MEMBALAS PERSELINGKUHANMU

MEMBALAS PERSELINGKUHANMU
Marahnya yang berlanjut Skip


__ADS_3

"qu'est-ce que tu fais, salaud (Apa yang kamu lakukan, ********)" Ujar lelaki itu saat melihat darah saat ia meraba ujung bibirnya.


Justin menarik kerah baju lelaki tadi yang masih pada posisi yang sama. "Vous demandez ce que j'ai fait? Vous voulez que vos yeux soient inutilisables, hein! (Kamu bertanya apa yang aku lakukan? Kamu mau matamu tidak bisa digunakan lagi, hah!" Ujarnya menujuk mata lelaki di depannya. Lelaki itu terkesiap. Nyalinya menciut melihat kemarahan yang terpancar dengan jelas di dalam sorot mata Justin.


Karena kemarahan yang tidak bisa Justin tahan melihat istrinya dilecehkan seperti itu, membuatnya kembali menarik kerah baju lelaki tadi. Kali ini, dengan sekali tarikan, posisi lelaki itu sudah berdiri di depannya. Justin melepaskan satu tangannya dan mengeratkan tangan yang satunya untuk menarik kerah baju lelaki itu mengikuti langkahnya.


"Lelaki seperti kau ini tidak bisa dibiarkan. Seandainya tadi saya tidak menghentikan mata setanmu, mungkin kau akan melakukan tindakan yang diluar batas." Ujarnya dengan masih menarik kerah baju lelaki tadi sehingga membuat langkah lelaki yang telah melecehkan istrinya terseok-seok mengikuti langkahnya yang lebar. Bukan tanpa alasan, Justin mengatakan itu. Lelaki tadi sudah mengambil langkah semakin mendekati istrinya. Sebelum semua terlambat, akan lebih baik Justin segera bertindak.


"Hey! Saya mau dibawa kemana?" Ujar lelaki itu yang berusaha melepaskan tangan Justin yang semakin erat. Hingga membuatnya sulit bernafas.


"Saya akan membawamu ke penjara. Biar lelaki ***** seperti kau ini tidak berkeliaran dan membahayakan para wanita!" Jawabnya dengan nada dingin dan sarat akan kemarahan.


"Ok...ok. Saya akui kesalahan saya tadi. Tapi jangan bawa saya ke penjara!" Ucapnya dengan terbata.


"Tidak ada ampun! Tegasnya, semakin menarik kerah baju lelaki itu mengikuti langkah kakinya.


Lelaki tadi, wajahnya sudah memerah dikarenakan pasokan oksigen dan cengkeraman di lehernya yang semakin kuat membuatnya tidak bisa berbuat banyak. Tapi untung saja Adeela dari samping langsung menarik tangan suaminya yang bebas. Sehingga membuat langkah Justin terhenti.


"Aku mohon berhenti, Mas! Jangan diteruskan. Aku takut lihat kamu yang seperti ini. Ayo kita pulang!" Pintanya dengan mata yang memerah yang siap meluncurkan bulir bening dari sana. Adeela kembali mengingat rentetan kejadian yang tiba-tiba saja terjadi di depan matanya. dan juga kemarahan Justin yang baru kali ini ia lihat.


Adeela semakin erat menggenggam tangan suaminya dan mereka menatap untuk sekian detik. Dapat Adeela lihat, sarat akan kemarahan masih jelas di sana.


Justin berusaha meredam emosinya dengan cara menarik nafas panjang dan membuang muka ke arah lain. Ia baru sadar, wajahnya pasti sangat menakutkan di depan istrinya saat sedang marah seperti ini.


"Ya sudah, sekarang kita pulang! Ujarnya setelah emosinya telah berhasil ia kontrol.


Justin melepaskan genggaman tangan istrinya dan beralih menatap lelaki di depannya yang sudah menunduk terbatuk-batuk dan menarik oksigen sebanyak-banyaknya.

__ADS_1


Justin tepuk bahu lelaki itu dan ia remas kuat. Lelaki itu mendongakkan kepalanya dan terlihat meringis kesakitan. Semakin terintimidasi oleh lelaki di depannya.


Justin mendekatkan bibirnya ke samping kepala lelaki tadi, "Kali ini, kau selamat. Jangan pernah nampakkan lagi wajah ***** mu di depanku kalau kau masih ingin selamat."


Lelaki tadi langsung berlari saat Justin sudah melepaskan tangan di pundaknya.


*********


Dengan keadaan basah kuyup, Justin dan Adeela sampai di kamar penginapan mereka. Saat akan mencapai kamar mandi, Justin tiba-tiba menarik badan Adeela dan ia peluk dengan erat.


Adeela membiarkan apa yang suaminya lakukan. Diusapnya punggung suaminya lembut.


"Aku takut, Deel!" Ujarnya lirih sambil memeluk istrinya erat. Ucapannya sarat akan ketakutan. Ada hal yang membuatnya jadi parno-an seperti tadi. Dan hal itu selalu terbayang di benaknya. Bukan respon menepuk halus atau mengelus pundak suaminya yang ia berikan. Namun sebaliknya, Adeela memukul pundak Justin dengan keras. Yang mana, membuat si lelaki pura-pura meringis kesakitan.


"Yang harusnya takut itu aku! Kamu tadi udah kayak orang yang kesetanan. Main mukulin orang. Mata merah, urat leher kayak mau putus. Aku takut tahu enggak!"


"Mas, Justin!"


"Iya, iya, maaf." Jawabnya.


"Bukan itu maksud aku. Aku enggak bisa nafas kamu peluk kayak gini!" Ujar Adeela dengan suara pelan.


Justin yang baru tersadar akan apa yang ia lakukan segera mengurai pelukannya dan menatap istrinya dengan bentuk bibir kanan yang melengkung ke atas.


"Kalau kamu enggak bisa nafas, biar aku yang kasih nafas buatan!" Dengan seringai jahil Justin tampakkan telah menggoda istrinya.


Adeela memukul dada Justin beberapa kali, hingga kedua tangannya sudah di tangkap oleh Justin di sisi kanan dan juga kirinya.

__ADS_1


Mereka saling pandang-pandangan dalam beberapa detik. Hingga akhirnya Adeela mengalihkan perhatiannya ke arah lain. Saling tatap-tatapan seperti itu sangat tidak baik untuk kesehatan jantungnya.


Baru beberapa detik wajahnya berpaling, Justin telah kembali menarik perhatiannya dengan mengarahkan wajahnya dengan kedua tangan hangatnya.


Justin semakin mendekatkan wajahnya dan mengikis jarak diantara mereka. Deru nafas keduanya sudah dengan jarak yang sangat dekat.


Di kecupnya bibir Adeela sekalo dan kembali memundurkan wajahnya.


Adeela hanya bisa mengerjap-erjapkan matanya akan aksi tadi yang semakin membuat irama jantungnya semakin bertalu-talu.


"Besok adalah hari terakhir kita bulan madu disini," Ujar Justin pelan menyerupai bisikan,"Dan selama beberapa hari ini, aku mati-matian menahan diri untuk tidak melakukannya. Malam ini, aku mau minta hakku." Ujarnya titik enggak pake koma. Justin lelaki yang normal dan juga pernah merasakan yang namanya rumah tangga. Tidur berdua dengan Adeela membuat sesuatu di dalam dirinya ingin dilepaskan.


Adeela yang masih terpaku dan terdiam di tempat hanya bisa mengangguk lemah. Seakan terhipnotis dengan tatapan lembut dan mendamba Justin. Bagai kerbau yang di cucuk hidungnya, Adeela menurut akan perintah tuannya saat Justin sudah menempelkan benda kenyal dan lembut itu di atas bibirnya.


Dan malam itu penyatuan dua insan pun terjadi. Justin yang selama ini mendamba, akhirnya mendapatkan juga hak biologisnya. Dinginnya malam karena hujan deras, berbanding terbalik dengan suasana kamar hotel yang sangat panas akan kegiatan halal yang kedua insan itu lakukan.


Adegan di skip.


Adeela dan Justin yang terbuai dengan kebersamaan mereka, tidak akan menyangka bahwa akan ada lagi hal besar yang akan melanda rumah tangga mereka.


*****************


Part selanjutnya akan lebih seru lagi. Ceritanya menuju klimaks yg mngkin enggak akan kalian duga. Author akan membawa kalian ke part menyakitkan.


Tp sebelum itu, mohon maap Author ucapkan karena baru muncul skrg. Setelah sekian purnama🤭🤗🤗


Jangan lupa like, bintang dan kasi komen yak kakak" cantik dan ganteng😘

__ADS_1


__ADS_2