MEMBALAS PERSELINGKUHANMU

MEMBALAS PERSELINGKUHANMU
Tenanglah, Ada Aku Disini!


__ADS_3

Adeela terjaga dari tidurnya karena mendengar suara dengkuran yang terdengar dengan


jelas di belakang telinganya. Ia menggeliatkan badannya, tetapi sangat sulit


karena ternyata badannya di peluk dengan erat oleh lengan kekar yang ada di


belakangangnya.


Iamenggosok daun telinganya karena tidak kuat dengan suara dengkuran itu. Di


rubahnya posisi tidurnya menghadap ke atas agar ia dapat melihat dengan jelas


wajah lelaki yang kemarin telah resmi menjadi suaminnya.


“Ck,dasar kebo!” Cibirnya menarik senyum melihat raut  wajah Justin yang mulutnya terkatup-katup


karena dengkuran kerasnya.


Diperhatikan sedekat ini , ternyata Justin sangat tampan kalau sedang menutup mata. Hanya


saja, kalau sedang membuka mata sifat jahilnya kadang membuatnya kesal sendiri.


Justin memiliki Bulu mata yang lentik, alis yang tebal, hidung yang sangat


tinggi, bibir yang kemerahan serta rahang yang tegas. Sebenarnya Justin sangat


tampan, bahkan lebih tempan dari mantan suaminya dulu. Tapi, entahlah, dari


dulu hingga sekarang rasa nya tetap sama. Ia hanya menganggap Justin sebatas


teman.


“Secapek apa sih, sampe-sampe dengkurannya keras banget.” Gumamnya di dalam hati sambil


tetap memperhatikan Justin. Kegiatannya terhenti karena Justin sedikit terusik


dari tidurnya. Segera Adeela pura-pura menutup matanya. Jangan sampai ia


ketahuan kalau ia memperhatikan Justin sedari tadi.


Sesuai dugaannya, Justin pasti telah terbangun karena suara dengkuran tidak lagi


terdengar. Kini terdengar Justin sedang menguap di sampingnya. Adeela masih


berpura-pura menutup matanya. Namun entah mengapa, rasanya Justin sedang


menatapnya. Ia bisa merasakan itu. Cukup lama mereka seperti itu.


“Aku tahu kamu sudah bangun!” Bisik Justin di telinganya.


Bulu kuduk Adeela rasanya meremang diperlakukan seperti itu. Ia menghela nafas dan


dengan perlahan kedua matanya ia buka.


“Yaudah, lepas kalau begitu. Badan aku pegal semalaman jadi bantal guling kamu.” Sambil


mengerucutkan bibirnya.


Justin hanya bisa terkekeh, karena memang ia memeluk Adeela semalaman dengan posisi yang


seperti itu takut nanti Adeela jatuh. Yaelah, modus aja lu babang bule,


hiihihi, gumam Author di tengah-tengah ketikannya.


“Yaudah, tapi sebelum itu, mana morning kiss nya!” Sambil memajukan bibirnya. Namun


siapa sangka bukannya menyambut dengan bibir, malah dibalas dengan jentikan


jari lentik Adeela.


“Aww...sakit, sayang!” Sambil mengelus bekas sentilan Adeela di bibirnya.


“Sayang, sayang, mau lagi?” Jari Adeela sudah terangkat, namun secepat kilat Justin


menutup mulutnya dan menggelengkan kepalanya.


Adeela bangun dan memperbaiki pakaiannya. Sedangkan Justin, ia masih berada pada


posisi tadi masih mengelus bekas sentilan Adeela.


“Nenek sudah bangun ternyata!” Ujarnya saat melihat Nenek menatap kearah mereka.


Adeela berjalan kearah ranjang dan duduk di samping Nenek.


“Sudah dari tadi, sayang. Nenek habis melihat pertunjukan tadi.” Ujar Nenek sambil


tersenyum memperlihatkan gigi kelincinya.


Pertunjukan yang Nenek maksud adalah, saat Adeela dan Justin sedang bertengkar ala-ala.


Adeela hanya bisa tersenyum malu karena Nenek pasti telah melihatnya tadi kasar


sama cucu kesayangannya.


“Kalian berdua lucu.” Ujar Nenek sambil menatap Adeela dan Justin bergantian.


Adeela hanya menanggapi dengan senyuman tipis detik berikutnya ia beralih menggenggam


tangan Nenek.


“Gimana perasaannya, Nek, udah agak enakan?”


“Nenek sudah sehat, kok, sayang. Nih, udah bisa gerak-gerak.” Sambil menggoyangkan


kedua tangannya.


“Jangan banyak gerak dulu, Nek. Banyakin istirahat, biar Nenek bisa sembuh dan sehat


lagi.”


“Nenek sudah sehat, kok, sayang. Kayaknya hari ini Nenek sudah bisa pulang. Nenek


bosan nyium bau obat terus!”


“Yakin, Nenek udah sehat?”


“Yakin, sayang. Nih, Nenek udah sehat.” Sambil menggoyang-goyangkan tangannya bergerak


ke atas dan ke bawah.


Adeela yang melihatnya pun tak tega untuk menyangga ucapan Nenek, melihat besar


harapan Nenek untuk bisa kembali pulang.


Justin berjalan mendekat dan berhenti di samping Adeela.


“Yaudah, kalau Nenek udah agak enakan, nanti aku akan tanya sama dokter apakah Nenek


sudah bisa pulang atau belum.”


“Makasih, Ntin!” Justin menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


“Yaudah, mending sekarang Ntin, anterin Nak Adeela pulang dulu. Kasihan, Adeela capek


seharian sudah jagain, Nenek.”


“Enggak sama sekali,kok, Nek. Malah Deela senang bisa jagain Nenek di sini.”


“iya, sayang. Tapi ada baiknya kalau kamu pulang dulu, istirahat. Nenek juga kayaknya


bisa pulang sebentar.”


“Yaudah, Deela tungguin aja sampai Nenek pulang.”


“No, no! Pulang istirahat, sayang. Kamu tenang saja, Ada Ntin yang akan anterin Nenek


pulang.”


Adeela menghembuskan nafas pelan. Kalau sudah seperti ini, Adeela pun tidak bisa


menolak. Padahal ia sangat ingin menunggu dan menemani Nenek hingga pulang.


Adeela pun pulang dengan diantar oleh supir pribadi Nenek. Justin tidak bisa mengantar


Adeela pulang kali ini, karena ia ingin berbicara tentang kondisi Nenek pada


dokter.

__ADS_1


^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^


Selepas pulang dari rumah sakit, Adeela diantar pulang ke rumahnya. Setelah itu, ia


mandi dan bersiap-siap untuk mampir ke toko nya sebentar. Niat hati ingin


sebentar, nyatanya ia harus menemani karyawan nya karena hari ini banyak sekali


pengunjung, sedangkan salah satu karyawannya izin tidak masuk dikarenakan


sedang sakit. Adeela pun harus tinggal melayani pelanggan dan pulang pada saat


hari sudah menjelang sore.


Adeela pun sampai di rumahnya tepat pada jam 5 sore. Ia mandi dan beristirahat


sebentar setelah itu ia berencana akan mengunjungi Nenek Rosi untuk melihat


keadaannya.


Saat badannya telah menyentuh kasur empuknya, tak membutuhkan waktu yang lama untuk


ia terlelap. Banyaknya pengunjung di toko nya membuat badannya butuh istirahat


sebentar.


^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^


“Yaampun, aku lupa kalau mau jengukin, Nenek.” Ucapnya saat ia terbangun dari tidurnya.


Dilihatnya jam yang terpasang di dinding menunjukkan sudah lewat dari jam 6.


“Mana belum sholat lagi.” Ia pun segera bangkit dari kasurnya dan berjalan menuju


kamar mandi untuk ambil air wudhu dan segera melaksanakan sholat maghrib yang


telah lewat beberapa menit.


Sehabis melaksanakan ibadah sholat maghrib, Adeela ingin membuka mukenah yang ia


gunakan. Namun ketukan di pintu beberapa kali membuatnya mengurungkan niat


membuka mukenah nya. Hanya bagian bawah yang ia lepas dan segera berjalan


menuju lantai bawah untuk membuka pintunya.


Saat pintu sudah terbuka, terlihat lelaki yang selama dua hari ini selalu ia lihat.


Siapa lagi kalau bukan si bang bule.


“Ada apa?”


“Suamimu tidak disuruh masuk, nih?” Adeela menautkan alisnya. Detik berikutnya, ia baru


tersadar kalau ternyata ternyata ia telah resmi menikah dengan Justin.


Pernikahan mendadak kemarin membuatnya lupa akan satu hal itu.


Di bukanya pintu rumahnya lebar dan mempersilahkan Justin masuk. Setelah menutup


pintu ia pun berjalan masuk diikuti Justin di belakangnya.


Di bawa nya Justin duduk di sofa.


“Gimana keadaan Nenek? Udah bisa pulang?”


“Heem. Nenek sudah diisinkan pulang dengan catatan tidak boleh terlalu kecapean. Dan


sekarang kondisi Nenek sudah ada peningkatan.”


“Syukurlah, kalau begitu. Yaudah, kalau begitu aku siap-siap dulu, aku mau jengukin Nenek.”


Ujarnya berdiri dari duduknya, namun tangannya langsung di tarik oleh Justin. Adeela


menengok ke samping, “Kenapa lagi?”


“Besok aja jengukin Nenek. Nenek butuh istirahat. Jadi, jangan diganggu dulu.”


“Oh, yaudah, yang penting Nenek sudah membaik.”


Justin pun melepaskan pegangan tangannya dan berdiri di samping Adeela.


yang menikahinya secara mendadak. Ibarat orang sakit, pahit tidak pahitnya


makanan, tetap harus ia telan.


Mereka berdiri layaknya orang bodoh. Saling diam-diaman. Suasana yang canggung. Tapi


yang buat Adeela heran adalah, tidak biasanya lelaki di sampingnya ini bersikap


seperti ini.


“Mmm...kamu sudah makan?” Tanyanya memecah keheningan.


“Be-lum.”


“Kamu mau makan masakan aku atau kita makan di luar aja?” Tanya Adeela memberi dua


pilihan karena jangan sampai Justin lebih memilih makan di luar, supaya lebih


cepat, pikirnya.


“Masakan kamu aja, deh. Udah bosan makan-makanan dari luar. Mau nyoba masakannya, istri!”


Godanya.


“Ih apaan sih!” Yaudah. Aku ke atas dulu. Tunggu bentar.” Justin hanya


menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Adeela pun berjalan ke lantai atas


rumahnya dan mengganti mukenah yang tadi ia kenakan dengan hijab rumahan yang


panjangnya sebatas dada.


Tak membutuhkan waktu yang lama, Adeela sudah berjalan menuruni tangga dengan


setelan ala rumahannya. Segera ia ke dapur dan memulai proses memasaknya. Di


bukanya kulkas dan melihat kira-kira menu apa yang bisa di masak malam ini.


Setelah mengeluarkan sayuran dan ayam dari kulkas, Adeela pun memulai proses


masaknya malam ini.


Ditengah kegiatan masaknya, sesekali ia melihat ke depan dan mencari sosok Justin. Namun


sayang, Justin tak menampakkan batang hidungnya. Kira-kira kemana suaminya itu.


Memikirkan kata ‘suami’ rasanya agak berbeda. Bersuami seorang Justin tidak


pernah terfikir dalam benaknya mereka akan berjodoh. Mereka yang tidak pernah


akur dari mulai sekolah menengah atas hingga sekarang. Tapi, kembali lagi,


benar kata Justin kemarin, mereka tidak akan berada pada posisi ini jika tidak


ada campur tangan Tuhan di dalamnya.


Adeela


pun kembali fokus pada masakannya. Ia tidak menyadari jikalau ternyata Justin


telah duduk manis di meja makan dan sedang memperhatikannya serius memasak.


Saat Adeela kembali melirik ke depan mencari sosok Justin, ternyata yang dicari


sedari tadi sedang memperhatikannya memasak sambil menopang dagunya dengan


kedua tangannya. Justin melempar senyum genitnya, namun dibalas pelototan dari


Adeela.


30 menit kemudian Adeela pun telah selesai dengan proses memasaknya.


“Bantuin!” Dengan sigap Justin membantu Adeela membawa semua makanan dan dihidangkan di


meja. Adeela memasak sayur sop dan ayam tumis kecap dan nasi yang masih panas.

__ADS_1


Sangat menggugah selera hasil masakan Adeela.


“Kayaknya enak, nih!” Ujarnya saat akan menyendokkan makanan ke dalam piringnya


“Pastilah, orang yang masak aku!” Bangganya.


Mereka pun makan dengan lahap dan Justin menghabiskan makanan yang terhidang di meja.


“Gimana hasil masakan aku?”


“Lumayan!”


“Lumayan tapi nambah ampe habis.”


Justin hanya tersenyum menanggapinya. Setelah itu, ia membantu Adeela membereskan


piring kotor dan membersihkan dapur. Adeela cuci piring dan Justin membersihkan


meja.


“Akhirnyaselesai juga!” Ucap Adeela setelah selesai mencuci piring bekas makannya tadi.


Adeela mendekati Justin yang masih duduk menunggunya di meja makan.


“Mau pulang sekarang?”


“Enggak!” Tolaknya.


“Terus?”


“Mau tidur di sini nemenin kamu. Besok barang-barang kamu dipindahin ke rumah aku.”


“Kok gitu? Aku tetap akan tinggal di sini?”


Justin menghebuskan nafas kasar setelah itu ia pandangi Adeela yang masih berdiri di


depannya.


“Kamu mau selamanya tinggal terpisah sama aku?. Kamu itu sekarang istri aku Adeela.


Saat kemarin kita sah sebagai pasangan suami-istri, mulai saat itu kamu adalah


tanggung jawab aku!”


Adeela menarik nafas dalam tidak ingin berdebat dengan Justin. Adeela kini tidak punya


pilihan lain karena ia sekarang adalah seorang istri.


Setelah selesai sholat isya, Adeela dibantu oleh Justin untuk mengemas pakaian yang


akan ia bawa nanti. Setelah selesai semuanya, Adeela pun duduk di pinggir


ranjang, sedangkan Justin ia duduk di sofa.


Adeela masuk ke dalam kamar mandi dan mencuci wajahnya. Setelah selesai melakukan


perawatan malamnya, ia pun keluar dari sana dan kembali berjalan ke atas kasur.


Dipandangnya Justin yang duduk sambil menunduk. Lagi-lagi Adeela hanya bisa menghela nafas.


“Kamu belum ngantuk? Tanyanya


“Belum. Kamu tidur duluan aja.”


Adeela pun naik ke atas ranjang dan membuka hijab yang melekat di kepalanya. Dengan


cepat ia simpan di atas nakas dan membaringkan badannya  menggunakan selimut membelakangi Justin.


Semua hal itu tidak luput dari tatapan mata Justin.


^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^


“Jangan lari-lari, sayang nanti jatuh!”


Bukannya menurut apa yang Bundanya katakan, gadis kecil itu malah semakin berlari kesana


kemari.


“Kejar Nurhan, Bunda!” Teriaknya dengan antusias. Raut wajah bahagia tidak pernah


lepas dari wajahnya.


Adeela hanya bisa tersenyum melihat keaktifan anaknya. Dengan penuh kebahagiaan,


Adeela mengejar anaknya yang sudah jauh ke depan dengan sesekali melambaikan


tangan kearahnya.


“Nurhan, awas ya kalau Bunda tangkap bakalan Bunda gelitikin!” Teriaknya, yang malah


semakin membuat si gadis kecil semakin aktif berlari dengan riangnya.


Saat akan menggapai anaknya, tanpa dia duga ada sebuah mobil sedan berwarna hitam


dengan kecepatan tinggi menabrak badan anaknya.


Adeelamembelalakkan matanya melihat kejadian itu.


“Nurhan!!!” Teriknya histeris. Anaknya kini telah terbaring di atas aspal dengan darah yang


terus mengucur dari hidung dan kepalanya.


Adeela berjalan dengan langkah yang gontai kearah anaknya. Di peluknya anakya yang


telah berlumur darah segar. Ia berteriak histeris dan meraung-raung menangisi


anaknya.


“Nurhan, bangun, sayang.” Ucapnya dengan berurai air mata. Air mata kepedihan melihat


badan kecil anaknya yang kini tidak berdaya.


Suara mobil tertutup mengalihkan perhatiannya. Orang yang menabrak anaknya tadi


rupanya turun dari sana dan berdiri menatapnya dan anaknya bergantian. Orang


itu tidak melakukan apapun dan hanya menjadi penonton akan apa yang terjadi di


depannya.


Dengan kilatan kemarahan, Adeela menatap lelaki tadi.


“Jahat kamu, mas! JAHAT!!!”


“Deel, Deel, hey kamu kenapa?” Ucap Justin berusaha membangunkan Adeela yang dari tadi


berteriak dan meneteskan air mata di dalam tidurnya. Justin menepuk-nepuk pipi


Adeela hingga akhirnya Adeela pun tersadar dari mimpi buruknya.


“Kamu mimpi apa, sampai-sampai nangis kayak gini? Tanyanya khawatir melihat Adeela


yang berteriak layaknya orang memendam sakit hati mendalam disertai air mata


yang mengalir di wajahnya.


Bukannya menjawab, Adeela malah menutup wajahnya dengan kedua tangannya  semakin terisak dan menangis dengan


sesenggukan. Justin tidak lagi bertanya, ia segera mendekap Adeela erat dan


mengelus-elus punggungnya.


Cukup lama Adeela menangis hingga akhirnya karena  terlalu lelah, ia pun tertidur  di


dalam pelukan Justin. Justin masih setia mendekap Adeela erat dengan sesekali


ia usap punggung wanita yang kelihatannya sangat kesakitan ini.


“Tenanglah, aku ada di sini!” Ucapnya lirih dengan masih memeluk Adeela erat guna


menenangkannya.


^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^


Happy reading kakak


Kalau kalian suka, like, komen dan vote nya juga jangan lupa.

__ADS_1


Salam story from By_me


__ADS_2