MEMBALAS PERSELINGKUHANMU

MEMBALAS PERSELINGKUHANMU
Kamu Kemana Kyla?!


__ADS_3

Farhan POV


Hari ini untuk pertama kalinya aku akan menemani Adeela untuk memeriksakan kandungannya. Aku sengaja tidak masuk kantor karena jujur saja, aku juga sangat ingin mengetahui bagaimana perkembangan janin yang dikandung istriku.


Awalnya aku sangat shock saat mengetahui Adeela sedang mengandung anak dari hasil saat aku mabuk berat malam itu. Aku sungguh tidak menyangka akhirnya akan seperti ini. Namun seiring berjalannya waktu, aku sepertinya sudah mulai mencintai janin yang ada di dalam kandungan istriku. Segala kebutuhan dan keperluan Adeela berusaha aku penuhi. Dan ya, rasa cinta itu juga sudah tumbuh kembali untuk istri pertamaku ini.


Aku tidak menyangka rasa yang berusaha aku sangkal, nyatanya tidak bisa aku sembunyikan lagi. Aku kembali jatuh cinta pada sosok Adeela Athala, wanita yang sederhana, cantik dan yang semakin membuatku jatuh cinta padanya adalah... sekarang istriku itu sudah menutup auratnya. Kecantikannya di mataku sekarang berkali-kali lipat dari yang aku bisa lihat dari Kyla, istri keduaku.


Aku sangat excited untuk mengantar istriku periksa kandungan. Namun ditengah-tengah niatanku untuk mengantar istriku, terdapat panggilan masuk dari rumah (Rumah Farhan dan Kyla).


Aku pun menyuruh kepada istriku untuk duduk di kursi koridor rumah sakit, setelah itu aku berjalan menjauh agar Adeela tidak mendengar percakapanku dengan Mbok Diah.


"Halo."


"H-halo, pak!" terdengar suaranya cemas dan khawatir di seberang sana. Suara ini adalah suara mbok Diah yang bekerja sebagai asisten rumah tangga di rumahku.


"Mbok! Ada apa, mbok nelpon aku?" Tanyaku dengan kening yang berkerut.


"Den Reyhan, pak!"


"Kenapa dengan anak saya, mbok?" Tanyaku khawatir. Entah mengapa perasaanku menjadi tidak enak. Semoga saja tidak terjadi apa-apa dengan anakku.


"Den Reyhan demam tinggi, pak!"


Apa yang aku khawatirkan pun terjadi.


"Yaudah, sekarang, saya mau bicara sama, Kyla, mbok. Panggilin, Kyla, dulu, mbok!"


"I-itu yang mau saya bilang, pak. Jadi... Nyonya sudah dua hari tidak pulang ke rumah, pak. Saya sudah coba hubungi nomor nya, Tapi enggak diangkat sama Nyonya, pak!"


Aku pun menarik nafas panjang mendengarnya. Kemana sebenarnya Kyla. Sudah dua hari pergi dari rumah tanpa kabar dan tanpa izin padaku terlebih dahulu.


"Yasudah, sekarang saya minta tolong, mbok bawa anak saya ke rumah sakit terdekat. Saya berangkat sekarang ke sana. Nanti, mbok kabari saya alamat rumah sakitnya, ya, mbok!" Karena memang jarak dari rumah Adeela dan Kyla cukup jauh. Kalau mau menunggu nya sampai, takutnya nanti kejadian yang lalu terjadi. Ia tidak ingin sampai kejadian yang sama terjadi.

__ADS_1


Setelah sambungan telepon terputus, aku segera berjalan ke arah Adeela dan mengatakan tidak bisa menemaninya memeriksakan kandungan dengan alasan ada urusan yang mendesak di kantor.


"Maafkan aku, Deel. Lagi-lagi aku harus berbohong."


Setelah mengatakan itu, aku pun segera menuju ke arah rumah lamaku. Dengan kecepatan tinggi kulajukan mobilku dengan perasaan cemas dan khawatir. Untung saja, jalanan kala itu lenggang karena waktu nya masih jam kantor.


Tring... satu pesan masuk di ponselku. Saat kulirik, pengirimnya nomor yang tidak ku kenal. Namun isinya sudah bisa aku pastikan siapa pengirimnya. Mbok Diah mengirimkan alamat rumah sakit tempat anakku di bawa sekarang. Rumah sakit yang jaraknya tidak jauh dari rumah. Kecepatan mobilku ku tambah.


Di dalam mobil lagi-lagi fikiranku harus terbagi. Bagaimana kondisi anakku sekarang, Adeela dan juga di mana sebenarnya Kyla saat ini. Kepalaku rasanya mau pecah. Huffff... kuhembuskan nafas kasar dan cengkeramanku pada setir mobil kueratkan.


Tak lama kemudian, kendaraan Farhan pun akhirnya sampai di rumah sakit yang dituju. Segera ia berjalan masuk dan bertanya pada reseptionis rumah sakit dimana anaknya sekarang. Ternyata Reyhan masih di UGD, sedang di lakukan penanganan oleh Dokter dan beberapa Suster. Terlihat dari jauh, mbok Diah dengan raut wajah khawatirnya sedang menemani Reyhan dari luar. Terdapat beberapa ranjang yang diberi sekat oleh tirai.


Farhan menghampiri Mbok Diah.


"Anak saya mana, mbok?"


"Alhamdulillah, bapak sudah datang." Terlihat kelegaan dari raut wajahnya,"Den Reyhan sedang ditangani oleh Dokter dan Suster, pak. Kita di suruh menunggu di luar, pak."


Farhan hanya bisa menganggukkan kepalanya. Lama mereka terdiam dengan fikiran masing-masing. Tak lama kemudian, Dokter yang menangani anaknya pun keluar dari balik tirai.


"Anda Ayah dari pasien?" Tanya dokter memastikan.


"Benar, dok. Saya, Ayahnya!"


"Baik, jadi, kami telah melakukan penanganan awal pada anak Anda. Untung saja anak Anda segera dilarikan ke rumah sakit, kalau tidak, mungkin saja hal yang tidak diinginkan bisa terjadi. Untuk demamnya, kami akan tetap memantau sampai suhu tubuh anak Anda kembali normal."


Farhan menghembuskan nafas lega mendengarnya.


"Terima kasih, dok."


"Sama-sama, pak. Kalau begitu, kami permisi. Kalau Anda butuh sesuatu panggil saja kami do depan!"


Setelah dokter tadi telah pergi. Farhan segera menemui anaknya yang terbaring di atas brangkar dengan infus terpasang di tangan kirinya beserta sesuatu yang tertempel di kening.

__ADS_1


Farhan duduk di kursi di samping ranjang anaknya. Digenggamnya tangan anaknya dan diciumnya berkali-kali.


"Maafkan, Papa, sayang!" Farhan membelai rambut anaknya dan menghapus keringat di kening anaknya.


Ia memperhatikan wajah anaknya dengan tatapan nanar. Kembali teringat dengan apa yang dulu terjadi. Almarhum anaknya dahulu meninggal karena mengalami demam tinggi dan tidak segera di tangani. Seperti inikah perasaan Adeela saat itu. Farhan mengusap wajahnya dengan kasar sambil memikirkan yang terjadi dahulu. Betapa jahatnya ia sebagai seorang Ayah. Jangan bilang kalau ia tidak merasa terpuruk dengan yang terjadi. Salah, ia sangat terpuruk saat mengetahui anak semata wayangnya meninggal karena ulahnya. Perasaan bersalah itu masih ada sampai sekarang.


Setelah cukup lama menemani anaknya, Farhan berdiri dari sana dan menghampiri mbok Diah.


"Bagaimana dengan den, Reyhan, pak?"


"Begitulah, mbok. Suhu tubuhnya harus terus dipantau. Tapi, sudah tidak setinggi tadi."


"Syukurlah kalau begitu, pak." Ucapnya merasa lega.


"Sebelumnya saya mau tanya, mbok, Apakah istri saya bilang mau kemana dan pergi dengan siapa?"


"Kalau untuk hal itu, Nyonaya, tidak bilang apa-apa, pak. Sewaktu Nyonya pergi, Nyonya bilang hanya pergi sebentar dan suruh saya jaga, den Reyhan, pak."


"Yasudah, kalau begitu. Makasih sebelumnya, mbok."


"Sama-sama, pak."


Setelah melakukan pemantauan beberapa kali oleh Dokter, Reyhan pun dipindahkan di ruangan perawatan anak khusus VIP. Masih di temani oleh Farhan dan juga mbok Diah.


Reyhan juga telah memakan bubur dan meminum sirup penurun panas. Setelah anaknya kembali tertidur Farhan berjalan keluar ruangan dan mencoba menghubungi Kyla.


Namun kini nomor ponsel istrinya itu sudah tidak aktif. Farhan menarik nafas panjang dan menyimpan ponselnya ke dalam saku celananya.


"Kamu kemana, Kyla?!" Ucapnya frustrasi.


__________________________


Happy reading kakak 😚

__ADS_1


Masih lanjut ya, satu bab lagi untuk malam ini. Aku mau lanjut nulis lagi. Lanjutannya nyusul ya, ntar!!!


Salam story from By_me


__ADS_2