
"Ekhemm!" Deheman lelaki yang berada di pintu kamar rawatnya, membuat Adeela dan Justin melepaskan pelukan mereka. Saat Adeela menghadap ke pintu masuk, matanya ia fokuskan ke satu objek itu.
"Dokter Riko!" Ujarnya masih tidak percaya bisa bertemu dengan dokter yang dulu merawatnya saat sedang koma.
Justin yang berada di samping istrinya pun seketika memfokuskan matanya ke depan dengan kening yang berkerut.
Dokter Riko tersenyum dan melambai pada orang di depannya itu.
"Hai, masih ingat sama aku?" Tanyanya basa-basi.
Adeela tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Masih lah, dok. Masa iya aku lupa!" Jawabnya.
"Aku ganggu enggak ini?" Tanyanya pada Adeela dan Justin karena kedatangannya tadi mengganggu momen kedua orang di depannya ini.
"Ganggu banget!" Jawab Justin. Namun hanya mampu ia ucapkan di dalam hati.
"Enggak sama sekali, kok, dok. Silahkan duduk, dokter. Masuk, masuk." Ujarnya menyilahkan dokter Riko untuk duduk di sofa.
"Bagaimana keadaan kamu sekarang?" Tanya dokter Riko saat sudah duduk di sofa.
"Alhamdulillah, sudah membaik, dok. Bagaimana dengan dokter sendiri? Dokter sekarang kerja disini? Sudah lama kerjanya?" Tanyanya karena Adeela melihat dokter Riko mengenakan Snelli (jas dokter) dan papan nama berlogo rumah sakit tempatnya di rawat.
Dokter Riko lagi-lagi tersenyum mendengar pertanyaan Adeela yang menyerbunya.
"Iya, saya sudah sekitar dua bulan pindah ke sini. Saya pindah karena ada hal yang harus selalu saya lakukan di sini. Daripada bolak-balik, ada baiknya kalau saya pindah ke sini."
Adeela menganggukkan kepalanya mengerti.
Pembicaraan diantara mereka pun berlanjut, sampai pada akhirnya Justin menginterupsi obrolan mereka.
__ADS_1
"Oh, iya aku lupa. Kenalin, dok, ini suami aku namanya Justin."
"Dokter Riko!"
"Justin, suami Adeela!" Ujar Justin kembali pada mode cool.
Dokter Riko kembali memulai obrolan dengan Adeela dan mengabaikan Justin. Justin yang melihat interaksi istrinya dan juga dokter yang sialnya lumayan ganteng itu. Walaupun lebih ganteng dirinya, mendengus tidak suka. Justin pun berusaha mencari topik agar istrinya bisa beristirahat. Namun itu hanya alibi nya saja.
"Dokter sudah punya pasangan?" Tanyanya to the point.
Dokter Riko mengerutkan keningnya karena lelaki di depannya langsung menanyakan hal yang sangat cukup pribadi menurut-nya.
"Belum. Memangnya kenapa?" Jawabnya juga tak kalah to the point.
Baru saja Justin akan menjawab, Adeela sudah menyela pembicaraan kedua lelaki di depannya ini. Situasinya sedang tidak kondusif.
"Mas, aku pengen deh, minum susu kemasan yang ada di kulkas." Pintanya pada suaminya. Mencoba mengalihkan topik.
Justin yang awalnya ingin melanjutkan sesi obrolan intens dengan dokter di depannya pun mau tak mau menuruti kemauan istrinya.
"Tidak perlu, Adeela! Saya sudah harus pergi lagi. Saya harus kembali ke ruangan saya. Masih banyak yang harus saya kerjakan." Tolaknya.
"Tapi dokter belum minum, loh!"
"Tidak apa-apa, saya juga niatnya hanya mampir sebentar mau lihat kondisi kamu."
Adeela pun tidak bisa menahan dokter Riko lebih lama lagi. Karena keasyikan berbicara tadi, ia jadi lupa menjamu tamu nya.
"Ya sudah, kalau begitu saya permisi dulu. Saya duluan, pak Justin." Pamitnya pada Justin.
Saat dokter Riko telah keluar, Justin melipat tangan di depan dada dan menggerutu sendiri telah dipanggil Pak oleh dokter Riko tadi.
__ADS_1
"Kamu kenapa sih, mas? Aku yang hamil kok kamu yang hormonnya naik turun."
"Enggak apa-apa!"
Adeela menarik nafas panjang dan menghembuskannya. Daripada ia kecapean meminta penjelasan, lebih baik jikalau ia rebahan saja.
Direbahkannya badannya kembali ke kasur dengan posisi menghadap pada suaminya.
"Kamu udah hubungin Mama tentang kejadian ini?"
Justin menggelengkann kepalanya.
"Aku lupa hubungin mereka. Dari kota S, aku langsung menuju ke sini dan belum sempat menghubungi mereka."
"Enggak usah, mas! Kalau kamu kasih tahu Mama dan orang-orang di sana, bisa-bisa mereka khawatir. Biar masalah ini, hanya kita yang tahu. Biar mereka menghabiskan masa liburannya di kampung."
"Ya sudah kalau itu kemauan kamu." Jawabnya juga setuju dengan usulan istrinya. Ada benarnya apa yang istrinya katakan. Yang ia khawatirkan adalah Nenek. Nenek saat telah sayang pada seseorang, maka apapun akan ia lakukan.
"Nanti kita kabari keluarga tentang berita bahagia ini kalau kita sudah sampai di rumah saja."
"Iya, terserah mas saja!"
Setelah beberapa hari dirawat di rumah sakit, Adeela pun diperbolehkan untuk kembali pulang
ke rumahnya. Seperti janji Justin waktu itu di rumah sakit, ia pun memberitahukan perihal kabar bahagia ini kepada keluarganya di sana. Semua keluarga menyambut dengan suka cita akan kabar bahagia yang mereka dapatkan. Sudah lama sekali Mommy, Papi dan Nenek mendambakan kehadiran seorang malaikat kecil diantara mereka.
Setelah mengetahui tentang kabar kehamilan Adeela, Mommy, Papi dan Nenek segera kembali ke Jakarta keesokan harinya.
Untuk masalah di toko waktu itu yang terekam kamera CCTV, Justin pasti akan memberikan imbalan pada Mama Farhan. Terutama pada Farhan sendiri. Ia akan memberikan kejutan pada mantan sahabatnya itu. Kata sahabat sudah ia hapus dari dalam kamusnya untuk lelaki satu itu. Hanya tinggal menunggu waktu saja agar ia bisa memberikan kejutan pada teman mitra kerjanya itu.
walaupun Justin adalah pribadj yang baik pada orang-orang terdekatnya, namun ada juga sisi di dalam dirinya yang meronta ingin keluar. Rasanya, ia ingin segera bertemu dengan Farhan dan memberikan kejutan besar sebagai tanda putusnya hubungan persahabatan mereka.
__ADS_1
*******
Salam story from By_me