
Pukul 01 dini hari barulah Justin tertidur. Banyak sekali yang mengganjal di dalam benaknya. Saat matanya baru saja ia pejamkan, ia kembali terusik karena mendengar suara rintihan tangis dan teriakan dari Adeela. Justin pun berusaha membangunkan Adeela dengan cara mengguncang bahu dan menepuk pipi nya dengan pelan. Namun hal itu tidak membantu sama sekali, Adeela malah semakin terisak di dalam tidurnya. Justin tidak menyerah, ia tetap melakukan hal tadi berharap dengan begitu Adeela mampu tersadar dari mimpi buruknya.
"Jahat kamu, mas, JAHAT!!!" Teriak Adeela di dalam tidurnya. Kata-kata itu terlontar dari mulut nya beberapa kali, hingga akhirnya Adeela pun tersadar dengan air mata dan keringat yang sudah membasahi wajahnya.
Mimpi itu kembali membuatnya merasakan sakit. Apalagi di dalam mimpinya tadi ia melihat mantan suaminya yang menjadi pelaku penabrak anaknya dan hanya menjadi penonton saat anaknya telah terbujur kaku. Memang hanya mimpi, namun mimpi nya tadi seolah menggambarkan saat dulu mantan suaminya juga dulu sama sekali tidak perduli disaat-saat terakhir anaknya membutuhkan dirinya.
"Kamu mimpiin apa? sampai-sampai nangis kayak gini?" Tanya Justin khawatir saat Adeela telah tersadar dari tidurnya.
Bukannya menjawab, Adeela malah kembali terisak sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Justin yang tidak tega melihatnya pun mendekat dan membawa Adeela ke dalam pelukannya.
"Kamu terlalu banyak memedam sakit, Deel!" Gumam Justin di dalam hati. Entah mengapa ia ikutan sakit melihat keadaan Adeela yang seperti ini. Adeela yang galak dan judes padanya, hari ini menunjukkan sisi lemahnya. Diusapnya punggung Adeela dan berusaha memenangkannya. Adeela masih terisak di dalam pelukan Justin. Disaat wanita sedang merasakan sedih dan lemah seperti ini, yang mereka butuhkan hanyalah pelukan dengan begitu ia akan tenang dengan sendirinya.
Adeela menumpahkan kesedihannya di dalam pelukan Justin untuk waktu yang lama. Ia bersandar di dada bidang Justin dan menumpahkan semua luka nya di sana. Karena terlalu lelah menangis, akhirnya ia pun tertidur masih dalam posisi yang sama.
"Tenanglah, ada aku di sini!" Ucapnya lirih saat Adeela telah tertidur di dalam pelukannya.
Jujur saja, Justin tidak terlalu mengetahui tentang masalah yang dulu dialami oleh Adeela hingga akhirnya ia bercerai dengan suaminya. Saat pertama kali bertemu dengan Adeela, Justin di buat shock saat mengetahui bahwa ternyata Adeela adalah istri dari sahabatnya. Bagaimana tidak, Farhan mengakui Adeela sebagai istrinya saat Kyla masih berstatus sebagai istrinya. Karena yang Justin tahu, bahwa Kyla lah istri Farhan dulu. Persahabatan antara Justin dan Farhan baru berjalan beberapa tahun belakangan. Persahabatan itu terjalin saat Justin dan Farhan menangani satu proyek besar beberapa tahun yang lalu. Hingga pada akhirnya, Farhan mengenalkan Kyla sebagai istrinya. Saat pertama kali Justin bertemu dengan Adeela di perusahaan Farhan, ia kira bahwa Adeela adalah istri siri dari Farhan karena Farhan juga tidak terlalu terbuka untuk masalah rumah tangganya padanya. Hingga pada akhirnya Farhan mengutarakan isi hatinya saat ditinggal oleh Adeela dan telah digugat cerai. Tidak bertemu dengan Adeela selama 9 tahun lamanya, sepertinya banyak sekali kejadian yang tidak ia ketahui.
πππ
Sudah semuanya?" Tanya Justin memastikan sekali lagi jangan sampai masih ada barang yang ingin Adeela bawa ke rumahnya.
"Sudah semua. Ini saja yang mau aku bawa."
"Yasudah, kalau begitu kita langsung jalan."
Adeela menganggukkan kepalanya, setelah itu Justin pun melajukan kendaraannya dan melaju membelah jalanan kota Jakarta.
Justin sesekali melirik kearah Adeela. Sejak kejadian malam kemarin, Adeela lebih bayak diam. Terlihat dengan jelas mata sembabnya akibat terlalu lama menangis semalam. Justin tidak ingin dulu terlalu banyak bertanya kali ini, biarlah Adeela menenangkan dirinya.
30 menit kemudian, mereka pun sampai di kediaman Nenek Rosi. Adeela dan Justin turun dari mobil dan berjalan memasuki rumah yang terlihat sangat sepi. Mereka di sambut okeh satpam dan ART nya yang langsung membawa masuk barang-barang dari istri majikannya.
"Nenek kemana, bi?" Tanya Justin saat mereka sudah sampai di ruangan tengah.
"Habis istirahat tadi, Nyonya langsung istirahat di kamar, den!"
"Oh, yaudah. Kalau begitu saya mau ke atas dulu, bi."
"Silahkan, den, non."
Adeela dan Justin pun berjalan ke kamar yang terletak di lantai atas. Kamar yang didominasi dengan warna abu-abu dan putih. Kamar Justin terlihat sangat luas dan rapih terlihat banyak buku tersusun dengan rapi di pojok ruangan, sofa panjang, kamar mandi yang luas, walk in closet serta balkon.
Adeela dan Justin duduk di atas kasur dengan suasana yang hening. Justin bersandar di sandaran ranjang sedangkan Adeela duduk di ujung ranjang sambil memperhatikan sekitaran kamar yang baru ia masuki ini.
"Deel!" Panggilnya membuyarkan fokus Adeela.
"Hmm." Sahut Adeela tanpa menoleh ke belakang.
"Aku mau tidur."
"Yaudah, tidur aja." Jawab Adeela lagi.
__ADS_1
"Kelonin, tapi!" Ujarnya dengan nada manja dan membaringkan tubuhnya menepuk sisi kasurnya yang kosong. Hal itu sukses membuat Adeela bergidik mendengarnya. Sontak saja, Adeela membalikkan badannya dan mendekati Justin di dekat kasur.
"Yaudah, sini aku kelonin!" Ucapnya yang malah membuat Justin memamerkan gigi putihnya. Merasa memenangkan lotre. Namun siapa sangka, Justin meminta di kelonin, nyatanya badannya menjadi samsak empuk dari Adeela. Adeela memukul lengan dan dada Justin yang bukannya membuat Justin kesakitan, malah membuatnya terkikik geli telah berhasil menggoda Adeela. Karena kesal Justin telah mengerjainya, Adeela pun menghentikan pukulannya dan kembali duduk di sisi ranjang dengan mata yang masih melotot menatap Justin.
"Kamu galak amat, sih. Makin gemes deh aku sama kamu!"
"Jangan goda aku terus, Justin. Aku enggak suka."
"Terus kamu sukanya apa?" Tanyanya dengan nada pelan
"Sukanya kalau kamu diam dan enggak ngusilin aku!"
"Ya, gimana dong. Hobi aku dari dulu sampai sekarang tuh ngusilin kamu loh."
"Sarap!"
Justin lagi-lagi terkekeh.
"Jadi, kamu enggak mau ngelonin aku, nih?" Tanyanya lagi yang membuat Adeela memelototkan matanya menatap Justin.
Justin menciut melihatnya. Ia pun tak lagi melanjutkan menggoda Adeela.
"Yaudah, aku mau tidur dulu. Beberapa hari jagain, Nenek, aku kurang tidur." Ujarnya yang membuat Adeela kasihan juga melihat Justin sendiri merawat Neneknya dan harus bolak balik rumah sakit-kantor setiap harinya.
"Yaudah, istirahat yang banyak, biar punya tenaga jahilin aku!" Ujarnya menimpali yang membuat Justin tersenyum mendengarnya.
Tak membutuhkan waktu yang lama, tak lagi terdengar suara dari Justin. Yang terdengar hanya suara hening. Adeela naik ke atas kasur dan memperhatikan raut wajah Justin saat tertidur. Terlihat guratan di wajahnya seperti menanggung banyak beban di pundaknya. Beberapa hari terus bersama Justin, sepertinya sangat banyak hal yang akan ia ketahui ke depannya tentang suaminya ini.
πππ
Saat Justin terbangun, ternyata jam sudah menunjukkan pukul 5 sore. Ia mengedarkan pandangannya dan mencari sosok Adeela, namun yang dicari tidak ia temukan. Justin bangun dari atas kasur dan berjalan menuju kamar mandi. Setelah selesai dengan hajatnya, ia pun berjalan keluar kamar dan menuju kamar Neneknya, namun Neneknya juga tidak ada di sana. Kembali ia berjalan dan menuruni tangga. Ia berpapasan dengan bibi, "Orang-orang pada kemana, bi?"
"Ada di halaman depan, den!"
Mendengar ucapan Bibi, Justin pun melangkahkan kaki nya menuju halaman depan.
Pemandangan di depannya, membuat Justin menyunggingkan senyum tipisnya. Baru kali ini lagi Justin melihat tawa lepas dari Neneknya setelah sekian lama tidak pernah lagi ia lihat. Adeela berhasil mengembalikan senyuman Nenek yang telah lama hilang saat Kakek pergi untuk selama-lamanya. Di tambah kedua orang tua nya yang juga pindah ke luar negeri untuk mengurus perusahaan yang ada di Amerika. Semakin membuat Nenek semakin kesepian. Hanya Justin lah yang menemani nenek, walaupun begitu tetap saja, Justin tidak bisa terus-menerus berada di sisi Nenek karena ada tanggung jawab besar yang harus ia tanggung. Ribuan karyawan yang bergantung padanya demi kelangsungan hidup.
Justin menatap Nenek dan Adeela bergantian dengan tatapan bahagia. Sepertinya, keputusan terbaik yang pernah ia ambil adalah saat ia memutuskan untuk menikahi Adeela. Beruntung sekali, karena Adeela bisa mempersuami lelaki sepertiku, gumamnya bangga di dalam hati.
Pandangannya berlama-lama menatap Adeela yang entah mengapa kecantikannya saat tersenyum berkali-kali lipat di matanya. Dengan tangan yang di masukkan di kantong celana, ia berdiri tegak dan menatap Adeela dari jauh. Mungkin karena merasa diperhatikan, Adeela mengalihkan perhatiannya dan menatap pada seseorang yang sedari tadi menatapnya.
Mata mereka bertemu. Mereka saling pandang untuk waktu yang lama. Hanya mereka yang tahu isi hati masing-masing saat sedang menatap seperti itu. Adeela yang salah tingkah pun, memutuskan padangan matanya dan kembali kembali fokus pada Nenek.
Justin berjalan menuju kursi panjang yang diduduki oleh Nenek dan Adeela. Bokongnya ia daratkan di samping Nenek.
"Nenek kayaknya bahagia sekali?" Tanyanya sambil ia benahi kain yang menutup leher Nenek.
Nenek tersenyum, lalu diambilnya tangan Justin dan Adeela dan disatukan diatas pangkuannya.
Adeela dan Justin saling pandang atas apa yang Nenek lakukan.
__ADS_1
"Nenek bahagia untuk kalian berdua. Nenek harap, kalian menjadi pasangan yang bahagia dan kelak nanti mempunyai anak yang tampan dan cantik seperti kalian berdua," Ucap Nenek sambil tersenyum menatap Adeela dan Justin bergantian, "Kalian tahu tidak, kunci dari hubungan yang langgeng dan bahagia itu apa?"
Mereka berdua menggeleng dan mendengarkan Nenek dengan seksama. "Kunci dari sebuah hubungan langgeng dan bahagia itu adalah, kepercayaan dan kesetiaan. Istri percaya pada suami dan suami menjaga kepercayaan yang istri berikan. Lelaki yang gentle adalah lelaki yang mampu mempertanggung jawabkan janjinya di depan Tuhan dan istrinya. Artinya adalah, janji saat akad nikah untuk menjaga istri itu akan ia lakukan sampai akhirnya ajal memisahkan mereka. Banyak di luar sana lelaki yang tidak bisa mempertanggung jawabkan janji nya dengan Tuhannya sendiri. Dan nenek harap, Ntinnya Nenek tidak akan melakukan itu."
"Janji sama Nenek."
Justin menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. "Justin akan berusaha, Nek!"
"No, no! Yang harusnya kamu bilang itu adalah, 'Justin akan menjaga Adeela sampai akhir hayat, Nek!', "seperti itu jawaban dari lelaki gentle" Ujar Nenek dengan penuh semangat. Justin pun menganggukkan kepala mendengarnya.
"Jadi, kapan rencananya kalian akan bulan madu?" Tanya Nenek lagi.
Sontak saja, Justin dan Adeela saling pandang mendengar pertanyaan Nenek.
"Kok malah diam?"
"Kalau untuk itu, mungkin lebih baik kami tunda dulu, Nek. Prioritasku sekarang adalah, bagaimana agar Nenek bisa sembuh seperti semula. Yang kedua, urusan kantor juga sangat menumpuk. Jadi, Bulan madunya dirumah aja, Nek." Jawab Justin yang juga disetujui oleh Adeela.
"Mana ada bulan madu di rumah," Ujar Nenek tidak setuju dengan jawaban Justin, "Nenek sudah sembuh, ada bibi yang akan menemani Nenek. dan untuk urusan kantor, biar Arfan yang menanganinya." Arfan adalah orang kepercaan Nenek dan juga asisten pribadi dari Justin.
"Tapi, Nek..."
"No, no! tidak ada tapi-tapian, Ntin. Nenek akan memesankan tiket bulan madu untuk kalian berdua. Kalian tenang saja, Nenek akan mengurusnya. Besok sore kalian sudah bisa pergi untuk berbulan madu!"
Adeela hanya bisa menuruti apa kemauan Nenek. Sedangkan Justin, ia tidak lagi menyela ucapan Nenek.
Bagaimana mereka nanti saat berbulan madu. Mereka pasti akan lebih banyak berantemnya. Huh, memikirkannya saja sudah membuat Adeela pusing dibuatnya.
πππ
"Besok bulan madu, Deel."
"Ya, mau gimana lagi, kita ikuti saja kemauannya Nenek. Memangnya kita bulan madu nya di mana?" Tanyanya saat mereka tinggal berdua di halaman.
"Kamu maunya kemana?"
"Aku ngikut saja lah."
"Ok!" Justin pun telah memiliki nama negara yang akan ia datangi.
Nikah dadakan, Bulan madu dadakan semua dadakan. Semoga saja buat anaknya nanti tidak dadakan, pikirnya yang malah membuatnya senyum-senyum sendiri.
πππ
Yaelah dah mikirin anak aja nih babang buleππ
Walaupun cma satu eps, tp panjang beut kak. 1800+ kata. Biar kakak puas bacanya, ya kanππ
Mulai besok ceritanya anak semakin seru. Part bertemu Farhan juga semakin dekat yak. yang sabar menunggu kakak"
Salam story from By_me
__ADS_1