MEMBALAS PERSELINGKUHANMU

MEMBALAS PERSELINGKUHANMU
Melepaskan Semuanya


__ADS_3

"Di setiap jam, menit yang semakin berkurang itu, Nurhan hanya menyebut nama Anda! Nama seorang yang ia sebut Ayah!" Adeela menarik nafas dalam dan mencoba menahan sesak yang semakin terasa mencambuk hatinya.


"Saya sedikit cemburu, mengapa bukan namaku yang ia sebut?! Saya yang selalu bersamanya, tetapi mengapa Anda yang dia cari?!"


"Nurhan memanggil Ayahnya dengan suaranya yang sangat pelan dengan demam yang semakin tinggi dan juga lemah tubuhnya. Tapi apa yang terjadi, lelaki yang ia sebut sebagai seorang AYAH itu ternyata sedang sibuk di luar sana. Sibuk membuat anak pengganti untuk dirinya." Adeela sudah tidak kuat lagi. Sakit hati ketika kembali mengingat masa kelam itu. Bagaimanapun ia mencoba untuk terlihat tegar, ternyata ia kalah. Air matanya lagi-lagi tumpah. Dan yang membuatnya sakit seperti ini hanya Farhan seorang.


"Hal yang paling saya sesali seumur hidup itu adalah menunggu! Menunggu Anda dan menghabiskan waktu yang sangat genting itu sebagai seorang yang sangat bodoh! Saya Ibu yang bodoh!" Ucapnya berdiri dan mengusap wajahnya dengan kedua tangannya. Adeela menutup wajahnya dan menumpahkan semua tangisnya di sana.


Farhan akhirnya mengeluarkan juga cairan bening yang sudah sedari tadi ia tahan. Sakit hatinya mendengar apa yang Adeela katakan.


"Nurhanku pasti sangat kesakitan. Saya Ibu yang bodoh! saya bodoh!" Tangisnya semakin pecah jika mengingat mendiang anaknya.


Farhan menitikan air matanya dengan wajah yang memerah. Suaranya berusaha ia tahan sekuat. Hanya air mata yang keluar dari sana.


"Maafkan aku, Adeela! Maafkan aku! Aku yang salah. Aku penyebab semua ini. Aku yang menyebabkan Nurhan meninggal seperti itu.


Mereka berdua menangis menumpahkan sakit. Dari arah seberang jalan, Justin menyaksikan istrinya dan juga Farhan sedari tadi. Biarlah ia memberikan waktu untuk keduanya melepaskan semuanya.


Setelah cukup lama menangis menumpahkan semua sesak di dada, Adeela pun menghapus air mata di wajahnya. Biarlah Adeela melakukannya. Mungkin ini yang terakhir kalinya untuk Adeela dan juga Farhan bertemu. Hari ini juga ia akan melepaskan semuanya.


"Saya berharap, ini yang terakhir kalinya Anda melakukan kesalahan seperti kemarin. Cukup saya saja yang merasakannya, jangan bagi pada wanita lain. Saat Anda menyakiti seorang wanita, maka Anda juga otomatis akan menyakiti orangtuanya."


"Tapi, untungnya pada kasus saya, hanya saya yang merasakannya. Karena saya tidak punya orangtua. Jadi, tidak ada lagi orang lain yang akan menahan sakit karena kejadian kemarin. Cukup saya saja!"


"Maafkan aku, Adeela Athala!"


Adeela menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Ini yang terbaik untuk semuanya. Farhan juga sudah menyesali perbuatannya. Inilah saatnya semua sakit di dadanya ia ikhlaskan.


"Saya sudah memaafkan kamu. Saya juga mau minta maaf atas apa yang telah saya lakukan kemarin. Saya hanya ingin membagi sakit yang saya rasakan. Kamu tahu, menanggung sakit sendirian itu tidak enak!" Ujarnya pada Farhan.


Farhan tersenyum mendengar apa yang Adeela katakan.

__ADS_1


Farhan pun menganggukkan kepalanya, pertanda ia juga sudah memaafkan Adeela.


Adeela yang mendengarnya, mengangguk mengerti. Ia melihat jam yang ada di tangan kirinya. Sudah beberapa menit terlewati namun suaminya itu belum datang juga menjemputnya. Adeela mengedarkan pandangannya mencari apakah suaminya itu sudah sampai atau belum. Oh, ternyata suaminya sudah menunggu di seberang jalanan dan menunggunya di samping mobil.


Adeela melambaikan tangannya dan di sambut lambaian juga dari suaminya. Adeela memberi kode untuk menunggunya sebentar. Justin menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


Setelah itu, Adeela kembali menatap Farhan. Adeela mengeluarkan kacamatanya untuk menutupi mata sembabnya agar tidak terlalu kentara bahwa ia telah menangis.


"Suamiku sudah menunggu di depan. Saya harus segera pulang. Anak-anakku sudah dari tadi menunggu di rumah Nenek Kakeknya." Pamitnya pada Farhan. Farhan lagi-lagi menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


Sebelum benar-benar pergi, Farhan mengatakan sesuatu, " Titip permintaan maafku untuk Justin." Ucapnya sambil tersenyum hangat.


Adeela yang melihatnya merasakan sesuatu yang berbeda. Namun ia enyahkan fikiran itu.


"Saya akan sampaikan nanti. Kalau begitu, sampai jumpa!" Jawab Adeela dan meninggalkan Farhan di depan toko. Adeela sudah berdiri di sisi jalan dan ingin menyeberang. Justin diseberang jalan memberi kode agar menunggu terlebih dahulu sampai kendaraan agak lenggang.


Saat dirasa kendaraan sudah agak lenggang, Adeela pun mulai melangkahkan kakinya berjalan di atas aspal. Baru saja beberapa langkah ia berjalan, tiba-tiba saja dari arah berlawanan sebuah kendaraan berwarna merah melaju dengan cepat. Justin yang melihat di seberang jalan, melototkan matanya.


Semua orang berteriak menyaksikan kejadian naas itu. Justin tidak bisa merasakan tempatnya berpijak saat ini. Kakinya lemas melihat dengan mata kepala sendiri kejadian itu. Seakan waktu berhenti saat itu juga. Adeela nya telah terkapar di samping jalan. Ternyata ada satu orang lagi yang terkapar di tengah jalan. Justin tidak lagi memperhatikan siapa orang itu. Matanya hanya tertuju pada istrinya yang hijabnya berlumur darah. Orang yang Justin maksud tadi sudah dikerubuni di tengah jalan oleh orang-orang.


Justin berjongkok di depan istrinya. Dengan air mata yang mengalir deras tanpa suara, ia melihata keadaan istrinya. Benturan keras di bagian kepala membuat hijab yang Adeela kenakan berlumuran darah.


Diangkatnya badan istrinya dan ia dekap dengan air mata yang mengalir deras. Justin merenggangkan palukannya dan menepuk pelan wajah istrinya.


"Deel, bangun, Deela! Bangun sayang! Hey, jangan tinggalkan aku! Deela! Adeela Athala!" Teriaknya. Berharap dengan begitu Adeela nya akan terbangun. Namun tetap saja mata itu masih tertutup.


Justin kembali mendekap badan istrinya dan akhirnya menangis meraung di pinggir jalan. Adeela nya menutup mata dengan berlumuran darah.


Semua orang yang melihat tangis Justin merasa iba. Justin meraung-raung berusaha menyadarkan istrinya.


Justin tidak sadar bahwa sudah ada dua ambulance yang berada di sampingnya. Justin yang melihat ambulance itu datang, segera mengangkat badan istrinya dan menunggu di samping jalan sampai tandu ambulance itu turun.

__ADS_1


********


3 TAHUN KEMUDIAN


Justin dan anak laki-laki yang ada di sampingnya berjalan menuju tempat pemakaman. Anak laki-laki yang sudah masuk sekolah dasar itu berjalan dengan membawa sebuah keranjang bunga di tangan kanannya.


Mereka berhenti di depan dua pusara. Makam seorang wanita dan seorang lelaki. Mereka berdua duduk di samping pusara itu.


Justin membuka kacamatanya dan menatap gundukan tanah yang berada di depannya dengan pilu. Anak lelaki yang ada di sampingnya menatap dengan pandangan nanar makam di depannya.


"Papa, Reyhan sekarang sudah pandai membaca dan menulis. Menggambar juga sudah menjadi hobi barunya, Reyhan. Reyhan sudah menjadi anak yang penurut, Pah. Reyhan janji, Reyhan enggak akan nakal lagi." Ujarnya sambil mengangkat jari kelingkingnya di udara.


Justin yang melihat segala yang anak itu katakan, mengelus dan membelai kepala anak itu. Sekarang Reyhan sudah tinggal bersamanya. Dan anak itu sudah ia angkat sebagai anaknya sendiri.


"Sekarang, kita kirim doa dulu ya, sama Papa nya, Reyhan!"


Reyhan menganggukkan kepalanya dan mulai mengangkat kedua tangannya untuk ditengadahkan ke langit.


Setelah curhat pada makam Papa nya, Reyhan dan Justin berdiri dan mendatangi makam seorang perempuan yang terletak tepat di samping makam Farhan.


Justin menghembuskan nafas dan membuang wajah ke samping. Ia tidak bisa menatap gundukan tanah itu berlama-lama.


"Ma, Reyhan kangen Mama. Reyhan harap, Mama bahagia di sana! Reyhan selalu berdoa, semoga Mama mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan. Aamiin!" Setelah membacakan doa untuk orang yang ia maksud Mama, Mereka pun berlalu dari sana. saat mereka sudah menjauh dari sana, Justin menengok ke belakang dan menatap dua makam yang tadi ia datangi dengan pandangan nanar.


Setelah menatap makam itu beberapa saat, kembali ia membenarkan letak kacamatanya dan berjalan menjauh dari sana dengan menggandeng tangan Reyhan.


********


Yah, gantung. Besok aku lanjut yah. Dan jelasin semuanya. Udah malam nih, aku mau tidur dulu. bye-bye 🤗😘


Salam story from By_me

__ADS_1


__ADS_2