
Setelah hampir seharian penuh berada di dalam pesawat, akhirnya mereka pun sampai dengan selamat di bandara Soekarno Hatta, Jakarta.
Adeela dan Justin berjalan keluar dari bandara. Di luar sana, sudah ada seseorang yang katanya sangat ingin bertemu dengan Adeela. Adeela yang tahu orang yang di maksud oleh suaminya sedari tadi, sontak membulatkan matanya dan menatap suaminya dengan pandangan yang sulit dibaca. Justin membalas tatapan Adeela dan sebuah senyuman terbit dari sana.
"Mereka..." Tanya Adeela memastikan tiga orang yang ada di depannya. Karena ada Nenek Rosi diantara dua orang itu. Atau jangan-jangan...
"Iya. Mereka mommy dan papi aku. Orang tua kamu juga mulai sekarang." Ucapnya mengelus kepala Adeela dan beralih menggenggam tangan Adeela menariknya menuju ke tiga orang yang sudah menunggu mereka di sana dengan senyuman.
Bulir-bulir bening tiba-tiba saja memenuhi di daerah pelipisnya. Keringat dingin pun telah menjalar di sekitar pergelangan tangannya. Jujur saja, Adeela sangat gugup untuk bertemu dengan kedua mertuanya untuk yang pertama kali nya. Apakah mereka mampu menerimanya sama seperti Nenek yang mampu menerima masa lalu nya yang tidak jelas asal-usulnya. Memikirkan kemungkinan itu membuatnya terlihat kecil dan tidak percaya diri.
Sampailah mereka di depan ke tiga orang tadi. Justin melepas genggaman tangannya dan beralih maju untuk memeluk Papi dan Mommy nya penuh kerinduan.
Nenek Rosi yang melihat gelagat sungkan yang Adeela tunjukkan akhirnya mendekati Adeela yang diam mematung dan memeluknya penuh sayang.
"Bagaimana kabar mu, Son?" Tanya Mommy dengan logat Indo nya. Mommy Justin adalah orang Amerika dan Papi nya adalah orang Jawa asli. Mereka berdua bertemu saat menempuh pendidikan di perguruan tinggi yang sama. Rupa khas Indonesia, badan yang tegap, kulit sawo matangnya dan sikap gentlemannya mampu membuat Mami nya terpukau. Pertemuan yang intens itu membuat keduanya menjadi semakin dekat dan berakhir ke hubungan yang serius. Kedua orang tua Mommy Bella tidak masalah dengan keputusan yang diambil oleh anak mereka saat memutuskan untuk menikah. Dimana Mommy Bella harus ikut dengan agama yang dianut oleh Papi Bagas dan mengucap dua kalimat syahadat seminggu sebelum mereka melangsungkan pernikahan. Karena sebenarnya, Mommy Bella menganut paham Tanpa agama/tidak meyakini tentang adanya Tuhan.
"Alhamdulillah, sehat, Mi! Sehat banget malahan!" Jawabnya disertai senyuman hangat kepada Mommy nya.
Mommy Bella namanya. Mommy memicingkan mata dan melihat sesuatu yang berbeda dari anaknya. Senyum yang menggoda tiba-tiba Mommy tampilkan. Menatap Justin dan Adeela bergantian.
Mommy menatap wanita muda di depannya yang sekarang telah resmi menjadi menantunya. Tiba-tiba senyuman hangat Mommy tampakkan sambil memandang menantunya. Adeela yang ditatap seperti itu hanya membalasnya dengan senyuman kaku nya.
Mommya merentangkan tangannya dan senyum hangat tadi masih belum lepas dari wajahnya meminta agar Adeela mendekat dan menyambut dekapannya. Dengan malu-malu, Adeela pun mendekat dan masuk ke dalam pelukan mertua nya.
"Sekarang kamu adalah anak, Mommy!" Ujar Mommy dengan penuh kelembutan.
"Mommy rindu pelukan ini!" Ujar Mommy lirih, namun masih bisa Adeela tangkap oleh pendengarannya.
"Ah, tidak. Tidak ada apa-apa, sayang."
Adeela hanya bisa mengerutkan keningnya mendengar apa yang diucapkan oleh mertuanya. Apa maksud dari kata tadi? Tanyanya di dalam hati.
__ADS_1
Aksi peluk-pelukan mereka terlepas oleh Papi yang juga ikut menyapanya. Mami Bella segera menghapus air mata yang tiba-tiba saja menetes dari sudut matanya.
"Jadi ini menantu Papi yang selalu Mama ceritakan?" Tanyanya sambil melirik Nenek Rosi yang memang menceritakan semuanya kepada anaknya tentang Adeela. dan juga tentang proses perjodohan cucu nya dengan Adeela yang sangat mendadak.
"Iya, Gas. Ini yang selalu Mama ceritakan ke kalian. Cantik kan, seperti yang Mama bilang!"
"Heem, cantik, Ma. Tapi sayang aja, rasanya..." Gantungnya yang membuat semua orang menatap padanya menunggu kelanjutannya.
"Sayang kenapa, Pi?" Tanya Mommy
"Ya, sayang aja, kenapa wanita secantik Adeela harus berjodoh dengan modelan kayak, Justin, Mi!"
Mendengar jawaban suaminya, Mommy Bella hanya bisa geleng-geleng kepala. Suaminya ini memang sangat suka menjahili anaknya. Sedangkan Nenek Rosi sudah tertawa jahat mendengar ucapan anaknya yang seketika membuat raut wajah Justin berubah. Raut wajahnya seketika ditekuk mendengar gurauan Papinya. Mommy Bella pun menengahi dan mengajak mereka semua untuk melanjutkan perjalanan menuju rumah mereka.
Mommy dan Papi kembali dari luar negeri sudah dari tiga hari yang lalu. Mereka sengaja ingin menjemput sang pengantin baru di yang hari ini akan mendarat di Bandara.
***************
"Nih, liat Aden kecil, Mbok bawa apa ini?" Reyhan hanya melihatnya sekilas dan kembali bertopang dagu di ujung sofa.
"Nih, Den kecil, Mbok bawain es cream varian rasa baru. Pasti, Den kecil suka deh." Bujuknya sambil meletakkannya di atas meja.
"Leyhan bosan makan es cleam, Mbok. Leyhan enggak mau!" Tolaknya dengan suara cadelnya.
Mbok pun hanya bisa menghembuskan nafas. Tak tahu lagi dengan cara apa mampu membujuk anak majikannya.
"Lacanya, Leyhan mau ketemu sama Mama Adeel, Mbok. Leyhan kangen sama Mama Adeel. Cama Mama Kyla juga, kangen banget." Ujarnya sendu.
Si Mbok hanya bisa mendengarkan. Merasa kasihan juga dengan anak majikannya yang masih kecil sudah berada pada situasi yang rumit antara orang tua nya.
"Kenapa, cemua orang tinggalin, Leyhan." Ujarnya kembali dengan nada lirih. "Leyhan kangen Mama. Apa karena Leyhan nakal, makanya Mama ninggalin aku?" Tanyanya dengan bibir yang sudah mengerucut ke bawah.
__ADS_1
Baru saja Mbok mau menajwabnya, Tuannya sudah datang dan memberinya kode agar kembali ke dapur dan membiarkannya berdua dengan anaknya.
Farhan melonggarkan dasinya dan meletakkan tas kerja nya di atas meja. Di dekatinya anaknya dan mengelus pelan rambut si anak.
"Reyhan enggak nakal, kok. Anak Papa ini adalah anak yang sangat baik." Jawabnya yang seketika membuat si anak berbinar.
"Leyhan enggak nakal, kan, Pa?" Tanyanya sekali lagi memastikan.
Kembali Farhan mengelus rambut anaknya. "Enggak, sayang. Anak Papa itu, baik, pinter dan nurut apa kata Papa."
"Terus kalau Leyhan enggak nakal, kenapa Mama Kyla dan Mama Adeela ninggalin Leyhan, Pa?"
Pertanyaan Reyhan seketika membuat Farhan menjadi bungkam. Bingung juga harus menjelaskan situasi yang telah terjadi.
Setelah cukup lama terdiam, akhirnya Farhan pun kembali menjawab pertanyaan anaknya yang terakhir.
"Jadi...nanti kalau Reyhan sudah besar, Papa pasti akan menjawab pertanyaannya Reyhan yang tadi. Papa pasti akan memberitahukan semuanya, disaat Reyhan sudah bisa mengerti dengan keadaan, sayang."
"Tapi..." Belum sempat Reyhan menyelesaikan ucapannya, sudah dipotong oleh Papa nya.
"Eh, gimana kalau hari ini, kita berdua jalan-jalan ke mall. Abis itu, kita pergi main ke timezone. Bagaimana, Reyhan mau kan?"
Pengalihan itu, sukses membuat Reyhan berjingkrak senang dan tidak lagi mengingat apa yang tadi ia pertanyakan.
"Untung saja, pertanyaannya tidak lanjut." Ujarnya dalam hati saat berhasil mengalihakan perhatian anaknya.
Ya, hari ini, Farhan sengaja mengajak Reyhan kembali ke mall yang terletak di dekat Store kuenya Adeela. Karena jujur saja, setelah mendengar cerita Reyhan yang melihat Adeela di seberang jalan waktu itu, membuat Farhan berharap agar keberuntungan berpihak padanya dan membuatnya kembali bertemu dengan Adeela. Ia sangat berharap mereka kembali dipertemukan nantinya. Banyak sekali yang ingin ia utarakan kepada Adeela. Berharap suatu saat mereka kembali bertemu.
***************
Dah dl yak. Besok lanjut lagi. dah ngantuk ini🥱🥱
__ADS_1