MEMBALAS PERSELINGKUHANMU

MEMBALAS PERSELINGKUHANMU
Pijitin Aku


__ADS_3

Sudah sebulan lebih Farhan berada di rumah istri pertamanya dan menemaninya untuk proses pemulihannya. Namun sampai sekarang belum juga ada tanda-tanda istrinya itu mengingat memory sebelum kecelakaan. Entah sampai kapan ia menemani istrinya itu, tapi ia sudah berjanji akan menemani istrinya itu sampai benar-benar sembuh dan setelah itu ia akan kembali memulai hidupnya bersama dengan Kyla, istri keduanya.


Farhan sedang memeriksa laporan keuangan yang berada di atas mejanya, namun dahinya itu mengernyit saat mendapati laporan keuangan dari karyawannya yang amburadul.


"Susan, panggilkan karyawan divisi keuangan yang membawa laporan bulanan ini di ruangan. Sekarang!" Pintanya melalui sambungan telepon.


"Siap, pak." Ujar Susan cepat dan segera menghubungi ketua divisi keuangan.


Tak lama setelah itu, karyawan divisi keuangan yang merekap laporan bulanan pun datang menghadap ke ruangan direktur.


Saat sudah berada di dalam ruangan direktur, karyawan itu berkeringat dingin takut melakukan kesalahan karena jujur saja baru kali ini ia langsung dipanggil oleh bos besar.


"Bapak memanggil saya?" Tanyanya berkeringat dingin dan berdiri di depan meja direktur dengan harap-harap cemas.


"Ya, iya, siapa lagi kalau bukan kamu." Ujarnya dengan nada ketus.


"Saya mau kamu jelaskan tentang laporan bulanan ini. Kenapa bentuknya amburadul begitu."


"Maaf, pak. Tapi laporan yang saya buat itu menurut saya sudah benar." Ucap anggota divisi keuangan itu dengan bergetar.


"Jadi maksud kamu, saya yang salah. Begitu maksud kamu?" Ucapnya dengan kesal. Karena karyawan yang ada di depannya ini berani berkata seperti itu. Jelas-jelas laporan yang ia buat tidak valid dan amburadul.


"Bu-bukan seperti itu, pak." Ia menjawab dengan kepala ia tundukkan kebawah. Tangannya sudah berkeringat dingin menahan rasa takut.


Farhan melepas kacamatanya dan memijit pelipisnya. Pusing dengan karyawan yang ada di depannya ini. Bagaimana bisa karyawan seperti ini bisa masuk di perusahaannya.


"Kamu sudah berapa lama bekerja disini?" Tanyanya masih memegang pangkal hidungnya dan menutup matanya.


"Sudah dua tahun lebih, pak."


Farhan menarik nafanya dalam. Setelah itu ia kembali berbicara.

__ADS_1


"Saya mau laporan ini segera diperbaiki. Besok laporannya sudah ada di meja saya. Saya tidak mau lagi ada kesalahan. Zero mistake. Understand!"


"Mengerti, pak."


"Yasudah, kamu bisa kembali lagi bekerja."


Setelah memberi hormat dan pamit kepada direktur, karyawan laki-laki tadi segera keluar dari sana.


Farhan kembali menyandarkan punggungnya di kursi kebesarannya. Melemaskan otot dan fikirannya seharian ini. Laporan yang sangat banyak, ditambah ulah karyawan tadi yang tidak becus dalam merekap laporan keuangan membuatnya kesal.


Farhan melihat jam yang melingkar di tangannya sudah menunjukkan pukul 03.15 Wib. Waktu pulang kantor sebentar lagi, tapi ia merasa sangat penat dan memutuskan langsung pulang saja.


Diambilnya jas yang ia gantung dan menyimpannya di lekukan sikunya dan menyambar tas kerja yang ia simpan diatas meja.


Setelah sampai basement, segera ia masuk ke dalam mobil dan menghidupkan mesinnya. Dilajukannya kendaraannya meninggalkan gedung perusahaan dan mengarahkan kendaraannya menuju rumah istri pertamanya.


Selama sebulan lebih berada di rumah Adeela, Kyla tidak pernah lagi menghubunginya setelah insiden pertengkarannya saat itu. Ia juga mengedepankan egonya tidak ingin menghubungi duluan. Ia menunggu istrinya itu menghubunginya dan meminta maaf padanya, namun apa yang ia harapkan tidak terjadi. Kyla ternyata tidak menghubunginya hingga sekarang.


Istrinya itu tidak mengerti akan keadaannya. Apa yang Farhan lakukan sekarang adalah bentuk permintaan maafnya pada Adeela dan ingin menyelesaikan semuanya agar mereka nanti bisa hidup bahagia. Namun Kyla tidak mau tahu dan bersikap egois. Huh, memikirkan problema hidupnya rasanya tidak ada habisnya.


Farhan membuka pintu mobilnya dan menutupnya dengan agak keras. Hal itu membuat perhatian Adeela teralihkan dan membuatnya menoleh ke sumber suara.


Adeela menoleh dan mendapati suaminya yang sudah berjalan mendekatinya. Ia melemparkan senyum manisnya, namun Farhan tidak membalasnya. Deguban jantung yang berdetak dua kali lipat melihat senyum istrinya membuatnya menjadi salah tingkah dan tidak membalas senyum manis itu.


Farhan menyimpan jas dan tas kerjanya di ujung bangku dan mendaratkan bokongnya di samping istrinya.


"Tumben pulang cepat, mas?" Tanyanya dan mencium punggung tangan suaminya.


"Lagi pengen aja pulang cepat, dek. Aku capek melihat tumpukan pekerjaan yang tidak ada habisnya." Ucapnya sambil menatap ke depan.


"Jangan terlalu memforsir tenagamu, mas. Kalau nanti aku udah enggak ada di samping kamu dan kamu jatuh sakit, kira-kira siapa yang akan rawat kamu."

__ADS_1


Mendengar ucapan istrinya ada perasaan tidak rela mendengarnya. Yang ada, nanti dia yang akan meninggalkan istrinya bukan malah sebaliknya.


"Kan, ada kamu yang jagain kalau aku sakit." Farhan memandangi Adeela namun Adeela tak menjawabnya dan hanya membalaa dengan senyuman. Kembali menatap ke depan, menatap bunga-bunga yang tumbuh subur.


Farhan menatap istrinya yang seperti sedang memikirkan sesuatu.


Hening untuk sesaat. Mereka saling diam. Adeela fokus menatap ke depan, sedangkan Farhan ia terus memperhatikan raut wajah istrinya dari samping.


"Badan aku pegel-pegel, dek. Pijitin, ya!" Farhan memulai obrolan dengan meminta dipijit oleh istrinya. Berusaha untuk mencairkan suasana.


Adeela kembali mengarahkan pandangannya kearah suaminya.


"Mas Farhan mau dipijit?"


"Iya. Badan aku pegel banget, dek." Farhan menggodang-goyangkan pundaknya memutar ke belakang sambil melirik ke arah istrinya.


"Yasudah, sini aku pijit. Tapi pijatan aku itu enggak ada rasanya karena tangan aku kecil."


"Enggak apa-apa. Yang penting kamu yang pijatin." Ucapnya mengerlingkan sebelah matanya menatap istrinya.


Namun Adeela tidak tergoda sama sekali dengan aksi suaminya. Dulu saat ia digoda seperti itu, maka wajahnya seketika merona. Namun sekarang situasinya sudah berbeda. Badannya sudah tidak merespon apa-apa saat diperlakukan seperti itu. Entahlah, mungkin karena hatinya sudah di sakiti oleh suaminya perlahan rasa itu sudah tidak ada lagi.


Adeela pun akhirnya menuruti permintaan suaminya dan mulai memijit lengan sampai tangan.


"Enggak ada rasanya, dek."


Adeela yang mendengarnya pun mendengus kesal.


"Kan, udah aku bilang dari tadi. Pijitan aku enggak enak. Tangan aku itu kecil!"


"Walaupun tangan kecil, tapi kalau memang niat pasti bakalan enak mijitnya."

__ADS_1


"Mohon maaf tuan Farhan, tapi saya tidak pernah mengikuti les mijit-memijit. Mending suruh satpam aja, tangannya kan gede. Biar sekalian dipijit sampai ke tulang-tulangnya sekalian." Adeela sungguh kesal dibuatnya. Bibirnya mengerucut sebal dengan ucapan suaminya. Sudah dari tadi ia bilang pijitannya itu tidak enak dan dia pun sudah menyetujui. Sudah sekuat tenaga Adeela mencoba memijit namun baru sekarang suaminya itu komplain.


Farhan dibuat tertawa oleh respon istrinya. Selama sebulan ini, baru kali ini istrinya itu seperti kembali ke sifat awalnya cerewet dan mengutarakan langsung pendapatnya.


__ADS_2