
Aku pun mengurus anak ini. Mulai dari menyeka badannya, memakaikannya minyak kayu putih, memasangkan baju dan celana untuknya dan terakhir aku berikan bedak baby di wajahnya. Berada diposisi ini membuatku kembali merasa menjadi seorang Ibu. Seandainya Nurhan masih hidup, pastilah mereka akan sangan mirip. Reyhan sangat mirip dengan Mas Farhan. Hanya kulitnya saja yang berbeda. Reyhan memiliki kulit yang putih dan sedikit merah pada kedua pipinya. Aku yang gemas melihatnya, memberikan ciuman yang bertubi-tubi pada wajah gembulnya. dia tertawa kuperlakukan seperti itu.
"Sudah selesai. Sekarang kita ke bawah, yuk!"
"Yuk!" Jawabnya semangat.
Kami bergandengan tangan turun ke bawah. Aku membawanya menuju meja makan dan mendudukkannya di kursi.
Kulihat dia berbinar menatap makanan yang tertata di meja makan.
Tak berselang lama, Mas Farhan terlihat menuruni tangga dengan pakaian santainya dan sudah terlihat segar.
Terlihat dia tersenyum melihat kedekatan kami.
"Masak apa, Deel?" Tanyanya saat menarik kursi di depannya.
"Masak makanan kesukaan kamu, mas. Udah, sekarang kita makan dulu, nanti makanannya keburu dingin."
"Tumben masak banyak banget, Deel?"
"Sekali-kali, mas. Aku juga kan, udah lama enggak masakin kamu makanan ini."
Mas Farhan tersenyum lembut padaku. Entah apa arti dari senyumnya. Aku tak mau menafsirkannya lain.
Aku mengambil piring Reyhan dan menyendokkan makanan ke dalam piringnya. Setelah itu, giliran aku menyendokkan makanan ke dalam piring Mas Farhan. Kami mulai menyantap makan malam. Namun perhatianku hanya pada anak kecil di sampingku ini.
Setelah selesai makan malam, aku membereskan meja makan tentunya dibantu oleh bocah kecil ini yang selalu mengekor di belakangku. Aku pun tidak mau melarangnya.
Mas Farhan sudah lebih dulu naik ke atas. Ia ingin menyelesaikan pekerjaannya yang sangat menumpuk di ruang kerjanya.
Akhirnya selesai juga. Aku menuju ruang keluarga untuk menyandarkan badanku. Anak ini masih mengekor di sampingku.
"Reyhan mau nonton apa, sayang?" Tanyaku saat menyalakan TV di depanku.
"Nonton Upin, Ipin, Tante" Jawabnya dengan memperhatikan siaran di depanku.
Aku pun mulai menyetel siaran dan mencari siaran *** TV.
Reyhan duduk di sampingku dan serius menonton siaran Upin & Ipin. Sesekali dia mengikuti ucapan si botak. Aku tertawa melihatnya.
Saat sedang menonton, tiba-tiba ponselku bergetar. Masuk notifikasi pesan di aplikasi whatsapp.
Ternyata itu pesan dari Justin. Aku mengerutkan kening, ada angin apa si bule gila ini mengirimiku pesan. Namun kuabaikan pesan darinya dan kembali menemani Reyhan menonton.
^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^
Keesokan harinya aku bangun pagi-pagi berkutat di dapur untuk membuatkan sarapan untuk Mas Farhan dan juga untuk Reyhan.
"Deel!" Panggilnya dari arah tangga seperti orang yang terburu-buru.
"Sarapan dulu, mas. Aku udah siapin makanan kesukaan kamu."
__ADS_1
"Aku buru-buru, Deel. Pagi ini aku ada meeting, aku harus on time!."
"Yaudah, aku bungkusin aja, ya. Nanti sempatin makan kalau udah sampe kantor."
"Boleh. Cepetan, Deel!"
"Sabar, mas. 2 menit. Duduk aja dulu!"
Farhan pun duduk dan meminum susu buatanku dengan sekali teguk.
"Nih, jangan lupa dimakan, mas."
"Heem, jangan lupa bangunin Reyhan, ya. Aku bakalan pulang cepat sebentar. Aku pergi dulu." Mas Farhan mencium keningku dan mengambil bekal yang aku bungkuskan tadi.
^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^
Author POV
Selama seminggu terakhir, Adeela benar-benar menjadi istri yang sangat patuh. Ia sangat manis memperlakukan Farhan akhir-akhir ini.
Segala kebutuhan Farhan ia penuhi.
Saat Farhan sedang berada di kantor, Farhan mendapat pesan dari Adeela saat ia sedang rapat. Farhan pun menyempatkan waktu nya membaca pesan dari istrinya.
"Mas Farhan mau dimasakin apa pulang nanti?"
Farhan tersenyum membaca pesan dari istrinya. Detik kemudian, ia pun membalasnya dengan memberitahukan makanan yang ingin ia makan pulang nanti.
Ok, Adeela akan membuatkan makanan rekomendasi dari suaminya. Dengan cekatan ia membuatkan makanan untuk suaminya.
"Beres!" Gumam Adeela setelah semua telah selesai. Adeela menghembuskan nafasnya dan sekali lagi menatap ke belakang.
^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^
"Adeela! Reyhan!" Panggil Farhan saat memasuki rumahnya. Farhan dengan semangat memasuki rumah mencari keberadaan istri dan anaknya. Ia sangat bersemangat hari ini ingin menyantap masakan istrinya. Ah, memikirkannya saja sudah membuatnya semangat.
Ia berjalan masuk namun istrinya itu tidak menyahuti panggilannya. Saat ia memasuki ruangan tamu, ia mendapati sebuah memo di atas meja ruang tamu.
Farhan mengambilnya dan membaca isinya.
"Langsung ke meja makan, mas. Aku udah siapin makanan paling enak untuk suamiku tersayang!"
Farhan tersenyum membaca memo dari istrinya. Ia pun berjalan menuju meja makan dan membuka tudung saji.
Adeela menghidangkan banyak makanan di atas meja. Di atas meja itu lagi-lagi terdapat memo . Farhan membaca memo itu.
"Langsung makan ya, makan sendiri dulu. Setelah itu, kamu langsung naik ke kamar. Aku punya kejutan buat kamu!"
Lagi-lagi Farhan menampakkan senyumnya membaca pesan istrinya. Ia pun menarik kursi dan duduk dengan anteng di meja makan. Farhan makan dengan lahap hasil masakan istrinya. Farhan harus memuji hasil masakan istrinya yang tidak ada duanya. Sangat jauh dari hasil masakan Kyla.
Farhan segera menghabiskan masakan istrinya ingin segera melihat kejutan dari istrinya di kamar. Kira-kira apa kejutan dari istrinya ini. Memikirkannya membuat Farhan senyum-senyum sendiri.
__ADS_1
Segera Farhan berjalan menaiki tangga dan membuka pintu kamarnya. Saat pintu sudah terbuka, ia mengerutkan keningnya karena tidak mendapati kehadiran istrinya. Farhan masuk dan mencari keberadaan istrinya di kamar mandi namun lagi-lagi ia tidak mendapati istrinya di dalam sana.
Farhan berjalan keluar dan ia lagi-lagi melihat memo diatas kasur. Farhan mengambilnya dan membacanya.
"Aku udah siapin sesuatu untuk kamu di atas nakas. Berkas berwarna coklat. Semoga Mas Farhan suka dengan kejutanku itu!"
Lagi-lagi Farhan mengerutkan keningnya membaca pesan istrinya. Apa maksud dari istrinya ini. Ia pun mengambil berkas yang tadi Adeela maksud. Saat ia membuka berkas itu di dalamnya sudah ada lembaran putih.
"Maksudnya apa ini?" Tanyanya, saat membaca isi dari surat itu.
"surat cerai!" belum sempat Farhan membaca keseluruhan surat itu, ia sudah menghempaskan kertas itu dan mencari keberadaan istrinya.
"Adeela!" Teriaknya mencari keberadaan istrinya. Sungguh, saat ini perasaannya mendadak tidak enak.
Farhan keluar kamar sambil meneriaki istrinya. Namun tidak ada tanda-tanda Adeela menyahutinya.
Farhan berjalan membuka pintu kamar anaknya. Lagi-lagi ia juga tidak mendapati kehadiran anaknya.
"Adeela! Reyhan! kalian kemana?" Ucapnya frustrasi menarik rambutnya ke belakang.
Farhan mencari keberadaan anak dan istrinya disetiap sudut rumah hingga ke halaman belakang. Namun tidak ada tanda-tanda kehadiran anak dan istrinya. Mbok Minah juga tidak terlihat dari tadi. Semua orang meninggalkannya.
Farhan kembali memasuki kamarnya dengan tergesa-gesa dan membuka lemari pakaian istrinya. Kosong, Adeela telah membawa semua pakaiannya tanpa menyisakan selembar pun.
Farhan terkulai lemas ke bawah saat menyadari kejutan yang dimaksud istrinya. Istrinya pergi dari rumah dan meninggalkannya sendirian.
"Arghhhhh!" Teriaknya frustrasi.
Farhan berjalan mendekati kasur dan kembali membuka berkas yang tadi.
Surat cerai dari pengadilan agama. Apa maksud dari semua ini. Di dalam surat itu tercantum tanggal pembuatan surat itu. Berarti selama ini, Adeela telah merencanakan jauh-jauh hari untuk hal ini.
Saat ia ingin memasukkan kembali berkas itu, di dalam map coklat itu masih ada lagi selembar kertas di dalamnya.
Berisi tulisan tangan dari Adeela.
*To Mas Farhan,
Assalamualaikum, mas, saat kamu membaca surat ini, saat itu pula aku tidak akan lagi berada di sana. Di dalamnya, aku sudah siapkan surat cerai. Saat dipersidangan nanti, aku tidak akan datang untuk sekedar menghadiri persidangan bersamamu. Aku sudah pergi ke tempat yang sangat jauh. Aku harap semuanya dapat berjalan lancar dan kita bisa cepat berakhir. Aku anggap, bersamaan dengan surat cerai ini sampai ditanganmu, saat itu pula hubungan kita telah usai. Surat cerai itu sudah aku urus dari jauh-jauh hari dan menurutku ini saat yang paling tepat untuk kita. Jangan bertanya mengapa aku mengajukan surat gugatan cerai, kamu pasti sudah tahu atas dasar apa aku melakukannya. Btw, kalau Mas Farhan mau mencari Kyla kembali sebagai penggantiku, aku tidak masalah. Kalian memang dari awal ditakdirkan bersama. Aku pergi. Aku harap kamu tidak akan lagi mencariku.
Salam, dari Adeela dan mendiang anakku Nurhan*!
Seketika tangis Farhan pecah membaca isi surat dari istrinya. Ia memukul-mukul lantai kamar sebagai pelampiasan amarah dan sedihnya. Air matanya tak mampu ia bendung. Mengingat apa yang telah ia lakukan telah membuat dirinya, istri dan juga anaknya menderita. Dadanya terasa sesak membaca pesan istrinya. Ternyata ini kejutan yang Adeela maksud. Saat ini dunianya serasa runtuh. Ia tidak lagi mempunyai semangat hidup.
Ternyata ini kejutan yang istrinya ingin berikan kepadanya. Akhir-akhir ini, Farhan merasa sebagai suami yang sangat bahagia mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari istrinya. Namun nyatanya, semua itu adalah salam perpisahan dari istrinya.
"Arghhhhhh! Adeela, maafkan aku. Jangan tinggalkan aku!"Teriaknya dengan isak tangis.
^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^
Yah, nasi sudah menjadi bubur Mas Farhan! Ikhlasin aja mbak Adeela pergi๐๐
__ADS_1
Btw, jangan lupa vote nya kakak. Aku tunggu loh!!
Salam story from By_me