisa mengenal teman-teman SMA mu dulu, kalau kamu belum ingat apa-apa."
Adeela sedikit terkejut atas ucapan suaminya. Namun ia berusaha menyembunyikan keterkejutannya dengan memasang wajah datar. Benar juga, bisa-bisa ketahuan kalau sampai ia salah ngomong.
"Jadi, dua minggu sebelum acara reuni tadi diadakan, aku pernah berbelanja di mall dekat rumah dan aku tidak sengaja bertemu dengan dia, Anisa di sana. Tiba-tiba dia nyapa aku. Dia bilang kalau aku dan dia dulu sahabatan. Awalnya aku tidak mengenalinya dan tidak percaya yang dia ucapkan, tapi dia terus meyakinkan aku dan ya, kami berbincang-bincang tentang banyak hal. Dia menceritakan semuanya, tentang masa SMA kita dulu. Tentang bagaimana kamu dan aku dulu sampai bisa pacaran. Dia tahu semua tentangku dan tentang hubungan kita." Adeela sejenak menatap suaminya yang fokus mendengarkannya sambil tetap menyetir.
"Karena aku percaya dengan apa yang dia katakan, makanya aku kasih dia nomor ponsel aku. Malamnya, dia ngundang aku masuk di dalam grup chat angkatan. Dan ya, aku diajak buat ikut acara reuni di sini. Makanya aku bisa sampai ada di sini."
"Terus bagaimana dengan si Justin? Apakah sewaktu Justin mampir di kantor kamu belum mengenalinya? Lalu bagaimana dengan foto itu?"
"Bisa enggak pertanyaannya satu-satu!"
"Yaudah, jawab aja satu-satu!"
"Jadi, Justin itu teman SMA aku dulu. Sewaktu dia mampir di kantor kamu, aku memang belum mengenalinya. Aku baru tahu dia teman SMA aku saat di malam acara reuni." Adeela menceritakan banyak hal tentang Justin kepada suaminya. Tentang bagaimana ia dan Justin dulu sampai sekarang tidak pernah akur.
"Anisa dan teman-teman aku yang lain menceritakan semuanya tentang aku dan Justin yang dulu katanya ibarat Tom and Jerry, kita tidak pernah akur saat sedang berdekatan. Sekarang pun rasanya kalau dekat dengan dia, aku gampang emosi. Mungkin karena insting, makanya seperti itu." Adeela sangat antusias menceritakannya kepada suaminya, membuat telinga Farhan panas.
"Kamu semangat sekali menceritakan tetang si Justin itu! Aku jadi ragu kalau kamu dan Justin tidak ada yang memendam rasa!"
"Maksud kamu apa, mas?"
"Ya, kamu fikir sendirilah. Atas dasar apa si Justin itu selalu mengganggu kamu kalau dia tidak punya rasa sama kamu. Dia sebenarnya suka sama kamu, hanya saja dia takut untuk mengungkapkan perasaannya sama kamu dan malah terus menggaggu kamu agar dia bisa dekat-dekat sama kamu! Atau mungkin ada alasan lain, sehingga Justin tidak mengungkapkan perasaannya!"
"Kamu ini bicara apa. Kamu tidak tahu saja bagaimana sikap Justin sama aku. Tidak mungkin juga dia suka sama aku. Tadi saja, dia malah memanggil aku dengan sebutan Jelek, hitam, dekil. Ck, fikiran kamu ini terlalu jauh."
Apa yang Farhan curigai sedari tadi akhirnya dapat ia simpulkan.
"Mulai sekarang kamu tidak boleh dekat-dekat dengan dia."
"Memangnya kenapa? Kamu cemburu ya, sama Justin?"
"Ck, cemburu! Tidak mungkin aku cemburu sama dia."
"Kalau kamu tidak cemburu berarti kamu mengijinkan aku untuk ketemu sama dia?" Pancing Adeela pada suaminya.
__ADS_1
Farhan melotokan matanya menatap istrinya.
Adeela malah terkekeh melihat ekspresi suaminya. Jelas saja, suaminya ini sedang cemburu pada seorang Justin, walaupun selalu disangkal olehnya.
"Jadi dapat disimpulkan kalau kamu marah-marah tidak jelas dari tadi karena kamu cemburu pada Justin!"
"Aku tidak cemburu, hanya saja... suami mana yang tidak emosi melihat istrinya sedang mengecup lelaki lain."
"Sudah aku bilang kalau aku tidak melakukan itu!" Jawab Adeela dengan tegas.
"Iya...iya."
Hening untuk sesaat.
"Jadi clear ya, aku tidak melakukan apa yang kamu tuduhkan tadi?"
"Heem."
"Seandainya nih... seandainya malah kamu yang ketahuan selingkuh dibelakang aku, kira-kira apa yang akan aku lakukan?" Tanya Adeela menatap wajah suaminya.
Farhan menegang mendengar pertanyaan istrinya namun ia berusaha tetap bersikap tenang.
Adeela memberikan pertanyaan menjebak dan mencoba mengetes suaminya. Sepintar-pintarnya Farhan mencoba menyembunyikan ketegangannya namun Adeela masih mampu melihat kegugupan suaminya ini. Terbukti saat ia bertanya seperti itu, jakun suaminya ini tampak naik turun menelan ludah dengan kasar.
"Ya...tidak mungkin lah, aku melakukan itu!"
"Ck, pertanyaan aku itu, seandainya mas Farhan selingkuh dibelakang aku, kira-kira apa yang aku lakukan sama kamu?! Bukan malah menuduh kamu yang selingkuh dibelakang aku!"
^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^
Happy reading kk😄😚
Besok lagi ku lanjut yak😚
Jangan lupa vote, like dan komen❤
__ADS_1
Salam story from By_me