MEMBALAS PERSELINGKUHANMU

MEMBALAS PERSELINGKUHANMU
Episode 57


__ADS_3

"Mbak, Deel. Di depan ada orang yang mau bertemu dengan ibu." Kata pegawai toko nya yang bernama Putri.


"Siapa?" Tanyanya menghentikan kegiatannya di depan komputer.


"Aku juga nggak tahu siapa, Bu. Aku juga baru kali ini lihat orang itu."


"Yasudah, nanti saya ke depan. Kamu lanjut kerja, gih."


"Siap, Bu Bos! " Jawabnya, sambil mengangkat tangannya hormat. Adeela hanya geleng-geleng kepala menghadapi tingkah pegawai nya yang masih remaja itu.


Adeela menghentikan kegiatannya dan menyimpan data yang telah ia susun. Setelah itu, ia berjalan ke depan ingin menemui orang yang katanya ingin bertemu dengannya. Kira-kira siapa orang itu?


Selangkah demi selangkah kakinya ia pijakkan di lantai tokonya. Entah mengapa semakin dekat ia di lantai bawah, perasaan berdebar semakin ia rasakan. Adeela memegang dada kirinya yang berdetak tidak seperti biasanya. Tibalah ia di lantai bawah. Adeela diantar dengan Putri menuju kursi tempat orang yang sudah menunggunya sejak tadi. Orang itu ternyata adalah...


"Nenek!" Panggilnya. Orang yang bertamu di toko nya adalah Nenek Rosi. Nenek Rosi melemparkan senyumnya. Senyumnya sangat lebar, hingga menampilkan gigi kelinci nya yang memang hanya tinggal dua.


Tak lupa Adeela menyalami tangan Nenek Rosi.


"Nenek sama siapa ke sini?"


"Tadi diantar sama, Ntin sayang!"


Adeela pun mengedarkan pandangannya mencari sosok Justin.


"Terus, Ntinnya mana, Nek?"


"Ntinnya, Nenek suruh beli sesuatu tadi di luar."


"Oh, yaudah. Nenek udah pesan?"


"Belum, sayang. Nenek tunggu kamu, makanya Nenek belum pesan."


"Yaudah, karena hari ini Deela kedatangan tamu yang spesial, Deela akan berikan kue ter-enak yang Deela punya." Ujarnya antusias.


Nenek Rosi tersenyum melihat semangat Adeela. Senangnya, bila saja Adeela bisa menjadi cucu menantu nya, pikirnya.


Adeela pun memanggil pegawai toko nya dan memesankan kue rendah gula khusus untuk Nenek Rosi. Soal rasa, tidak usah diragukan lagi. Walaupun rendah gula, rasanya tetap enak kok. Setelah memesan kue dan minuman untuk Nenek, mereka pun mulai berbincang-bincang ringan.


"Nenek tahu darimana, Deela kerja di sini?"


"Ada lah sayang, rahasia!"


"ih, Nenek. Nenek sekarang main rahasia-rahasiaan ya." Namun Nenek Rosi menanggapi dengan tawanya yang lagi-lagi menampilkan gigi kelincinya. Adeela yang melihatnya, seketika ikut tertawa.


Terjalin keakraban diantara mereka. Adeela sangat nyaman berada di dekat Nenek Rosi, begitu pula dengan Nenek Rosi yang merasa terhibur dan tidak lagi kesepian. Tak lama kemudian, pesanan Nenek Rosi pun datang. Nenek dengan semangat menyantap kue rendah gula yang Deela pesan khusus untuknya.


Cukup lama mereka berbincang-bincang, hingga akhirnya si Ntin pun datang dengan membawa seikat bunga di tangannya.


Tanpa permisi, Justin langsung duduk di samping Nenek nya dan memberikan bunga pesanan Nenek nya di atas meja.


Nenek pun menatap Justin dengan alis yang berkerut.


"Hi, Deela!" Sapanya sambil mengedipkan sebelah matanya. Adeela hanya bisa memutar bola mata jengah melihat tingkah Justin.


Tiba-tiba, Justin memekik kesakitan dan mengelus-elus paha kanannya yang ternyata menjadi sasaran capitan dari Neneknya.


"Sakit, Nek!"


"Yang suruh kamu simpan bunga itu di atas meja, siapa, Ntin, bodoh!" Bisik Nenek di telinga Justin.


"Ya, terus Justin harus simpan di mana, Nek. Kan, Nenek yang pesan bunganya."


"Kamu ini ***** atau bodoh, Ntin, hah."


"Sama aja, Nek." Jawabnya,dengan meringis kesakitan.

__ADS_1


"Jawab terus, Nenek tambah lagi capitannya!" Ancam Nenek sambil menggerakkan tangannya ingin mencubit paha Justin. Dengan cepat Justin mengangkat kedua tangannya sebagai permohonan maaf.


"Salah lagi, salah lagi." Gumamnya. "Terus, bunganya di simpan di mana, Nek?"


"Kasih, nak, Adeela!"


"Hah?" Jawabnya melongo sambil menatap Neneknya. Namun yang di tatap malah balik menatap dengan pelototan. Justin pun tak punya pilihan lain, selain menuruti keinginan Nenek nya. Dengan terpaksa, Justin  memberikan seikat bunga kepada Adeela.


"Makasih, Nek!" Ucapnya, sambil menghirup aroma dari seikat bunga yang di dalamnya, terdapat bermacam-macam.


"Sama-sama, sayang!"


"Nenek, mau ke toilet dulu,ya, sayang."


"Perlu, Adeela antar, Nek?"


"Nggak  usah, sayang. Tunggu aja, di sini."


"Yaudah, toiletnya, nanti tinggal lurus terus belok kanan ya, Nek."


"Iya, sayang. Nenek ke toilet dulu, ya. Justin, temani nak Adeela dulu di sini. OK!"


"Iya, Nek."


Nenek pun berjalan ke toilet yang tadi di tunjukkan oleh Adeela. Kini, tinggallah, Adeela dan Justin yang saling diam-diaman, dengan posisi saling berhadapan. Suasana hening untuk sesaat.


"Dapat salam dari seseorang!" Ucap Justin yang memulai pembicaraan."


"Dari siapa?" Tanyanya penasaran.


"Dari teman seangkatan kita."


"Iya, siapa?"


Adeela tertawa mendengar ucapan Justin. Bukan tanpa alasan ia tertawa, karena setauhunya, Justin dan Zaki sewaktu masa putih abu-abu dulu, mereka mempunyai sifat yang sama. Sama-sama suka tebar pesona. Justin dan Zaki, sama-sama sebagai lelaki tampan di sekolahnya dulu. Bedanya hanya, yang satu lokal dan yang satu blasteran.


"OH, Zaki!' Ia mengucapkannya sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Tambah ganteng ya, dia." Ucapnya, sambil menopang dagu menatap Justin.


"Gantengan juga aku, kemana-mana!"


Adeela mengulum senyum mendengar ucapan Justin.


"PE-DE!"


"Ye, memang ia kan kalau aku itu ganteng, tinggi, tajir, mapan, sayang sama keluarga. Wanita mana, yang tidak terpesona dengan ketampanan aku ini."


"BABANG TAMVAN, kalau memang Anda seperti yang Anda ucapkan tadi, kenapa sampai sekarang Anda belum nikah-nikah juga, hmm?"


Mendengar ucapan Adeela seketika membuat Justin bungkam.


"Malah diam!"


"Ya, karena, karena belum ada yang cocok sama aku." Ucapnya setengah tergagak.


"Atau jangan-jangan, lo nungguin gue ya? ngaku lo?"


Justin tak lagi menjawabnya, namun tangannya ia usapkan di wajah Adeela.


"Jilbab aku berantakan, Justin!" Kesalnya karena ulah Justin. Adeela pun membenarkan jilbabnya. Setelah melakukan itu, tidak ada lagi pembicaraan di antara mereka. Adeela kini mengedarkan pandangannya melihat sekeliling. Pandangannya tertuju pada arah menuju toilet. Sampai sekarang belum ada tanda-tanda, Nenek Rosi keluar dari sana.


"Nenek kenapa lama benget di toiletnya. Aku susulin, dulu, ya."


"Hmm."

__ADS_1


Tak lama setelah itu, Adeela pun kembali menghampiri Justin.


"Nenek, enggak ada di toilet!"


"Lah, terus Nenek kemana?" Justin berdiri dari duduknya dan berjalan menuju toilet perempuan di temani dengan Adeela di belakangnya. Ternyata, memang Nenek Rosi tidak ada di toilet. Justin memutari area toko sampai ke parkiran mencari keberadaan Nenek, namun tak juga menemukan keberadannya. Ditengah pencariannya, masuk satu pesan di aplikasi hijau.


From Nenek ROS: Nenek pulang duluan, Ntin. Nenek mau istirahat dulu di rumah. Kamu temani nak Adeela saja sampai selesai. Setelah itu, antarkan nak Adeela pulang. Ok, Ntinnya, Nenek yang ganteng. Cium jauh dari Nenek."


"Yaampun, Nenek!" Justin memijit pelipisnya setelah membaca isi pesan dari Neneknya.


"Nenek kenapa? dimana, Nenek sekarang? Nenek baik-baik saja kan?"


"Satu-satu, Deel."


"Iya, iya, maaf. Nenek, di mana sekarang?"


"Nenek sudah pulang ternyata."


"Tapi, Nenek baik-baik saja, kan?"


"Iya, Deel. Nenek baik-baik saja. Yasudah, mending sekarang kamu lanjut kerja. Nanti pulang jam berapa?"


"Sebentar lagi. jam 4, toko sudah tutup. Yasudah, kalau mau pulang, hati-hati di jalan."


"Aku tungguin sampe selesai. Hari ini aku anterin kamu pulang."


"Enggak usah. Aku bisa pulang sendiri."


"Aku disuruh sama, Nenek. Enggak usah membantah. Kerja sana, aku tunggu sampai selesai."


Adeela pun hanya bisa menurut karena ia tak punya pilihan lain, selain diantar pulang dengan Justin si bule Jawa itu. Demi Nenek, pikirnya.


Sesuai dengan kata Adeela tadi, tepat jam 4 sore, toko nya sudah tutup. Ia dan Justin berjalan keluar dari area toko menuju area parkiran. Saat akan membuka pintu, ia memberhentikan gerakannya karena mendengar teriakan seseorang di seberang jalan. Saat ia berbalik badan dan melihat ke arah orang yang meneriakinya, betapa terkejutnya ia, saat tahu yang meneriakinya tadi adalah Reyhan, anak Farhan. Di belakang Reyhan, ada Farhan yang sedang berbocara dengan seseorang dibalik telephone. Suasana area mall yang padat, membuat Farhan tidak mendengar apa yang anaknya katakan. Farhan tidak melihat kehadirannya,  Adeela segera masuk ke dalam mobil dan tak lama kemudian mobil Justin melaju meninggalkan area parkiran.


Saat mobil sudah berjalan, Adeela menengok ke belakang dan melihat Reyhan masih menatap ke arah mobilnya bergerak menjauh. Sedangkan, Farhan, tampak bulu-bulu tipis di area rahangnya. Entahlah, apakah mungkin Farhan tidak lagi merawat diri? sedangkan dulu, tidak ada selembar pun bulu-bulu halus yang berada di sekitar rahangnya. Farhan sangat menjaga penampilannya. Tapi bodohlah, bagaimana Farhan sekarang.


Melihat tatapan mata jernih Reyhan tadi, membuat sisi hati Adeela menjadi tidak tega pada anak sekecil itu. Tapi


kalau difikir-fikir lagi, untuk apa tadi ia memilih kabur dan mengabaikan panggilan anak itu. Entahlah, semoga saja, nanti mereka bisa kembali bertemu dan ia bisa menebus kesalahannya pada Reyhan kecil.


^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^


hy hy kakak-kakak cantik. Maap yak, aku baru up lagi. Kemaren aku sibuk banget ngebagi waktu karena kakak ku juga habis acara nikahan jd nya aku memilih untuk nggak up dulu. Tapi, semoga kakak" bisa memaklumi yak. Sebelumnya, jangan lupa ya, LIKE, KOMEN DAN PASTINYA VOTE NYA juga. Muuuuachhhh


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2