
Saat Farhan mengatakan pada Adeela akan lembur dan punya banyak pekerjaan di kantor, itu semua hanya akal-akalan Farhan agar bisa bertemu dengan Kyla dan juga anaknya.
Sehabis pulang dari kantor, Farhan langsung menuju ke rumah Kyla karena jujur saja selama beberapa bulan ia tidak bertemu dengan anak dan istrinya itu membuatnya sangat rindu.
Awalnya Kyla baik-baik saja saat menyambut kedatangan Farhan, malah dia terlihat sangat gembira melihat kedatangann suaminya itu pulang ke rumahnya. Hingga saat Farhan tak sengaja menyebut nama Kyla dengan memanggilnya Adeela, Kyla mulai marah dan akhirnya berakhirlah keributan diantara mereka.
Awalnya Farhan mencoba menenangkan istrinya itu dan meminta maaf karena telah salah sebut nama, namun Kyla malah menuduhnya yang tidak-tidak. Hingga akhirnya kesabaran Farhan mulai habis dan ia pun mulai terpancing emosi.
Malam itu mereka bertengkar hebat. Segala apa yang ada di depan Kyla pun ia banting di depan suaminya.
"Mungkin untuk sekarang kita tidak usah bertemu dulu, Kyla. Aku seperti melihat orang lain pada dirimu saat ini. Kalau kepalamu itu sudah dingin, barulah kita bertemu." Itu yang Farhan ucapkan sebelum akhirnya ia pergi dari sana. Farhan sangat pusing menghadapi kelabilan istrinya yang dengan gampangnya terpancing emosi.
Pukul 1 dini hari, Farhan melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi membelah jalanan kota Jakarta yang kala itu terlihat lenggang karena kendaraan sudah berkurang.
Dengan fikiran kalut ia meninggalkan rumah Kyla. Dengan penampilan yang sudah acak-acakan dan rambut yang sesekali ia tarik karena pusing memikirkan problema hidupnya, ia pulang ke rumah Adeela, istri pertamanya.
"Apakah keputusanku untuk menemani Adeela itu adalah hal yang salah. Mengapa Kyla tidak kunjung juga mengerti dengan keadaanku. Aku sungguh dilema di posisi ini. Atau haruskah aku meninggalkan saja Adeela agar hidupku kembali bisa tenang." Lamunannya di dalam perjalanan.
"Haruskah aku jujur saja pada Adeela agar semuanya bisa tuntas?!" Gumamnya lirih memikirkan jalan keluar.
Farhan menarik nafas panjang dan menghembuskannya kasar. "Baiklah, besok aku akan memberitahukan semuanya pada Adeela, agar aku tidak lagi merasa terbebani dan hubunganku dengan Kyla bisa kembali seperti dulu. Iya, ini adalah jalan yang terbaik."
Keputusan Farhan sudah bulat. Ia akan memberitahukan yang sebenarnya pada Adeela. Semoga saja besok semuanya berjalan sesuai dengan maunya dan ia bisa kembali bebas. Masalahnya, selama berbulan-bulan ia terus bersama dengan Adeela membuat rasa yang pernah ada itu perlahan muncul. Ia tidak ingin terlalu berlama-lama dengan Adeela. Ia takut jangan sampai nanti rasanya itu tidak bisa ia kendalikan dan nantinya akan menjadi boomerang untuknya.
Beberapa menit kemudian ia pun sampai di rumahnya. Suasana rumah kala itu sangat sepi. Pasti orang rumah sudah pada tidur, mengingat sekarang sudah pukul 2 dini hari. Ia juga tidak tega kalau harus membangunkan mbok Minah. Untung saja ia punya kunci cadangan jadi ia bisa langsung masuk ke rumah.
__ADS_1
Saat ia membuka pintu kamar, Adeela tertidur dengan posisi telentang dengan ponselnya masih ia pegang. Farhan segera masuk dan membuka bajunya, rasanya ia sangat gerah namun tak ingin mandi malam. Walaupun Farhan sudah berusaha untuk pelan-pelan, tetap saja istrinya itu mendengarnya dan terbangun dari tidurnya.
"Mas Farhan!" Ucap Adeela yang terbangun oleh kedatangan suaminya.
"Aku kira mas Farhan bakalan lembur!"
"Aku capek, dek. Jangan banyak tanya." Itu yang Farhan katakan dengan wajah murungnya, entah apa yang terjadi padanya.
Farhan langsung naik ke atas ranjang dan memeluk badan istrinya. Di tenggelemkannya kepalanya di dada istrinya dan tangan kirinya ia lingkarkan di perut istrinya.
"Mas Farhan kenapa?" Tanyanya penasaran melihat tingkah laku suaminya yang tidak biasanya bertingkah laku seperti ini padanya. Biasanya suaminya itu akan membuat jarak dengannya saat tidur, tapi tidak kali ini.
"Aku capek, dek." Ucapnya dengan nada lirih dan terdengar helaan nafas keluar dari mulut Farhan.
"Yasudah, sekarang mas Farhan tidur." Hanya itu yang bisa ia lakukan sekarang. Ia juga tidak ingin banyak bertanya kepada suaminya, karena ia tahu suaminya itu sedang banyak masalah.
Farhan yang berada di posisi itu, merasa nyaman dalam dekapan istrinya. Pelukannya terasa hangat dan menenangkan sehingga membuatnya tertidur dengan tenang malam itu. Melupakan sejenak tentang kemelut rumah tangganya dengan Kyla yang membuatnya pusing.
Keesokan harinya saat Farhan terbangun dari tidurnya sudah tidak ada lagi keberadaan Adeela di sampingnya. Ia pun mengambil ponselnya dan mengecek sudah jam berapa sekarang. Ternyata sudah jam 7.35. Ia kembali menaruh ponselnya diatas nakas, karena memang ia tidak berniat pergi ke kantor hari ini. Ia akan menyelesaikan semuanya hari ini dan menjelaskan agar Adeela bisa kembali mengingat semuanya.
Segera Farhan bangkit dari tidurnya dan berjalan menuju kamar mandi ingin menyegarkan diri. 15 menit ia dengan ritual mandinya, akhirnya ia pun keluar dari sana dan segera memakai pakaian santainya.
Saat ia berjalan menuruni tangga, di meja makan sudah ada Adeela yang menyiapkan sarapan pagi untuknya. Pemandangan yang sangat indah di pandang di pagi hari. Tapi segera ia hilangkan fikiran-fikirannya itu dan segera duduk di meja makan.
Adeela terlihat mengernyitkan keningnya melihat suaminya yang tidak biasanya jam begini masih terlihat bersantai-santai.
__ADS_1
"Mas Farhan enggak masuk kantor?" Tanyanya memperhatikan suaminya.
"Enggak. Hari ini aku mau bersantai dulu di rumah."
"Oh!" Hanya itu jawaban Adeela dan ia tidak mau bertanya lebih banyak lagi.
Mereka pun mulai menyantap sarapan pagi dengan hening. Sesekali Farhan mencuri pandang kearah istrinya.
Setelah selesai sarapan pagi, Adeela membawa piring kotor ke dapur dan setelah itu ia membersihkan meja makan. Tugasnya sudah selesai, sisa mbok Minah yang akan melanjutkannya.
"Lo, kenapa mas Farhan masih di sini?" Tanyanya karena suaminya itu belum pergi juga dari meja makan.
"Ada yang ingin aku omongin sama kamu!" Ujarnya dengan raut wajah yang serius.
Adeela bisa menangkap apa yang suaminya ini ingin utarakan. Rencananya tidak boleh gagal hanya sampai disini. Ia harus lebih dulu mengikat suaminya itu agar tidak bisa pergi darinya.
Farhan pun membawa istrinya itu menuju kamar. Ia tidak ingin apa yang mereka bicarakan nantinya akan di dengar oleh orang lain.
"Sebenarnya aku juga mau ngomong sesuatu sama mas Farhan. Penting!"
"Yasudah, kalau begitu kamu saja yang duluan."
"Jadi sebenarnya..."
**bersambung....😁
__ADS_1
Jangan lupa vote yang banyak ya, like dan komen juga jangan ketinggalan.
Salam story from By_me**