
Setelah kejadian itu, Farhan tidak lagi melakukannya. Ia takut jangan sampai Adeela dan kandungannya kenapa-napa. Ia sekarang sangat ekstra protektif pada istrinya.
Seperti saat ini walaupun ia sedang di kantor, tetapi ia tetap memantau istrinya di rumah. Entahlah, ia sekarang merasa nyaman dengan Adeela. Makanan, kehangatan dan semua yang ada pada Adeela, membuatnya terbuai dan nyaman berada di dekatnya. Apalagi sekarang, ada yang kembali mengikat ikatan diantara mereka.
Saat masuk waktu makan siang, Farhan mencoba menghubungi istrinya untuk menanyakan apakah istrinya itu sudah makan atau belum. Mencoba menghubungi beberapa kali namun tidak diangkat. Hingga pada panggilan yang ke 5, barulah Adeela mengangkatnya.
"Halo, mas." Ucap Adeela diseberang sana.
"Dari mana saja. Aku sudah menghubungimu dari tadi."
"Maaf, maaf. Aku tadi dari dapur dan tidak membawa ponsel. Ada apa, mas, menelpon?"
"Kamu sudah, makan?" Tanyanya
"Belum. Aku baru saja selesai memasak. Rencananya aku mau makan siang sama kamu di kantor!"
"Tidak usah bawa makan siang ke kantor. Kamu di rumah saja. Jangan lupa, makan yang banyak!"
"Memang mas Farhan sudah makan siang?"
"Belum. Tapi aku sudah menyuruh sekertarisku untuk memesankan makan siang. Sebentar lagi makanannya akan sampai."
"Oh, yasudah kalau begitu. Selamat makan, mas." Ucap Adeela dengan riang di seberang sana.
Farhan tersenyum mendengarnya."Kamu juga makan yang banyak. Awas kalau sampai pulang nanti aku tanya mbok Minah dan kamu tidak melakukan yang aku suruh. Aku hukum kamu!"
"Huh, takut!" Ucapnya dengan nada mengejek.
Lama mereka berbicara sampai makanan pesanannya datang.
"Makan siangnya sudah datang. Kalau begitu aku tutup dulu."
"Ok. Assalamualaikum, mas."
Farhan mengerutkan keningnya, tidak biasanya istrinya itu mengucapkan salam padanya.
"Waalaikum salam." Jawabnya dengan tanda tanya di benaknya. Ia mengalihkan perhatiannya saat melihat makan siangnya sudah tersaji diatas meja. Ia pun berjalan kearah sofa dan mulai menyantap makan siangnya.
^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^
Adeela duduk di balkon dan menatap ke depan. Ia kembali menimbang-nimbang akan keputusannya. Setelah cukup lama dengan fikirannya, kini ia sudah mendapatkan jawabannya. Keputusanya sudah bulat. Ia akan memantapkan hatinya untuk memulainya. Semoga ini adalah jalan terbaik baginya.
__ADS_1
Suara deru mobil menyadarkannya dari lamunannya. Mobil suaminya itu terlihat memasuki pekarangan rumahnya. Suara langkah kaki yang semakin mendekat kearahnya membuatnya menoleh ke belakang. Suaminya itu sudah ada di belakangnya dengan menggulung lengan kemejanya ke siku.
"Lagi apa?" Farhan sudah berdiri dan memeluknya dari belakang.
"Lagi lihat pemandangan, mas." Jawabnya tanpa memalingkan pandangannya dari depan. Ia memegang tangan suaminya yang kini berada di perutnya.
"Kamu masak apa?" Tanyanya di dekat telinga istrinya.
"Aku masak makanan kesukaan kamu."
"Bener?" Tanyanya memastikan.
"Heem. Mending sekarang mas mandi, abis itu kita kebawah makan malam."
"Yasudah, aku mandi dulu." Jawabnya, ia pun mengecup sekilas pipi istrinya sebelum ia berjalan masuk menuju kamar mandi.
Adeela menyiapkan pakaian ganti untuk suaminya. Setelah itu, barulah ia berjalan turun kearah dapur untuk menyiapkan makan malam untuk suaminya.
Setelah 15 menit, Farhan pun turun dari lantai atas dan berjalan menuju meja makan dimana istrinya sudah duduk cantik.
Mereka pun mulai menyantap makan malam dengan berbincang ringan. Setelah selesai makan malam, Farhan menuju ruangan kerjanya untuk mengerjakan beberapa laporannya yang belum selesai.
Cukup lama Farhan berada di ruangan kerjanya. Hingga pukul 00.10 WIB, barulah Farhan masuk ke dalam kamarnya.
Keesokan harinya, Farhan merapikan kopernya setelah tadi memasukkan beberapa pakiannya. Rencananya hari ini dia akan pergi keluar kota untuk urusan bisnis. Ia lupa memberitahukan kepada istrinya tentang kepergiannya nanti karena ini kegiatan yang mendadak dan ia tidak bisa untuk tidak menghadirinya.
Dibawanya kopernya ke lantai dasar dan menghampiri istrinya di meja makan.
"Mas Farhan mau kemana bawa koper?" Tanyanya penuh selidik, jangan sampai suaminya ini mau meninggalkannya. Bisa-bisa rencananya itu gagal total.
"Begini, besok ada kegiatan di luar kota dan aku baru di beritahu kemarin. Hari ini aku harus berangkat, karena ada hal yang aku harus urus juga di sana. Aku lupa memberitahukannya sama kamu. Mungkin akan memakan waktu selama tiga hari di sana."
"Kamu tidak apa-apa, kan, aku tinggal sendiri?"
"Enggak apa-apa."
Oh, iya, Adeela baru ingat bahwa besok ia akan berangkat ke bali untuk mengikuti acara reuni angkatan. Sedangkan, ia belum memberitahu suaminya tentang rencana kepergiannya.
"Mas Farhan."
"Heem. Ada apa?"
__ADS_1
"Ada yang mau aku omongin sama kamu!"
"Mau ngomong apa?" Tanyanya dan menghentikan suapannya.
"Jadi, aku mau per...." Ucapannya terputus karena Farhan mendapat panggilan di ponselnya. Farhan mengangkat tangannya sebagai kode agar Adeela menjeda dulu ucapannya.
Farhan mengangkat panggilan itu. Mereka berbincang dengan serius. Tak lama kemudian panggilan pun tertutup.
Farhan mengambil air minum di sampingnya dan menghabiskanya dalam sekali teguk.
"Aku harus segera berangkat. Jadwal penerbangan aku dipercepat." Ucapnya menyambar jas yang berada di sampingnya.
"Kamu jaga diri selama aku pergi. Jangan lupa, makan yang bergizi. Kalau acaranya sudah selesai, aku akan cepat pulang." Ucapnya dengan cepat.
Adeela hanya menganggukkan kepalanya mengerti. Farhan berjalan mendekati Adeela dan mengecup keningnya sebentar.
"Aku pergi dulu. Jangan lupa, selalu hubungi aku."
"Iya, mas hati-hati di jalan."
Adeela mengantar suaminya ke depan pintu. Di depan rumahnya, sudah terparkir mobil sedan hitam yang sudah menunggunya. Farhan melambaikan tangannya saat mobil sudah berjalan.
Adeela belum sempat memberitahukan kepada suaminua. Ah, biarlah nanti ia memberitahukannya pada suaminya, gumamnya dalam hati.
^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^
Keesokan harinya, Adeela juga sudah siap untuk berangkat ke Bali. Jadwal penerbangannya nanti pada pukul 01.35 WIB. Rencanya ia akan bertemu dengan sahabatnya nanti saat sudah sampai di Bali.
Ia memperhatikan dirinya di patulan cermin. Ya, mulai hari ini, Adeela akan memakai kerudung. Ia sudah memantapkan hatinya untuk berusaha menutup aurat. Ia akan mulai dengan pelan-pelan. Sebenarnya, akhir-akhir ini, Adeela sudah belajar sedikit-sedikit tentang agamanya. Memang lucu, karena diusianya yang sudah dewasa ia baru berusaha mendalami tentang agamanya. Namun, tidak ada kata terlambat bagi yang memang ingin berusaha berubah. Itu kata sahabatnya yang telah membuatnya mengambil keputusan ini.
Sebelumnya, Adeela telah membeli beberapa pasang baju lengan panjang, rok panjang, gamis dan kerudung untuk ia kenakan. Ia membelinya tanpa sepengetahuan suaminya.
Saat ini ia sudah selesai, dengan baju gamis berwarna cream dengan aksen batik dipinggang sampai ke bawah. Sangat manis ia kenakan, dipadukan dengan hijab pashmina berwarna senada.
30 menit kemudian, ia akhirnya sampai di bandara. Tak membutuhkan waktu lama, pesawat yang ia tumpangi pun lepas landas.
Setelah cukup lama menunggu, pesawat yang ia tumpangi pun mendarat dengan sempurna di bandara Ngurah Rai, Bali.
^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^
Udah dulu yah. Besok aku lanjut lagi. Jangan lupa like, komen dan votenya kkđđ.
__ADS_1
Salam story from By_me