MEMBALAS PERSELINGKUHANMU

MEMBALAS PERSELINGKUHANMU
Rumah Sakit


__ADS_3

"Mbak Adeel!" Teriak para karyawan Adeela yang saat itu juga diam-diam menyaksikan perdebatan yang terjadi. Semua orang seketika panik, apalagi saat melihat cairan merah mengalir di ujung kaki bu bos mereka. Semua orang mengerubuni Adeela yang saat ini sedang dipeluk oleh Putri dengan posisi yang masih duduk. Terlihat juga beberapa pengunjung yang baru saja masuk, juga menghampiri Adeela yang sedang tidak sadarkan diri.


Sebenarnya tadi saat bu bos nya dan wanita paruh baya itu sedang berbicara serius, Putri berada di dekat meja bu bos nya. Ia sedang membersihkan kaca yang berada di sudut ruangan. Gerak-gerik bu bosnya yang berbeda dan seperti akan terhuyung ke samping membuatnya dengan sigap menangkap badan bu bos nya sehingga Adeela tidak jatuh ke lantai.


"Mbak Adeel!" Teriaknya dan berusaha menyadarkan Adeela dengan menepuk-nepuk pipi Adeela. Namun apa yang ia lakukan tidak membuahkan hasil.


Tante Rike menampakkan raut wajah tegangnya akan situasi yang terjadi di depan matanya. Adeela pingsan setelah perdebatan mereka tadi. Dengan cairan merah yang nampak di sudut kaki mantan menantunya itu. Tante Rike bingung mau melakukan apa. Selain karena shock, ia juga takut saat melihat adanya darah seperti itu.


"Tolong telepon ambulance!" Teriak Putri pada orang-orang yang mengerubuni mereka saat ini.


Karyawan Adeela pun segera menghubungi nomor panggilan darurat. Namun belum sempat ia memberitahukan alamat yang dituju, seorang lelaki sudah menyela ucapannya dan menawarkan bantuan.


"Pakai kendaraan saya saja. Kalau menunggu ambulance yang datang, akan memakan waktu yang lama. Sedangkan perdarahannya tidak bisa dihentikan. Mbak ini membutuhkan penanganan segera."


Semua orang pun menyetujui usulan lelaki itu.


"Kamu ikut sama saya bawa Mbak ini ke rumah sakit." Tunjuknya pada Putri. Putri dengan cepat menyanggupi permintaan lelaki tadi.


Si lelaki tadi pun meminta izin dan mengangkat badan Adeela ala bridal style segera menuju kendaraannya.


Setelah kepergian Adeela, para karyawan Adeela pun menatap intens wanita paruh baya yang tadi sempat berbicara dengan bu bos mereka. Tante Rike yang ditatap oleh semua orang pun melengos pergi.


Tidak membutuhkan waktu yang lama karena jalanan yang lenggang, mereka sampai dengan keadaan Putri yang mengucapkan semua kalimat tasbih dan Zikirnya di jok belakang. Lelaki yang sedang mengendarai mobil di balik kemudi itu, sepertinya tidak menggunakan remnya. Putri mengucapkan syukur karena dapat sampai dengan selamat di rumah sakit tujuan.


Lelaki tadi segera mengangkat Adeela dan membopongnya menuju UGD. Penanganan awal dan pencegahan perdarahan pun segera di lakukan. Suster menutup tirai pembatas agar memudahkan mereka untuk melakukan tindakan. Putri dengan rasa takut dan khawatirnya menunggu di depan ruangan UGD. Sedangkan lelaki tadi, entah bagaimana ia bisa lolos dan ikut menemani para suster dan dokter di dalam sana.


"Ya Allah, moga Mbak Adeel baik-baik saja!" Putri bergumam lirih sambil menggigiti kuku jempolnya. Hal itu ia lakukan saat sedang khawatir seperti saat ini.


"Ya ampun, bagaimana bisa aku lupa sama pak Bos!" Ujarnya menepuk jidatnya. Karena kekhawatirannya membuatnya melupakan untuk segera mengabari keluarga dari bu bos nya.


Putri mengecek ponselnya dan lagi-lagi ia menepuk jidatnya. Ia lupa jikalau ia tidak mempunyai nomor telepon suami bos nya. Setelah berfikir sejenak, akhirnya ide terbaik pun terlintas di otaknya.


"Fi, lo ama bang jack ke rumahnya bu bos ya. Kabarin keluarganya tentang keadaan Mbak Adeel. Jangan sampai ada tindakan yang memerlukan persetujuan keluarganya. Ngomongnya pelan-pelan ya, jangan sampe pak Bos kaget."


"_"

__ADS_1


"Ok, Fi. Segera kabarin gue ya. Assalamualaikum."


"_"


Setelah menunggu hampir selama setengah jam, beberapa suster keluar dari sana dengan mendorong brangkar yang diatasnya ada Adeela yang masih belum sadarkan diri. Mereka mendorong Adeela menuju ke sebuah ruangan yang di depannya tertulis Poli Kandungan.


Putri dengan setia mengikuti dari belakang.


Setelah menunggu selama beberapa menit, lelaki tadi dan dokter yang menangangi pun keluar dari sana.


"Bagaimana keadaan Mbak Adeel, dok?"


"Alhamdulillah, perdarahannya dapat dihentikan dengan segera. Sekarang pasien dalam masa observasi. Untung saja, pasien dibawa ke rumah sakit tepat waktu. Jikalau tidak, janin di dalam kandungannya mungkin tidak dapat diselamatkan."


Putri kaget mendengar pernyataan dokter di depannya. Semua ini gara-gara Nenek lampir yang tadi. Untung saja bu bos nya tidak kenapa-napa.


"Seperti yang saya bilang tadi, pasien dalam masa observasi. Jika dalam waktu yang ditentukan, pasien tidak lagi mengalami perdarahan dan sudah stabil. Maka, pasien bisa dipindahkan ke ruangan perawatan.


Putri bernafas lega mendengar ucapan dokter. Kekhawatirannya pun perlahan sirna. Tapi ada satu hal yang membuatnya bahagia. Ternyata bu bosnya sedang mengandung. Pantas saja, selama beberapa hari terakhir ini, wajah dari bu bosnya sangat berbeda dari biasanya. Sangat bercahaya dan semakin tembem.


"Terima kasih banyak sebelumnya, dokter!" Ucap Putri tulus pada dokter yang menangani bu bos yang sudah ia anggap sebagai kakaknya itu.


"Sebelumnya, saya mau bertanya apakah anda keluarga dari pasien?" Tanya si dokter memastikan.


"Bukan, dok. Saya hanya karyawannya bu bos."


Si dokter tadi pun menganggukkan kepalanya mengerti.


"Kalau begitu tolong segera hubungi keluarga pasien. Dan kalau sudah sampai, suruh keluarganya untuk bertemu dengan saya!"


"Baik, dokter. Terima kasih banyak sekali lagi!"


Dokter tadi tersenyum sekilas dan menatap lelaki di samping Putri.


"Kalau begitu, saya tinggal dulu, dokter! Pamitnya pada lelaki yang tadi mengantarnya dan bu bosnya ke rumah sakit. Setelah dokter tadi pergi, kini hanya tinggal Putri dan lelaki yang bersamanya tadi di depan ruangan Poli Kandungan.

__ADS_1


Lelaki di sampingnya itu melipat tangan di depan dada dan menatap lurus ke depan. Ternyata lelaki yang bersamanya sedari tadi adalah seorang dokter. Pantas saja, dia bisa masuk dengan leluasa. Mana lelaki di sampingnya ini ganteng lagi. Duh, buru-buru Putri mengalihkan perhatiannya dari objek yang sangat indah di sampingnya ini. Bisa berabe jikalau jantungnya menjadi bermasalah karena menatap lelaki yang baru ia ketahui adalah seorang dokter.


"Kenapa dunia sangat tidak adil, Tuhan. Sudah ganteng, dokter lagi! Aku, muka biasa aja, mana..." Gumamnya pelan namun masih mampu di dengar oleh lelaki di sampingnya ini.


"Kamu bicara apa tadi?" Tanyanya memotong gumaman Putri ingin memastikan.


Putri gelegapan karena terciduk telah berkata seperti tadi.


"Ah, tidak apa-apa, Pak!" Ucapnya. Di dalam hati ia berharap semoga saja lelaki di sampingnya tidak mendengar ucapannya tadi.


Putri mengalihkan perhatiannya dan berjalan menjauh dari lelaki yang masih setia berdiri di sampingnya. Putri berjalan menuju kursi besi dan duduk di sana.


Putri memperhatikan lelaki di depan sana yang masih stay di tempat layaknya patung dewa. Keningnya berkerut sedang memikirikan sesuatu. Di dalam hati ia bertanya, mengapa lelaki di depannya ini menunjukkan ekspresi seperti itu.


Setelat terdiam cukup lama. Akirnya Putri pun berdiri dan kembali menghampiri lelaki tadi.


"Mmm, sebelumnya saya ucapkan terima kasih karena Anda telah berbaik hati mengantar Mbak Adeela ke rumah sakit. Dan maaf juga karena telah merepotkan, Anda!"


"Tidak masalah!" Jawabnya singkat.


Putri pun menganggukkan kepalanya. Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal karena respon dari lelaki di depannya yang sangat cool. Sedari tadi hanya beberapa kata yang keluar dari mulutnya.


"Mmm, Sebentar lagi keluarga Mbak Adeela akan datang. Jikalau Anda punya keperluan yang mendesak atau ada kerjaan, tidak apa-apa kalau Anda tinggalkan saya sendiri." Ucapnya berusaha sesopan mungkin.


"Kamu mengusir, saya?" Tanyanya menanggapi lain maksud dari Putri.


Putri kembali menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Harus bagaimana ia menyampaikannya agar orang di depannya ini tidak mengartikannnya lain.


"Bukan begitu maksud saya, Pak. Maksud saya, siapa tahu Anda punya keperluan lain...silahkan. Anda sudah berbaik hati mengantar kami sampai di sini. Kami tidak ingin merepotkan Anda terlalu banyak."


"Saya tidak merasa direpotkan!" Jawabnya lagi sangat irit.


Habis sudah sediaan kata-kata Putri. Berhadapan dengan lelaki di depannya ini, membuatnya tak berkutik. Mana dingin banget lagi. Putri adalah spesies yang tidak bisa diam. Dekat dengan lelaki sedingin salju, membuatnya bingung juga mau melakukan apa.


*******

__ADS_1


Jangan lupa di like ya, komen dan vote nya. vote nya kakak" bukan lagi sedikit. Tapi hanya satu orang yg vote🥺 Tp tak apalah....


Salam story from By_me


__ADS_2