
"Deel!" Panggil Justin dari arah ranjang. Adeela mengikat rambut panjangnya dan memakai hijab instant yang menutup dada. Rencananya, malam ini, ia ingin menemani Mommy Bella untuk memasak. Sekalian ia ingin mulai mendekatkan diri dengan ibu Mertuanya itu.
"Ada, apa, Ntin?" Jawabnya masih memperhatikan dirinya di depan cermin. Kalau Adeela sedang malas-malasnya, maka hanya akhir nama suaminya yang ia sebut.
"Sini dulu!" Panggilnya lagi sambil menepuk-nepuk kasur di sebelahnya.
Adeela pun mau tidak mau mendekati suaminya dan duduk dengan saling hadap-hadapan.
"Ada apa?" Tanyanya menatap Justin yang masih menggunakan peci bulat putihnya. Baru saja tadi, mereka melaksanakan sholat maghrib berjamaah. Diperhatikan lebih dekat seperti ini aura ketampanan seorang Justin semakin memancar. Peci putih, koko putih dan plus biji mata hijaunya mampu menghipnotisnya. Kenapa baru sekarang ia baru sadar jika Justin setampan ini. Bisiknya dalam hati.
"Enggak usah ke bawah ya. Di sini aja, temenin aku."
"Enggak bisa, lah, Mas. Mas mau kalau aku disebut menantu durhaka. Masa mertua baru datang, aku duduk santai di sini, sih. Enggak mau! Aku udah janji sama Mommy tadi mau masak bareng."
"Di sini aja temenin aku, enggak usah ke bawah. Mommy sama Papi pasti ngertilah, kan kita pengantin baru! Mereka juga pasti pernah ngerasain yang namanya pengantin baru. Pengennya berdua mulu!" Jawabnya sambil mengerling nakal. Melihat suaminya seperti itu membuat Adeela seketika melototkan matanya.
"Apa sih kamu, Mas. Kurang kerjaan banget, deh. Udah, sekarang aku mau turun bantuin Mommy masak. Berdua sama kamu bisa bikin aku tambah pusing tahu, Enggak!" Adeela menghindar dan sesegera mungkin turun dari atas kasur. Sikap jahil Justin sedang on. Ia harus segera keluar dari sini. Sebelum terlambat, pikirnya.
"Deel, Deel!" Justin masih memanggil-manggil namanya dari dalam kamar. Adeela menghiraukannya dan berjalan menuruni tangga menuju ke arah dapur. Saat baru beberapa tangga ia pijak, Justin tiba-tiba ikut berjalan di sampingnya sambil memamerkan senyum khas nya.
"Wah, wah, wah, pengantin baru ini kemana-mana selalu berdua. Udah kayak perangko enggak pernah lepas." Goda Papa saat melihat anak dan menantunya dari arah lantai atas. Adeela yang digoda seperti itu hanya bisa menampakkan senyum salah tingkahnya. Sedangkan Justin, ia terlihat santai-santai saja.
"Namanya juga pengantin baru, Pa. Kemana-mana maunya berdua. Menantu Papa ini manjanya enggak ketulungan. Maunya nempelin aku mulu!"
Adeela melototkan matanya dan menyubit kecil lengan suaminya.
"Kamu ngomong apaan, sih. Jangan buat aku malu di depan, Papi!" Bisik Adeela di samping suaminya. Justin yang mendengarnya hanya menampilkan senyum menyebalkannya tanpa menghiraukan istrinya.
"Mana ada Adeela yang nemplok-nemplokin kamu, Ntin. Bukannya kebalik ya? Kamu yang selalu nempelin Adeela kemana-mana. Udah kayak anak ayam yang ikutin induknya kemana-mana." Bela Nenek pada cucu menantunya.
__ADS_1
"Mana ada, Nek. Orang Adeela..." Perdebatan antara Nenek dan Justin pun dimulai. Papa yang tersangka utama malah membawa Adeela pergi dari sana dan mengajak Adeela untuk menemui istrinya yang ada di dapur. Sudah bukan hal yang baru lagi Nenek dan cucu itu saling debat, walaupun untuk hal-hal kecil.
"Mommy masak apa malam ini?" Tanya Papi Bagas saat mereka telah sampai di dapur.
Mommy yang mendengar suara Papi pun mendongak dan mendapati suaminya bersama dengan menantunya. Senyum hangat ia berikan untuk suami dan menantunya.
"Rencananya, malam ini Mommy mau buat masakan khas Indonesia, Pi. Aku kangen banget mau makan masakan Indo lagi. Papi kan tahu, di luar negeri bahan-bahannya beda banget sama di sini. Jadi, untuk malam ini, Mommy buat makanan Indo sama menantu baru kita, Pi." Jawabnya sambil mengangkat dagunya kearah Adeela.
Adeela pun tersenyum hangat dan mengangguk mengiyakan ucapan mertuanya.
"Yaudah, kalau gitu, Papi bakalan nunggu hasil masakan Mommy sama menantu kita. Papi sudah tidak sabar mau mencoba hasil masakan menantu kita, Mi."
"Sabar dong, Pi. Mending sekarang Papi ke depan aja. Biarin Mommy sama anak Mommy konsentrasi masaknya. Kalau ada Papi di sini, masakan Mommy pasti enggak jadi-jadi. Papi mending ke depan aja. Mommy mau quality time sama menantu kita. Girls time."
Setelah kepergian Papi, Mommy pun melanjutkan kegiatan masak-memasaknya dengan menantu baru nya.
Adeela yang memang sudah sangat lihai di dapur, tanpa disuruh, ia membantu Mommy dengan berbagai menu di depan mereka.
Adeela yang dipuji seperti itu pun tersenyum sekilas. "Lumayanlah, Mi. Tapi yang di masak, ya, itu-itu aja. Masakan rumahan. Kalau untuk masakan luar negeri, Deela belum pernah sih buatnya, Mi. Deela enggak mau nanti rasanya jadi aneh." Mami yang mendengarnya pun tersenyum mendengar kepolosan menantunya.
"Berarti hari ini adalah hari keberuntunganmu, Nak. Mulai sekarang, Mami yang akan menjadi instruktur untuk ngajarin kamu masak makanan barat." Mendengar ucapan mertuanya, seketika membuat Adeela bersemangat. Ajakan yang sangat menggiurkan, pikirnya. Sudah dari dulu ia ingin mencobanya. Dan sekarang, kesempatan terbuka lebar di depan mata.
"Deela mau, Mi. Mau banget!" Jawabnya antusias. Mami yang melihatnya pun tersenyum lembut sambil memperhatikan dengan lamat-lamat. Ekspresi Adeela yang seperti itu sangat mirip dengan seseorang yang sangat berarti baginya.
Lagi-lagi cairan bening mengalir di sudut matanya. Segera mungkin Mommy menghapus air matanya selagi Adeela fokus dengan memotong sayuran.
"Deela mau tahu satu rahasia, enggak."
Adeela menganggukan kepalanya. Persoalan rahasia adalah hal yang sangat ingin ia dengar. Mommy memberi kode dengan tangannya agar Adeela semakin mendekat agar Mommy bisa menceritakan rahasia yang dimaksud. Mommy melirik sekilas pada orang yang sedari tadi memperhatikan mereka di balik tembok. Mommy akan memulai aksinya.
__ADS_1
"Tapi Adeela jangan bilang siapa-siapa ya!" Ujarnya pelan.
Dengan yakin Adeela pun menganggukkan kepalanya.
"Sebenarnya Justin itu badannya aja yang gede, tapi sebenarnya dia itu... pinky boy, loh! Garis keras"
"Emang, iya, Mi?" Tanya Adeela memastikan. Dengan mantap, Mommya mengangguk membenarkan. Adeela mengulum senyumnya membayangkan bagaimana bisa seorang Justin adalah seorang Pinky boy. Garis keras. Mommy yang telah berhasil mengerjai anaknya, melirik pada orang yang sedari tadi menguping kini telah berjalan menuju ke arah mereka dengan ekspresi kesal.
"Mana ada, Justin penyuka warna pink. Mami boongin kamu, Deel. Jangan percaya sama Mommy!" Bukannya percaya, Adeela malah tidak bisa lagi menahan tawanya. Tawanya pun pecah disusul oleh Mommy di sampingnya.
"Akui saja, Justin. Kamu kan dulu sangat suka dengan warna pink. Malah dulu kamu kalau mau jalan atau kemana selalu pakai baju warna pink. Apalagi kalau kamu keluar sama a..." Mommy seketika bungkam. Pandangan Mommy tiba-tiba berubah sendu. Untuk sesaat, Mommy menundukkan kepalanya. Menarik nafas panjang. Mommy membuang muka ke samping. Terlihat dari gerak-gerik Mommy jikalau ia sedang menghapus air matanya.
Justin pun begitu. Terlihat tangannya ia kepal di samping badannya. Tiba-tiba saja suasana di dapur menjadi hening. Ada apa sebenarnya dengan Mommy dan Justin yang tiba-tiba berubah sendu begini.
"Mommy mau ambil handphone di kamar dulu, ya, sayang. Mommy sebentar aja, kok. Deela lanjutin aja dulu. Nanti Mommy balik lagi." Mommy melepas apron yang melekat di badannya dan segera berjalan dengan cepat menuju lantai atas.
Banyak sekali pertanyaan di dalam benak Adeela. Ada apa sebenarnya? mengapa Mommy yang tadi ceria tiba-tiba saja berubah menjadi mellow. begitupun dengan Justin yang melakukan hal yang sama.
Adeela kembali menatap wajah suaminya yang sekarang sudah memerah padam. Jangan lupakan kedua tangannya yang ia kepal. Baiklah, sekarang bukan waktu yang tepat untuk bertanya .
Adeela mendekati suaminya dan mengambil kedua tangannya untuk ia genggam. Apa yang Adeela lakukan seketika membuat Justin tersadar. Tangannya sudah tidak lagi terkepal. Mereka menatap dalam diam. Jemari dan telapak tangan lembut Adeela membelai wajah suaminya. Bertanya lewat tatapan mata ada apa sebenarnya? Justin yang mengerti pun, hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Kamu mau bantuin aku? Mommy masaknya banyak banget. Masih ada dua menu yang belum selesai. Mau, ya?"
Justin hanya menganggukkan kepalanya dan mulai membantu Adeela untuk memasak.
************
Happy reading kakak. Mulai besok kita akan masuk pada masa-masa panas yakš¤
__ADS_1
Pantengin terus lah pokoknya!
Salam story from By_me