
Pukul 9 pagi, Adeela dan Justin sudah rapi dengan setelan berwarna hitam. Justin memakai setelan serba hitam. Adeela pun memakai gamis berwarna hitam dipadukan dengan hijab berwarna cream yang menutupi dada. Rencananya hari ini mereka akan mendatangi suatu tempat. Suaminya itu tidak memberitahukan kemana arah tujuan mereka hari ini. Adeela pun dibuat sangat penasaran.
Adeela menggendong Arka dan Justin mengendong Chila yang sedari tadi asyik memainkan dasi nya. Anak gadisnya memang sangat aktif dan manja pada nya.
Mommy, Papi dan Nenek sudah menunggu di ruang keluarga dengan senyum yang terlihat dipaksakan. Walaupun Adeela melihat ketiga tersenyum, namun entah mengapa senyum mereka sangat berbeda hari ini. Seperti ada sebuah kesedihan dibaliknya. Tidak biasanya ketiganya menampilkan wajah seperti itu. Biasanya, setiap pagi rumah akan diisi dengan kebahagiaan dan senyum dari semua anggota keluarga saat mereka saling menyapa. Namun pagi ini, sangat berbeda. Adeela memperhatikan mata Mommy yang sembab layaknya orang habis menangis. Ini bukan kali pertamanya ia melihat Mommy seperti ini. Ini adalah kedua kalinya ia melihat Mommy yang ceria bisa seperti ini.
Justin dan Adeela memberikan anak-anak mereka kepada kedua orangtuanya.
Justin membelai kedua rambut anaknya. Di tatapnya Mommy dan Papi nya secara bergantian dan tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Mereka hanya saling pandang saru sama lain. Dan dengan sekali anggukan, Justin pun memutuskan kontak pada kedua orangtuanya.
"Kami berangkar dulu, ya, Mi, Pi, Nek!" Pamitnya.
"Iya, Nak. Kalian hati-hati di jalan!" Jawab Papi
Setelah pamit pada semua orang dan memastikan anak-anak mereka tenang, keduanya pun berangkat menuju tempat tujuan.
Sepanjang perjalanan, hanya diisi dengan suara deru mobil. Tidak biasanya, suaminya itu terdiam seperti itu. Justin hanya menjawab sesekali ucapannya dengan singkat.
Satu jam lebih keduanya berada didalam mobil. Entah kemana suaminya ini akan membawanya.
"Sampai!" Ujar suaminya sambil melepaskan sabuk pengamannya. Justin bersandar sebentar dan menatap ke depan. Adeela memperhatikan tempat yang mereka tuju. Pemakaman. Untuk apa suaminya membawanya ke tempat ini? kuburan siapa kira-kira yang akan mereka datangi.
"Kita mau ziarah ke kuburan siapa, Mas?" Tanya Adeela pada akhirnya.
__ADS_1
"Nanti aku ceritain! Sekarang mending kita turun. Nanti aku perkenalkan dengan orangnya di dalam."
Adeela mengerutkan keningnya mendengar ucapan suaminya. Kira-kira siapa yang akan mereka kunjungi. Apakah jangan-jangan, mereka akan bertemu dengan almarhumah Alinda. Istri pertama suaminya yang telah berpulang ke rahmatullah. Oh, mungkin ini saatnya suaminya ini memperkenalkannya kepada almarhumah istrinya.
Jalanan berbeton mereka lewati. Pemakaman yang asri dan tertata rapi. Justin berjalan di depan, sedangkan Adeela sibuk melihat kesana-kemari kuburan yang ia lewati. Sampai pada akhirnya, Justin berhenti di depan makam berwarna putih yang di batu nisannya tertulis nama 'Jolene Airlangga Prawiryo'. Adeela mencerna apa yang ia lihat di depannya. Nama yang tertulis di batu nisan itu ternyata memiliki marga yang sama dengan suaminya. Tanggal lahir nya tepat dengan tanggal lahir suaminya. Dan tanggal kematian yang ia lihat saat ini di batu nisan itu, tepat pada hari ini.
Banyak sekali pertanyaan yang bersarang di dalam otaknya. Jadi selama ini...
Adeela menghentikan hipotesa nya dan ikut berjongkok bersisian dengan suaminya. Justin menyentuh batu nisan yang ada di depannya dan perlahan kepalanya ia tundukkan menatap kepada pusara yang bernama 'Jolene'. Terdengar helaan nafas panjang keluar dari mulut suaminya.
"Jo, maafkan kakak yang baru datang sekarang nengokin kamu. Sekarang kakak datang ditemani istrinya kakak. Dia baik, setia dan bisa diajak kondangan." Adeela menggelengkan kepalanya mendengar ucapan suaminya. "Maafkan kakak yang... Intinya maafkan kakak lah. Seandainya kakak ada di sana, kamu mungkin masih ada di sini!" Justin menghentikan ucapannya dan semakin menundukkan kepalanya. Dari samping, dapat Adeela lihat Justin meneteskan air mata namun suaranya masih mampu ia tahan dan tak bergetar. Tangan kanan yang menyentuh batu nisan itu, kini telah terkepal di atas nisan.
"Jo, Mommy nitip pesan sama kamu. Katanya, Mommy minta maaf karena telah salah selama ini nahan kepergian kamu. Seharusnya sedari dulu, Mommy ikhlasin kamu. Mommy... hanya enggak ikhlas kamu pergi dengan cara yang seperti ini!" Air mata Justin semakin deras membasahi wajahnya. Namun dengan sekuat tenaga kepalanya ia tundukkan. Berusaha agar istrinya itu tidak melihatnya lemah seperti ini.
"Sekarang Mommy sudah punya kembaran kamu, katanya." Justin tertawa di sela-sela tangisnya. "Mommy punya cucu yang mirip banget sama kamu! Dia anak, Kakak. Arshila, chila nya kakak! Kehadiran Chila dan Arka di kehidupan Mommy, perlahan sakit hati nya Mommy bisa reda, Jo!"
"Intinya, Mommy sekarang sudah bisa ikhlasin kamu, Jo. Kakak harap, kamu bahagia di sana!"
Setelah mengatakan itu, Justin pun membuang muka ke samping dan menghapus air mata yang deras mengaliri wajahnya. Adeela yang tidak tahu menahu tentang peristiwa apa yang telah terjadi sehingga wanita yang bernama 'Jolene' itu telah tiada, ikut merasakan sakit melihat segala ucapan suaminya.
Setelah berdoa untuk almarhumah, Adeela dan Justin pun kembali berjalan menuju kendaraan mereka yang terparkir di pinggir jalan.
Adeela dan Justin memasang sabuk pengaman mereka. Justin kembali menjalankan kendaraannya membelah jalanan yang hari ini sangat terik. Adeela melirik pada suaminya yang kembali mendiamkan dirinya. Dipandang seeprti itu, membuat Justin sadar diperhatikan sedari tadi. Justin pun melirik pada istrinya sambil tersenyum. Oke, suaminya itu sangat pandai menutupi kesedihannya. Tapi yang menjadi masalah, apakah suaminya ini tidak ingin berbagi cerita dengannya.
__ADS_1
"Kamu pasti udah lapar, ya?! Yaudah, kalau begitu kita cari rumah makan dulu, ya. Sebelum kita pulang ke rumah. Perjalanan juga masih lama. Jadi, ada baiknya kita makan untuk mengisi perut dulu."
Adeela hanya bisa menjawab dengan deheman namun tatapannya masih terfokus pada suaminya.
"Kamu enggak mau cerita sama aku, Mas?!" Lebih baik jika ia menanyakan hal yang sedari tadi mengganggu fikirannya. Daripada harus ia tahan-tahan.
Justin hanya melirik sekilas dan memberikannya senyum singkat sebelum akhirnya kembali fokus menyetir.
"Kita makan dulu, gimana. Aku pasti akan cerita. Cacing di perut aku sudah dari tadi minta diisi stok."
"Yaudah." Adeela pun menyetujui usulan suaminya. Sudah masuk waktu makan siang dan cacing-cacing di dalam perut mereka memang sudah meminta diisi sedari tadi.
Setelah menempuh perjalanan selama 10 menit lamanya, Justin pun menghentikan kendaraannya di depan sebuah warung makan.
Setelah selesai makan dan sudah berada di dalam mobil, akhirnya Justin pun memberanikan diri dan mencoba mengumpulkan semua tenaga untuk menceritakan semuanya pada istrinya tanpa ada lagi yang ditutup-tutupi.
"Jadi...Jolene itu...."
********
Lanjutannya ada di part selanjutnya.
Harus siap-siapin mental dulu lah untuk baca part selanjutnya.
__ADS_1
Jangan lupa di like, jangan langsung di skip Ya!
Salam story from By_me