MEMBALAS PERSELINGKUHANMU

MEMBALAS PERSELINGKUHANMU
Kontraksi


__ADS_3

Acara malam peresmian yang seharusnya diisi dengan kemeriahan dan suka cita, malah diisi dengan sebuah kehebohan yang diakibatkan oleh ulah Farhan. Sebenarnya malam itu, Justin hanya ingin sekedar menegur dan tanpa perlu main adu otot. Namun karena Farhan yang berbicara dengan seenaknya dan tidak dapat menahan emosinya, Justin pun tidak bisa melakukan hal lain selain membela diri.


Namun Justin tidak menyesal dengan insiden yang terjadi malam itu, anggaplah itu sebagai salam Justin untuk persahabatan mereka yang terakhir kalinya. Farhan memang pantas mendapatkan itu. Bahkan mungkin kalau bisa, lebih dari itu.


Tante Rike dan suaminya, Pak Irwan, berjalan dengan cepat memasuki area rumah sakit. Baru saja tadi mereka mendapatkan kabar dari pihak rumah sakit bahwa anak mereka sedang terbaring dan belum sadarkan diri di sana.


Tante Rike sangat khawatir dan takut terjadi apa-apa dengan anak semata wayangnya. Setelah mendengar dimana ruangan anaknya berada, mereka berdua pun menuju ke sana.


Farhan telah menjalani perawatan dan sekarang sedang terbaring lemah di atas bed rumah sakit.


Saat mereka telah sampai di sana, betapa terkejutnya mereka melihat penampilan anak mereka yang wajahnya dipenuhi dengan luka lebam dan beberapa bagian di sudut wajahnya yang terluka.


Tante Rike menutup mulutnya terkejut dengan keadaan anaknya. Bagaimana bisa anaknya yang saat berangkat tadi masih baik-baik saja, sekarang sudah dengan keadaan yang seperti ini. Luka dan lebam dimana-mana.


Farhan masih belum sadarkan diri di atas ranjang pasien. Tante Rike mendekat dan dengan pelan-pelan menyentuh wajah anaknya.


"Bagaimana bisa, anak kita terluka seperti ini, Pa?! Ujarnya dengan nada bergetar. Ia tidak kuat melihat keadaan anaknya yang kesakitan seperti ini.


"Biar nanti kalau Farhan sudah sadar, barulah kita tanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Bagaimana bisa dia terluka seperti ini."


"Pasti sangat sakit, Pa! Siapa yang tega melakukan ini pada anak kita, Pa?!" Air mata Tante Rike pun sudah terjatuh.


"A...ir!" Farhan telah sadar dan kata pertama yang ia ucapkan adalah kata itu. Kerongkongannya terasa sangat kering. Mengingat sebelumnya ia telah menghabiskan banyak tenaganya dan berteriak membuatnya sangat kehausan.


Tante Rike yang melihat anaknya telah tersadar segera mengambilkan air putih di dalam gelas dan membantu Farhan untuk minum.


Setelah memberi anaknya air putih, Tante Rike kembali meletakkan gelas bekas air tadi di atas nakas. Tante Rike dan Om Irwan memperhatikan anak mereka yang memandang ke atas dengan pandangan kosong. Tidak ada lagi yang ia ucapkan setelah selesai minum tadi. Hal itu membuat kedua orang tuanya bertanya-tanya, pasti ada sesuatu yang disembunyikan oleh anak mereka.

__ADS_1


"Bagaimana kamu bisa seperti ini, Nak? Siapa yang melakukannya? Bilang sama Papa!" Tanya Papa Irwan pada akhirnya melihat kebungkaman anak mereka setelah tersadar tadi.


Farhan hanya melirik sekilas, setelah itu ia kembali menatap ke atas menatap langit-langit kamar rawatnya.


"Biasalah, Pa, masalah cowo. Tadi sempat cekcok sama temen, salahpaham aja!." Jawabnya berbohong. Ia tidak mau orangtuanya mengetahui tentang insiden yang tadi terjadi. Biarlah urusan itu dia yang tanggung sendiri dan menyelesaikannya.


Papa yang mendengarnya pun menghembuskan nafasnya. Tidak ada masalah serius, pikirnya.


"Makanya, kamu sebagai lelaki kalau ada sesuatu itu, ya dibicarakan dulu. Jangan yang ada bawaannya emosi. Kan kalau sudah seperti ini, kamu sendiri yang rugi." Ujar Papa. Memang antara kedua orangtuanya, Papa nya lah yang paling bisa diajak kompromi dan bijak. Terutama pada mantan menantunya dulu.


Namun ternyata, apa yang Farhan ucapkan tidak sesuai dengan praduga Mama nya. Pasti ada sesuatu. Tidak mungkin hanya masalah kesalahpahaman membuat keadaan anaknya menjadi seperti itu.


Tante Rike tidak percaya dengan apa yang anaknya ucapkan. Dia harus mencari tahu sendiri tentang kejadian yang sebenarnya, fikirnya.


*******


"Bagaimana dengan acara peresmian malam itu, sayang?" Tanya Mommy saat mereka sedang berada di ruang keluarga.


Adeela yang mendapatkan pertanyaan seperti itu pun harus berbohong pada kedua mertua dan Neneknya. Dia dan Justin telah bersepekat untuk merahasiakan semua itu.


"Acaranya berjalan lancar, My." Jawabnya berbohong.


"Syukurlah kalau seperti itu. Mommy selalu berdoa yang terbaik untuk kalian berdua!" Jawab Mommy tulus.


Begitupun dengan Nenek dan Papi yang di dalam hati juga mendoakan Adeela dan Justin. Berharap ini adalah pernikahan yang terakhir untuk anak mereka dan kebahagiaan selalu menyertai keduanya.


"Makasih, Mi, Pi, Nek!" Adeela menatap ketiga orang yang sangat berharga di dalam hidupnya. Merekalah keluarganya sekarang yang mampu menerima kekurangan maupun masa lalunya. Mereka adalah orang yang sangat baik. Menerimanya dengan tangan terbuka setelah sebelumnya mantan Ibu mertuanya tidak mampu menerima statusnya yang seperti ini. Begitu pula dengan Ibu kandungnya yang ia tak tahu. Yang telah membuangnya ke panti asuhan. Air mata haru mengalir di sudut matanya.

__ADS_1


"Eh, kok nangis?" Tanya Nenek melihat Adeela yang mengusap cairan bening yang membasahi sudut matanya.


"Deela enggak nangis, kok, Nek. Deela terharu aja karena, Mommy, Papi dan Nenek terutama, mau menerima Adeela di dalam keluarga ini!"


Mommy dan semua orang yang ada di sana dibuat tersenyum oleh pengakuan Adeela. Mommy yang berada di dekat Adeela, bergeser semakin mendekat dan merangkul Adeela.


"Atas alasan apa kami tidak menerima kamu, sayang? Kamu baik, sholehah, sangat cocok mendampingi anak kami yang tingkahnya kadang tidak bisa diatur. Kami sebagai orangtua, tidak bisa memaksakan keinginan kami kepada anak kami. Kami memberikan Justin kebebasan untuk memilih kebahagiaannya sendiri. Apa yang dia pilih, pastilah itu yang terbaik menurutnya!"


Adeela semakin bahagia mendengar ucapan Mommy yang menurutnya sangat bijak sebagai orangtua.


"Kalau yang kamu fikirkan tentang pendapat orang lain pada kamu, menurut Mommy hal itu baiknya diabaikan saja! Kalau hidup harus mengikuti standarisasi mereka, hidup akan terasa sulit, sayang! Harus ini, harus itu. Tidak boleh begini, tidak boleh begitu. Ribet banget orang yang seperti ini. Ya, kan, Pi?"


"Mommy benar sekali!" Sela Papi.


"Kami bukan tipe orangtua yang mengekang anaknya dan harus mengikuti keinginan kami. Pokoknya kamu harus ikutin perintah orangtua!Tidak! Kami memang tegas pada anak kami, tapi setegas nya kami, kami tetap harus mendengarkan apa yang mereka inginkan." Kata Papi.


"Iya, kan, Ma?!" Tanya Papi pada Nenek Rosi karena apa yang Papi ucapkan tadi related dengan kehidupannya dulu di saat memilih Mommy Bella sebagai istrinya.


"Hmm!" Jawab Nenek dengan deheman. Perbincangan pun berlanjut. Hingga pada akhirnya mereka terdiam dikarenakan...


"Awh... Perut aku sakit banget. Aduh..."


******


Jangan lupa like, komen dan vote nya. Menjelang tamat ye, kan😁


Salam story from By_me

__ADS_1


__ADS_2