MEMBALAS PERSELINGKUHANMU

MEMBALAS PERSELINGKUHANMU
Who's that


__ADS_3

Adeela dan Titin berjalan menuju mobil yang telah terparkir di halaman rumah. Sesekali, Adeela melirik Titin yang dengan wajah masamnya berjalan ke depan tanpa menoleh ke arahnya. Pastilah, Titin malu karena telah dipermalukan oleh Nenek nya sendiri.


Adeela dan Titin kini telah masuk ke dalam mobil dan masing-masing memasang sabuk pengaman di kursinya.


Demi apapun, Adeela tidak bisa lagi menahan tawanya. Suara tawa nya menggema terdengar di dalam mobil. Ia tergelak sambil menatap Titin di sampingnya. Ia tertawa sambil memegangi perutnya karena telah mengetahui momen langka ini.


Dan si Titin, hanya bisa memutar bola mata jengah ditertawakan oleh wanita di sampingnya.


"Haha... Ntiiinnn!!! " Ujar Adeela masih menertawakan si Ntin.


"Diem enggak! " Ujarnya dengan malas, rasanya harga dirinya telah di jatuhkan oleh Nenek nya sendiri. Mimpi apa dia semalam, sampai-sampai bisa ketiban sial seperti ini.


Adeela masih tergelak di sampingnya.


"Deel!Diam enggak!" Ujarnya sekali lagi.


Adeela akhirnya menghentikan tawanya. Ia menghapus cairan yang berada di pelupuk matanya akibat menertawakan Ntin alias Justin (Maapin Author yak bang bule).


"Ia bawel, ini udah diam." Namun suaranya masih terdengar mengejek. Justin merasa jengah dengan ulah Adeela. Kenapa juga Nenek nya memanggilnya seperti itu di depan tamu nya. Justin menghela nafas dan mengelus dada agar mampu bersabar.


"Btw, nama latin yang Nenek lo kasih unik juga. Pftttt" Adeela menutup mulutnya sambil menatap mengejek si bule jawa. Tawanya kembali terdengar.


"Ya Allah, Nenek. Mau ditaruh di mana muka bule tampan ini! " Rutuknya di dalam hati. Karena pastilah, Adeela akan terus mengolok-oloknya seperti itu.


"Kenapa? nama latin gue memang unik. Nama langka itu!"


"Heem, Nama lo emang langka, Ntin. Panggilan itu emang cocok buat lo."


"Puas, udah nertawain gue! "


"Nggak! "


Justin menarik nafas panjang menghadapi Adeela. Dari dulu sampai sekarang, memang dia tidak bisa menang dari Adeela.


"Mau diantar pulang apa enggak? "


"Ya, mau lah. Ayo, jalan! Ini udah jam berapa juga. " Sambil melirik jam yang melingkar di tangan kiri nya.


"Gimana gue mau jalan, kalau lo nggak ngasih tahu alamat rumah lo, dodol!"


"Oh iya, lupa gue." Dan Justin harus bersabar menghadapi Adeela. Lama tidak bertemu dengan Adeela, namun sifat pelupa nya sepertinya sudah mendarah daging.


"Rumah gue alamatnya di Jl. xx, kompleks perumahan Puri Permai. Jalan gih! "


Justin melirik sekilas sebelum akhirnya ia menjalankan kendaraannya. Suasana hening seketika. Sesekali, Justin melirik kearah Adeela. Apa yang Justin lakukan secara tidak sadar membuat Adeela merasa diperhatikan dari tadi oleh lelaki di sampingnya.


"Ngapa, dari tadi lirik-lirik terus. Kalau mau ngeliatin wajah gue yang manis ini, nanti aja kalau kita sudah sampai. Sekarang fokus dulu bawa mobilnya! "

__ADS_1


"Pede lo makin menjadi ya. Yang bilang kamu manis siapa? Muka dekil kayak kamu, mana ada manis-manisnya. "


"Le miner***, dong! "


"Di iya in aja. Gue sebenarnya mau ngasih tahu sesuatu ama lo, makanya dari tadi gue ngelirik-lirik ke arah lo."


"Mau ngomong apaan?" Tanyanya sambil beralih menghadap Justin.


Lagi-lagi, Justin melirik sekilas ke arah Adeela dan mencoba menyusun segala kata-katanya di dalam kepala.


"Lo udah lama tinggal di sana?"


"Lumayan. Sudah sekitar 4 bulanan lebih. Memangnya kenapa? "


"Selama ini, lo itu dicariin sama, Farhan."


"Oh! Terus kenapa kalau dia nyariin? " Tanyanya datar dan mengubah posisinya kembali menghadap ke depan.


"Ya, nggak apa-apa sih. Gue cuma ceritain aja yang gue tahu tentang mantan lo itu."


Adeela tidak lagi menyahuti Justin. Ia hanya mengangguk-anggukkan kepalanya acuh. Sikap datar dan cuek Adeela sudah dapat membuat Justin faham dengan responnya.


Suasana kembali hening. Adeela menatap ke depan melamunkan sesuatu.


Suasana jalanan yang lenggang dengan ditemani oleh guyuran air hujan yang tiba-tiba membasahi permukaan bumi, seolah menjadi peralih fokusnya.


Adeela mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan, bukan, lebih


tepatnya pernyataan.


"Terus gue harus ngapain, hmm? " Ia melirik sekilas menatap Justin. "Gue harus nangis-nangis, berurai air mata selama tujuh hari tujuh malam untuk meratapi perceraian gue, gitu? "


Justin tidak menyahuti pertanyaannya. Ia kini fokus menyetir. Bahkan untuk melirik kearahnya tidak lagi ia lakukan. Entah apa yang sekarang Justin fikirkan.


"Lo sahabatnya Farhan kan? Lo pasti tahu apa yang telah terjadi. Jadi gue enggak perlu menjelaskan akar masalahnya di sini."


Suasana hening sesaat...


"Gue harap sama lo, jangan pernah lagi bahas-bahas tentang dia. Gue udah jauh-jauh dari dia karena tidak ingin membuka luka lama dan mengingat tentang dia. Gue hanya minta itu sama lo!"


"Jangan pernah bahas dia lagi. Biarkan gue terbebas dari kekangan luka lama."


Kata-kata Adeela sangat dalam dan berhasil membuat Justin terdiam di kursi pengemudi dengan hati yang bergejolak.


Adeela membuang muka menatap ke arah luar jendela. Guyuran air hujan makin lama makin deras membasahi bumi. Bersamaan dengan itu, ada air mata yang juga ikut menetes membasahi wajah putihnya.


Adeela kira, setelah beberapa lama tidak bertemu dan mendengar tentang Farhan, dapat membuat hatinya mampu berdamai dengan keadaan. Nyatanya, semua tidak semudah membalikkan telapak tangan. Kalau ada yang mengatakan 'hapuskan saja kenangan dan luka yang telah dilakukannya', kata ini adalah hal yang salah. Sekeras apapun seseorang mencoba untuk melupakan, mereka tidak akan pernah bisa walaupun sudah ada kata 'maaf'di dalamnya. Memaafkan sangat mungkin bisa. Namun untuk melupakan, tidak akan pernah bisa.

__ADS_1


Adeela mencoba menarik nafas dalam dan menghembuskannya, berharap dengan begitu sesak di dada nya mampu padam. Hufffff... sangat susah.


Dihapusnya air matanya dengan posisi masih menghadap menatap jendela mobil.


Tibalah mereka di halama rumah Adeela. Setelah cukup lama berada dalam mobil dan berteman keheningan,mereka sampai juga.


Adeela sudah bersiap-siap untuk turun dari mobil dan menererobos derasnya hujan. Namun ucapan Justin membuatnya mengurungkan niatnya untuk menerobos hujan.


Justin berjalan memutari mobil dengan membawa payung berwarna putih bening di tangannya dan membuka pintu penumpang.


"Ayo!" Ajak Justin berdiri di sampingnya.


Adeela pun menurut dan turun dari mobil dengan dipayungi oleh Justin di sampingnya.


Mereka berjalan beriringan dengan jarak dekat agar badan mereka tidak terkena air hujan. Justin memayungi Adeela sampai di teras rumahnya.


"Makasih!" Itu kata Adeela sebelum berbalik badan meninggalkan Justin yang masih berdiri di sana memperhatikannya membuka pintu rumah.


Adela mendorong pintu rumahnya setelah tadi dengan susah payah ia membuka kunci rumahnya. Karena perasaan yang masih sedih, membuat Adeela jadi lupa yang mana kunci rumahnya.


"Deel!" Teriak Justin dibawah guyuran hujan.


Adeela menatap Justin tanpa menyahutinya.


"Maafin gue!Teriaknya dengan keras berharap Adeela mampu mendengar ucapannya. -


Lama mereka saling pandang. Adeela di depan pintu, sedangkan Justin di depan teras dibawah guyuran hujan.


Adeela akhirnya menganggukkan kepalanya dan tidak banyak bertanya maksud dari permintaan maaf Justin padanya.


🍁🍁🍁


"Mbak, Deel. Di depan ada orang yang mau bertemu dengan ibu." Kata pegawai toko nya yang bernama Putri.


"Siapa?" Tanyanya menghentikan kegiatannya di depan komputer.


"Aku juga nggak tahu siapa, Bu. Aku juga baru kali ini lihat orang itu."


"Yasudah, nanti saya ke depan. Kamu lanjut kerja, gih."


"Siap, Bu Bos! " Jawabnya, sambil mengangkat tangannya hormat. Adeela hanya geleng-geleng kepala menghadapi tingkah pegawai nya yang masih remaja itu.


Adeela menghentikan kegiatannya dan menyimpan data yang telah ia susun. Setelah itu, ia berjalan ke depan ingin menemui orang yang katanya ingin bertemu dengannya. Kira-kira siapa orang itu?


🍁🍁🍁


Aku up cuma satu eps tapi part nya panjang kan. Jadi, jangan protes yak. Aku juga usahain untuk up setiap hari. Dah malem, aku juga udah ngantuk besok mau kerja lagi. Demi kalian, aku begadang-begadang gini dan tidak menuruti anjuran bang Roma agar tidak begadang. Yaudah, Bye-bye.

__ADS_1


Salam story from By me


__ADS_2