
Adeela memikirkan tentang bagaimana hari esok akan ia lalui. Sampai jam 01 dini hari, Adeela belum juga bisa menutup matanya dan masuk ke alam mimpi. Bagaimana jika memang benar mereka akan melakukan pemeriksaan kehamilan, sedangkan ia saja hanya berpura-pura. Jika memang benar besok ia akan ke dokter kandungan, maka bisa dipastikan tamatlah riwayatnya. Rencana yang telah ia susun dengan sedemikian rupa, bakalan terbongkar.
Adeela lagi-lagi menghembuskan nafas kasar. Badannya ia gulingkan ke kanan dan ke kiri untuk mencari posisi yang nyaman. Namun tetap saja, sekelebet khayalan yang akan terjadi besok menghantui fikirannya.
"Kamu kenapa?" Tanya Farhan dengan suara serak khas bangun tidur. Ia terusik dari tidurnya karena merasakan pergerakan yang istrinya itu lakukan.
"Mmm...Enggak apa-apa, mas. Mas Farhan tidur aja lagi." Ujar Deela agar suaminya ini tidak usah menghiraukannya.
"Tidur, Deel. Jam berapa sekarang, kamu belum juga tidur."
"Aku belum ngantuk, mas. Mas Farhan tidur duluan aja." Ujar Adeela lagi agar suaminya ini menurutinya. Namun bukannya menurut, suaminya ini malah semakin memperdekat jarak diantara mereka. Tangannya ia masukkan dibawah leher istrinya dan menarik istrinya mendekat kearahnya. Tangan kekarnya memeluk badan istrinya dengan posesif. Seakan tidak ingin istrinya ini lepas darinya.
"Tidur, Deel. Kalau kamu kurang istirahat, nantinya akan berdampak pada anak kita. Aku tidak mau terjadi sesuatu dengan kamu dan anak kita." Ujarnya dengan nada pelan namun menyiratkan arti yang mendalam.
Adeela menghela nafas mendengar jawaban suaminya. Ada perasaan sakit saat mendengar suaminya mengatakan itu. Suaminya ini bersikap seolah ia sangat perduli dengan dirinya dan tentang masalah anak. Sedangkan anaknya yang dulu, demi seorang wanita ia rela tidak mengangkat panggilan darinya. Bahkan di saat-saat genting sekalipun tak ia perdulikan panggilan darinya. Begitu pentingnya kah seorang Kyla di mata suaminya sampai-sampai berpuluh-puluh kali panggilannya diabaikan.
Kalau misalnya Adeela di cap sebagai wanita munafik, biarlah ia menerimanya. Rasa sakit hati yang sangat dan luka yang masih berdarah membuatnya mengambil langkah ini. Ia membalaskan dendam demi sebuah keadilan. Keadilan untuknya dan untuk mendiang anak semata wayangnya. Walaupun akhirnya ia akan menyakiti dirinya sendiri.
Ada saat di mana adeela tersentuh dengan semua perhatian yang akhir-akhir ini suaminya berikan padanya, hingga membuatnya hampir luluh dan melupakan dendamnya. Namun di waktu yang lain, di dalam hati tidak menerima dan menolak akan logika nya.
Lama ia melamunkan nasib dirinya hingga matanya mulai berat dan ia pun tertidur di dalam pelukan suaminya.
πππ
Keesokan harinya, Adeela dan suaminya telah siap berangkat untuk melakukan pemeriksaan kehamilan. Ia tidak ada pilihan lain selain menuruti keinginan suaminya. Kalau memang hari ini semuanya akan terbongkar, maka ia pun akan pasrah.
"Bagaimana, sudah siap?" Tanya Farhan saat Adeela sudah berjalan menuruni tangga.
Adeela menganggukkan kepalanya sebagai jawaban dan tasnya yang tadi berada di tangannya, kini ia letakkan di bahunya.
Mereka berjalan keluar rumah dan tak lama kemudian kendaraan Farhan pun sudah membelah jalanan kota Jakarta dengan kecepatan sedang.
Farhan sebelumnya sudah melakukan janji dengan temannya pada pukul 11 siang. Farhan sengaja mengambil waktu itu karena pada saat pukul 8-10 pagi saat padat-padatnya ibu hamil yang memeriksakan kandungan. Jadi, lebih baik kalau ia dan istrinya berkunjung pada waktu itu.
__ADS_1
Berkali-kali, Adeela meremas tangannya yang ia letakkan di atas pahanya. Jujur saja, ia sangat gugup. Pandangannya ia alihkan ke samping, takut nantinya suaminya menangkap kegugupannya.
Selama perjalanan hanya keheningan yang mengisi diantara keduanya. Tak membutuhkan waktu yang lama, kini kendaran Farhan sudah ia parkirkan di parkiran rumah sakit.
Kegugupan semakin menjadi. Setiap langkah kaki yang ia pijakkan di lantai rumah sakit semakin membuatnya gugup. Adeela mencoba menarik nafas dalam dan menghembuskannya. Otaknya saat ini sudah buntu. Ia tidak ada ide lagi untuk bisa terbebas dari situasi ini.
"Tamatlah riwayatmu, Adeela!" Suara bisikan itu terngiang-ngiang di otaknya.
Farhan terus menggenggam tangan istrinya menyusuri koridor rumah sakit. Namun tiba-tiba dering telepon berbunyi. Panggilan masuk di ponsel suaminya. Farhan menyuruh istrinya untuk duduk di bangku yang ada di koridor rumah sakit sambil menunggunya mengangkat panggilan. Adeela pun menurut dan duduk di sana. Farhan berjalan menjauh untuk menerima panggilan itu.
Adeela mengedarkan pandangannya menatap ibu hamil yang lewat di depannya. Wajah sumringah setelah melakukan pemeriksaan ditemani oleh suami yang setia mendampingi.
Semenit, dua menit Adeela menunggu suaminya berbicara dengan seseorang di balik telepon. Eskspresi wajah suaminya menandakan ada hal yang sangat serius yang sedang ia bicarakan dengan seseorang itu.
Adeela hanya mendengar samar-samar perbincangan suaminya. Yang bisa ia tangkap hanya kata-kata umpatan. Entah untuk siapa kata-kata umpatan itu.
Panggilan pun ditutup. Farhan masih berdiri di sana dan terlihat sedang menekan sesuatu di ponselnya. Tak lama kemudian Farhan kembali memasukkan ponselnya di saku celana dan berjalan kearahnya.
"Hari ini kita tidak jadi melakukan pemeriksaan." Adeela mendadak lega mendengar ucapan suaminya. "Aku harus segera ke kantor karena ada keadaan mendesak yang mengharuskan aku turun tangan."
Adeela menampakkan senyum dan menganggukkan kepalanya. "Tidak apa-apa, mas. Aku mengerti keadaanmu. Lain kali saja kita melakukan pemeriksaannya."
Farhan mengangkat tangannya menyentuh wajah istrinya. Diusapnya pelan wajah itu. "Aku harus segera ke kantor. Aku sudah menyuruh sopir untuk menjemputmu. Maafkan aku!"
Adeela mengangguk pelan. "Tidak masalah, mas. Sekarang mending kamu jalan gih. Pekerjaan kamu lebih penting sekarang."
"Kalau begitu aku pergi dulu. Setelah sampai di rumah nanti, jangan lupa hubungi aku terlebih dahulu."
"Iya. Jalan gih!" Adeela melepaskan pegangan tangan suaminya dan memutar badannya. Didorongnya pelan badan suaminya.
Farhan menoleh sebentar sebelum akhirnya ia berjalan ke depan meninggalkan Adeela yang masih berada di tempat itu.
"Selamat, selamat." Ucapnya lirih dengan raut wajah lega ia tampakkan.
__ADS_1
Untung saja kali ini ia masih bisa selamat. Dewi Fortuna kali ini masih berada di pihaknya. Berada di situasi ini membuatnya mau tidak mau harus melakukan langkah terakhirnya. Ia tidak ingin menunda-nunda lagi. Kartu As nya akan ia gunakan kali ini.
Adeela mengeluarkan ponselnya di dalam tas dan menekan nomor seseorang yang berada di kontaknya.
"*Halo, Bim."
"Iya, Deel. Ada apa?"
"Gue mau lo lakuin yang yang pernah gue perintahkan sama lo!"
"siap, siap. Segera akan gue lakuin perintah lo!"
"Yaudah. Kirim info ya, kalau udah selesai."
"Siap, pasti itu."
"Yaudah, gue tutup duluan. Makasih sebumnya, Bim. Lo emang saudara gue."
"It' s ok, Deel. Sebagai sesama saudara kita harus saling membantu."
"Thank's, Bim sekali lagi. Yaudah, gue mau pulang ini. Gue tutup ya, assalamualaikum."
"Waalaikum salam*." Jawab Bima di balik telepon. Jadi, Bima adalah salah satu anak panti tempat Adeela dulu dibesarkan. Adeela dan Bima sangat dekat layaknya seorang saudara. Mereka tumbuh bersama di panti asuhan. Kini mereka telah punya kehidupan masing-masing. Bima kini telah bekerja di perusahaan IT yang berada di kota Jakarta. Adeela yang memang sedang membutuhkan bantuan, akhirnya meminta saudaranya itu untuk melakukan suatu pekerjaan untuknya.
"Ok, kita lihat akhirnya, mas!" Gumamnya dalam hati dengan menampilkan senyum miringnya berjalan keluar rumah sakit.
"Kali ini, kau yang akan melihat pertunjukannya, mas!"
^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^
Happy reading kakak" cecan dan cogan.
Jangan lupa untuk tekan tombol like, komen dan jangan lupa vote nya yang kencengππ
__ADS_1
Salam story from By_me