MEMBALAS PERSELINGKUHANMU

MEMBALAS PERSELINGKUHANMU
Dua Istri


__ADS_3

"Sebenarnya aku juga mau ngomong sesuatu sama mas Farhan. Penting!"


"Yasudah, kalau begitu kamu saja yang duluan." Ucap Farhan mengalah. Biarlah dulu istrinya itu yang duluan berbicara baru setelah itu gilirannya mengungkapkan yang sebenarnya. Sebenarnya jantung berdetak dua kali lebih cepat. Ia gugup dan takut untuk mengutarakan yang sebenarnya. Tapi biarlah, dalam hal ini harus ada seseorang yang berkorban.


"Apa yang mau kamu katakan, Deela?" Tegasnya karena istrinya itu lama terdiam sambil menatapnya.


"Yasudah, tunggu dulu, ya. Aku ambil sesuatu dulu."


Farhan sebenarnya dibuat penasaran oleh istrinya. Katanya istrinya itu mau mengatakan sesuatu, tetapi mengapa istrinya itu malah berdiri dan terlihat mengambil sesuatu di dalam tasnya.


Terlihat Adeela menggenggam sebuah benda kecil yang ia sembunyikan di tangannya. Adeela berjalan kearahnya dan terlihat menyunggingkan senyum kearahnya. Membuat Farhan semakin bertanya-tanya, apa yang akan istrinya itu katakan.


Adeela naik ke atas ranjang dan melipat kakinya di depan suaminya.


"Jadi, aku punya sesuatu untuk mas Farhan. Mas Farhan jangan kaget, ya!" Ucapnya dengan senyum sumringah. Ia sudah bisa menebak apa yang akan terjadi selanjutnya. Suaminya itu pasti akan sangat kaget dengan apa yang akan ia berikan padanya nanti.


Adeela mengambil tangan suaminya dan ia memberikan benda yang ada di tangannya itu dengan menutupnya menggunakan tangan Farhan yang satunya.


Banyak sekali tanda tanya dalam benak Farhan tentang semuanya.


Ia pun perlahan mengangkat tangannya yang menutupi benda itu di tangannya. Ia mengerjabkan mata beberapa kali dengan apa yang ia lihat.


Ia mengangkat pandangannya menatap istrinya yang kini tersenyum menampakkan gigi kepadanya.


Tangannya bergetar ketika mengangkat benda itu dan mencoba memperhatikannya lamat-lamat.


Deg...Jantungnya berdetak cepat saat melihat benda tipis panjang di tangannya itu menunjukkan dua garis merah.


Tidak, ini tidak mungkin, gumamnya mencoba meyakinkan dirinya. Ia mencoba menatap istrinya menuntut penjelasan akan apa yang ia lihat sekarang. Semoga saja ini milik orang lain, batinnya mengatakan.


"Maksudnya ini apa, Deela?" Ucapnya dengan suara tegas. Tenggorokannya terasa kering saat ini.


"Apa yang mas Farhan lihat sekarang?" Tanyanya balik pada suaminya yang mendadak seperti orang bodoh.

__ADS_1


"Dua garis merah."


"Iya, dua garis merah. Itu artinya, aku sekarang lagi hamil anak kamu, mas!" Ucapnya antusias dengan menampakkan fake face nya.


"Kamu enggak bisa kemana-mana lagi, mas!" Cibirnya dalam hati.


"K-kamu hamil?" Tanyanya sekali lagi untuk memastikan.


"Iya, mas. Aku hamil!" Sungguh ia sangat gembira saat ini. Namun bukan gembira karena apa, ia gembira karena melihat respon suaminya yang terlihat menelan ludahnya beberapa kali.


"Kenapa mas Farhan responnya seperti itu?! Mas Farhan enggak suka dengan berita kehamilan aku?"


Farhan mengerjabkan matanya beberapa kali. Ia pun menggelengkan kepalanya pelan sebagai jawaban pertanyaan istrinya.


"Bukannya aku enggak suka. Aku hanya tidak menyangka saja, kalau kamu bakalan hamil secepat ini. Selamat ya."


Adeela tersenyum dan berhambur memeluk suaminya. Dalam hati ia sangat senang melihat penderitaan suaminya yang mulai saat ini akan dimulai.


Niatnya hari ini ia akan menyelesaikan semuanya, malah apa yang ia harapkan ternyata sebaliknya.


"Oh, iya, Mas Farhan tadi bilang ingin mengatakan sesuatu?! Apa itu, mas?" Tanyanya saat pelukan mereka sudah terlepas.


Farhan menggelengkan kepalanya." Tidak jadi. Aku lupa apa yang akan aku katakan tadi."


"Yasudah, bagaimana kalau kita sekarang ke supermarket untuk membeli beberapa keperluan untuk kehamilan aku, mas!"


"Baiklah, ayo." Jawabnya tidak bersemangat.


"Mas Farhan kenapa sih, kok kayaknya lemes banget. Atau mas Farhan mau makan lagi?" Tanyanya pura-pura tidak tahu, padahal ia sudah bisa menangkap semuanya dari raut wajah suaminya.


"Tidak usah, aku sudah kenyang. Aku tidak apa-apa, kok. Mending sekarang kita jalan agar tidak terlalu terik."


"Yasudah, mas Farhan tunggu aku dulu di bawah, ya, aku mau pakai sesuatu dulu."

__ADS_1


"Baiklah, aku menunggumu di bawah."


Saat Farhan sudah keluar, Adeela menghembuskan nafas lega karena sandiwaranya tadi. Untung saja saat ia kemarin pergi bersama Anisa, ia sudah mengambil hasil t**espack orang lain untuk berjaga-jaga. Wanita itu ia kenal di media sosial jauh hari sebelumnya dan dengan sengaja Adeela meminta hasil tespack wanita hamil itu dengan iming-iming akan ia bayar dengan uang banyak. Wanita itu tidak banyak tanya dan menyetujui permintaannya. Siapa juga yang tidak ingin uang banyak, pikirnya.


Rencananya satu persatu sudah berjalan sesuai dengan keinginannya. Tinggal beberapa langkah lagi, ia sudah bisa bernapas lega setelah dendamnya tebalaskan.


Adeela membuyarkan lamunannya dan segera memoles bedak tipis di wajahnya dan lipstick berwarna pink cherry ia poleskan di bibirnya.


"Ayo, mas." Ucapnya membuyarkan lamunan suaminya yang saat itu sedang termenung di sofa ruang tamu.


Mereka pun berjalan menuju mobil dan dengan cepat kendaraan Farhan sudah membelah jalanan kota Jakarta.


30 menit kemudian akhirnya mereka sampai juga di depan parkiran supermarket. Adeela dan Farhan berjalan beriringan memasuki supermarket.


Farhan mengambil keranjang untuk nanti istrinya isi dengan belanjaan. Farhan berjalan mengekori istirnya yang terlihat memilih beberapa produk susu untuk ibu hamil.


"Demi sebuah peran, aku harus totalitas." Gumam Adeela dalam hati.


Setelah mendapatkan susu ibu hamil merek ***** rasa coklat, Adeela kembali memilih beberapa susu coklat merek ******** dan beberapa cemilan untuk nanti ia makan di rumah.


Adeela tersenyum sendiri akan perannya yang terlihat seperti ibu hamil beneran yang banyak maunya dan makan banyak. Biarlah, toh uang itu juga uang suaminya. Suaminya tidak akan bangkrut kalau hanya ini yang ia beli. Kalau bangkrut juga tidak apa-apa sih. Malah ia akan lebih senang jikalau suaminya itu benar-benar bangkrut.


Setelah Farhan selesai membayar di kasir, kini mereka kembali pulang menuju rumah dengan satu kantong belanjaan penuh hanya berisi belanjaan Adeela.


Farhan tidak banyak bertanya dan hanya mengikuti keinginan istrinya itu. Karena ia tahu, dulu saat Adeela hamil anak pertama sikapnya juga seperti itu.


Selama perjalanan, Farhan lagi-lagi memikirkan Adeela yang hamil anaknya. Apa yang harus ia lakukan sekarang. Tidak mungkin juga Farhan akan meninggalkan Adeela dalam keadaan sedang hamil anaknya. Ia tidak akan setega itu untuk kembali menorehkan luka di hati istrinya. Tapi ia juga bingung akan janjinya pada Kyla. Ingin rasanya ia berteriak sekencang-kencangnya sekarang meluapkan segala masalahnya.


Ataukah ia jalani saja hidupnya dengan Adeela dan juga menjalani hidup bersama Kyla. Menjalani hidup seperti layaknya orang-orang yang mempunyai dua istri dan bersikap adil.


^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^


Salam story from By_me

__ADS_1


__ADS_2